
Pada tengah malam terdengar riuh teriakan dari luar tenda yang di susul dengan tepukan tangan dari banyak tangan.
Plok plok plok plok!
"Ayo, Dek! bangun, Dek! ayo bangun ... bangun!" Seruan itu terus saja terdengar hingga kesadaran Syifa kembali terkumpul dan membuka mata dengan segera.
"Ayo bangun, Dek! cepet bangun!"
Plok plok plok plok!
"Semuanya ayo kumpul!"
Tepukan tangan tanpa henti itu pun terasa sangat berisik hingga membuat Syifa tergugah dan segera beranjak duduk. Begitupun dengan beberapa temannya yang lain.
"Kamu juga dengar? sebenarnya ada apa di luar?" Salah satu teman Syifa pun bertanya-tanya dengan kegaduhan yang terjadi di luar sana.
Dia mengintip dari celah jendela yang ada pada tenda. Nampak para senior mereka tengah berkeliling ke semua tenda dan berseru untuk membangunkan semua peserta persami agar keluar dari tenda dan berkumpul di tengah-tengah.
"Syifa, bangunkan yang lain kita di suruh kumpul!" seru teman Syifa yang paling dekat dengan pintu kemudian mengguncang-guncang tubuh temannya yang masih tidur.
Syifa pun segera beranjak untuk membangunkan Laila yang tengah tidur di sampingnya, juga teman yang lain.
"Saya akan hitung dari satu sampai sepuluh, maka semua sudah harus berkumpul di tengah acara! Satu ... dua ... tiga ... empat ...." (dan seterusnya hingga hitungan ke sepuluh)
Sebagian dari mereka segera bangkit seraya memakai kelengkapan atribut kemudian berkumpul ke tengah-tengah sesuai perintah senior. Namun, bagi Nida dan genknya sudah tidak ada waktu lagi untuk berganti baju karena mereka harus segera keluar meski memakai baju apa adanya bahkan tanpa sepatu.
"Bagi yang tidak memakai atribut lengkap silahkan keluar dari barisan dan ikut dengan saya!" ujar salah satu dewan ambalan dan membuat barisan sendiri di bagian samping.
__ADS_1
Nida menatap tajam ke arah Syifa dan menyenggol bahunya seraya mundur dari barisan. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju barisan bagi yang tidak memakai atribut lengkap.
Sedangkan bagi yang sudah lengkap. Juna selaku pradana memimpin acara tengah malam itu dengan renungan malam.
Sementara bagi barisan yang atributnya tidak lengkap mereka diminta kembali ke tendanya masing-masing untuk melengkapi atribut mereka dalam waktu yang singkat.
Kemudian setelah mereka kembali mereka diberikan sanksi yaitu ada yang di suruh push up sebanyak sepuluh kali bagi laki-laki dan jalan jongkok dengan memutari senior mereka sebanyak tiga kali bagi perempuan.
Usai menjalankan hukuman barulah mereka bisa kembali ke barisan sangganya masing-masing. Arjuna yang memimpin acara renungan malam itu memulai untuk bercerita.
Dalam acara renungan malam itu dikisahkan bagaimana sikap kita kepada orang tua yang masih saja membantah dan bersikap kasar ketika keinginan tidak dipenuhi.
Di saat sekolah dengan seenaknya kita malas-malasan, bolos, dan berkelahi dengan teman, sementara orang tua kita tengah memeras keringat demi mendapatkan sepeser uang untuk sekolah anaknya.
Terkadang sebagai anak kita masih juga membantah ketika dinasehati. Berbohong dengan memanfaatkan uang sekolah kepada hal lain yang tidak terpuji. Tanpa orang tua kita tahu, di sekolah kita bertindak sok berkuasa seperti jagoan dan melakukan kenakalan remaja hingga merugikan orang lain seperti bullying, tawuran, pemalakan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Padahal orang tua kita di rumah bisa jadi tengah berjuang demi keluarga dengan jerih payah mereka di tempat kerja. Rela berpanas-panasan dan menguras tenaga hanya untuk sesuap nasi dan sepeser uang untuk sekolah anaknya. Bahkan orang tua tidak henti-hentinya berdoa bagi keberhasilan anaknya di pagi hingga petang.
Tangis peserta pun semakin pecah dan terisak-isak dalam kesedihan cerita yang Juna bawakan. Di situ juga diceritakan bagaimana sikap kita kepada guru. Terkadang kita seenaknya saja pada guru, tanpa kita tahu guru itu tengah memikirkan dengan keras bagaimana nasib anak didiknya hingga bisa lulus dengan nilai yang bagus, dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih baik, dan tentunya mereka pun ikut sedih ketika anak didiknya melakukan kenakalan hingga membuat mereka kesal. Sesungguhnya mereka pun turut memikirkan kita dan berusaha keras demi masa depan kita.
Dalam renungan itu yang paling penting adalah ajakan untuk mendekatkan diri kepa Allah. Yaitu sebagai siswa hendaknya kita banyak-banyak mawas diri. Sebab semakin jauh dari Allah kita akan semakin mudah untuk terjerumus pada hasutan-hasutan orang-orang yang sengaja ingin melihat kita menjadi sosok sampah yang tidak berguna. Membuat masa remaja menjadi sia-sia dan masa depan kita suram.
Usai acara semua peserta diperbolehkan untuk kembali ke sanggahnya masing-masing untuk beristirahat sejenak sebelum datangnya waktu subuh.
Nida semakin membenci Syifa. Nida tidak menyangka jika ditengah malam akan ada kegiatan lagi. Dan, ternyata berkat Juna, Syifa dan yang lain yang tetap memakai atribut diwaktu tidur tidak kena hukuman.
Terlebih karena Syifa terlihat akrab dengan Juna dan juga Devan sebagai senior. Mereka menganggap Syifa kecentilan sehingga dapat mengambil hati senior dan mendapatkan kemudahan dalam setiap acara.
__ADS_1
......................
Keesokkannya di jam istirahat untuk bersih-bersih diri, Syifa tengah mengantri untuk mandi di sebuah toilet. Di sana ada Nida juga dan teman-temannya.
Tiba-tiba Devan mendatangi Syifa dan meminta untuk berbicara. Mereka berdua akhirnya menjauh dari tempat itu menuju belakang sekolah yang jarang dilewati. Syifa terpaksa mengikuti karena Devan tanpa bertanya langsung menarik lengannya.
"Kak, lepaskan!" ujar Syifa seraya mengibaskan tangan Devan yang terus menariknya. "Sebenarnya mau bicara apa sih, Kak? kenapa juga harus berada di tempat sepi begini? Syifa takut terjadi fitnah, lebih baik bicara di sana saja!" tunjuknya pada depan kelas dan hendak pergi meninggalkan Devan.
Syifa memandang tajam ke arah Devan. Namun, dia masih menahan amarahnya.
"Fa, sebenarnya hubungan kamu apa sih, sama Juna?" tanya Devan.
"Nggak ada. Aku dan Kak Juna hanya berteman biasa aja kok, Kak!" tutur Syifa.
"Tapi kamu pasti tahu 'kan kalau Juna lagi ngedeketin kamu? Terus di antara aku dan Juna kamu pilih siapa?" cecar Devan.
"Maaf, Kak. Aku nggak pilih siapa pun di antara kalian. Syifa nggak pengen pacaran. Syifa di sini cuma mau fokus untuk sekolah aja," tutur Syifa dengan lirih dan penuh hati-hati agar Devan mengerti dengan keputusannya.
"Lalu buat apa kamu gantungin aku dari semalem kalau akhirnya kamu cuma mau nolak aku? kamu bohong 'kan? ini pasti gara-gara Juna 'kan? dari kemaren kamu aku lihat ketawa-tawa saat bersama Juna. Munafik kamu, Syifa! atau kamu lagi cari dukungan yah karena Juna di sini sebagai Pradana jadi kamu bisa manfaatin dia biar gak dihukum dan dapat perhatian istimewa gitu, 'kan?" cerocos Devan.
"Enggak, Kak! Syifa sama sekali nggak berpikir seperti itu! Syifa--," ucapan Syifa terputus saat tiba-tiba Devan mendorong bahu Syifa ke tembok dan memaksa untuk menciumnya.
Syifa mengelak, namun Devan berhasil mencium pipi Syifa. Syifa sangat marah dan reflek menampar pipi Devan. Saat Devan memegangi pipinya yang kena tamparan, dengan cepat Syifa berkelit dan berlari meninggalkan Devan seorang diri.
Devan tersenyum sembari mengelus pipinya yang panas akibat tamparan dari Syifa. Namun, dia lega bisa mencium Syifa meski hanya pipinya. Setidaknya dia berhasil melaksanakan tantangan yang diberikan Rian untuknya. Saat itu Rian tengah menonton mereka dari arah tersembunyi.
Sementara tanpa sepengetahuan mereka Nida dan genknya sedari awal mengikuti Syifa. Dia juga melihat hal itu dan sempat mengambil foto ketika Devan mencium Syifa.
__ADS_1
"Guys, enaknya kita apakan ya foto ini?" ucap Nida seraya tersenyum ke arah teman-temannya.
..._______Ney-nna_______...