Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Orang Yang Tepat


__ADS_3

Papa Syifa beserta keluarganya pun turut hadir. Meskipun tidak bisa menikahkan putrinya namun ia merasa senang bisa ikut menyaksikan putri sulungnya menikah.


Nenek Sofiya dan tante Rossita juga antusias menyambut pernikahan Syifa. Meskipun agak terlambat datang karena jadwal kereta yang tertunda, namun mereka dapat hadir pada acara akad sebelum acara selesai.


Tanpa ada yang tahu, Arjuna sempat hadir di luaran masjid. Ia turut mendengar prosesi ijab qobul itu dilantunkan. Ia ingin memastikan Syifa benar-benar telah menjadi milik laki-laki lain. Dengan begitu ia bisa mengikhlaskan Syifa dan mulai bangkit untuk move on.


......................


Sore harinya Iqbal membawa Syifa dan seluruh keluarga besar Syifa menuju hotel tempat mereka akan melaksanakan resepsi besok. Hal itu membuat Syifa merasa sangat bahagia. Moment yang sangat langka ketika seluruh keluarga besar dapat berkumpul untuk saling bercengkrama.


Syifa dan mamanya yang dulunya tidak memiliki kerabat dekat saat berada di kota ini, kini ia memiliki semuanya. Ia memiliki ayah, nenek, kakak, adik. Dan semua orang yang ia sayangi kini berkumpul demi menyambut hari bahagianya. Suasananya hangat penuh dengan canda tawa. Menurutnya hari ini adalah moment terindah di sepanjang hidupnya.


Syifa juga merasa bahwa ia menikah disaat yang tepat dan dengan orang yang tepat. Karena Iqbal adalah sosok yang selalu hadir disaat ia membutuhkan seseorang disisinya.


Menjelang malam beberapa perempuan mulai menuju kamarnya masing-masing karena lelah. Iqbal yang juga melihat Syifa beberapa kali menguap segera mengajak Syifa menuju kamar mereka.


"Maaf, sepertinya Syifa sudah lelah. Saya akan mengantarnya ke kamar terlebih dahulu!" ucap Iqbal meminta ijin.


"Iya Iqbal, kamu juga sebaiknya segera istirahat. Sebab kalau kedua mempelai terlambat bangun acaranya musti diundur nanti!" ucap Ilham dengan kelakarnya.


"Kakak, maksudnya apa? Syifa gak pernah melewatkan waktu subuh kok. Iya kan, Bi?" tanya Syifa pada abi Imron meminta dukungan.


"Itu kan sebelum menikah, Fa. Kalau sudah menikah belum tentu. Benar tidak, Iqbal?" timpal Edward. Dan semua yang mendengar malah tertawa karenanya.


Syifa pun seketika bersemu mendengar kelakar papanya yang nampaknya mulai absurd.


"Sudah-sudah kalian jangan pedulikan perkataan mereka. Cepat bawa Syifa ke kamar, Iqbal!" pungkas abi Imron.


Dengan sigap Iqbal langsung menggandeng tangan Syifa. Bahkan Iqbal tidak melepaskannya barang sedetik pun sebelum mereka sampai di kamar mereka berada. Meski begitu sepanjang perjalanan menuju kamar keduanya masih canggung dan tidak saling mengobrol.


Setibanya di kamar mereka, Iqbal menyuruh Syifa bersiap untuk tidur. Ia yakin Syifa pasti lelah karena seharian tidak bisa istirahat. Sedari acara akad banyak kerabat yang datang. Hingga tidak ada waktu barang sebentar untuk tidur siang.


"Aku ke toilet sebentar!" ucap Syifa.

__ADS_1


Iqbal mengangguk mengiyakan.


Disela-sela menunggu sang istri yang tengah berada di kamar mandi, Iqbal memilih mengecek handphonenya. Banyak yang harus dia urus untuk mempersiapkan rencananya beberapa hari ke depan.


Cklek!


Iqbal seketika berpaling pada pintu kamar mandi untuk memastikan keberadaan Syifa. Namun, ia dibuat terperangah saat melihat ke arah istrinya berada.


Syifa telah melepas cadarnya.


Iqbal sejenak terpaku menatap lekat pada Syifa. Ternyata dibalik cadarnya tersembunyi kecantikan Syifa yang luar biasa. Bahkan jauh lebih cantik dari terakhir kali ia melihatnya saat masih SMA. Iqbal dibuat pangling dengan pesona Syifa. Hingga tidak mampu berpaling dari Syifa.


Menyadari tengah ditatap oleh sang suami, Syifa merasa malu telah melepas cadarnya. Dia bergegas menuju cermin berniat untuk memakai kembali cadarnya.


"Simpan itu. Apa kamu juga akan tidur dengan mengenakan jilbabmu?! ucap Iqbal lalu beranjak mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Kemudian ia beranjak lebih dulu menuju tempat tidur.


Syifa menurut. Meletakkan cadarnya di atas meja samping tempat tidur, melepas jilbabnya, lalu merebahkan diri di samping Iqbal. Ada rasa canggung yang kembali ia rasakan. Bahkan Syifa merasa kesulitan bernafas.


Syifa melirik sejenak ke arah Iqbal yang ternyata sudah memejamkan mata.


Karena tak mampu menahan gejolak di hatinya, Iqbal memilih untuk memejamkan matanya untuk menahan diri.


Sedangkan Syifa yang kesulitan untuk tidur, merubah posisi tidurnya miring ke samping membelakangi Iqbal. Pergerakan Syifa pun membuat Iqbal penasaran untuk kembali membuka mata.


Tanpa terduga, Iqbal justru memeluknya dari belakang dan menggeser tubuh Syifa menjadi sangat dekat dengannya.


Tindakan Iqbal itu membuat Syifa sangat terkejut dibuatnya. Bahkan kini jantungnya berdebar sangat kencang. Dan, tentunya hal itu bisa dirasakan juga oleh Iqbal.


Di dalam hati, Iqbal merasa senang karena mengetahui jika Syifa merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.


Cup!


"Cepat tidur!" ucap Iqbal usai mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Syifa.

__ADS_1


......................


Keesokkannya Syifa terbangun saat sebuah nada dering handphone berbunyi nyaring. Namun bukan dari handphonenya. Melainkan dari handphone yang tergeletak di atas meja samping Iqbal.


Syifa hendak bangun, namun ada sebuah tangan kekar bertengger di atas perutnya. Hal itu membuatnya tak bisa bergerak.


Syifa sejenak memperhatikan wajah Iqbal yang tertidur sangat pulas tanpa terganggu sama sekali dengan bunyi handphonenya.


"Tampan!" ucapnya lirih. Dan seketika ia membekap mulutnya. Bisa-bisanya ia kelepasan memuji Iqbal terang-terangan. Untung saja Iqbal masih lelap dalam tidurnya.


Bunyi handphone itu kembali mencuri perhatiannya karena tak kunjung berhenti. Akhirnya Syifa memutuskan untuk mengangkat perlahan tangan Iqbal yang tengah memeluknya, lalu ia bergeser pelan untuk bangkit.


Berhasil! batinnya.


Ia bergegas memutari tempat tidur dan segera mengecek pada layar handphone suaminya. Rupanya itu adalah dering alarm yang diatur oleh Iqbal.


Syifa segera menggeser layarnya untuk menghentikannya. Setelah itu menaruhnya kembali ke atas meja.


Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Syifa memutuskan untuk menuju kamar mandi. Rencananya ia akan membangunkan Iqbal nanti selepas mencuci muka dan mengambil wudhu.


Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, ternyata Iqbal sudah bangun. Iqbal duduk bersandar di atas sofa seraya memandang ke arahnya.


"Emm, tadi tidurmu pulas banget. Jadi aku yang matiin alarmnya. Tadinya mau aku bangunin setelah mengambil wudhu ...," tutur Syifa menjelaskan tanpa ditanya.


Iqbal mengangguk lalu bangkit berdiri.


"Lain kali aku nggak butuh alarm itu lagi karena sudah ada kamu!" ucapnya saat melewati Syifa dan segera masuk ke kamar mandi.


Syifa mengernyit mendengarnya. Tapi hal itu seketika membuatnya tersenyum. Ada rasa senang karena merasa dibutuhkan.


Syifa segera mengenakan mukenanya dan bersiap untuk melaksanakan salat.


Tak berapa lama Iqbal sudah keluar dari kamar mandi. Merekapun akhirnya melaksanakan salat berjamaah. Syifa begitu senang karena impiannya tercapai. Salat berjamaah dengan imamnya.

__ADS_1


..._____Ney-nna_____...


__ADS_2