Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Semakin Dekat


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa Syifa membantu mamanya untuk mengemas kue-kue yang sudah jadi ke dalam box untuk dibawa ke ruko. Rosa berjualan mulai dari jam 9 pagi hingga pukul 15.00. Terkadang jika sedang beruntung, tak perlu menunggu sore bisa jadi siangnya Rosa sudah kembali pulang karena kue dagangannya habis diborong pembeli. Namun, tidak jarang juga sepi pembeli dan harus kembali dengan menenteng kue yang tersisa. Begitulah suka-duka menjadi seorang pedagang, hasil perolehan memang tidak tentu, tapi Rosa tetap bersyukur asal tidak merugi.


Sepulang dari berjualan dengan menenteng dua box yang tersisa, tiba-tiba nampak bu Farida berjalan cepat ke arahnya.


"Ros, kebetulan sekali kamu sudah pulang. Kuemu masih ada sisa tidak?" tanya Farida sembari berjalan mendekat.


"Em ... masih, Ummi. Ada sisa dua box. Ummi butuh banyak?" tanya Rosa sembari mengeluarkan dua box kue Ontbijtkoek dari kantong kresek berwarna putih yang ia tenteng.


"Alhamdulillah, kebetulan sekali teman Ummi ada yang berkunjung sepulang umroh. Ummi ambil dua-duanya, Ros. Satu untuk dihidangkan dan satunya bisa untuk buah tangan," tukas Farida dengan tersenyum senang.


"Oh iya, Ummi. Ini silahkan!" Rosa menjulurkan kantong kresek itu ke hadapan Farida.


"Ummi bawa dulu ya, Ros. Nanti uangnya biar diantar Alika!" ujar Farida.


"Iya, Ummi. Silakan!"


Rosa pun tersenyum lega. Akhirnya dagangannya habis sudah tanpa sisa. Ia kemudian buru-buru masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Syifa yang tengah membaca buku menoleh saat ia membuka pintu kamar.


"Assalamualaikum!" ucap Rosa sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumussalam. Mama, sudah pulang. Laris ya, Ma?" tanya Syifa seraya meneliti ke arah tangan mamanya yang terlihat kosong.


"Alhamdulillah, Fa. Tadi sisa dua buah, sampai depan di cegat ummi Farida, terus diborong semua," ujar Rosa sembari duduk berselonjor di atas karpet sembari nyender di tembok.


"Alhamdulillah. Tapi, ummi Farida beli sebanyak itu buat apa, Ma? tadi Alika juga sudah ambil satu box," tanya Syifa.


"Untuk buah tangan tamunya kata ummi. Oh ya, Mama mau salat dulu habis itu pengen rebahan bentar. Tadi mama sudah beli lauk untuk makan malam nanti. Jadi kamu tidak usah masak, Fa!" tutur Rosa.


"Oke, Ma!"


Syifa menatap sendu pada mamanya yang berlalu masuk ke kamar mandi. Ingin sekali ia bekerja agar bisa meringankan beban mamanya. Namun, hingga sekarang ia belum menemukan lowongan pekerjaan yang cocok.


Beberapa kali papanya menghubunginya untuk kembali ke Surabaya dan meminta Syifa tinggal di Surabaya. Tetapi Syifa tidak mau. Ia tidak ingin membuat mamanya terkena masalah lagi dengan istri papanya. Meskipun hidup sederhana di kota ini, Syifa cukup bahagia meski harus menukar semua fasilitas yang diperoleh dari papanya, asal bisa tetap bersama dengan sang mama.


Papanya bercerita jika hubungannya dengan keluarganya sudah membaik. Istri dan anaknya sudah kembali pulang ke rumah. Syifa pun turut bahagia mendengarnya. Karena itulah Syifa tidak ingin kehadirannya kembali ke kota itu akan membuat rumah tangga sang papa kembali tidak harmonis. Mungkin butuh waktu hingga istrinya itu mau menerima kenyataan bahwa Syifa anak dari suaminya.

__ADS_1


Belakangan Edward meminta Syifa untuk membuka rekening di bank agar Edward bisa mengiriminya uang bulanan, namun Syifa masih enggan. Ia khawatir jika papanya tidak jujur pada istrinya tentang hal itu.


Menjelang sore Syifa keluar kamar untuk menyirami bunga yang ada di depan teras kamarnya. Toh hari ini ia tidak harus memasak, sehingga ada waktu luang untuk mengurus bunga-bunganya.


Tiba-tiba sebuah ketikan gitar mengalun dengan merdu diselingi suara sumbang dari arah belakang. Kamar yang disewa oleh seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMA itu memang tidak pernah sepi karena ia sering membawa pulang teman-temannya.


"Dia gadis berkerudung hijau, hatiku terpana tergugah.... Tak cuma parasnya yang indah, dia baik, dia soleha ...."


Syifa yang saat itu tengah memakai jilbab berwarna hijau muda pun seketika mengernyit. Pasalnya ia pernah sesekali mendengar lagu itu, dan liriknya harusnya berkerudung merah bukan hijau. Jelas ia yakin jika saat ini mereka tengah menggodanya.


Astaghfirullah! gumam Syifa di dalam hati. Ia dengan sabar memilih untuk tidak menoleh ke arah mereka atau pun menggubris mereka. Sebab jika ditanggapi mereka pasti akan semakin girang.


Syifa hendak beranjak masuk ke dalam kamar agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Pikirannya menerawang kembali pada kejadian yang dulu pernah ia alami. Devan yang terus menggodanya dengan gombalan-gombalannya, hingga berujung bertindak diluar batas membuat dadanya terasa nyeri kala mengingat hal itu lagi.


Namun, belum sempat ia masuk ke dalam kamar teriakan Alika membuatnya mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar.


"Kakak ...!"


Dari arah belakang terlihat ummi Farida berjalan pelan mengikuti langkah Alika.


Syifa hanya tersenyum di balik niqobnya melihat tingkah mereka yang tidak ingin kena tegur karena membuat gaduh di kost.


"Hey, Sayang! Wah, Alika udah cantik!" ujar Syifa saat melihat Alika yang sudah berganti baju dan sudah wangi.


"Iya, dong. Alika kan sudah mandi!" seloroh anak itu.


"Nak Syifa, mamanya ada?" tanya Farida.


"Ada, Ummi. Sebentar Syifa panggilkan!" Syifa buru-buru masuk ke dalam memanggil mamanya.


Rosa bergegas ke luar usai mandi sore. "Ada apa, Ummi?" tanyanya.


"Ros, ini uangnya yang tadi!" ujar Farida seraya menyerahkan selembar uang berwarna merah dari saku kantongnya ke arah Rosa.


"Terima kasih, Ummi!" jawab Rosa menerimanya kemudian memberikan kembaliannya.

__ADS_1


"Oh ya, ada yang ingin Ummi sampaikan kepada kalian. Jadi, putraku menginginkan nak Syifa untuk menjadi guru les buat Alika belajar Iqro' dan murojaah hafalan surat-suratnya. Untuk imbalannya Hanif akan membiayai uang semesteran kuliahmu, Nak Syifa. Bagaimana? Ummi dengar dari mamamu kamu dulu sempat kuliah bukan? lanjutkan lah pendidikanmu, Nak. Mumpung kamu masih muda teruskan cita-citamu, Nak!" tutur Farida.


Rosa seketika menoleh pada putrinya itu. Ini adalah kesempatan yang baik untuk Syifa. Beruntung sekali mereka bertemu dengan orang-orang yang baik selama tinggal di sini.


"Bagaimana, Nak?" tanya Farida lagi.


Syifa melihat ke arah mamanya seolah meminta pendapat. Rosa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Baik, Ummi. Jika Mama sudah setuju maka saya menerima tawaran itu, Ummi!" ucap Syifa.


"Alhamdulillah! Nanti saya akan sampaikan hal ini pada putraku, Nak Syifa. Nak Syifa tidak keberatan masuk di universitas yang sama dengan tempat anakku mengajar? nanti biar Hanif yang mengurus administrasinya!" tutur Farida.


"Di mana pun sama saja, Ummi. Bisa kuliah lagi saja, Syifa sudah merasa bersyukur sekali!" ucap Syifa seraya tersenyum senang.


......................


Tak terasa beberapa bulan pun berlalu. Sepulang kuliah Syifa beristirahat sebentar lalu bersih-bersih. Selepas maghrib ia akan mengajari Alika untuk membaca Iqro' dan juga mengahafal surat-surat pendek di rumahnya. Berbekal pengalaman ia mengajar di RA dulu, tentunya Syifa tidak begitu kesulitan dengan metode mengajar anak balita yang terkadang moodnya berubah-ubah.


Terkadang Syifa memberikan selingan seperti halnya bermain atau pun mendongeng agar Alika tidak bosan. Hal itu pun lambat laun membuat Alika semakin dekat dengan Syifa.


Hingga Hanif mulai tersentuh dengan kedekatan keduanya. Apalagi ia tahu di kampus rupanya Syifa cukup berprestasi. Membuatnya kagum dengan kelebihan gadis bercadar itu.


"Ummi, Pak Hanif saya pamit pulang dulu!" pamit Syifa saat waktunya untuk mengajar Alika sudah berakhir. Bahkan di rumah pun Syifa memanggil dosennya itu dengan sebutan Pak.


"Terima kasih ya, Nak Syifa!" ummi Farida yang menjawab.


"Assalamualaikum!"


Bertepatan disaat itu ada tamu yang datang berkunjung.


"Wa'alaikumussalam!" Hanif beranjak membukakan pintu. "Arjuna, ayo masuk!"


Hanif segera mempersilakan adik iparnya itu untuk masuk ke dalam rumah.


..._______Ney-nna_______...

__ADS_1


__ADS_2