Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Tertangkap


__ADS_3

Melihat suaminya memasuki kamar, Mia segera mengikutinya.


"Mau mandi, Mas? aku siapkan dulu ya air hangatnya!" ujar Mia lalu beranjak menuju kamar mandi.


"Terima kasih, Sayang!" jawab Edward.


Edward nampak membuka kancing-kancing kemejanya Mia segera mengulurkan tangannya untuk menerimanya dan meletakkan ke dalam keranjang laundry.


Setelah airnya siap Edward masuk ke dalam kamar mandi, sementara Mia menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


"Ayo, kita makan malam dulu, Mas!" ajak Mia setelah suaminya itu selesai berpakaian.


"Baiklah, ayo!" Edward merangkul pinggang istrinya itu lalu berjalan beriringan menuruni tangga menuju meja makan.


"Exel, Jessika ayo makan dulu, Sayang!" serunya pada kedua anaknya masih berada di ruang tengah. Tak berapa lama kedua anaknya pun datang.


Mia dengan telaten melayani suami dan anak-anaknya. Setelahnya mereka semua menengadah kan kedua tangannya ke depan untuk berdoa sesuai dengan kepercayaan mereka, lalu mulai menyantap makanannya masing-masing. Tidak ada obrolan di sana yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu. Sebab, memang sudah menjadi kebiasaan mereka di meja makan tidak ada yang akan bersuara.


Usai makan malam Mia membereskan meja makan, sedangkan yang lain berkumpul di ruang tengah. Barulah di sana anak-anak mulai ribut bergelayut pada papinya. Mereka sangat merindukan bercengkrama dengan papinya.


Mia merasa sedikit lega melihat canda tawa di antara suami dan anak-anaknya. Namun, tidak dipungkiri Mia masih penasaran dengan apa yang terjadi belakangan dengan suaminya. Terlebih setelah menemukan sebuah struk pembelian sebuah motor di saku celana sang suami yang tadi dikenakannya.


Mia memang sengaja tidak bertanya ini dan itu meski banyak yang ingin ia tanyakan pada suaminya. Namun, Mia mencoba menahan diri karena ia mengerti jika sepulang kerja pastilah suaminya masih lelah. Terlebih ia tidak ingin merusak suasana hangat yang tercipta di malam ini. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara nantinya.


"Ice Creamnya datang!" ujar Mia seraya membawa satu pack ice cream berukuran sedang dengan mix beraneka rasa.


"Yeay, Ice Cream!" seru Exel yang nampak riang.


Suasana kembali riuh dengan keseruan Exel dan Jessika menyantap ice cream.


Melihat hal itu Edward kembali teringat kepada Syifa. Seperti apa masa kecil putrinya itu.


Apakah Syifa juga melalui masa keseruan seperti mereka? batin Edward.


"Mas, Jessi minta weekend kali ini ditemani ke Atlantis Land. Bisa kan, Mas?" tanya Mia.


"Hari minggu besok?" tanya Edward.


"Iya, Mas. Aku mohon luangkan waktu buat mereka, Mas!" ujar Mia.

__ADS_1


"Iya, Pi. Pokoknya Jessi mau ke Atlantis Land minggu ini! dua minggu kemarin kita hanya di rumah terus, Papi nggak kasihan sama aku dan Exel? Teman-teman Jessi bahkan liburan ke luar kota, Papi mau ya?" mohon Jessika seraya berlutut di hadapan Edward.


Melihat hal itu Edward pun menjadi tidak tega untuk menolak permintaan putrinya itu.


"Baiklah, besok kita ke sana ...," ujar Edward seraya tersenyum.


Jessika bersorak gembira karena keinginannya dikabulkan oleh papinya. "Makasih, Pi!" ujarnya seraya mengecup pipi kanan Edward.


Keseruan itu berlanjut hingga malam semakin larut. Anak-anak sudah tidur di kamarnya. Usai memastikan anak-anaknya sudah tidur. Mia lalu kembali ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar, Mia sedikit kecewa saat mendapati suaminya pun juga sudah terlelap dalam tidurnya.


"Mas Edward sepertinya kelelahan sekali. Ya sudahlah kalau begitu bicara besok pagi saja!" tutur Mia dengan sendu.


Setelah mencuci muka Mia pun ikut membaringkan diri di samping suaminya. Ia memandangi wajah suaminya yang terlihat lelah dengan mulut yang sedikit terbuka dan dengkuran halus yang terdengar.


"Mas apa kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku, Mas? Bahkan belakangan kamu terlihat tidak tertarik untuk menyentuhku. Apa yang sedang terjadi padamu, Mas?" gumam Mia dengan lirih.


Setelah puas memandangi wajah suaminya, Mia mulai memejamkan mata dan beberapa saat kemudian terlelap dari tidurnya.


Keesokan harinya Edward mendapatkan kabar jika detektif diutusnya untuk mencari keberadaan Anthony akhirnya kini dapat menemukan tempat persembunyian Anthony. Ya Edward memang berniat untuk membantu Rosita mencari keberadaan Anthony. Terlebih Anthony juga hendak memperkosa Syifa saat itu dan hampir saja mencelakakan Syifa.


Berdasarkan hal itu Edward lalu meminta bantuan seorang detektif untuk mencari tahu keberadaan Anthony. Edward pun bergegas berangkat menuju lokasi Anthony saat ini sesuai pesan yang masuk dari pengacaranya.


"Ada apa, Mas?" tanya Mia mengikuti suaminya hingga ke teras rumah.


"Ada urusan penting. Kamu antar anak-anak dulu ya! aku buru-buru!" ujar Edward lalu bergegas menuju mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.


"Mi, Papi udah berangkat ya?" tanya Jessi dengan sendu melihat mobil papinya semakin menjauh hingga menghilang dari pandangan.


"Papi ada urusan yang sangat urgent, Sayang. Ayo kita sarapan dulu! Nanti Mami yang akan mengantarmu!" bujuk Mia pada putrinya.


......................


Siang itu Edward segera mengabari Syifa jika Anthony sudah ditemukan. Ia pun berpesan agar Syifa menyampaikan hal itu pada Rosita. Dan, saat ini Anthony tengah berada di kantor polisi.


Sore harinya Edward menjemput Syifa di kampusnya.


"Sayang, aku membelikan sepeda motor untukmu. Berlatihlah agar kamu bisa bepergian dengan motor itu. Terutama untuk pergi kuliah!" ujar Edward seraya membelai pucuk kepala Syifa yang tertutup jilbabnya.


"Pa, apa itu tidak berlebihan? Papa sudah terlalu banyak mengeluarkan banyak uang untuk Syifa dalam sebulan ini. Syifa kan bisa naik kendaraan umum, Pa," ujar Syifa.

__ADS_1


"Lihatlah ke sana!" ujar Edward saat mobil mereka sudah tiba di pekarangan rumah nenek Sofia.


Nampak sebuah motor matik keluaran terbaru telah bertengger di teras rumah itu. Syifa nampak terkesima dengan apa yang telah diberikan papanya kali ini. Matanya nampak berkaca-kaca menyaksikan hal itu. Ia bersyukur sebab papanya begitu baik padanya. Roda seakan berputar saat ini. Apa yang dulu tidak dapat ia miliki kini dapat ia dapatkan tanpa ia memintanya.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pa!" ujar Syifa lirih.


Edward merengkuh Syifa ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya. "Apa pun itu akan aku berikan asal kamu bahagia, Sayang!" ucapnya.


Setelah itu mereka turun dari dalam mobil dan menuju ke teras rumah.


Rosita yang melihat kedatangan Edward langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan tentang Anthony.


Rosita dan Syifa merasa bersyukur karena akhirnya keberadaan Anthony diketahui. Rosita berharap Anthony mendapatkan hukuman yang berat. Sudah tidak ada lagi perasaan cinta dengan laki-laki yang telah menipunya itu. Ia rela jika Anthony membusuk dipenjara akibat perbuatannya itu.


"Terima kasih atas bantuanmu, Edward!" ujar Rosita saat bertemu di kantor polisi.


"Iya, sama-sama. Namun, sayangnya uang, perhiasan dan mobilmu tidak dapat kembali lagi. Dia sudah menjual semua itu!" tutur Edward.


Rosita merasa sedikit kecewa. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya berharap Anthony mendapatkan hukuman berlapis karena sudah menipu, merampok dan melakukan percobaan pemerkosaan.


"Tante, ikhlaskan saja semuanya. Musibah yang menimpa Tante. Allah pasti akan menggantikan hal itu dengan hal yang lebih baik!" ujar Syifa mencoba menyemangati tantenya.


......................


Malam harinya lagi-lagi Edward pulang larut. Mia bahkan tidak sempat lagi untuk mengajaknya berbicara panjang lebar.


"Apakah hari ini sangat sibuk sekali, Mas?" tanya Mia.


"Iya, aku sangat letih sekali!" ujar Edward seraya membuka kancing kemejanya. Setelah itu ia masik ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai mandi Edward membaringkan diri di tempat tidur.


"Kamu tidak ingin makan dulu, Mas?" tanya Mia.


"Tidak, aku tadi sudah makan malam di luar!" ujar Edward lalu menutup matanya.


Mia pun semakin penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya seharian


..._____Ney-nna_____...

__ADS_1


__ADS_2