
Sesuai jadwal yang telah dibuat, usai makan siang Syifa akan bertemu dengan kliennya. Sebelum pertemuan Syifa menyempatkan waktu untuk membaca berkas yang tadi diberikan Dina sebelumya.
Rupanya ini adalah kasus pembunuhan yang telah terjadi beberapa tahun silam. Kini putra dari korban menuntut agar terduga yang merupakan pamannya di hukum atas perbuatannya di masa lampau.
Ada yang membuat Syifa sedikit terkejut saat membaca nama kliennya. Sebab nama itu mengingatkannya pada seseorang. Namun, Syifa berusaha untuk menepisnya. Bukankah banyak orang yang tanpa sengaja memiliki nama yang sama dengan orang lain? pikirnya.
Tok tok tok!
"Masuk!"
"Mbak Syifa, kliennya sudah datang!" tutur Dina.
"Baik persilakan masuk, Din!" ucap Syifa.
Kemudian muncullah dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan Syifa. Dina mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu yang ada di dalam ruangan Syifa.
Tak.
Map yang tengah dipegang syifa seketika terjatuh tepat saat kliennya membuka kacamatanya.
Iqbal! pekik Syifa di dalam hati.
Sejenak keduanya saling bersitatap dalam diam. Iqbal baru mengetahui jika wanita bercadar di hadapannya adalah Syifa lewat dari sorot matanya yang sangat familiar baginya.
"Ekhm, boleh saya duduk!" ucap Iqbal seraya memutus pandangannya seolah tidak mengenal Syifa sebelumnya.
"Silakan, Pak!" jawab Dina ramah.
__ADS_1
Syifa segera memungut berkas mapnya yang jatuh.
"Bu Syifa, perkenalkan saya Tom, asisten pribadi Pak Iqbal!" ucap Tom membuka obrolan dengan ramah.
Syifa mengatupkan kedua tangan di depan dada untuk menolak dengan halus berjabat tangan dengan Tom.
Tom dengan sigap menarik kembali uluran tangannya. Ia hampir lupa jika sang pengacara adalah muslimah yang sangat menjaga untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Sesuai rumor, Syifa adalah pengacara yang dikenal bersih. Dengan kata lain ia tidak menerima suap untuk memutar balikkan fakta.
Sebelumnya Iqbal sudah memiliki seorang kuasa hukum pribadi. Namun, mendadak pengacaranya mengalami sakit yang serius hingga mengakibatkan meninggal dunia sesaat usai di rawat di rumah sakit. Hingga akhirnya Iqbal harus mencari pengacara pengganti untuk menangani kasusnya.
Mereka pun mulai berdiskusi mengenai kasus pembunuhan papa Iqbal beberapa tahun silam. Dan Syifa dibuat terperangah saat tahu jika paman Iqbal adalah saudara angkat papa Iqbal yang merupakan papa Devan. Orang yang telah memberi kenangan buruk yang tidak terlupakan bagi Syifa. Dengan demikian artinya Syifa akan kembali bertemu dengan Devan saat menangani kasus ini. Hal ini membuat Syifa kembali mengingat pada peristiwa kelam yang pernah dialaminya dulu.
Usai berdiskusi mereka menandatangani surat kuasa. Dengan begitu Syifa resmi menjadi kuasa hukum Iqbal untuk menangani kasus pembunuhan papanya.
"Tuan Iqbal, sebelum meninggalkan ruangan bisakah saya berbicara empat mata dengan Anda?" pinta Syifa.
"Dina, kamu boleh keluar. Tapi jangan tutup pintunya!" titah Syifa pada Dina.
"Baik, Mbak!"
Sepeninggal mereka berdua Syifa berdiri menuju kursi kerjanya untuk memberi jarak aman.
Iqbal hanya diam memperhatikan dengan santainya sembari menyilangkan kaki dan bersandar di sandaran sofa meski dapat menebak apa yang akan Syifa bicarakan.
"Jadi selama ini kamu dan kak Devan bersaudara? dan kamu tidak melaporkan perbuatan Devan waktu itu karena kamu ingin melindunginya dari jerat hukum?" tanya Syifa dengan tegas.
"Bisa dikatakan seperti itu. Seperti yang kamu ketahui. Aku menjadi yatim piatu di usia sepuluh tahun. Setelah itu pamanku lah yang merawatku. Tidak banyak yang aku ketahui tentang latar belakang keluarga ku yang sesungguhnya hingga aku beranjak dewasa dan bertemu dengan pengasuhku sewaktu kecil."
__ADS_1
"Waktu itu, aku hanya mengerti jika pamanku adalah satu-satunya keluargaku. Demi membalas budi padanya yang telah merawat ku, maku aku patuh dengan perintahnya untuk mengawasi Devan. Dan tugasku adalah membereskan kenakalan yang dilakukan Devan tanpa ada yang tahu jika kami bersaudara."
"Hingga kini aku tahu kebenarannya setelah bertemu dengan pengasuhku sewaktu kecil. Dia mengatakan jika pamanku hanyalah anak angkat dari kakekku. Dan pamanku adalah orang yang telah mengakibatkan kedua orang tuaku dan saudara kembarku meninggal dunia!" tutur Iqbal menceritakan masa lalunya yang pahit.
"Lalu, apa yang terjadi padaku waktu itu? kamu satu-satunya saksi dalam peristiwa itu, dan kamu malah menghilang begitu saja tanpa menjelaskan apapun padaku!"
"Aku pastikan Devan belum sempat melakukan hal itu padamu. Aku membayar orang untuk menggagalkan perbuatan Devan yang hendak melecehkanmu. Setelah dia kalah dan pergi barulah aku masuk untuk melihat keadaan mu waktu itu. Tapi, kamu tenang saja meskipun aku sempat melihatmu tanpa sehelai benang pun aku tidak menyentuhmu. Aku hanya bisa menutupi tubuhmu dengan jaket yang kupakai saat itu hingga seorang perempuan tua terlihat masuk ke halaman rumahmu. Dari situlah aku kabur lewat jendela yang ada di dapur mu."
Syifa gemetaran mendengar hal itu. Ada rasa perih kembali mengingat peristiwa naas itu hingga ia harus kehilangan nenek Fatimah yang sangat ia sayangi. Namun, ada kelegaan setelah mengetahui fakta yang sesungguhnya atas peristiwa itu. Setidaknya ia tahu bahwa ia masih suci.
"Seharusnya kamu menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi padaku saat itu. Banyak hal buruk yang terjadi padaku akibat peristiwa itu. Aku bahkan sempat depresi karena ketidak tahuanku. Dan yang datang waktu itu adalah nenekku. Beliau sampai meninggal akibat serangan jantung setelah melihat keadaanku waktu itu!"
Iqbal seketika terkejut mendengarnya. Selama ini ia tidak tahu apa yang Syifa alami setelah peristiwa naas itu. Ia dan keluarga Devan pindah ke Surabaya sejak saat itu. Ada rasa bersalah yang Iqbal rasakan karena tidak memberitahukan kepada Syifa tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Dan kata maaf pun rasanya percuma setelah mendengar apa yang terjadi pada Syifa.
"Kamu sudah boleh pergi!" ucap Syifa seraya berdiri menuju jendela yang memperlihatkan keadaan di luar kantornya. Ia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang tengah menangis. Sebab peristiwa itu masih sangat membekas di benaknya.
Iqbal pun perlahan bangkit dan keluar dari ruangan Syifa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dalam perjalanan pulang di dalam mobil. Iqbal masih terdiam memikirkan hal tadi.
"Tom, berikan data pribadi tentang pengacara wanita tadi!" titah Iqbal. Saat di restoran tadi ia tidak berminat untuk melihat data-data yang diberikan Tom tentang Syifa. Tentu saja ia sama terkejutnya dengan Syifa, saat bertemu di kantornya barusan. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan rasa keterkejutannya demi menjaga wibawanya di depan semua orang.
"Apa sebelumnya Anda mengenal nona Syifa, Bos?" tanya Tom.
"Jangan banyak bertanya, Tom. Fokus saja pada jalanan di depanmu!" tegas Iqbal karena Tom tengah menyetir mobilnya.
"Baik, Bos!" Asistennya itu seketika diam saat Iqbal nampak tak ingin diganggu. Sebab ia tahu jika atasannya itu tidak suka bercanda.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...