Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Di sela-sela menunggu Nafisa yang tengah mencoba gaun pengantinnya Syifa dan Antika melihat-lihat koleksi baju-baju di butik itu yang tersusun rapih.


"Fa, Fa ... lihat, deh! bajunya bagus banget!" tutur Antika seraya mengambil satu buah gaun dari salah satu rak di hadapannya.


Ia mematut gaunnya dengan menempelkan gaun itu di bagian depan tubuhnya. Lalu ia melihat pantulan dirinya pada cermin yang berada di sudut ruangan sembari memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


"Cocok! gih buruan cari mempelai prianya!" kelakar Syifa mengomentari.


"Wah ... kalau yang satu itu, berat. Jodoh gue belum bisa diintip sampai sekarang. Masa mau nyicil gaunnya dulu!" seloroh Antika seraya terkekeh menertawakan nasibnya sendiri. "Harusnya elo yang mustinya prepare nih, Fa. Tinggal beberapa bulan lagi 'kan, bang Ilham pulang?" tanyanya sembari mengedipkan mata beberapa kali.


"Apa sih, belum juga di khitbah. Sok kepedean mau prepare segala!" kilah Syifa seraya beralih melihat gaun-gaun yang terpajang lainnya.


"Yaelah, gue sih udah yakin jodoh lo tuh abangnya Nafisa. Bang Ilham itu orangnya amanah. Nanti sepulang dari Mesir pasti bakal khitbah lo deh, Fa!" tukas Antika.


"Asyik banget sih, bahas apaan?" tanya Nafisa yang tiba-tiba muncul dengan mengenakan gamis berwarna putih yang indah berhiaskan swarovski dan manik-manik yang berkilauan.


"MasyaaAllah, anggunnya!" ujar Syifa kagum melihat penampilan gadis berdarah Arab itu saat mengenakan baju pengantinnya.


"Beneran cocok di aku 'kan, Fa?" tanya Nafisa yang kurang percaya diri.


"Cocok banget, Sa. Kamu kelihatan semakin cantik dengan gaun ini!" ujar Syifa. Ia memegangi lengan Nafisa dan menatapnya dengan intens seraya tersenyum di balik cadarnya.


"Aku ngerasa gugup nih, Fa, Tik. Masih antara percaya gak percaya kalau besok aku akan menikah!" tutur Nafisa.


"Sssstttt!" desis Syifa seraya mengacungkan jari telunjuknya di depan mulut Nafisa. "Jangan terlalu banyak pikiran, positif thinking saja, Sa. Bismillah ... semuanya akan berjalan dengan lancar besok!"


"Aamiin!" ucap Nafisa dan Antika berbarengan.


"Syifa, kok baru datang!" ujar seseorang.


Asyifa, Nafisa dan Antika seketika menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita paruh baya terlihat tengah melihat ke arah pintu di mana ada seorang perempuan cantik yang baru saja datang menghampirinya dengan senyuman.


"Maaf, Ma. Tadi masih ada urusan di kampus," ujar wanita yang baru datang itu.


Mereka bertiga seketika terkekeh. Rupanya yang barusan dipanggil bukan Asyifa teman mereka melainkan gadis lain yang baru datang dan namanya juga Syifa.


"Hahaha ..., nama lo pasaran deh, Fa!" ujar Antika terkekeh girang.


"Ck, bisa kebetulan begini sih!" decak Syifa lalu tersenyum.


......................

__ADS_1


Setelah dari butik Syifa membantu mamanya yang tengah membuat kue. Syifa melirik pada ummi Syarifah yang nampak pucat saat melewati dapur.


"Ma, lihatlah! Ummi Syarifah nampak pucat. Pasti Ummi kelelahan mengurus persiapan untuk acara pernikahan besok!" ucap Syifa pelan.


Rosa menoleh ke arah ummi Syarifah yang tengah sibuk mondar-mandir ke sana ke mari. Benar yang dikatakan putrinya, ummi Syarifah nampak kelelahan.


"Kamu lanjutkan dulu ya mencampur adonannya, Mama akan ke sana dulu!" ujar Rosa lalu beranjak mendekati ummi Syarifah.


"Mbak, pasti lelah. Ayo, duduklah dulu! tunggu ya, Mbak. Aku ambilkan minum sebentar!" ujar Rosa lalu beranjak pergi setelah memastikan Syarifah mengikuti arahannya untuk duduk.


Beberapa saat kemudian Rosa kembali dengan membawa segelas teh hangat di tangannya.


"Ini, Mbak. Ayo diminum dulu!" ujarnya lembut.


"Makasih, Ros!" ucap Syarifah seraya menerima gelas itu dari tangan Rosa lalu meminumnya.


Syarifah tersenyum dengan perhatian yang Rosa berikan padanya. Meskipun tidak ada hubungan darah, namun sejak pertama kali Rosa tiba di kampung Arab ia menganggapnya seperti adiknya sendiri. Ia sangat ringan tangan setiap dimintai tolong untuk bantu-bantu. Begitupun sebaliknya. Sehingga menjadikan keduanya sangat akrab selayaknya saudara kandung.


"Sekarang, Mbak istirahat saja, ya! serahkan semua urusan dapur pada kami dan juga kerabat, Mbak!" bujuk Rosa.


Syarifah mengangguk. "Terima kasih, Ros!" ujarnya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Ia memang mudah merasa letih jika terlalu banyak kegiatan.


Rosa kemudian bergegas kembali menyelesaikan membuat kuenya bersama Syifa.


Sesampainya di tempat kost, ada anak kecil yang membuntuti Syifa dan mamanya.


"Eh, halo cantik. Siapa namanya?" tanya Syifa sembari berjongkok di hadapan anak itu. Anak itu sangat imut dan menggemaskan. Diperkirakan umurnya kurang dari enam tahun.


"Alika, Kak," jawabannya.


"Em, Alika mau ikut Kakak masuk?" tanya Syifa.


Anak itu mengangguk mengiyakan.


Sementara Rosa sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar setelah membuka kunci pintu kamar kostnya.


Akhirnya Syifa membawanya masuk ke dalam kamar kostnya.


"Siapa, Fa?" tanya sang mama.


"Namanya Alika, Ma. Dia pengen ikut masuk!" jawab Syifa. "Oh ya, Kakak punya kue, nih ...!" ujar Syifa seraya menyodorkan sebuah dus yang berisi kue ontbitjkoek yang ia bawa dari rumah ummi Syarifah. Kebetulan ada kelebihan dan ummi meminta untuk dibagikan bagi yang tadi bantu-bantu.

__ADS_1


"Kata Papa ... nggak boleh sembarangan makan pemberian orang," ujar anak itu polos sembari terus melirik pada kue milik Syifa. Terlihat jika anak itu sesungguhnya tergoda ingin memakannya, namun ia dilema mengingat pesan dari papanya.


"Good girl, apa yang dibilang Papa Alika benar. Tapi ini halal dan nggak berbahaya, kok. Nih, Kakak juga makan ya?" ujar Syifa lalu mencomot satu potong kue dan memakannya.


Alika nampak terus memandanginya dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Terlihat jika anak itu pingin memakan kuenya juga.


"Ayo, ambil!" titah Syifa.


Dengan sedikit malu-malu anak itu mencomot kuenya.


"Eits ... baca bismillah dulu, Sayang!" Syifa mengingatkan.


Anak itu menurut, lalu memasukkan kuenya ke dalam mulut.


Syifa mengacak rambut anak itu gemas. Dari penampilannya anak itu cantik dan bersih terawat.


"Alika, ini udah hampir maghrib, loh. Alika nggak dicariin sama mamanya?" tanya Syifa.


"Mama Alika udah nggak ada. Alika cuma tinggal sama papa dan eyang...," ujarnya.


Syifa nampak tertegun mendengarnya. Kasihan sekali anak sekecil ini seolah mengingatkan dirinya yang sedari kecil tidak memiliki sosok seorang ayah.


"Alika tinggalnya di mana?" tanya Syifa penasaran.


"Di sana!" ujar bocah itu menunjuk ke arah belakang kamar kostnya yang berarti di samping tempat kostnya.


"Alika ..., Alika ....!"


Tiba-tiba terdengar suara bariton dari luar kamar kostnya.


"Ah ..., itu suara Papa!" bocah itu seketika menghentikan makannya saat mendengar suara papanya memanggil. "Kak, Alika pulang dulu, ya. Dadah!"


Syifa mengangguk mengiyakan. Pandangannya masih tertuju pada anak itu yang beranjak berdiri lalu berlari keluar kamar kostnya dengan tergesa-gesa.


Syifa ikut bangkit, lalu mengintip dari jendela kamarnya. Hanya terlihat punggung anak dan ayah itu yang semakin menjauh meninggalkan pekarangan tempat kostnya.


"Di mana bocah tadi?" tanya Rosa yang baru menyelesaikan mandinya.


Syifa berbalik melihat ke arah mamanya berada. "Barusan pulang bersama papanya, Ma. Sepertinya anak pemilik kost deh, Ma."


"Oh ya, semoga orang tuanya tidak marah dia main di sini," tutur Rosa.

__ADS_1


...______Ney-nna______...


__ADS_2