Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terurung Lagi


__ADS_3

Keesokan paginya Syifa sudah bersiap menuju rumah sakit. Ia sudah menyiapkan bekal sarapan pagi yang dibuat mamanya dan akan dibawanya ke rumah sakit untuk diberikan kepada papanya.


"Ayo, Ma. Kita berangkat sekarang!" tutur Syifa pada Mamanya.


"Iya." Sebelum berangkat Rosa berpamitan pada Sofia, "Ma, aku pamit ke rumah sakit dulu ya?"


"Iya, kalian hati-hati di jalan!" ucap Sofia mengiringi langkah anak dan cucunya.


Syifa dan Mamanya pun segera pergi menuju ke rumah sakit dengan menaiki kendaraan umum.


***


Tok tok tok.


Syifa mengetuk pintu kamar pemuda pengendara motor yang kemarin jatuh.


"Masuk!" Edward yang menyahut dari dalam.


Syifa membuka pintu dan masuk lebih dulu. Ia beranjak menuju ke arah papanya berada dan menyalaminya.


"Pagi, Pa. Syifa bawakan sarapan buat Papa," ujar Syifa seraya mengulurkan rantang berisi bubur kacang hijau ketan hitam yang di masak oleh mamanya.


"Terima kasih, Sayang. Sepertinya enak," ujar Edward.


"Buruan dimakan, Pah. Mama yang masak!" ujarnya.


Rosa yang baru masuk ke ruangan itu hanya tersenyum sejenak ke arah Edward lalu memilih menghampiri pemuda pengendara motor yang terluka.


"Kamu sudah sarapan pagi?" tanya Rosa.


Pemuda itu yang awalnya menatap ke arah Syifa, seketika berpaling saat mendengar pertanyaan dari Rosa. Ia lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sebab, sarapan pagi dari rumah sakit memang belum diantarkan ke kamar karena saat ini masih terlalu pagi.


"Syifa, kemarikan mangkuk yang satunya!" tutur Rosa.


Syifa dengan patuh menuruti perintah mamanya dan membawakan semangkuk bubur itu kepada mamanya berada.


"Ini, Ma!" ujar Syifa seraya menyerahkan mangkuk yang dibawanya. Lalu, ia melirik sejenak pada pemuda yang setengah berbaring itu yang saat itu juga tengah menatap ke arahnya.


"Siapa namamu?" tanya Rosa.


"Em ..., Iqbal, Tante," jawabnya lirih.

__ADS_1


Deg.


Syifa seketika menajamkan pandangannya pada pemuda itu.


Iqbal? dia yang bernama Iqbal? tidak salah lagi dia teman sekelas Antika waktu itu. Namun, bagaimana bisa jaket almamaternya yang menutupi tubuhku waktu itu?! guman Syifa di dalam hati dengan terkejut.


Rosa menatap sekilas pada tangan kanan Iqbal yang kemarin habis dioperasi. "Ayo makanlah biar Tante yang menyuapimu!"


"Maaf merepotkan, Tante!" jawab Iqbal dengan sopan.


Syifa masih terdiam dan menatap tajam pada pemuda itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin terlontar dari mulutnya, namun ia tahan mengingat saat ini ada mama dan papanya. Sambil berdiri ia terus memperhatikan gerak-gerik pemuda itu yang tengah disuapi oleh mamanya.


Sementara Iqbal mencoba untuk mengabaikan keberadaan Syifa, meskipun ia bisa merasakan jika saat ini Syifa tengah menatap ke arahnya dari sudut matanya, namun ia mencoba untuk bersikap biasa seolah tak mengenal Syifa.


Meskipun tadi ia cukup terkejut saat mendengar nama gadis itu disebutkan oleh mamanya. Hal itu membuatnya seketika ingat jika gadis di hadapannya itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang dulu menjadi incaran Devan sewaktu di SMA. Walaupun Syifa memakai cadar namun dari suaranya itu Iqbal mengenalinya. Ia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Syifa di kota ini. Kota yang menjadi tempat pelariannya usai peristiwa yang terjadi di rumah Syifa dua tahun silam.


"Em, cukup Tante," ujarnya menghentikan Rosa yang hendak kembali menyuapkan makanan itu kembali.


"Baiklah! kau ingin minum?" tanya Rosa lagi.


"Boleh!"


Rosa pun kembali menyodorkan gelas ke arah Iqbal lalu membantunya minum.


"Kak, pulanglah. Biar aku dan Syifa yang menjaganya," tutur Rosa.


"Kalian yakin?" tanya Edward.


"Benar, Pa. Papa pulang saja dulu. Papa kan juga butuh beristirahat!" timpal Syifa.


"Baiklah!" Edward segera memungut handphone dan segera mengenakan mantelnya.


"Biar aku mengantarmu, Kak. Ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Rosa lalu ikut bangkit berdiri. "Mama tinggal sebentar ya, Fa!" pamitnya.


Syifa mengangguk mengiyakan.


"Hati-hati di jalan, Pa!"


"Iya, Sayang!" jawab Edward lalu keluar dari ruangan itu setelah melirik sejenak pada pemuda yang ditolongnya.


Rosa pun mengikutinya dari belakang. Ia membiarkan pintu kamar itu tetap terbuka. Kini tinggallah Syifa dan Iqbal di ruangan itu.

__ADS_1


......................


"Kak, apa benar-benar tidak ada satu pun kerabat yang datang menjenguknya semalam? teman mungkin?" tanya Rosa memastikan.


"Tidak ada, Ros. Ketika sadar dia pun tidak banyak bicara jika bukan aku yang bertanya. Dia bilang dia tinggal di sebuah kamar kos seorang diri. Dia seorang mahasiswa di universitas yang sama dengan Syifa. Selama ini ini bekerja paruh waktu untuk menghidupi biaya hidup dan kuliahnya. Hanya itu yang aku tahu. Tidak banyak yang bisa aku korek darinya," ujar Edward.


"Kasihan sekali ya. Lantas bagaimana nanti kedepannya? sepulang dari rumah sakit bagaimana? tidak mungkin kita membiarkannya tinggal sendirian dengan kondisi seperti itu kan? butuh waktu yang cukup lama sampai dia kembali pulih," ujar Rosa.


"Nanti coba aku pikirkan solusinya!"


"Baiklah, Kak. Terima kasih atas semua yang kamu berikan untuk Syifa, Kak?" tutur Rosa.


"Sudah menjadi tanggungjawab ku. Aku pulang dulu ya, jika ada apa-apa minta Syifa untuk mengabariku secepatnya!" tukas Edward.


"Baik. Hati-hati di jalan, Kak!"


Edward mengangguk lalu beranjak pergi menuju ke tempat mobilnya terparkir setelah berbalik sekali lagi melihat ke arah Rosa. Sedangkan Rosa sudah berbalik untuk beranjak kembali menuju kamar Iqbal berada.


Di dalam mobil, Edward nampak berpikir keras alasan apa yang harus ia katakan pada Mia ketika ia sampai di rumah nanti. Jika ia mengatakan yang sejujurnya, apakah Mia bisa menerima kehadiran Syifa di antara mereka nantinya?


......................


Di ruang rawat inap, Iqbal tengah diperiksa oleh seorang dokter. Usai di periksa gantian seorang terapis masuk untuk memberi arahan tentang hal yang harus ia lakukan agar otot-ototnya tidak kaku. Syifa yang tadinya hendak mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang sejak tadi di tahannya jadi terurung karena hal itu.


Syifa merasa tidak sabar ingin mengetahui apa yang telah terjadi padanya waktu itu. Syifa yakin hanya Iqbal yang bisa menjelaskan semuanya tentang kejadian waktu itu.


Sebab saat itu dia ingat Devan lah yang datang ke rumahnya dan hendak memper kosanya. Namun, ia bingung ketika ia sadar dari pingsan mengapa ada jaket almamater Iqbal yang menutupi tubuhnya? dan apa yang terjadi setelah ia pingsan? Syifa benar-benar merasa resah dan ingin segera mengeluarkan semua tanya yang bercokol di kepalanya.


"Syifa, kenapa ada di luar?"


Tepukan di pundak membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Mama ...!" pekik Syifa.


"Kenapa ada di luar?" tanya Rosa.


"Di dalam sedang ada terapis, Ma. Papa sudah pulang?" tanya Syifa.


"Iya, sudah. Syifa Mama merasa tidak enak karena terus-menerus merepotkan papamu. Dia sudah mengeluarkan banyak uang untukmu. Mama sebenarnya mengkhawatirkan satu hal ...," ujar Rosa.


"Apa itu, Ma?" tanya Syifa.

__ADS_1


"Keluarganya. Papamu itu mempunyai keluarga Syifa. Mama khawatir jika keluarganya tidak bisa menerima kehadiranmu," ujar Rosa.


...______Ney-nna______...


__ADS_2