
Weekend pun telah tiba. Pukul enam pagi, anak-anak masih tidur begitupun dengan papinya. Karena ini hari sabtu jadi Mia tidak segera membangunkan mereka. Sebab Edward tidak akan ke kantor begitu pun dengan anak-anaknya yang libur sekolah. Namun, Mia yang sudah terbiasa bangun pagi sudah mandi dan sudah rapih.
Mia segera menuju dapur untuk membuat sarapan. Inilah salah satu kelemahan Mia, dia tidak terlalu pandai memasak, dengan alasan itulah ia memperkerjakan jasa ART. Dia hanya bisa membuat masakan yang simpel. Kali ini ia membuat roti panggang telur peterseli untuk sarapan pagi ini.
Setelah beberapa saat berkutat di dapur, ia kembali naik ke atas berniat untuk membangunkan suami dan anak-anaknya.
Pertama ia mulai dari kamar anaknya. Karena Exel masih belum berani tidur di kamar sendirian, alhasil Mia menyatukan Jessika dan Exel dalam satu kamar, namun dengan ranjang terpisah.
"Jessi ... ayo bangun, Sayang!" ujarnya sembari mengguncang pelan lengan tangan putrinya.
Setelah melihat Jessika mulai membuka mata ia beralih ke ranjang Exel dan melakukan hal yang sama. Exel terlihat segara beranjak duduk namun matanya masih nampak terpejam.
"Ayo-ayo semuanya bangkit dan segeralah mandi! Jika tidak segera mandi maka tidak jadi ke Atlantis land, ya!" seru Mia dengan sedikit penekanan.
"Iya Mam, bentar. Hoaamm ...!" jawab Jessi lalu menguap karena masih mengantuk. Sedangkan Exel terlihat menganggukkan kepala beberapa kali tanpa membuka matanya.
Mia hanya geleng-geleng saja melihat gemas pada kedua anaknya. Lalu, ia pun meninggalkan tempat tidur mereka dan beralih menuju kamarnya untuk membangunkan sang suami.
Sesampainya di kamar utama. Mia lalu menyibakkan gorden kamarnya agar cahaya sinar mentari masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela. Kemudian Mia mendudukkan diri di tepian ranjang tepat di samping suaminya yang masih tidur.
"Mas, ayo bangun!" ucapnya seraya mengelus dengan lembut pipi suaminya.
Edward nampak mengerjap lalu menyipitkan matanya melihat ke arah jendela kamar yang menyilaukan mata. Bukannya segera bangkit ia justru menarik tubuh Mia ke dalam pelukannya.
"Eh, Mas. Kenapa malah begini? ayo buruan bangun!" ujarnya yang sedikit terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba, sehingga membuatnya jatuh menimpa tubuh suaminya.
__ADS_1
"Weekend kan? Sekarang jam berapa?" tanya Edward lirih sembari mengeratkan pelukannya.
"Ini sudah jam tujuh, Mas. Kau ingat, kau ada janji dengan anak-anak untuk menemani mereka ke Atlantis Land hari ini?" tanya Mia. Ia menatap intens pada wajah suaminya yang hanya berjarak beberapa sentimeter itu dengan tatapan rindu.
"Oh, iya. Aku baru ingat, Sayang. Kalau begitu aku akan segera mandi!" ujar Edward lalu mengurai pelukannya pada sang istri.
Mia lalu bangkit membenarkan posisi duduknya. "Baiklah, Mas. Akan aku persiapkan airnya!"
Edward mengangguk lalu perlahan bangkit dari tempat tidur.
Setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya, Mia kembali ke kamar anak-anaknya untuk membantu Exel bersiap-siap.
"Baiklah, ayo kita sarapan!" ujarnya setelah Jessi dan Exel selesai bersiap-siap.
Hari ini Rosa tidak datang. Sebab Mia sudah memberitahu sebelumnya jika Rosa tidak perlu datang saat weekend.
Seusai sarapan mereka pun segera menuju ke tempat tujuan. Kurang lebih dua puluh menit berkendara dengan mobil mereka sudah sampai.
Edward segera menuju loket pembelian tiket lalu mereka masuk ke dalam wahana permainan air itu. Kebahagiaan pun tercipta dengan keseruan yang tercipta saat bermain bercanda tawa bersama keluarga.
Ketika Mia dan Edward duduk bersantai sembari mengawasi anak-anak mereka, tiba-tiba handphone Edward pun berbunyi. Ada panggilan masuk dari Syifa.
"Siapa, Mas?" tanya Mia yang melihat ke arah Edward yang tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Em ..., sebentar, Sayang. Aku angkat teleponnya dulu!" ujar Edward lalu beranjak berdiri menjauh dari tempat mereka duduk.
__ADS_1
Mia menatap heran pada punggung suaminya yang mulai menjauh. Sebab, tidak biasanya Edward mengangkat telepon dengan menjauhkan diri darinya. Perasaan cemburu pun muncul, meskipun entah untuk siapa.
"Hallo, Syifa. ada apa, Sayang?" tanya Edward.
"Papa tolongin Syifa, Pa!" ujar Syifa di seberang telepon.
"Apa yang terjadi?" tanya Edward.
Syifa menjelaskan apa yang telah terjadi padanya hingga membuat Edward mulai cemas.
"Baik, kirimkan alamatnya sekarang. Papa akan segera datang!" ujar Edward lalu menurut teleponnya.
Usai mengangkat telepon itu, Edward segera kembali ke tempat semula, di mana Mia sudah menunggunya dengan penuh rasa curiga di hatinya dan kesal.
"Sayang, maaf ya ada hal yang sangat urgent sekali. Aku harus pergi meninggalkan kalian sekarang! Nanti aku kirimkan sopir kantor untuk menjemput kalian!" ujar Edward.
"Urusan urgent apa, Mas? siapa yang barusan menelepon?" tanya Mia dengan sangat penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskan hal itu sekarang, Sayang. Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang aku harus pergi. Aku mohon pengertiannya darimu!" bujuk Edward pada istrinya.
"Terserah padamu, Mas. Yang jelas anak-anak pasti akan sangat kecewa karena kamu pergi begitu saja meninggalkan mereka!" tutur Mia dengan penuh penekanan.
"Mia, ayolah! aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku harus pergi sekarang karena aku sangat buru-buru!" Edward tetap beranjak pergi dari tempat itu dan segera menuju alamat yang dikirimkan oleh Syifa.
..._____Ney-nna_____...
__ADS_1