Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Terbongkar (2)


__ADS_3

Tak berapa lama setelah Rosita menghubungi dokter langganannya pun datang ke rumah.


"Selamat siang Bu Rosita?" ujar dokter itu.


"Siang Dokter Tito. Tolong periksa keadaan Mama saya!" ujar Rosita dengan suara serak menahan tangis. Dia merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada mamanya dan merasa sedih dengan musibah yang baru saja terjadi di rumah ini atas ulah suami ketiganya itu.


"Baik, apa yang terjadi pada Nyonya Sofia?" tanya dokter saat sampai di kamar Sofia.


"Saya tidak tahu, saat saya datang Mama sudah keadaan tidak sadar dan tengah tertelungkup di lantai!" Rosita menjelaskan apa yang dilihatnya ketika pertama kali ia datang.


"Baiklah, tunggu sebentar!" ujarnya kemudian segera memeriksa keadaan Sofia.


"Tenang Bu Sofia hanya pingsan. Dia mungkin shock karena suatu hal. Sebentar lagi dia akan segera sadar. Obat-obat yang kemarin masih bukan? diteruskan saja. Sebisa mungkin jangan membuatnya terbebani dengan suatu hal agar keadaannya tetap stabil. Sebab jika tekanan darahnya semakin naik, akan terjadi hal fatal," ujar dokter Tito.


"Baik, Dokter!" ucap Rosita.


"Kalau begitu saya permisi Bu Rosita!" ucapnya kemudian beranjak pulang.


Sepeninggal dokter Rosita kemudian meminta salah seorang tetangganya yang ia percaya untuk menjaga mamanya. Sementara ia melaporkan apa yang terjadi di rumahnya pada ketua RT di daerah setempat dan juga pihak berwajib.


Rosita mengatakan pada pihak kepolisian jika ia telah ditipu oleh suaminya yang telah membawa lari harta bendanya seperti mobil, perhiasan dan sejumlah uang.


......................


"Di mana rumahmu?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Dekat dengan gang yang tadi saya jatuh, Tuan," jawab Syifa.

__ADS_1


Laki-laki itu pun nampak mengerutkan dahinya. Namun ia menuruti apa yang di arahkan oleh Syifa.


"Stop, stop! di sini rumah nenek saya, Tuan!" ujar Syifa.


Laki-laki itu pun nampak terkejut. Ia sangat mengenal si pemilik rumah. Namun, mengapa ia tidak pernah melihat gadis ini. Terlebih ia tahu jika Rosita tidak memiliki anak, lalu siapa gadis ini? batinnya penuh dengan pertanyaan yang bercokol di benaknya.


Laki-laki itu pun segera menghentikan mobilnya di halaman rumah nenek Syifa.


Ketika mobil berhenti, Syifa pun segera turun. Di susul dengan laki-laki itu yang turut mengekori langkahnya dari belakang.


Syifa sebenarnya agak takut untuk masuk ke dalam rumah. Khawatir jika akan bertemu dengan Anthony kembali. Namun, ia melihat sepeda motor tantenya terparkir di teras samping. Ia yakin jika tantenya sudah datang. Ditambah dengan adanya laki-laki paruh baya yang mengantarnya ini, ia lebih merasa percaya diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Tunggu sebentar ya, Tuan!" ujar Syifa menghentikan laki-laki itu agar tidak ikut masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya untuk menunggu di kursi teras rumah.


"Baik," jawabnya singkat.


Syifa kemudian masuk ke dalam rumah. Terlihat tantenya sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah sembari terisak.


Rosita segera berpaling memandang ke arah Syifa.


"Syifa ..., kamu dari mana saja? sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?" cecar Rosita.


"Syifa dari rumah sakit, Tante," jawab Syifa. "Bagaimana keadaan nenek, Tante?" Syifa balik bertanya saat mengingat tentang neneknya yang tadi ia tinggalkan di rumah sendirian saat peristiwa yang barusan berlangsung di rumah ini.


Rosita seketika melihat pada kepala Syifa yang diikat perban.


"Mama sedang beristirahat di kamarnya. Aku baru saja meminta dokter untuk datang ke rumah memeriksa. Dan beruntungnya mama masih terselamatkan." Rosita menjelaskan. "Ada apa dengan kepalamu?" pekik Rosita saat menyadari ada luka di kepala Syifa.

__ADS_1


"Saya tadi tertabrak mobil, Tante," jawab Syifa.


"Bagaimana bisa? Apa kau bersama, Anthony?" tanya Rosita.


Syifa menggeleng.


"Sebenarnya semua ini terjadi berawal saat dia tiba-tiba hendak melecehkan saya, Tante!"


"Apa?! kurang ajar kau Anthony! Ternyata dia berulah disaat aku tak ada di rumah!" ucap Rosita semakin geram pada laki-laki yang telah dinikahinya selama dua tahun itu. Rupanya dia hanyalah seorang parasit di hidupnya yang selama ini berpura-pura baik.


"Tante, di luar ada orang yang telah menolongku yang membawaku ke rumah sakit tadi selagi aku pingsan. Bisakah Tante mendampingiku menemui beliau?" pinta Syifa.


"Baiklah, ayo!" Rosita lalu mengusap air matanya dengan kasar dan beranjak berdiri.


"Sebentar Tante!" Syifa beranjak menuju kamarnya dan mengambil niqobnya yang masih bersih. Sedari tadi ia tidak memakai niqob karena Anthony yang melepasnya dengan paksa.


Usai memakai cadarnya Syifa segera keluar bersama tantenya untuk menemui laki-laki yang tadi telah menolongnya.


Sesampainya di ambang pintu, Rosita berhenti sembari membekap mulutnya. Ia terperanjat melihat laki-laki yang Syifa bawa.


"Edward!" pekiknya kemudian.


"Siapa dia sebenarnya, Rosita?" tanya laki-laki itu.


"Di-dia ...," ucapan Rosita terbata-bata. Ia menggantungkan ucapannya. Haruskah ia mengatakan yang sesungguhnya ketika Rosa masih bungkam akan hal itu.


Dari jarak beberapa meter, Rosa berdiri mematung melihat apa yang dilihatnya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia baru saja pulang dari tempat penyalur tenaga kerja. Baru saja ia menginjakkan kaki di halaman rumahnya ia melihat sosok yang telah lama ia coba lupakan keberadaannya. Sosok laki-laki yang membuat hidupnya hancur berantakan.

__ADS_1


Apa yang dia lakukan di sana! gumam Rosa di dalam hati.


...______Ney-nna______...


__ADS_2