
"Lagi pula apa?" tanya Ilham.
"Syifa ..., Ilham ..., ayo pulang! Pamit dulu ya sama mertuanya Nafisa!" potong mama Rosa. Ia kembali untuk mengajak mereka pulang.
Obrolan keduanya pun tidak berlanjut. Mereka langsung mengikuti mama Rosa untuk kembali ke tempat Nafisa dirawat. Usai berpamitan kepada Nafisa dan yang lainnya mereka pun pulang.
......................
Sepuluh tahun kemudian...
"Ma, Syifa berangkat dulu ya, Ma?" pamitnya.
"Iya. Hati-hati, Sayang!"
Syifa mencium punggung tangan sang mama sebelum berangkat bekerja.
Namun, kali ini Rosa dengan cepat menahan tangan putrinya ketika Syifa hendak beranjak.
"Ada apa, Ma?" tanya Syifa.
"Syifa ..., Mama mohon kali ini pikirkan kembali ketika ada laki-laki yang datang melamarmu, Nak. Jangan buru-buru kamu menolak. Mama ingin melihatmu berumah tangga, Syifa. Mama ingin kamu bahagia dengan keluarga kecilmu. Sudah cukup lama kamu menantikannya dan dia tidak kunjung datang. Bisa saja kan, dia sudah menikah dengan wanita lain!" tutur Rosa dengan sendu.
Rosa merasa sangat sedih dengan nasib putrinya. Hingga umurnya yang sudah menginjak kepala tiga, Syifa masih juga melajang. Sempat mengalami batal menikah membuatnya menutup hatinya rapat-rapat bagi siapapun yang datang mengkhitbahnya. Syifa lebih fokus mengejar karirnya.
"Iya, Ma. Syifa berangkat sekarang ya, Ma!"
Usai berpamitan ia segera beranjak pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir di halam rumah. Begitulah ia menghindar dari obrolan yang lebih lanjut lagi dengan sang mama.
Diperjalanan menuju kantor Syifa masih terpikirkan dengan permintaan mamanya barusan. Ia tahu jika sesungguhnya selama ini mamanya menahan diri untuk tidak mengatakan hal itu. Dan setelah lima tahun berlalu akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mamanya.
__ADS_1
Syifa menyadari jika bukan hanya dirinya yang merasa terpukul dengan peristiwa batalnya rencana pernikahan lima tahun silam. Ia tahu orang-orang terdekatnya sebenarnya juga turut menyimpan kesedihan. Namun, mereka sengaja tidak pernah membahasnya lagi demi menjaga perasaan Syifa.
Sementara Ilham, satu tahun setelah pertemuan pertamanya dengan Asyifa Azzahra keduanya menikah. Bermula dari Asyifa yang menolak untuk berta'aruf dengan beberapa pemuda yang dijodohkan oleh orang tuanya, akhirnya orang tuanya bertanya kepada anaknya. Asyifa mengaku bahwa ia mengagumi sosok Ilham abangnya Nafisa.
Dari kejadian di rumah sakit waktu itu Ilham benar-benar bertanggung jawab. Ia mengganti handphone Asyifa yang tidak bisa diperbaiki dengan handphone yang baru. Lantas beberapa kali bertemu dalam acara keluarga membuat Asyifa kagum dengan sosok Ilham yang menurutnya adalah laki-laki yang salih dan sangat menjaga pandangannya.
Tak menunggu waktu yang lama, ayah Asyifa pun berkunjung ke rumah Abi Imron. Beliau menyampaikan maksud kedatangannya yakni ingin menawarkan anaknya untuk berta'aruf dengan Ilham. Ilham awalnya tidak mau, sebab ia ingin Syifa yang menikah terlebih dahulu. Syifa sendiri belum berniat menikah sebelum menyelesaikan kuliahnya. Syifa dan Nafisa terus membujuknya. Mereka tahu bahwa Asyifa adalah gadis yang baik dan sangat cocok untuk Ilham. Akhirnya Ilham pun setuju untuk berta'aruf dengan Asyifa.
Setelah menikah Ilham melihat sebuah foto yang terpasang di kamar istrinya. Dalam foto itu terlihat Asyifa yang tengah berfoto ketika umrah bersama keluarga. Saat Ilham bertanya kepada istrinya kapan ia umrah, tanpa terduga ternyata Asyifa umrah tepat disaat Ilham juga sedang melaksanakan umrah di Mekkah bersama temannya.
"MasyaAllah!" pekik Ilham terkejut.
"Kenapa, Mas?" tanya Asyifa.
"Coba kamu lihat baik-baik, tak jauh di belakang kamu itu adalah foto aku dan temanku yang tengah usai bermunajad di depan ka'bah!" terang Ilham masih dengan penuh keheranan.
Dalam foto itu memang Ilham tidak terlihat jelas mukanya karena ia menghadap ke samping tapi Ilham masih dapat mengenali temannya yang terlihat sangat jelas karena tengah menghadap ke arah yang sama dengan Asyifa.
Setelah peristiwa batalnya pernikahan Syifa, beberapa kali Ilham mengajak temannya berkunjung ke rumah Abi dengan alasan temannya ingin diperkenalkan kepada abi Imron. Padahal niat sesungguhnya Ilham ingin mencarikan jodoh untuknya. Ia ingin Syifa cepat move on dari masa lalunya. Namun, Syifa selalu menolak untuk berta'aruf dengan siapapun. Dengan alasan dia masih ingin mengejar karirnya. Padahal rasa bersalahnya lah yang masih membuatnya enggan untuk melangkah kejenjang pernikahan.
Kini Syifa semakin resah mengingat permintaan mamanya barusan. Sebab akhir-akhir ini kesehatan mamanya sedang menurun. Ia khawatir kondisi mamanya akan semakin buruk karena terlalu memikirkannya yang tak kunjung menikah.
Terlebih dengan omongan tetangga yang tanpa sengaja ia dengar. Yang mengatakan ia terlalu pemilih hingga kualat karena dulu sering menolak lamaran dari laki-laki yang datang melamar. Dan, Syifa yakin mamanya pun turut mendengar.
Hati ibu mana yang tidak sakit jika mendengar anaknya dijelek-jelekkan seperti itu. Meski mamanya diam saja demi menjaga nama baik suaminya yang merupakan orang yang disegani di kampung itu, tapi Syifa yakin mamanya menyimpan kesedihan yang mendalam di hatinya.
"Tok tok tok!"
Sebuah ketukan di pintu membuat Syifa tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Masuk!"
Seorang asistennya masuk dengan membawa sebuah berkas-berkas di tangan.
"Mbak, ini berkas perkara baru yang akan Mbak tangani!" ucap Dina asistennya.
"Baik, Dina. Makasih ya. Kamu boleh pergi!" ucap Syifa sembari menerima sebuah map berwarna merah.
"Mbak Syifa nggak istirahat?" tanya Dina lagi.
Syifa melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kantornya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Sudah waktunya jam istirahat siang. Biasanya Syifa akan salat terlebih dahulu baru kemudian makan siang.
"Aku salat dulu ya, Din. Kamu duluan saja, nanti aku nyusul!" ujar Syifa.
"Baik, Mbak. Kalau gitu aku duluan ya, Mbak?" Asisten Syifa yang bernama Dina pun berlalu dari ruangan Syifa setelah mendapat anggukan dari Syifa.
Lulus kuliah dengan nilai cumlaude di fakultas hukum membuat Syifa dikenal sebagai alumni dengan lulusan terbaik. Lalu melanjutkan kuliah profesinya demi mendapatkan Sertifikat Pendidikan Khusus Profesi Advokad (PKPA). Ia lalu mengikuti ujian yang diselenggarakan organisasi advokat dan dinyatakan lulus. Saat Syifa merencanakan pernikahan, tiba-tiba sebuah peristiwa terjadi pada hari menjelang pernikahannya.
Saat itu Syifa benar-benar terpuruk. Berkat dorongan dari keluarga akhirnya ia perlahan bangkit untuk fokus mengejar cita-citanya. Ia magang di kantor advokad selama dua tahun. Hingga akhirnya Syifa kini telah menjadi seorang pengacara wanita yang dapat dibilang cukup berkompeten karena berhasil menyelesaikan kasus-kasus yang ditanganinya dengan baik.
Seusai salat, Syifa menuju rumah makan yang berada di samping kantornya untuk makan siang. Terlihat Dina sudah mulai makan dengan teman-teman yang lain. Syifa segera bergabung dan memesan makanannya.
"Mbak, aku tadi lupa bilang. Habis makan siang nanti akan ada pertemuan dengan klien baru Mbak Syifa, ya!" ucap Dina.
"Oh, langsung. Oke!" jawab Syifa singkat.
Tidak jauh dari sana seorang laki-laki dengan memakai setelan jas rapih tengah memperhatikan meja Syifa.
"Bos, perempuan yang memakai cadar itu yang nantinya akan menjadi pengacara Anda. Saya sudah menyelidikinya. Dia cukup berkompeten dalam sepak terjangnya menangani kasus-kasusnya!" tutur seorang asisten.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...