Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
OTW Menikah


__ADS_3

Sesaat keduanya hanya terdiam dalam pikirannya masing-masing. Arjuna benar-benar menyesal telah meninggalkan Syifa.


"Tunggu sebentar, Kak!" ucap Syifa kemudian masuk ke dalam rumah.


Tak lama Syifa kembali membawa dua buah kotak perhiasan berisi cincin.


"Syifa ..., tidak adakah kesempatan lagi untukku?" tanya Arjuna.


Syifa hanya bisa menghela nafas beratnya saat mendengar pertanyaan itu.


"Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun lamanya, Kak. Sekarang semuanya sudah terlambat. Seperti apa yang kamu katakan tadi saat kamu datang, pembicaraan kita ini tidak akan mengubah apapun!" ucap Syifa dengan tegas.


Syifa membuka kotak cincin yang diberikan oleh Iqbal lalu mengenakannya di jari manisnya.


"Sekarang sudah ada cincin yang mengisi jari manisku, Kak. Aku juga sudah menerima khitbah dari laki-laki lain, maka aku tidak bisa menyimpan cincin pemberianmu lagi. Cincin ini aku kembalikan ...," ucap Syifa seraya mengulurkan cincin pemberian Arjuna dulu.


Arjuna dengan berat hati menerimanya.


"Semua tentang kita sudah selesai, Kak. Aku harap Kak Juna bisa mendapatkan pasangan yang terbaik untuk Kakak!" ucap Syifa tulus. "Oh ya, terima kasih karena Kak Juna sudah menyelamatkanku waktu itu. Aku berhutang budi padamu, Kak. Semoga Allah membalas mu dengan kebaikan."


"Baiklah. Semoga kamu berbahagia dengan penikahanmu nanti, Syifa!" pungkas Arjuna.


Arjuna menatap sendu ke arah Syifa. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan agar Syifa kembali padanya.


"Baiklah. Semoga kamu berbahagia dengan penikahanmu nanti, Syifa!" tutur Arjuna. "Tolong sampaikan maafku pada kedua orangtuamu. Assalamu'alaikum!" pungkasnya lalu berjalan pergi menuju mobilnya berada.


"Wa'alaikumussalam!"


Syifa menatap kepergian Arjuna dengan perasaan lega. Setelah mendengar penjelasan dari Juna, ia merasakan beban yang selama ini mengganjal di dalam hatinya seolah lenyap. Disisi lain ada rasa iba melihat kesedihan di mata Juna. Namun sepahit apapun masalahnya lebih baik dihadapi dari pada lari dari masalah yang ada hanya akan menimbulkan masalah dikemudian hari.


Syifa pun kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa dijelaskan mereka yang di ruang tamu sebenarnya sudah mendengar apa yang Syifa dan Arjuna bicarakan. Sebab jarak teras dengan ruang tamu tidaklah jauh.

__ADS_1


Iqbal juga merasa lega karena Syifa tidak terpengaruh untuk kembali dengan Arjuna. Ia kagum dengan ketegasan Syifa dalam mengambil keputusan dan caranya menyelesaikan masalah.


Karena suasananya sempat tidak kondusif dengan kedatangan Arjuna. Maka obrolan kedua keluarga itu dicukupkan sampai disitu. Abi Imron akan kembali menghubungi Iqbal keesokan harinya untuk membahas perencanaan pelaksanaan acara pernikahannya.


......................


Dua hari kemudian abi Imron menghubungi Iqbal untuk membicarakan persiapan pelaksanaan acara pernikahannya dengan Syifa. Semua sudah sepakat untuk segera dilaksanakannya acara akad nikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Karena banyak yang harus Syifa dan Iqbal persiapkan mengenai ijin cuti, sewa gedung, dan mengurus segala kelengkapan surat-surat yang dibutuhkan sebagai syarat mendaftar ke KUA maka diputuskan untuk acara pernikahannya akan digelar bulan depan.


"Tom, segera urus segala sesuatu yang dibutuhkan untuk syarat-syarat mendaftarkan pernikahan ke KUA. Booking ballroom hotel terbaik untuk acara resepsi bulan depan ditanggal xx. Pastikan memilih tema yang terbaik dengan konsep islami. Pastikan semuanya beres dalam satu bulan ini!" tutur Iqbal panjang lebar.


"Tu-tunggu, Bos. Siapa yang hendak menikah, Bos?" tanya Tom yang merasa bingung atas perintah Iqbal.


"Tentu saja pernikahanku. Kamu pikir siapa?" tutur Iqbal ketus.


"Anda mau menikah, Bos? memangnya menikah dengan siapa, Bos? jangan bilang Anda terlibat cinta satu malam dan dipaksa untuk menikahinya, Bos!" tutur Tom yang mencemaskan barangkali bosnya itu terjebak oleh seorang wanita tak dikenal.


"Sembarangan kamu, Tom! Memangnya kamu pikir aku bodoh menjalin hubungan seperti itu?!" ucap Iqbal dengan ketus.


"Maaf Bos, saya tidak bermaksud seperti itu! Lalu dengan siapa Anda akan menikah, Bos?" tanyanya penasaran.


"Syifa. Tanyakan pada keluarganya apa saja yang dibutuhkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya!"


"Bu Syifa? Anda akan menikahi Bu Syifa, Bos? memangnya dia mau menikah dengan Anda, Bos?" tanya Tom seolah tak percaya.


"Apa maksud dari pertanyaanmu? kamu nggak percaya Syifa mau menikah denganku? memangnya ada yang salah dari aku? aku tidak layak untuknya begitu?!" Iqbal seketika menatap tajam pada Tom.


"E-enggak ..., maksud saya bukan begitu, Bos. Saya akan segera melaksanakan semua perintah Anda barusan, Bos!" ucap Tom terbata-bata sembari bergegas menuju pintu keluar dari ruangan bosnya.


"Pastikan kamu tidak membuat kesalahan, Tom. Atau gajimu akan aku pangkas setiap bulannya sebagai ganti rugi!" ancam Iqbal.

__ADS_1


Meskipun hanya candaan namun ia mengucapkannya tanpa tersenyum sama sekali.


Tom pun segera mengurus segala sesuatunya. Mulai dari menghubungi Wedding Organizer, menyewa ballroom hotel, hingga mendatangi rumah Syifa untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan guna mendaftarkan pernikahan ke KUA.


"Bu Syifa, Anda serius menerima lamaran dari Bos Iqbal?" tanya Tom penasaran.


Ia sungguh ingin tahu bagaimana seorang Iqbal yang sangat introvert itu bisa menarik perhatian perempuan yang cukup tertutup seperti Syifa. Bahkan tanpa melibatkan dirinya sama sekali.


Padahal sejak awal menangani kasus hingga berakhirnya persidangan, Iqbal sangat jarang berkomunikasi dengan Syifa. Mereka sangat jarang terlibat percakapan berdua saja tanpa kehadirannya di tengah-tengah mereka.


Mendengar pertanyaan dari asisten Tom, Syifa seketika mengernyit heran.


"Apa ada yang salah asisten Tom?" Syifa balik bertanya.


"Oh tidak-tidak ... saya hanya penasaran bagaimana bos saya itu dapat merayu Anda agar mau menerima lamarannya. Saya benar-benar penasaran karena saya tidak dilibatkan sama sekali saat Bos Iqbal melakukan pendekatan dengan Anda. Hehehe...," akunya sembari nyengir tanpa dosa.


Syifa pun ikut tersenyum mendengar alasan Tom yang cukup menggelitik.


"Sebenarnya kami sudah saling mengenal sebelumnya sejak SMA," jawab Syifa seperlunya. Setidaknya hal itu bisa menjawab rasa penasaran Tom.


Meskipun sebenarnya di dalam hati Syifa juga bertanya-tanya, apa yang membuat Iqbal ingin menikahinya.


Apa dia juga menyukaiku sejak SMA? Ah, tidak. Dia begitu mengesalkan dulu! gumam Syifa menerka-terka di dalam hati.


"Bu Syifa! Bu Syifa ...!" seru Tom pada Syifa, karena Syifa malah bengong saat ia meminta diambilkan data dirinya untuk melengkapi persyaratan pengajuan mendaftar ke KUA.


"Eh, iya. Maaf Anda barusan bilang apa?" tanya Syifa saat tersadar dari lamunannya.


"Sepertinya Anda sedang lelah, Bu Syifa. Sebaiknya Anda segera beristirahat usai memberikan data diri Anda untuk persyaratan mendaftarkan pernikahan Anda!" ucap Tom.


"Oh, Maaf. Tolong tunggu sebentar akan saya ambilkan yang Anda butuhkan!" ucap Syifa lalu melenggang masuk ke dalam rumah sembari menahan tawa dan rasa malunya.

__ADS_1


..._____Ney-nna_____...


__ADS_2