Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Pacaran


__ADS_3

Syifa yang tadinya bersembunyi seketika reflek berseru saat melihat kedatangan seorang pria dengan membawa balok kayu di tangannya. Laki-laki itu memakai penutup kepala agar tidak dikenali wajahnya.


"Awas ...!"


Semua mata seketika beralih memandang ke arah Syifa yang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Syifa ...!" pekik Antika kaget saat melihat Syifa ada ditempat itu. "Cepat pergi ... pergilah!" ucapnya lagi.


"Tapi, Tik!" Syifa nampak bingung.


Namun, Antika terus mendesaknya agar Syifa segera pergi dari tempat itu. Akhirnya Syifa menurut lalu berbalik arah dan bergegas mengayuh sepedanya hendak meninggalkan tempat itu. Hal itu dilakukannya dengan maksud ingin mencari bantuan.


Sebab, ia tidak mungkin bisa membantu Antika melawan mereka. Syifa tidak memiliki ilmu bela diri. Sedangkan Antika pernah mengikuti pelatihan taekwondo. Meskipun begitu pasti cukup sulit bagi Antika untuk memenangkan perkelahian itu seorang diri. Karena itulah Syifa pergi dengan niat untuk meminta bantuan warga kampung agar bisa menyelamatkan Antika.


"Hei ... berhenti!" ujar seseorang yang membawa kayu. Kemudian melempar kayunya asal dan menaiki sepeda Antika untuk mengejar Syifa.


Laki-laki itu hampir saja mensejajari Syifa. Tidak ingin Syifa lepas dia menendang sepeda Syifa bagian belakang hingga Syifa tersungkur dari sepedanya.


"Aww ....!" Syifa mengaduh karena lutut dan telapak tangannya menimpa aspal hingga lecet.


Laki-laki itu dengan paksa menarik Syifa menuju ke tempat awal. Sedangkan Antika terlihat berjongkok seraya menunduk lemah saat tidak berhasil melawan dua laki-laki tadi.


Terlihat seorang laki-laki hendak menyerang ke arah Antika lagi, namun dihentikan oleh Syifa.


"Berhenti!" seru Syifa segera berlari ke arah Antika. Syifa memeluk tubuh Antika demi menghadang agar Antika tidak terkena serangan oleh laki-laki itu.


"Makanya cepat katakan siapa yang memberikan bukti itu ke elo!" tutur salah seorang laki-laki yang mengenakan penutup wajah itu kemudian berjongkok di hadapan mereka berdua. "Sekarang katakan siapa yang ngasih lo bukti itu? gue yakin banget bukan elo orang yang telah merekamnya!"


"Nggak ada orang lain, gue sendiri yang merekamnya!" Antika kekeuh tidak mau memberitahunya.


"Oke kalau nggak mau ngaku gue bisa lakuin yang lebih kejam lagi dari ini!" tutur orang tersebut.


Namun, Antika tetap tak bergeming saat lagi-lagi laki-laki itu menendang tubuhnya. Antika masih saja diam. Sebab, dia sudah bersumpah untuk tidak mengungkapkan identitas pemberi bukti.


"Sudah hentikan! kalian sangat kejam!" seru Syifa sembari terisak. Tidak tahan melihat Antika terus disiksa.


Mereka menjauhkan tubuh Syifa dari Antika dengan kasar. Kemudian kembali menyiksa Antika.


Syifa menjerit dan kembali mendekati Antika untuk menghalaunya. "Hentikan! apa yang kalian lakukan? apa kalian nggak punya hati? tega-teganya mengeroyok seorang perempuan sedangkan kalian bertiga. Sudah cukup!" tutur Syifa sembari terisak.

__ADS_1


"Cerewet lo! Apa lo juga mau kita pukul, ha!" ujar salah seorang laki-laki dan hendak memukul Syifa.


"Hey, jangan berani-beraninya kalian melukai yang itu! Dia bagian gue!"


Tiba-tiba ada sebuah suara dari seseorang yang baru keluar dari dalam mobilnya.


"Kak Devan!" pekik Syifa. Dia tidak menyangka jika Devan dalang dari semua ini.


"Dia tiba-tiba ada, Bos!" ujar salah satu laki-laki yang memakai penutup wajah itu.


"Kak, aku mohon tolong lepasin temen aku! Jika kalian melukai Antika karena masalah kita yang kemarin, kamu salah, Kak. Antika nggak ada hubungannya dengan masalah kita. Tolong lepaskan dia, jangan pergunakan kekerasan seperti ini!" tutur Syifa memohon dengan berlutut di depan Devan.


"Benar juga kata kamu, kamu adalah sumber dari masalah ini gue setuju sama pendapat lo gue akan lepasin temen lo, tapi dengan satu syarat!" ujar Devan.


"Tapi, Bro ... kita nggak akan tahu siapa orang yang telah memberikan bukti itu kepada cewek tomboi ini!" ujar salah seorang laki-laki.


"Itu urusan gue! Serahin semuanya sama gue!" tutur Devan, "Dan kamu Syifa, kamu harus siap menerima syarat dari aku jika kamu mau Antika terbebas dari amukan temen aku!"


Syifa seketika menatap tajam ke arah Devan. "Apa syaratnya?"


"Gue mau lo jadi pacar gue selama satu bulan!"


"Aku nggak mau pacaran. Kalau itu yang Kakak mau mendingan bunuh aku aja!" tolak Syifa. Dia tidak mau menjadi budak nafsunya Devan.


"Wuihh, sayang banget dong cewek cantik kok mati muda!" tutur Devan.


"Aku nggak akan pernah menukar harga diri aku dengan apapun!" ujar Syifa dengan lantang.


"Oke kalau gitu cukup pura-pura aja di depan Arjuna dan teman-teman di sekolah kalau kita pacaran. Aku nggak akan menyentuh kamu. Aku cuma butuh pengakuan aja di depan mereka kalau kita pacaran. Dua minggu!" tawar Devan.


Syifa terdiam, sulit untuk mengiyakan permintaan Devan. Namun ia tidak ingin Antika semakin menderita terlebih karena telah membantunya.


"Ya udah, kalau lo nggak mau gue akan serahkan teman lo ini sama temen gue. Biar mereka yang ngasih pelajaran sama temen lo sampai dia mau mengaku!" ujar Devan lagi.


Syifa menghembuskan nafas kasarnya. Ia tidak bisa membiarkan hal itu.


"Hanya berpura-pura saat di sekolah. Aku nggak mau kalau sampai kamu sentuh-sentuh aku atau melecehkan aku lagi!" tutur Syifa dengan kesal.


"Oke, kita deal, Sayang!"

__ADS_1


Devan tersenyum senang kemudian pergi bersama teman-temannya meninggalkan Syifa dan Antika di tempat itu.


Syifa lalu membantu Antika berdiri kemudian memungut sepeda mereka yang tergeletak di pinggir jalan. Syifa kemudian mengantarkan Antika pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Antika tidak terlihat keberadaan ayahnya. Namun Antika bersyukur, sebab jika ayahnya tahu Antika habis berkelahi ayahnya pasti akan marah besar.


Syifa kemudian mengobati luka luka lebam yang ada di wajah Antika dan beberapa luka di tangan dan kakinya. Syifa, juga mengobati telapak tangannya dan lututnya yang lecet saat terjatuh dari sepeda.


Setelah itu Syifa pulang ke rumahnya, sebab sudah larut malam. Mama dan neneknya pasti tengah menantikan kepulangannya.


......................


Keesokannya Antika tetap berangkat ke Sekolah. Dia berangkat pagi-pagi sekali agar ayahnya tidak melihat luka diwajahnya.


Sesampainya di sekolah Antika memilih untuk berada di UKS dan tidak mengikuti pelajaran. Asyifa menatap iba pada sahabatnya itu. Sebab, gara-gara dia Antika harus mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya.


Sedangkan Devan segera menagih janjinya kepada Syifa. Saat jam istirahat berlangsung Devan langsung mendatangi Syifa di kelasnya.


"Hai, Sayang. Ayo temani aku ke kantin!" ujar Devan seraya mendudukkan diri di depannya Syifa.


Semua teman-teman sekelas Syifa seketika terperangah mendengar hal itu. Hal itu seolah membenarkan jika mereka sebenarnya berpacaran.


Syifa tidak memiliki pilihan lain, karena ia sudah sepakat untuk menerima persyaratan dari Devan. Akhirnya dia pun bangkit dari duduknya dan mengikuti ke mana Devan membawanya.


Tak terkecuali Nida dan genknya yang nampak sangat terkejut melihat Syifa patuh dengan ajakan Devan.


Saat mereka berjalan berdampingan, semua mata melihat keheranan akan hal itu. Begitu juga dengan Hilda mantan pacar Devan yang tidak percaya jika mereka benar-benar berpacaran. Dan, hal itu membuktikan bahwa foto yang beredar kemarin benar adanya bahwa mereka berciuman.


Sesampainya di kantin, Devan meminta agar Syifa duduk di sampingnya menemaninya untuk makan. Syifa tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah mengikuti perintah Devan. Asalkan Devan tidak menyentuhnya dia akan melakukannya.


Syifa menahan rasa kesalnya saat banyak pasang mata yang melihat heran ke arah mereka. Namun, Syifa tahu memang inilah yang diinginkan Devan. Devan ingin menunjukkan pada semua orang yang ada di Sekolah ini jika mereka memang berpacaran.


Arjuna yang saat itu baru datang di kantin sangat terkejut melihat Syifa duduk bersebelahan dengan Devan. Bahkan Syifa diam saja saat Devan terus memanggilnya sayang.


Tidak dipungkiri hal itu membuat Arjuna cemburu. Arjuna terus saja menatap ke arah mata Syifa seolah meminta penjelasan. Namun, Syifa justru berpaling ke arah lain.


"Sayang, kalau kamu nggak mau makan aku antar ke kelas, yuk!" ucap Devan dengan bahasanya yang dibuat semanis mungkin agar Arjuna semakin terbakar api cemburu.


Arjuna mengepalkan tangan melihat hal itu. Dia curiga jika semua ini pasti Syifa lakukan karena mendapat ancaman dari Devan.

__ADS_1


..._______Ney-nna________...


__ADS_2