
Sampailah mereka di depan kamar yang paling ujung dekat rumah kaca. Iqbal mengetuk pintu lalu membukanya.
"Bal, kalian datang ke sini!" ucap nenek Maryam tersenyum menyambut kedatangan Iqbal dan Syifa.
"Iya Nek. Aku ingin mengenalkan Syifa dengan Om Andreas!" jawab Iqbal sembari menarik kursi dan memberikannya pada Syifa.
"Kenapa buru-buru. Syifa pasti masih capek. Iya kan, Syifa?" tanya nenek Maryam.
"Tidak kok, Nek. Tadi kan sudah istirahat, sekarang saya sudah merasa baikan," ucap Syifa seraya duduk di kursi lipat yang diberikan oleh Iqbal.
Syifa memperhatikan sebuah mangkuk yang sudah kosong di tangan nenek Maryam, lalu beralih melihat seseorang yang terbaring di tempat tidur. Sepertinya nenek Maryam baru saja selesai menyuapinya makan. Namun, Syifa belum bisa melihat wajah orang tersebut karena terhalang oleh nenek yang tengah duduk menyerong membelakanginya.
"Sudah kenyang makannya, Om?" tanya Iqbal pada seseorang itu.
Tidak terdengar jawaban, tapi ada sebuah gerakan dari seseorang itu.
"Ya sudah ..., Nenek keluar dulu, ya. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya!" ucap Nenek Maryam kemudian perlahan berdiri.
Syifa memberi ruang agar nenek Maryam lebih leluasa saat melewatinya.
Saat nenek Maryam sudah menghilang di balik pintu, Syifa kembali beralih pada posisinya semula. Pandangannya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang tengah terbaring di hadapannya. Nampak lah dengan jelas sosok yang hendak diperkenalkan oleh Iqbal padanya itu.
Syifa memperhatikan lebih intens ke arah sosok itu. Disaat bersamaan laki-laki malang itu juga tengah menatap ke arah Syifa. Betapa terkejutnya Syifa saat ia merasa mengenali wajah itu. Wajah tanpa dosa yang pernah membuatnya trauma menghadapi karakter orang yang serupa. Hampir saja Syifa hendak melompat ke arah luar kalau Iqbal tidak mencegahnya.
"Kamu ingat?" tanya Iqbal.
Syifa melihat bergantian antara Iqbal dan sosok yang berbaring itu. Dari wajahnya dia nampak kebingungan melihat ke arah Syifa yang terlihat pucat.
"Duduklah. Om Andreas tidak akan menyakitimu. Dia juga sudah sangat lemah dengan kondisinya saat ini!" ucap Iqbal menarik jemari Syifa perlahan agar kembali duduk.
Syifa akhirnya menurut. Ia menggeser kursinya mundur memberi jarak aman dan lebih mendekat ke arah Iqbal yang tengah duduk di tepian tempat tidur.
"Om, namanya Syifa. Om ingat tidak waktu kita pergi ke ruko terus nenek marah sama Om karena mengejar anak perempuan yang mirip Aqila?" tanya Iqbal.
Laki-laki itu menggeleng sembari manyun melihat ke arah Syifa.
"A-aqila cantik. A-aqila rambutnya panjang!" jawab Andreas dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Iya, Om. Itu dua puluh tahun lalu. Seharusnya Aqila sudah sebesar dia sekarang!" tutur Iqbal.
Iqbal nampak berpaling ke arah Syifa sejenak, lalu kembali melanjutkan bercerita.
"Waktu itu Om bilang Iqbal harus jagain dia kan? Selama ini Iqbal sudah berusaha menjaganya. Devan juga nggak bisa nakal sama dia. Dan, sekarang dia sudah menjadi istri Iqbal. Sampai kapanpun Iqbal akan berusaha menjaganya," tutur Iqbal.
Syifa terkesima mendengar ucapan Iqbal. Ia merasa banyak yang tersembunyi dari Iqbal yang tidak terduga. Bagaimana mungkin Iqbal tahu tentang pertemuannya dua puluh tahun lalu dengan seorang laki-laki yang Syifa kira adalah ODGJ. Dan ternyata laki-laki itu adalah paman Iqbal.
Padahal waktu itu Syifa masih berumur sepuluh tahun dan belum memakai hijab. Terlebih Syifa tidak melihat ada anak laki-laki seumurannya waktu itu. Dan sama sekali tidak pernah terlibat pertemanan dengan anak laki-laki seumuran kecuali kak Ilham.
"Ke-kenapa wajahnya ditutup?" tanya Andreas dengan terbata-bata. Laki-laki itu memang sudah berumur, namun tingkah polah dan cara berpikirnya tidak pernah dewasa karena mengalami Retardasi mental sejak kecil.
"Karena dia sangat cantik. Penutup wajah itu untuk melindungi kecantikannya!" jawab Iqbal.
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Iqbal, membuat Syifa semakin terkesima dengan sosoknya. Laki-laki yang selama ini selalu bersikap dingin dan tidak ada manis-manisnya itu, tiba-tiba bisa berkata demikian ketika menilai penampilannya.
Bahkan ketika mengingat dihari pernikahannya kemarin. Caranya memberikan bunga pun tidak ada sisi romantisnya sama sekali. Tapi kali ini, hanya dengan mendengar Iqbal mengatakan jika dirinya sangat cantik saja bisa membuat hatinya seketika bergetar. Saat ini ia merasa ada banyak bunga bermekaran di hatinya.
"Be-benarkah? lebih cantik dari Aqila?" tanya Andreas lagi.
"Benar, Om. Sangat cantik!" ungkap Iqbal.
Syifa semakin salah tingkah usai mendengarnya. Ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya. Dan hal itu membuat sudut bibir Iqbal tertarik ke belakang. Tersenyum.
"Baiklah. Om istirahat ya. Sebentar lagi maghrib. Kita harus bersiap untuk melaksanakan salat. Om juga harus segera tidur!" ucap Iqbal seraya membenarkan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh Andreas.
Iqbal dan Syifa kemudian beranjak keluar meninggalkan kamar itu.
Syifa sebenarnya sangat penasaran ingin bertanya Iqbal bisa tahu tentang kejadian yang dialaminya dua puluh tahun silam. Namun, adzan maghrib sudah berkumandang. Itu artinya mereka harus diam sejenak sembari berdoa.
Setelah itu mereka melaksanakan salat berjamaah dengan nenek, bu Aminah, juga asisten rumah tangga dan penjaga rumah. Jarak rumah Iqbal jauh dari pemukiman sehingga jauh dari masjid.
Syifa semakin kagum dengan suaminya itu karena meskipun ia kaya tapi tidak sombong dan mau berbaur dengan para pekerja di rumahnya. Suasa rumah pun nampak nyaman karena ternyata di rumah Iqbal namak ramah pada semua penghuni rumah.
Seusai salat dan makan malam bersama nenek. Iqbal mengajak Syifa duduk di salah satu gazebo dekat taman. Di sana udaranya sangat sejuk karena banyak pohon dan ada kolam ikan di tengahnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Iqbal seolah tahu jika banyak pertanyaan yang ingin Syifa lontarkan.
__ADS_1
"Tentu. Darimana kamu tahu aku pernah bertemu Om Andreas waktu itu?" tanya Syifa.
"Karena aku ada di sana!" ucap Iqbal.
"Oh ya? tapi aku rasa aku tidak melihatmu ...," tanya Syifa lagi semakin penasaran.
"Aku bersembunyi takut dimarahi oleh nenek!" ungkap Iqbal. "Nenek menyuruhku menjaga Om Andreas selagi nenek berbelanja. Tapi aku meninggalkannya sebentar untuk membeli minum. Aku pikir aman meninggalkan Om sendirian sebentar saja. Nggak tahunya dia berulah padamu!" tutur Iqbal.
"Om'mu mengira aku adalah Aqila begitu? padahal Aqila tidak ikut?" tanya Syifa.
"Aqila sudah tiada. Sebelumya Om sangat dekat dengan Aqila Mereka sering menghabiskan waktu bermain bersama-sama. Dan sejak kecelakaan yang merenggut keluargaku saat itu, aku tinggal bersama nenek. Tak lama aku pindah ikut paman. Papanya Devan. Semua itu aku lakukan demi mendapatkan biaya hidup dan biaya sekolah. Sebab setelah papaku meninggal, perusahaan sementara dipegang pamanku selama aku belum dewasa sebagai ahli waris yang sah dari keturunan yang sah. Pamanku hanyalah anak angkat yang di asuh oleh istri pertama kakekku yang tidak memiliki anak."
"Sepeninggal istri pertamanya kakek menikahi nenek dan lahirlah papa dan juga Om Andreas. Karena itulah pamanku tidak dekat dengan nenek. Dan aku tinggal dengan paman bermaksud agar hak kami tetap diberikan sepeninggal papaku."
Syifa merasa sedih mendengarnya. Ternyata masa kecil Iqbal tidak jauh lebih baik darinya. Pantas saja tidak ada yang tahu jika Devan dan Iqbal bersaudara. Ternyata latar belakang keluarga mereka tidak begitu baik.
"Ayo masuk. Di luar dingin. Besok kita harus berangkat pagi-pagi agar tidak kemalaman saat sampai!" ucap Iqbal seraya beranjak berdiri.
"Kemana?" tanya Syifa yang kembali dibuat penasaran.
"Besok kamu juga akan tahu!" ucap Iqbal lalu beranjak pergi dengan langkah panjangnya. Kali ini ia tidak menggandeng tangan Syifa. Hal itu membuat Syifa harus bergegas mengikutinya.
"Huh ..., sifat aslinya yang dingin kembali lagi!" gerutu Syifa lirih.
Tiba-tiba Iqbal menghentikan langkahnya. Membuat Syifa tak sengaja menabrak punggungnya.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Iqbal seraya berbalik.
"Emm, enggak!" kilah Syifa.
Iqbal tiba-tiba mencondongkan badannya dan menggendong Syifa ala bridal style tanpa berkata apa pun.
"Akhh ..., turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri!" ucap Syifa berontak.
Namun Iqbal tidak menggubrisnya dan terus melangkah membawa Syifa ke kamarnya.
..._____Ney-nna_____...
__ADS_1