
Setelah kepergian Edward Syifa menceritakan pada mama dan tantenya tentang kejadian hari itu mulai dari Anthony yang berusaha melecehkannya.
"Maaf, Tante. Bahkan di malam sebelumnya Om Anthony mengintip Syifa saat hendak mengambil wudhu."
"Mengapa kamu tidak mengatakan hal itu kepada Mama, Fa?" Rosa nampak terkejut.
"Malam itu Syifa beberapa kali ingin memberitahukannya pada Mama, tapi tidak pernah ada kesempatan untuk Syifa berbicara sama Mama. Meskipun takut pada Om Anthony, Syifa berusaha untuk memberanikan diri, sebab hari itu adalah kesempatan Mama mendapatkan pekerjaan. Syifa bahkan awalnya selalu berada di luar agar tidak berada satu ruangan dengan Om Anthony. Tapi hingga masuk waktu dhuhur Tante tak kunjung datang. Syifa masuk karena ingin melaksanakan salat dan juga menyiapkan makan untuk nenek, namun tiba-tiba Om Anthony ...," Syifa menggantungkan ceritanya saat melihat tantenya mulai terisak.
"Brengzekk kau Anthony! Dadar laki-laki Brengzekk!" umpat Rosita meluapkan kekesalannya.
Syifa kemudian melanjutkan ceritanya hingga ia bertemu dengan Edward dan akhirnya Edward membawanya pulang dari rumah sakit.
"Syukurlah Syifa, untung kamu dan Nenekmu baik-baik saja!" ujar Rosa dengan pilu. Ia bersyukur karena Syifa bisa lolos dari Anthony dan tidak terluka serius akibat bertabrakan dengan mobil Edward.
Rosa sangat bersyukur mamanya masih selamat. Hal ini mengingatkannya pada peristiwa yang terjadi pada Syifa dia tahun lalu saat nenek Fatimah meninggal dunia akibat dari musibah yang terjadi pada Syifa. Ia tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi lagi. Ia akan sangat merasa bersalah karena meninggalkan Syifa dengan Anthony.
Rosita kembali menangis tersedu-sedu. Tidak menyangka jika Anthony ternyata telah mengkhianatinya dan hanya mengincar hartanya saja.
"Ma, bagaimana, Ma? apa boleh Syifa menerima tawaran papa untuk membiayai kuliah Syifa?" tanya Syifa dengan harap-harap cemas.
Rosa sadar jika ia tidak boleh egois pada putrinya. Syifa anak yang pintar dan ini adalah kesempatan yang bagus bagi putrinya. meskipun tidak dipungkiri Rosa masih belum bisa percaya pada Edward sepenuhnya. Namun, Syifa berhak untuk mendapatkan bantuan dari ayahnya.
Rosa menghembuskan nafas beratnya.
"Baiklah, Sayang. Semua demi kebaikanmu Mama akan mengijinkannya. Tapi, jangan berlebihan padanya, Syifa. Kau belum terlalu mengenal siapa dia begitupun dengan Mama. Mama akan berusaha untuk tetap menghidupimu dengan jerih payah Mama sendiri!" ujar Rosa memperingatkan.
Rosa tidak ingin terlalu bergantung pada orang asing. Bahkan ia tidak terlalu mengenal latar belakang Edward. Dahulu pun saat menjadi kakak iparnya masih sangat singkat dan mereka jarang mengobrol. Dalam ingatannya selama ini Edward adalah orang yang telah merenggut kesuciannya. Sungguh berat bagi Rosa untuk menganggapnya sebagai ayah biologis dari putrinya.
Syifa menghambur memeluk mamanya seraya tersenyum senang. "Baik, Ma. Terima kasih!"
"Iya, sudah sore Syifa. Mandilah lebih dulu!" perintah Rosa.
"Baik, Ma."
Syifa kemudian bangkit dari duduknya dan pergi ke dalam kamarnya untuk mengambil baju ganti. Setelah itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kak, dibalik musibah yang menimpa Kakak saat ini, setidaknya Kakak tahu jika Anthony tidak tulus pada Kakak. Dan bersyukur Mama baik-baik saja. Sabar ya, Kak!" ujar Rosa menenangkan kakaknya.
__ADS_1
Rosita mengangguk dengan lesu. Air matanya terasa kering setelah capek menangis sedari tadi. Namun, yang paling membuatnya sedih adalah mobil barunya yang ia beli dengan susah payah kini raib begitu saja. Ia tidak tinggal diam dan akan tetap mencari keberadaan Anthony.
"Kak, apa Edward saat ini sudah berkeluarga lagi pasca bercerai dengan Kakak?" tanya Rosita.
Ia ingin memastikan bahwa jika Edward sudah berkeluarga mereka bisa menerima kehadiran Syifa sebagai anak dari Edward. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada rumah tangga Edward karena keberadaan Syifa, dan Syifa terkena imbasnya.
"Setelah kepergianmu aku dan Edward langsung berpisah. Setelah perceraian kami dia hanya datang ke rumah ini untuk mengorek informasi tentangmu. Aku tahu dia berusaha keras mencarimu. Setelah tidak menemukanmu dia tidak lagi datang dan kita tidak pernah berhubungan lagi. Jadi aku tidak tahu apakah ia sudah berkeluarga atau belum. Tapi, aku rasa pasti sudah. Ini sudah sembilan belas tahun berlalu Rosalina, dia itu laki-laki normal. Mana mungkin dia tahan untuk melajang selama itu!" seloroh Rosita.
"Lantas aku harus bagaimana, Kak? bagaimana jika keluarganya saat ini tidak bisa menerima Syifa?" Rosa berubah cemas.
"Itu adalah bagian Edward untuk mengurusnya. Dia harusnya tau bagaimana cara agar mereka bisa menerima Syifa sebagai putrinya juga. Dan, sudah sepantasnya Syifa mendapatkan haknya sebagai putrinya. Karena Syifa adalah tanggungjawab nya juga!" ujar Rosita.
......................
Keesokannya Rosa sudah berpakaian rapi. Ini adalah hari pertamanya untuk ditempatkan di tempat kerjanya. Rosa merasa sedikit lega karena Rosita hari ini akan berada di rumah. Sehingga Rosa sedikit merasa tenang karena ada yang menemani Syifa di rumah selain dengan neneknya.
"Kak, aku titipkan Syifa padamu ya?" tanya Rosa.
"Ia tenanglah, aku pasti menjaganya. Lagi pula Anthony tidak mungkin berani untuk datang lagi ke rumah ini. Jika ia berani datang aku pasti akan mematahkan kakinya!" sarkas Rosita.
"Doakan Mama semoga majikan Mama baik pada Mama ya, Syifa! " ujar Rosa.
"Tentu, Ma. Fighting!" ujar Syifa dengan mengangkat salah satu lengan tangannya dengan terkepal seraya tersenyum menyemangati mamanya.
Rosa tersenyum kemudian beralih berpamitan pada mamanya yang tengah duduk di kursi roda.
"Aku berangkat ya, Ma!"
"Hati-hati, Ros!" ujar Sofia.
Tok tok tok.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Semua nampak berpandangan.
"Siapa yang datang sepagi ini?" ujar Rosita seraya bangkit dari duduknya.
"Em, biar aku saja yang lihat sekalian berangkat kerja, Kak!" sergah Rosa.
__ADS_1
"Baiklah!" Rosita pun kembali duduk di kursinya semula.
Sedangkan Syifa nampak telaten menyuapi neneknya.
Rosa berjalan ke depan, lalu membuka pintu.
Dia sedikit terkejut saat melihat Edward lah yang bertamu sepagi itu.
"Selamat pagi, Ros!"
Rosa tidak segera menjawabnya, sejenak ia hanya m3natap Edward datar lalu nampak menghela nafasnya pelan.
"Kau ingin bertemu dengan Syifa, 'kan? duduklah aku akan memanggilkannya!" ujarnya seraya menunjuk dengan sorot matanya agar Edward duduk di bangku teras rumah.
"Tunggu!" Edward dengan cepat mencekal lengan Rosa yang hendak kembali masuk ke dalam rumah.
Rosa mengurungkan langkahnya dan kembali menoleh seraya menatap tajam lalu dengan cepat menghempaskan cekalan tangan Edward di lengan bajunya.
"Ma-maaf, aku hanya ingin bertanya apakah kau mengijinkan tawaran ku kemarin untuk membiayai kuliah Syifa? aku rasa kita perlu berbicara, " ujar Edward dengan sedikit gugup.
"Kau bisa menanyakan hal itu kepada Syifa. Aku tidak punya waktu untuk mengobrol denganmu. Aku harus segera berangkat kerja!" ujarnya.
"Emm ... aku bisa mengantarmu sekalian kita berbicara. Aku rasa kita perlu berbicara banyak hal menyangkut Syifa!" tukas Edward.
"Tidak perlu! Kita bicarakan hal itu lain kali. Duduklah akan ku panggilkan, Syifa!" tolak nya.
Rosa segera beranjak masuk ke dalam rumah untuk memanggil Syifa.
Tak berapa lama ia kembali keluar bersama Syifa.
"Mama pergi Syifa, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam, Ma. Hati-hati!" ujar Syifa.
Setelah itu Rosa pergi begitu saja setelah melirik sejenak pada Edward tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
...______Ney-nna______...
__ADS_1