
Siang itu Syifa mendesak tantenya untuk menceritakan bagaimana kisah yang sebenarnya terjadi antara papa dan mamanya hingga akhirnya ia terlahir ke dunia. Sebab, selama ini Rosa tidak menceritakan kisah bagaimana pertemuannya dengan papanya itu hingga ia terlahir ke dunia.
"Tante ... jadi mama di ...." Syifa tidak dapat melanjutkan perkataannya. Ia terkesiap mendengar penuturan dari tantenya tentang apa yang terjadi dengan mamanya hingga bisa hamil Syifa.
Selama ini Syifa menduga jika ia terlahir dari hubungan diluar nikah antara papa dan mamanya. Namun, ia pikir jika papa dan mamanya dulu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Lantas melakukan hubungan hingga melewati batas yang mengakibatkan terjadinya kehamilan di luar nikah.
Ternyata dugaannya salah. Mamanya hamil akibat peristiwa pahit yang dilakukan papanya terhadap mamanya, yaitu pem*rk*s*an. Lantas, apa bedanya sang papa dengan Devan yang berusaha mendapatkan kemauannya dengan cara yang tidak benar kepadanya. Bedanya Syifa tidak hamil akibat peristiwa itu.
Air mata Syifa pun luruh dan tangannya bergetar membayangkan kepedihan yang dirasakan mamanya saat itu. Dia sekarang paham mengapa mamanya bersikeras menyimpan rapat-rapat kisah hidupnya dan berusaha menyembunyikan identitas papanya. Semua itu tentunya karena derita yang ia rasakan begitu berat.
"Iya, Syifa. Itulah mengapa Tante merasa sangat bersalah pada mamamu. Seharusnya saat itu sebagai keluarga, kami melindunginya. Namun, justru Tante malah mencurigainya yang bukan-bukan hingga mengusirnya dari rumah karena mengedepankan ego Tante yang merasa dikhianati. Padahal mamamu tidak bersalah dalam hal itu!" ucap Rosita dengan terisak menyadari kesalahannya.
"Assalamualaikum!" ucap Rosa yang baru datang.
Syifa dan Rosita segera menoleh pada sumber suara yang menampakkan Rosa di balik pintu.
Mendapati mamanya pulang kerja terlalu awal Syifa pun sedikit terkejut. Ia dan Rosita segera menghapus air mata mereka dan menghentikan pembicaraan mereka tadi.
"Waalaikumussalam, Ma...," jawab Syifa.
"Kalian kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi hingga kalian menangis?" tanya Rosa yang terlihat cemas melihat mata kedua wanita di hadapannya itu yang sama-sama sembab.
"Ros, tadi istrinya Edward datang kemari. Aku rasa selama ini Edward merahasiakan tentang kalian pada istrinya. Dan, tadi tiba-tiba istri Edward datang kemari dan menanyakan tentang hubungan kalian dengan Edward. Pasti nantinya mereka akan bertengkar karena hal ini," ungkap Rosita.
"Jadi benar dugaanku, Bu Mia pasti mengikutinya. Apa bu Mia melukaimu, Syifa? apa yang ia lakukan padamu?" tanya Rosa dengan cemas.
Syifa menggeleng, "Beliau tidak melakukan apapun pada Syifa, Ma. Tapi ... darimana Mama tahu kalau nama istri papa adalah Mia?" tanyanya.
__ADS_1
Rosa tidak buru-buru menjawabnya. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu dengan lesu.
"Dia adalah majikan Mama, Syifa!" ucap Rosa dengan lirih.
"Apa?!" pekik Syifa dan Rosita hampir berbarengan saking terkejutnya.
"Jadi, selama ini kamu bekerja di rumah Edward?" tanya Rosita.
Rosa mengangguk.
"Memangnya kamu tidak pernah bertemu dengan Edward selama bekerja di sana?" tanya Rosita lagi.
"Tidak, Kak. Aku tidak pernah bertemu dengan Kak Edward. Kamu tahu sendiri kan, pagi-pagi sekali dia sudah datang ke rumah ini menjemput Syifa. Dan, hingga aku pulang kerja pun dia belum pulang ke rumahnya. Jadi, wajar bukan jika aku tidak pernah bertemu dengannya?"
"Tapi tidak dengan pagi ini. Kami bertemu dan disaat itu Bu Mia tidak ada di rumah sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. Aku sangat terkejut melihat Kak Edward ada di rumah itu, hingga aku menjatuhkan mangkuk yang aku pegang. Kemudian tak lama Bu Mia datang dan mendengar kami yang tengah berdebat. Namun, aku rasa ia tidak mendengar apa yang kami bicarakan."
"Di saat Bu Mia menanyakan apa kami saling mengenal, Kak Edward justru kembali berbohong dan mengatakan jika kami tidak saling kenal. Padahal aku menyuruhnya untuk berkata jujur pada istrinya."
"Ya, kamu benar. Sebab, setelah Edward mengantar Syifa pulang. Dia tiba-tiba muncul tak lama setelah Edward meninggalkan rumah ini. Dan, jika ia marah padamu itu pasti karena ia tahu kamu adalah ibunya Syifa setelah melihat kemiripan wajah kita!" sahut Rosita.
"Benar, Kak. Sepulang Bu Mia bepergian dia langsung marah padaku, Kak. Dan, menuduhku telah sengaja bekerja di rumah itu demi berusaha menghancurkan rumah tangga mereka. Sekarang aku dipecat, Kak. Tidak masalah aku tidak bekerja lagi di rumah itu, namun yang membuatku sedih karena kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Aku ingin dia tahu jika aku sama sekali tidak ingin merebut kak Edward darinya. Tapi dia tidak mau mendengarkan penjelasan dariku!" seloroh Rossa dengan isak tangisnya.
"Astagfirullah! cobaan apalagi ini, Ma!" gumam syifa dengan lirih.
Mendengarkan penuturan dari mamanya, Syifa semakin merasa kecewa dengan sikap buruk papanya yang telah membuat hubungan mereka semakin rumit. Papanya justru membuat ia dan mamanya terlihat semakin buruk di mata keluarganya.
"Ini semua adalah salah Edward, kalian tidak salah apa-apa, jadi kalian tidak perlu takut jika istrinya kembali datang dan mempertanyakan hal ini pada kalian. Jika hubungan mereka hancur karena hal itu maka bukan salah kalian tapi ini adalah salah Edward sendiri. Kalian tidak perlu mencemaskan hal ini, pikirkan saja yang terbaik untuk kalian sendiri!" ucap Rosita menanggapi.
__ADS_1
"Tidak bisa seperti itu juga, Kak. Bagaimanapun juga aku ini seorang wanita dan aku tidak boleh egois. Bu Mia pasti sangat terluka karena hal ini. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Apalagi aku tahu sebenarnya bu Mia itu adalah wanita yang sangat baik, Kak. Dia memperlakukan aku dengan baik ketika aku bekerja di sana. Aku peduli padanya. Aku tidak ingin dia salah paham terhadapku.
......................
Sore harinya Edward datang ke rumah Rosa. Rosa dan Syifa menemuinya.
"Syifa, Ros ... aku minta maaf pada kalian atas masalah ini!" ucapnya dengan gugup.
Syifa hanya melirik sekilas pada papanya itu. Ia merasa malas mendengar ucapan yang keluar dari mulut papanya.
"Istriku pasti salah paham padamu, kan? apa yang dilakukan Mia terhadap mu, Ros?" tanya Edward. Pandangan matanya tertuju pada Rosa yang tengah menatapnya dengan sendu.
"Kenapa kamu malah datang ke mari, Kak. Di mana istrimu?" tanya Rosa yang balik bertanya.
"Dia ... pergi ke rumah orang tuanya. Aku yakin dia pasti akan segera kembali pulang. Dia pasti akan mengerti dengan hal ini!" ujarnya dengan tenang, meski terlihat ragu.
"Kalau begitu jangan datang ke mari lagi, sebelum istrimu memaafkan mu. Aku tidak ingin keluargamu semakin salah paham terhadapku dan juga Syifa. Tolong selesaikan masalah yang ada di rumah tanggamu terlebih dahulu. Kamu tenang saja, kami akan baik-baik saja meski tanpamu!" ucap Rosa dengan tegas tanpa mempersilakan Edward untuk duduk.
Edward merasa semakin bersalah karena telah menyembunyikan keberadaan mereka dari Mia. Ia paham jika sorot mata tajam dari manik mata putrinya itu menunjukkan betapa ia sangat kecewa padanya.
"Baiklah, aku akan pulang. Syifa, jaga dirimu baik-baik. Papa sangat menyayangimu. Tolong maafkan kesalahan, Papa!" ujarnya yang hanya di jawab anggukan kecil dari Syifa.
Syifa menatap sendu punggung papanya yang semakin jauh berlalu. Meskipun papanya banyak menorehkan luka ia tetap menyayanginya juga.
Drrrtt drrttt drrtt.
Handphone Syifa tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk. Ia segera merogoh ponsel yang berada di dalam kantong gamisnya. Ada pesan masuk dari Nafisa. Syifa nampak tersenyum membaca pesan itu.
__ADS_1
"Ada apa, Fa?" tanya Rosa yang melihat perubahan mimik muka Syifa dari sudut matanya.
...______Ney-nna______...