
Malam hari di villa suasana semakin terasa sunyi. Jarak villa Iqbal dan villa yang lain tidak terlalu dekat. Terlebih belum tentu juga villa yang lain sedang berpenghuni. Meskipun villa ini cukup dekat dengan destinasi wisata, namun suasana akan ramai hanya di saat-saat tertentu. Seperti saat liburan sekolah dan hari libur nasional.
Usai membereskan meja makan, Syifa bergegas menuju kamar. Nampak Iqbal duduk bersandar di tempat tidur sembari memegangi handphone di tangannya. Syifa mengabaikan hal itu. Ia memilih untuk mengambil wudhu karena adzan sudah berkumandang.
Saat ia usai wudhu Iqbal ternyata sedang menunggu di samping pintu kamar mandi.
"Kita salat berjamaah!" ucap Iqbal lalu bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Usai berdoa Iqbal berbalik ke arah Syifa yang masih menyelesaikan doanya. Iqbal menunggu dengan tenang sampai Syifa mengakhiri doanya.
Melihat Iqbal masih belum beranjak dan masih duduk menyerong di hadapannya, Syifa pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Kita salat sunnah dua raka'at dulu!" ujar Iqbal.
Dari perkataan Iqbal itu Syifa sudah tahu apa maksud suaminya itu. Syifa mengangguk meski ada sedikit kegelisahan di hatinya.
Usai melaksanakan salat sunnah dan membereskan sajadah, Syifa menuju meja rias yang ada di kamarnya. Syifa mulai melepas hijabnya kemudian menyisir rambutnya. Ya, Syifa memang masih terus mengenakan hijabnya meski mereka hanya berdua saja di villa. Dan ia hanya akan melepasnya ketika akan tidur.
Sembari menyisir Syifa mencoba menguatkan diri. Ia mencoba mengusir bayangan-bayangan peristiwa tindak pelecehan yang pernah terjadi kepadanya dahulu. Sentuhan yang menyakitkan yang membuatnya trauma.
Ya, Allah mampukan aku melayani suamiku dengan baik. Hilangkan lah kecemasan yang mengganggu pikiranku! Gumam Syifa di dalam hati.
Disisi lain Iqbal memperhatikan Syifa yang nampak tengah memikirkan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang membuat istrinya itu tak kunjung mendatanginya. Mungkinkah Syifa belum siap?
Di saat yang sama Syifa menoleh ke arahnya. Melihatnya dengan tatapan dalam.
"Kemarilah!" ucap Iqbal.
Perlahan Syifa mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri Iqbal ke tempat tidur.
"Boleh aku melakukannya sekarang?" tanya Iqbal.
Syifa mengangguk mengiyakan. Kemudian ia menunduk pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Iqbal menaruh telapak tangannya di atas kepala Syifa. Kemudian ia lantunkan doa sebelum memulainya.
Dengan pelan Iqbal mengangkat dagu Syifa agar memandang ke arahnya.
"Lihat aku, Syifa!" perintahnya.
Syifa pun mendongak dan menyimak dengan seksama wajah suaminya itu.
"Syifa, simpan wajahku baik-baik. Ingat bahwa aku adalah suamimu yang sah. Aku adalah laki-laki yang halal bagimu. Dan percayalah aku akan menyentuhmu dengan kasih sayang. Yang kita lakukan nanti akan bernilai pahala. Dan, insyaallah Allah akan meridhoi kita."
Syifa sadar bahwa semua yang Iqbal ucapkan adalah benar. Sehingga ia tidak perlu mencemaskan hal buruk akan terjadi padanya.
__ADS_1
"Syifa, aku akan melakukannya dengan perlahan. Kamu boleh bilang berhenti jika tidak sanggup untuk melanjutkannya. Dan aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap. Oke?" tanya Iqbal, penuh perhatian.
Mendengar perkataan Iqbal membuat Syifa merasa nyaman. Sorot matanya pun penuh dengan kejujuran dan kesabaran. Syifa semakin yakin bahwa Iqbal tidak akan berbuat kasar padanya.
"Insyaallah aku siap!" ucap Syifa mantap. Hal itu pun seketika menepis keraguan yang sempat ia rasakan.
Setelah mendapat persetujuan dari Syifa, perlahan Iqbal bergerak maju. Memutus jarak diantara keduanya. Mengecup dengan lembut dan penuh kasih sayang bibir ranum milik istrinya. Tangannya mulai bergeser menelusuri lehernya yang jenjang. Dan berlama-lama di sana sampai Syifa mampu mengimbanginya.
Syifa yang semula mencengkeram bahu Iqbal perlahan hanyut akan setiap sentuhan yang Iqbal berikan. Ia menikmatinya dan melupakan rasa traumanya.
Iqbal kembali melanjutkan aksinya dengan sangat berhati-hati dalam setiap pergerakannya. Ia tidak ingin membuat Syifa merasa tidak nyaman jika terlalu menggebu-gebu meskipun hasratnya seolah tak terbendung setelah sekian lama menahannya. Karena ini adalah yang pertama kali baginya.
Iqbal kembali menyentuh jengkal demi jengkal tubuh istrinya itu dengan lembut. Dan memastikan bahwa Syifa setuju untuk melanjutkan pada tahap selanjutnya.
Iqbal tidak terburu-buru untuk menuntaskan hasratnya. Ia menikmati setiap ekspresi yang tercipta dari istrinya itu. Dan membuat Syifa juga menginginkan sesuatu darinya. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Iqbal sampai pada intinya. Iqbal merasa sangat puas karena Syifa dapat menikmatinya tanpa tekanan dan paksaan.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Iqbal lalu mengecup kening Syifa.
Syifa tersenyum membalasnya. Setitik air mata bahagia mengalir di sudut matanya.
Rasa lelah membuat Iqbal merebahkan diri di samping Syifa. Ia mendekap Syifa ke dalam pelukannya dan mulai memejamkan mata.
"Iqbal!" panggil Syifa lirih.
"Hmmm ...," jawab Iqbal dengan gumaman.
"Entahlah. Mungkin karena kamu satu-satunya perempuan yang menarik perhatianku, dan membuat ku ingin selalu melindungi mu," jawab Iqbal.
Syifa mendongak melihat ke arah Iqbal.
"Apa kamu menyukai ku sejak kita masih SMA?" tanya Syifa lagi.
"Aku rasa enggak. Kamu ingin tahu apa yang aku pikirkan setiap kali melihatmu sewaktu SMA?" tanya Iqbal.
Syifa menggeleng, namun ia sangat penasaran.
"Kamu seperti seekor kucing malang yang menggemaskan. Setiap melihatmu, aku merasa kamu mengatakan 'tolong aku'!" jawabnya seraya menahan tawa.
Syifa seketika mencubit pinggang Iqbal dan beralih memunggunginya.
Iqbal tertawa melihat tingkah Syifa yang menggemaskan saat ngambek.
Iqbal merengkuh tubuh istrinya itu dari belakang. "Saat itu aku tidak peduli dengan apa pun selain mengungkap kematian orang tuaku. Saat aku tinggal di rumah pamanku aku tumbuh tanpa kasih sayang. Devan pun tidak memperlakukan ku selayaknya saudara. Itu yang membuatku menjadi pendiam dan tidak peduli pada orang lain."
"Namun, saat aku mendengar pembicaraan Devan dengan temannya yang merencanakan suatu hal buruk padamu, dari situlah aku mulai terganggu. Entah kenapa aku merasa hanya aku yang bisa menolongmu," ungkap Iqbal.
Syifa beralih kembali menghadap ke Iqbal. Mendengar hal itu ia merasa beruntung karena Iqbal telah menyelamatkannya dari Devan.
__ADS_1
"Terima kasih, Iqbal. Terima kasih sudah menolongku!" ucap Syifa seraya memeluk suaminya.
Iqbal mengusap lembut istrinya itu dan mengecupnya beberapa kali.
Malam pun semakin larut dan keduanya mulai tertidur dengan lelapnya dalam selimut yang sama.
......................
Ketika paginya usai salat subuh, Iqbal tak membiarkan Syifa beranjak dari kamar mereka. Semalam ia hanya melakukannya sekali demi membuat Syifa merasa nyaman dengannya. Dan ketika paginya, Iqbal sangat ingin mengulanginya lagi. Akhirnya pagi itu mereka kembali menghabiskan waktu di atas ranjang.
Hingga mentari pagi bersinar terang. Iqbal baru menyudahinya. Syifa terlihat sangat kelelahan dan tidur dengan lelapnya.
Iqbal beranjak keluar dari kamar usai membersihkan diri. Ia menuju dapur dan memasak sesuatu untuk sarapan mereka yang sudah cukup terlambat.
Saat ia menyelesaikan masakannya. Saat itu juga Syifa nampak keluar dari kamar. Sudah mandi dan sudah rapih. Kali ini ia tidak mengenakan hijabnya dan membiarkan rambut basahnya terurai di punggungnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanyanya.
"Kamu sepertinya sangat lelah. Aku tidak tega membangunkan mu," jawab Iqbal.
"Ya, aku sangat lelah karena ulahmu," jawab Syifa.
Syifa mengalihkan pandangan pada dua piring spaghetti yang terhidang di meja. Satu diantaranya nampak terlihat berbumbu pedas. Rupanya Iqbal sangat memperhatikan selera makan Syifa.
"Ayo sarapan dulu. Kamu pasti sangat lapar," ucap Iqbal sambil menggeser kursi untuk diduduki Syifa.
Syifa menurut dan mulai menyantap spaghetti buatan Iqbal. Sangat pas dengan selera Syifa. Ia benar-benar dibuat kagum dengan perhatian Iqbal selama ini.
Usai makan Syifa membereskan meja makan. Ia menuju wastafel untuk mencuci piring mereka.
"Syifa, apa yang membuatmu memutuskan untuk bercadar?" tanya Iqbal yang sudah berdiri di dekatnya.
"Aku merasa saat itu kecantikanku adalah malapetaka bagiku. Kecemasanku dan rasa trauma membuat aku berpikir bahwa hal itu yang membuat mereka ingin melakukan pelecehan terhadapku. Dari sanalah aku ingin mengenakan cadar untuk melindungi ku."
"Bagiku pesonamu tidak hanya sekedar karena kamu cantik, Syifa. Kamu punya pesona yang terpancar dari kepribadian mu yang santun dan kecerdasan yang kamu punya. Dan itu tidak tertutup meski kamu mengenakan cadarmu," tutur Iqbal.
Syifa tertegun mendengarnya dan menghadap ke arah Iqbal.
"Dan saat kamu tiba-tiba muncul menjadi pengacaraku. Kamu selalu mengganggu pikiranku, Syifa. Kamu selalu mencuri perhatianku untuk selalu melindungi mu!" ucap Iqbal.
Syifa seketika menghambur memeluk Iqbal. Ia sangat bahagia mendapatkan suami yang dengan tulus menyayanginya.
"Terima kasih, Suamiku!" ucap Syifa lirih.
"Lain kali katakan itu dengan lantang, Sayang!" ucap Iqbal.
Syifa kembali mencubit pelan pinggang Iqbal yang membuatnya mengaduh.
__ADS_1
..._____ TAMAT_____...