
Malam sudah mulai larut. Nafisa sudah pulang ke rumahnya. Sedangkan Syifa baru saja menyelesaikan mengajinya. Diliriknya Antika yang masih menekuni laptopnya. Ia tengah mengerjakan tugas dari dosennya.
Syifa mendekati Antika dan sejenak memperhatikan Antika yang tengah sibuk mengetik.
"Tik, apakah kuliah itu menyenangkan?" tanya Syifa memecah keheningan.
"Apanya yang menyenangkan? tentu saja tidak ada bedanya dengan sekolah! Yang menyenangkan itu makan, tidur, bersantai di tempat liburan sembari meminum air kelapa muda dan diterpa oleh angin sepoi-sepoi!" jawab Antika sekenanya.
"Kalau yang itu tidak perlu bertanya padamu aku pun tahu!" ujar Syifa kesal.
"Tik, ayahmu tidak akan bingung mencari mu, kan?" tanya Syifa.
"Tenang saja aku sudah mengirimkan pesan kepada ayah. Beliau sudah tahu jika aku di sini," tutur Antika tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop di depannya.
"Syukurlah kalau begitu. Mengenai ceritamu tadi sore aku rasa kamu harus membicarakan hal itu dengan ayahmu terlebih dahulu, Tik. Ayahmu berhak tahu. Meskipun beliau akan memarahi mu atau melarang mu bertemu dengan ibumu tapi aku rasa beliau punya alasan yang kuat mengapa tidak mengijinkan ibumu membawamu saat itu," tutur Syifa menasehati.
Antika terdiam mendengar perkataan Syifa.
"Bagaimana jika ibuku yang salah dan ayah tetap tidak mengijinkan aku bertemu dengan ibuku?"
"Apa pun yang terjadi di masa lalu dia tetap ibumu yang mengandung dan melahirkan mu. Kamu sebagai anak tetap harus menghormatinya. Teruslah berusaha untuk meyakinkan ayahmu bahwa kamu ingin menjalin hubungan baik dengan keduanya, tanpa mengesampingkan ayahmu."
"Baiklah, akan kucoba untuk berbicara dengan ayahku. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, Fa. Jujur saja aku kadang merasa iri kepadamu dan juga Nafisa yang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Bukan salah sedikit ditempeleng, dipukul, dibentak-bentak. Aku juga ingin merasakan di peluk dengan penuh kasih sayang dan dimanjakan," tutur Antika mengungkapkan unek-uneknya.
"Antika, memang terkadang seseorang mempunyai caranya tersendiri untuk mengungkapkan kasih sayangnya. Meskipun ayahmu selama ini terlihat cuek dan keras aku yakin ia mempedulikanmu. Hanya saja caranya mungkin kurang tepat. Tapi bagaimanapun beliau tetaplah orang tuamu yang harus kamu hormati. Dan, jadikan pelajaran bagi dirimu agar tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari. Jadilah orang tua yang bijak dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya."
"Dan kamu sepertinya lupa, jika kamu tak pernah tahu rasanya punya ibu, aku pun juga tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya ayah. Lantas apa kita harus marah pada Allah? padahal banyak yang bahkan tidak punya keduanya. Tapi Allah masih memberimu ayah dan aku punya mama."
"Bersyukurlah dengan apa yang kita punya sekarang, Tik. Meskipun begitu ayahmu adalah ayah yang bertanggung jawab. Coba pikir, ayahmu menyekolahkanmu bahkan di sekolah terbaik yang cukup baik mutunya dan juga cukup mahal biayanya."
"Padahal bisa saja dulu ayahmu menyekolahkan mu di SMA yang bermutu sedang dan biayanya lebih murah, jika ayahmu asal-asalan."
"Namun, menurutku ayahmu itu sebenarnya cukup mempedulikanmu, beliau mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu dapat menyekolahkanmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi di sekolah yang terbaik. Mungkin beliau berharap kelak agar kamu menjadi orang yang sukses di kemudian hari."
__ADS_1
"Menurutku ayahmu itu sebenarnya menyayangimu dengan caranya sendiri. Beliau marah-marah mungkin ingin membuat mu terbiasa dengan kerasnya hidup agar kamu tidak mudah rapuh dan tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dengan kedisplinan yang sejak kecil beluau tanamkan."
"Tentunya ayahmu sangat memikirkan pendidikan yang baik untukmu. Jangan sampai kamu terlambat menyadari betapa berharganya peran beliau setelah beliau pergi untuk selama-lamanya," tutur Syifa panjang lebar.
"Huaaa ... Syifa lo jahat banget sih naruh bawang di sini!" ujar Antika dengan berlinang air mata.
Syifa segera merengkuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya.
"Semua orang pernah rapuh. Menangislah seperlunya!" tutur Syifa seraya mengusap lembut punggung Antika.
Usai berkeluh kesah Syifa dan Antika beranjak untuk pergi tidur. Sebab keesokan harinya, mereka akan banyak kesibukan yang sudah menanti mereka.
......................
Pagi-pagi sekali selepas subuh Antika berpamitan pulang. Ia teringat untuk memasakkan sarapan buat ayahnya terlebih dulu sebelum berangkat kuliah. Syifa bersyukur Antika sudah kembali bersemangat untuk melalui harinya kembali.
Begitupun dengan Syifa turut bersemangat untuk memulai harinya. Sebelum berangkat mengajar Syifa sarapan pagi dahulu dengan mamanya.
"Syifa, Mama tahu kamu sangat ingin kuliah bukan? ambillah kuliah diakhir pekan. Mama akan berusaha untuk membiayainya!" tutur Rosa membuka percakapan.
"Syifa, tapi kamu itu pintar, jika kamu kuliah mungkin saja masa depanmu akan jauh lebih baik ke depannya. Mama tidak ingin kamu seperti Mama yang miskin ilmu, sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
"InsyaAllah, Ma. Semoga suatu saat Syifa bisa kuliah. Doakan yang terbaik untuk Syifa, Ma!"
"Tentu, Sayang!"
"Ya sudah Syifa berangkat ya, Ma! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Syifa segera membenarkan niqobnya dan mengenakan tasnya. Ia berjalan menuju jalan raya untuk menuju ke halte bus.
Tiba-tiba ada pengendara motor berhenti tepat di depannya. Perlahan-lahan kaca helmnya diturunkan dan nampak lah laki-laki yang tidak asing baginya.
__ADS_1
"Syifa, kamu mau berangkat kerja ya? mari saya antar!" ucap laki-laki itu dengan ramah.
"Terima kasih, Mas. Tapi saya naik bus saja!" tolak Syifa dengan sopan.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi. Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Syifa.
Pria itu pun segera menyalakan mesin motornya dan menutup kembali kaca helmnya. Ia mulai tancap gas meninggalkan tempat itu.
Syifa merasa bersyukur saat tahu Panji tetangga Antika yang dulu pernah mencoba ingin memperkosanya sekarang sudah banyak berubah.
Diketahuinya dari Antika bahwa semenjak saat itu Panji tidak lagi berkumpul dengan teman-temannya yang membawa pengaruh buruk. Panji berlatih dengan keras demi mewujudkan cita-citanya. Antika bilang pemuda itu sekarang bekerja di sebuah kepolisian.
Rupanya pemuda itu belajar dari pengalaman dengan baik. Meskipun Syifa tidak membencinya lagi tapi Syifa selalu merasa was-was jika kembali berhadapan dengan laki-laki itu. Seolah bayang-bayang peristiwa di masa itu kembali terputar di otaknya.
Tak berapa lama bus pun datang. Syifa segera menaiki bus.
Sesampainya di sekolah iya segera menyiapkan bahan-bahan untuk mengajar. Tak berapa lama anak-anak mulai berdatangan. Syifa berjalan ke samping pagar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat pagi! ucapkan apa, Sayang?" tanya Syifa saat mengajak salah seorang muridnya berjabat tangan.
Anak perempuan itu pun mengucap salam seperti apa yang diajarkan oleh Syifa. "Assalamu'alaikum, Ustadzah Syifa!"
"Wa'alaikumussalam, Khanza."
Syifa pun juga menjabat tangan sang ibu yang mengantarkan putrinya itu dan menyapanya dengan ramah.
"Kamu Syifa 'kan?" tanya mama si anak.
Syifa mengerutkan keningnya mengingat-ingat siapa wanita di hadapannya itu
"Maaf apa Anda mengenal saya?" tanya Syifa.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...