
Syifa dan Antika beranjak berdiri dari duduknya melihat ke arah mobil mewah yang bertengger di pinggir jalan depan rumahnya.
"Siapa, Fa?" tanya Antika.
"Entahlah, Tik. Aku juga nggak tahu," ujar Syifa seraya melihat ke arah mobil itu.
Terlihat seorang laki-laki paruh baya keluar dari dalam mobil diikuti dengan seorang perempuan yang hampir seumuran. Kemudian dari arah depan jok pengemudi nampak seorang laki-laki yang masih muda dan tampan membuka pintu mobil.
"MasyaAllah, Ummi Rosyidah!" pekik Syifa saat mengenali salah seorang tamunya yang datang.
"Siapa, Fa?" tanya Antika.
"Beliau adalah pembinaku di pondok pesantren, Tik!" tutur Syifa.
"Assalamu'alaikum," ucap Ummi Rosyidah mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam, Ummi!" jawab Syifa dan segera salim lalu memeluk ummi Rosyidah.
Syifa mengatupkan kedua telapak tangannya ke depan menyambut dua laki-laki di belakang ummi.
"Suami dan anak Ummi!" ujar ummi Rosyidah menjelaskan.
Syifa pun mengangguk mengerti.
"Mari masuk, Ummi!" ujar Syifa mempersilakan masuk tamu-tamunya. "Ini sahabat Syifa, namanya Antika!"
Antika pun menyapa ummi Rosyidah.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah. Syifa dan Antika masuk ke dalam rumah untuk menjumpai mamanya.
"Ma, ada pembina Syifa yang bertamu. Mama temui beliau ya! Syifa buatkan minum!" ujar Syifa.
Rosa yang sedikit terkejut pun segera keluar untuk menjumpai tamunya.
"Mau apa pembina kamu ke sini, Fa?" tanya Antika dengan setengah berbisik.
"Aku juga nggak tahu, Tik. Mungkin Ummi hanya ingin mampir. Aku dan Nafisa cukup dekat dengan ummi Rosyidah. Beliau sangat sabar dan sangat baik," tutur Syifa.
__ADS_1
"Oh, begitu!"
Di ruang tamu Rosa menyambut baik kepada tamunya yang datang. Mereka mengobrol basa-basi sembari menunggu Syifa kembali.
Tak lama Syifa kembali sembari membawa nampan berisi teh dan kue ontbijtkoek yang sengaja Rosa sisakan untuk Syifa. Sedangkan Antika lebih memilih untuk menunggu di dapur.
"Mohon maaf seadanya. Mari silakan dinikmati!" ujar Rosa mempersilakan tamunya untuk menikmati suguhan yang disediakan.
"Oh, ini kue yang diceritakan Syifa itu, ya? katanya Mamanya sendiri yang buat. Enak lho, Um!" ujar ummi Rosyidah.
"Alhamdulillah kalau cocok, Um. Silakan Pak!" Rosa menawarkan dengan sopan. "Kalau boleh saya tahu dari mana hendak ke mana, Um?"
"Jadi begini, Um. Kedatangan kami ke sini memang sengaja untuk bertemu dengan Anda selaku orang tua Syifa. Saya cukup mengenal Syifa dengan baik selama menjadi santri di pondok pesantren yang saya bina. Dan, saya bermaksud ingin meminang Syifa untuk berta'aruf dengan putra saya, Adam," ujar ummi Rosyidah mengemukakan maksudnya dan tujuannya berkunjung.
Syifa dan mamanya seketika berpandangan. Terlebih Syifa yang sangat terkejut tentang hal itu. Sebab ini sama sekali tidak pernah dibahas selama di pondok oleh ummi Rosyidah kepadanya.
"Oh iya, Ummi. Saya sebagai wali dari Syifa merasa terhormat sekali mendengar maksud yang ummi sampaikan barusan. Namun, mengenai hal itu saya rasa Syifa yang lebih berhak untuk menjawabnya," tutur Rosa.
"Baiklah, Syifa Ummi sangat berharap kamu mempertimbangkannya dengan matang. Kebetulan anak Ummi baru pulang dari Kairo dan Ummi berharap Syifa jadi mantu Ummi," tutur ummi Rosyidah.
Syifa benar-benar tidak menyangka jika terakhir kalinya ummi menceritakan tentang putranya ada maksud hendak menjodohkan putranya dengan dirinya. Syifa tahu putra ummi adalah lulusan terbaik, penampilannya juga menarik, dan bisa dikatakan idaman bagi para santriwati. Namun , ada alasan yang sangar kuat hingga Syifa tidak bisa menerimanya.
"Ummi, sebelumnya Syifa ingin memohon maaf. Syifa tidak bisa menerimanya Ummi. Syifa tengah menunggu kedatangan seseorang!" tutur Syifa beralasan.
"Oh, jadi begitu. Baiklah Syifa, Ummi mengerti. Ummi hanya ingin berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi putra Ummi, namun jika memang tidak berjodoh ya apa boleh buat. Terlebih kamu memang sudah ada yang ditunggu sebelumnya, jika begitu Ummi hanya bisa berbesar hati untuk merelakannya!" ujar ummi Rosyidah dengan sabar.
"Saya mohon maaf, Um. Semoga Nak Adam ini segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik untuknya!" ujar Rosa menanggapi.
"Aamiin!"
Setelah permintaan ta'arufnya gagal akhirnya ummi Rosyidah dan keluarganya berpamitan untuk pulang. Meskipun ada rasa kecewa namun mereka berusaha menerima keputusan Syifa dengan hati yang lapang.
Saat mengantar ke depan Syifa berbisik pada Ummi Rosyidah. "Ummi, jika berkenan Syifa mengusulkan Nafisa saja yang berta'aruf dengan Mas Adam."
"Nafisa? Baiklah nanti akan Ummi bicarakan hal ini dahulu dengan keluarga, Ummi pamit Syifa! Assalamu'alaikum."
"Wa'alikumussalam. Hati-hati, Ummi!"
__ADS_1
Sepeninggal mereka Antika segera menuju ke depan untuk menjumpai Syifa.
"Astaghfirullah, Fa! lo yakin nolak cowok seganteng dan salih kaya gitu?" tanya Antika yang merasa heran karena Adam adalah laki-laki yang menurutnya memiliki kualitas yang baik untuk dijadikan suami idaman.
"Nggak bisa, Tik! aku nggak pantes buat laki-laki seistimewa Mas Adam. Ada yang jauh lebih pantas baginya!" tutur Syifa.
"Siapa?" tanya Antika dan Rosa berbarengan.
"Nafisa, Ma. Nafisa yang jauh lebih pantas. Dia sangat berharap akan hal itu. Syifa tidak ingin merusak hubungan persahabatan Syifa dengan Nafisa.
"Tunggu, tolong jelaskan lebih detail, Fa!" ujar Antika.
"Sebelumnya Nafisa pernah cerita ke aku jika dia mengagumi mas Adam. Sebelum aku masuk ke ponpes itu, Nafisa bilang jika ummi pernah menawarkan kepada Nafisa jika nanti putranya pulang maka ingin dijodohkan dengan Nafisa. Dan Nafisa pun sangat berharap hal itu akan terjadi. Namun, sekarang ummi berubah pikiran dan menjodohkannya dengan aku. Menurut kalian bagaimana perasaan Nafisa jika mengetahui aku menikah dengan mas Adam? Lantas jika Syifa menerimanya maka bagaimana dengan perasaan Nafisa, Ma, Tik?" ujar Syifa berpikir ke depan.
"Baiklah, Sayang. Jika begitu maka Mama mendukungmu. Mengalah demi menjaga persahabatan kalian itu jauh lebih baik. Jika suatu saat berjodoh pasti akan bertemu!" tutur Rosa kemudian ia masuk ke kamarnya.
"Lo hebat banget, Fa. Bisa merelakan hal itu demi Nafisa. Nafisa saja jika ada di posisi lo belum tentu loh memikirkan perasaan, Lo!" tutur Antika. "Sebagai teman gue mendoakan supaya suatu saat lo akan dapat ganti yang memang terbaik buat lo, Fa!"
"Aamiin, doa yang sama buat kamu juga, Tik!" ucap Syifa.
"Gue kira hal itu gara-gara lo nungguin Kak Ilham, Fa!" tutur Antika tiba-tiba.
Syifa seketika ingat jika Ilham pernah berpesan kepadanya agar Syifa tidak buru-buru menikah dan menunggunya hingga ia lulus. Meskipun tidak memaksakan diri untuk terlalu berharap itu akan terwujud, tapi Ilham adalah salah satu laki-laki yang ia percaya dapat menjadi imam yang baik baginya. Dan, sangat mustahil Ilham akan ingkar akan perkataannya.
Namun, ada sebuah keraguan di hati Syifa yang membuatnya enggan untuk melangkah pada sebuah ikatan suci. Ia tidak ingin mengecewakan orang sebaik dan seistimewa Ilham.
Menunggu Kak Ilham? apa aku pantas bersanding dengan Kak Ilham sedangkan entah apa yang terjadi padaku saat itu! batin Syifa.
"Entahlah, Tik. Bagaimana jika Kak Ilham di sana menemukan jodohnya? Aku tidak akan terlalu berharap. Kak Ilham berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku!" tutur Syifa dengan sendu.
"Anak-anak ayo makan dulu!" seru Rosa dari dalam.
"Baik, Tante!" jawab Antika.
"Yuk ah makan dulu, Fa. Mikirin itu bikin aku jadi lapar!" ujar Antika.
Syifa mengangguk mengiyakan. Mereka pun dengan semangat berjalan menuju dapur.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...