
Hari-hari berlalu dan Syifa melaluinya dengan senang. Ia mengajar di sebuah RA atau taman kanak-kanak berbasis islam yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Menghadapi tingkah polah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Sepulang dari mengajar Syifa membantu mamanya berjualan kain dan kue.
Sepeninggal nenek Fatimah, Rosa yang melanjutkan usaha nenek Fatimah untuk berjualan kain di ruko. Dan Syifa turut membantunya.
Syifa mulai merasa nyaman berbaur di masyarakat. Dia mulai terbiasa saat menghadapi laki-laki disekitarnya. Semenjak mengenakan cadar ia merasa lebih terjaga dan terlindungi dari pandangan buruk lawan jenis maupun orang lain yang akan merasa iri saat menilainya dari fisiknya saja.
Sepulang dari ruko Syifa dan mamanya pulang dengan menaiki becak langganannya. Becak pun berhenti tepat di depan rumah mereka tanpa harus di komando.
"Makasih ya, Mang Ujang! kembaliannya ambil aja!" ujar Rosa saat sudah turun dari becak, lalu segera membayarkan sejumlah uang kepada mamangnya.
"Alhamdulillah, terima kasih, wananten!" ujar si mamang tukang becak.
(Wananten : panggilan yang diberikan kepada ibu-ibu keturunan Arab. )
Meski nenek Fatimah sudah tiada namun si mamang tukang becak yang sudah menjadi langganan tetap memanggil wananten pada Rosa. Padahal Rosa bukan keturunan Arab.
"Sama-sama, Mang!" Rosa dan Syifa pun turun dari becak.
Mereka berjalan menuju ke pekarangan rumah. Saat Syifa hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada suara kendaraan bermotor yang berhenti di depan rumahnya.
Syifa pun menoleh dan nampaklah Antika turun dari motor.
"Assalamu'alaikum," ucap Antika seraya melepas helmnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Syifa.
"Dari mana mau ke mana, Tik?" tanya Syifa.
"Gue baru pulang kampus nih, Fa. Gue numpang di rumah lo ya malam ini!" ujar Antika yang tiba-tiba langsung mendahului masuk ke dalam rumah melewati Syifa begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Syifa.
Melihat hal itu pun Syifa hanya geleng-geleng kepala.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi deh sama dia!" gumam Syifa. Ia lalu mengikuti Antika masuk ke dalam rumah.
Tanpa mengganti baju Antika tidur di kamar Syifa setelah membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa dia, Fa?" tanya Rosa saat mengetahui ada Antika di rumah mereka.
"Entahlah, Ma. Dia belum cerita apa pun sama aku!" ujar Syifa.
"Ya sudah, kalau begitu biarkan saja dia beristirahat dulu."
"Iya, Ma."
Syifa lalu membersihkan diri. Usai mandi ia bersiap-siap ke masjid untuk mengajar mengaji anak-anak di masjid jami'.
"Ma, Syifa berangkat, ya. Assalamu'alaikum," pamitnya pada sang mama.
Sesampainya di masjid Nafisa sudah lebih dahulu datang. Ada juga beberapa remaja masjid yang lain yang juga membantu mengajar.Satu jam berlangsung dengan cepat mereka telah selesai mengajar dan anak-anak yang merupakan keturunan Arab itu pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
Syifa pun mengemasi barang-barangnya ke dalam tasnya dan bersiap hendak pulang.
"Fa, tunggu!" seru Nafisa berlari dari dalam masjid.
Syifa yang tengah mengenakan sepatu menoleh ke arah Nafisa.
"Tumben buru-buru banget sih, Fa!" ujar Nafisa.
"Ada Antika di rumah. Sepertinya dia sedang ada masalah," tutur Syifa.
"Aku ikut yah!"
"Iya, ijin dulu sama Ummi dan Abi, nanti bingung dicariin," ujar Syifa mengingatkan.
"Itu, Abi! sebentar aku ijin ke Abi dulu!" Nafisa beranjak menuju ke ayahnya yang baru datang. Beliau tengah menunggu waktu adzan maghrib berkumandang.
Tak berapa lama Nafisa kembali setelah mendapatkan izin dari ayahnya.
"Yuk, Fa. Aku udah diizinkan sama Abi!" mereka pun pulang bersama menuju ke rumah Syifa
"Naf, apa kabarnya abangmu di Kairo?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Bang Ilham baik. Dia juga nanyain kabar kamu tiap bertelepon denganku. Katanya nggak sabar nunggu dua tahun lagi pengen buru-buru pulang. Rindu ummi dan abi, kasihan aku sama dia kalau pas kayak gitu!" tutur Nafisa.
"Semoga bang Ilham diberi kesabaran dan kemudahan untuk dapat menyelesaikan kuliahnya di Kairo sampai selesai, ya Naf!"
"Iya, aamiin, Fa. Yang paling menyayat hati itu setiap abang bilang rindu banget sama ummi pengen cepet pulang biar bisa peluk ummi, seolah-olah bang Ilham bisa merasakan jika ummi sedang sakit!" ujar Nafisa dengan sendu.
"Iya, Naf. Kalau dipikir-pikir nggak tega juga kalau sampai jauh dari orang tua seperti itu bertahun-tahun. Makanya dulu aku nggak ambil beasiswa dari Al-Azhar. Aku nggak tega jika Mama sendirian hidup di sini tutur Syifa.
Tak berapa lama sampai lah mereka di pekarangan rumah Syifa. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah untuk menjumpai Antika.
Sesampainya di ruang tamu Antika sudah bangun bahkan sudah berganti baju dengan baju rumahan milik Syifa. Antika terlihat tengah menonton TV, namun pandangannya berada di tempat lain. Terbukti saat Syifa dan Nafisa menyapa, Antika malah diam saja masih melamun.
"Tik, ayo cerita sama aku!" pinta Syifa.
"Sebenarnya kemarin ada seorang wanita yang mendatangiku. Beliau berkata, bahwa beliau adalah ibuku. Aku yakin beliau tidak berbohong, Fa. Karena aku juga pernah melihatnya dulu ketika kita masih SMA. Beliau keluar dari pekarangan rumahku sembari menangis."
"Namun, aku tidak menyangka jika kini beliau kembali mendatangiku. Beliau meminta maaf karena telah meninggalkanku sejak kecil. Beliau mengatakan jika ia tidak bisa mempertahankan rumah tangga bersama ayahku, dan saat hendak pergi ayahku tidak mengijinkan dia membawaku ikut serta bersamanya kala itu. Menurutmu aku harus percaya pada dia atau tidak, Fa?"
"Ayahmu tahu kalau kamu bertemu dengan wanita yang mengaku ibumu itu?" tanya Syifa.
"Belum, Fa. Aku rasa ayahku pasti akan marah jika mengetahui aku bertemu dengannya. Sebab ayah memang melarang pada beliau selama ini untuk mengatakan jika dia adalah ibuku! Lantas aku harus gimana, Fa? siapa yang harus aku percayai?" tanya Antika seraya meneteskan air mata.
Baru kali ini Syifa melihat sahabatnya itu menangis. Sebelumnya Antika sangat cuek dan tegar dalam menghadapi setiap permasalahan hidupnya.
"Apa saat bertemu dengan orang yang mengatakan ibumu itu beliau menginginkan sesuatu darimu?" timpal Nafisa.
"Benar, Naf. Ia ingin aku tinggal bersamanya. Beliau mengatakan sudah saatnya aku kembali padanya. Aku sudah dewasa dan aku bisa memilih jalan hidupku sendiri tanpa dikekang terus oleh ayahku!"
"Apa yang terjadi saat beliau meninggalkan rumahmu dahulu saat ia memutuskan untuk pergi dari ayahmu, Tik?" tanya Nafisa lagi.
"Aku tidak tahu Naf, dia belum sempat bercerita tentang hal itu. Waktu itu aku buru-buru karena ada kelas," jawab Antika.
"Beliau juga berjanji ketika tinggal bersamanya nanti beliau tidak akan pernah mengekang ku. Beliau hanya ingin menebus dosanya padaku!"
...______Ney-nna_______...
__ADS_1