
Kini Rosa sudah sampai di depan sebuah rumah megah yang akan menjadi tempat kerjanya.
"Rosa, tunggu. Saya ingin sedikit berpesan buat kamu, jangan sampai bersikap melampaui batas jika berada dekat dengan majikan laki-lakimu! Meskipun kamu terlihat good looking, tapi kamu itu seorang ART di rumah ini. Saya paling tidak suka jika ada kasus di lapangan, tentang ART yang kedapatan merayu majikannya. Karena itu nantinya akan turut berdampak pada kita. Mengerti?" ujar Inge memperingatkan.
Inge adalah staf yang bekerja di bagian HRD di yayasan penyalur tenaga kerja ART. Dia yang bertugas untuk mengantarkan Rosa ke tempat kerja barunya.
"Iya, Mbak. Saya mengerti!" jawab Rosa menurut. Dia cukup mengerti dengan maksud dari ucapan Inge.
Rosa memandang sebuah rumah yang nampak megah di hadapannya. Lalu mereka melangkah menuju teras rumah. Inge memencet bel beberapa kali hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik muncul dari balik pintu.
"Ya, siapa ya?" tanyanya.
"Selamat pagi, saya Inge dari yayasan penyalur tenaga kerja, hendak mengantar seorang asisten rumah tangga atas permintaan Ibu Mia," tutur Inge.
"Oh iya, saya Mia. Mari silakan masuk!" ujar Mia dengan ramah.
Inge dan Rosa pun segera masuk ke ruang tamu rumah itu. Setelah berbincang sebentar untuk memperkenalkan Rosa pada Mia dan memberitahukan apa saja terkait dengan kesepakatan kerja diantara kedua belah pihak, Inge pun kemudian berpamitan. Setelah itu Mia mengajak Rosa berkeliling rumahnya.
"Mbak Rosa mari saya ajak berkeliling rumah!" ujar Mia.
"Baik, Bu!" jawab Rosa kemudian bangkit dari duduknya.
Dia lalu mengikuti kemana saja kaki Mia membawanya berkeliling ke semua ruangan yang ada di pekarangan rumah itu. Sembari berkeliling Mia juga menjelaskan apa saja tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Rosa mulai dari pertama ia datang hingga menjelang sore hari sebelum jam kerjanya usai.
Setelah cukup berkeliling, Rosa mulai mengerjakan pekerjaannya. Mulai dari mencuci pakaian, bersih-bersih rumah hingga memasak untuk makan siang. Hanya satu yang menjadi larangan bagi Rosa yaitu Mia melarang Rosa masuk ke dalam kamarnya. Kamar utama yang menjadi kamar Mia dan suaminya, akan dibersihkan sendiri oleh Mia.
Ketika menjelang siang Mia berpamitan untuk keluar rumah menjemput anak-anaknya. Mia mempunyai dua orang anak. Anak pertama berumur sepuluh tahun dan yang kedua berumur lima tahun. Sedangkan suaminya bekerja di sebuah perusahaan dan akan pulang menjelang petang.
"Mbak, aku pergi dulu ya, mau jemput anak-anak. Jaga rumah baik-baik!" tutur Mia.
"Baik, Bu!" jawab Rosa dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Sepeninggal Mia, Rosa pun segera kembali mengerjakan pekerjaannya. Saat adzan tiba, Rosa segera melaksanakan salat sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Meskipun majikannya itu berbeda keyakinan dengannya, namun Mia tetap memperbolehkan Rosa untuk melaksanakan ibadahnya. Mia bahkan menyiapkan ruangan khusus untuk Rosa beribadah.
Beberapa jam berlalu Mia sudah kembali dari menjemput putranya yang masih berusia lima tahun. Dia sangat tampan. Rosa bahkan merasa sangat familiar dengan wajah putra Mia, namun entah mirip dengan siapa.
Mia nampak telaten menyuapi putranya usai putranya berganti baju.
"Excel, ayo lekas habiskan makannya!" seru Mia pada putranya yang tak kunjung menyuap makanan karena asik bermain dengan gadget di tangannya. "Kalau kau tidak segera menghabiskan makananmu, Mami akan menyita gadget itu!"
Exel pun berpaling sebentar dari gadgetnya dan kembali menyuap makanannya.
Rosa tersenyum kecil mendengarnya. Ia merasa beruntung karena semasa kecil Syifa tidak mengenal gadget. Karena ketidak mampuannya membeli barang-barang mainan mewah itu justru malah bermanfaat bagi putrinya. Sebab, Syifa lebih senang belajar dan mengulang kembali pelajaran yang diajarkan di sekolah di rumah. Alhasil hal itu membuat Syifa tumbuh menjadi anak yang pintar karena ia senang belajar.
Dua jam berlalu Mia kembali berpamitan untuk pergi menjemput putri sulungnya. Ia menitipkan Exel yang tengah tidur siang pada Rosa.
Setengah jam kemudian Mia sudah kembali dari menjemput putri sulungnya. Sebab lokasi sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah.
"Siapa dia, Mi?" tanya Jessika.
Jessika hanya melirik sebentar pada Rosa yang tersenyum lalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Putri sulung Mia rupanya bersikap lebih dingin ketimbang Exel. Jessika tidak terlalu banyak bicara dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.
Usai memasak untuk makan malam, sore itu Rosa berpamitan pulang.
......................
Sesampainya di rumah Syifa bercerita banyak hal tentang seharian tadi bersama Edward. Edward mengajaknya mendatangi universitas untuk mendaftarkan Syifa kuliah, mengajaknya makan siang di restoran mewah dan membelikan handphone untuk Syifa.
"Maaf, Ma. Syifa sudah menolaknya, tapi papa bersikeras membelikan Syifa handphone. Katanya agar papa dengan mudah berkomunikasi dengan Syifa dan papa juga bilang saat kuliah nanti handphone akan sangat dibutuhkan," tutur Syifa.
__ADS_1
Rosa hanya menghela nafas beratnya. Ia sadar jika jaman sudah berubah. Semua sudah serba canggih. Tentu saja handphone akan menjadi kebutuhan penting bagi fasilitas penunjang yang harus di miliki putrinya. Dan itu memang tidak sanggup Rosa belikan untuk Syifa saat ini. Mau tidak mau ia hanya bisa pasrah saat Syifa menerima semua yang dibutuhkan dari Edward.
"Ya sudah pergunakan baik-baik, Syifa. Lain kali jangan terlalu mudah menerima pemberiannya jika kamu tidak benar-benar membutuhkan. Apalagi jika itu adalah sesuatu yang mahal," tutur Rosa.
"Iya, Ma. Syifa juga tidak ingin memanfaatkan kebaikan papa. Syifa ingin suatu saat bisa membeli sesuatu yang Syifa inginkan dari jerih payah Syifa sendiri, bukan dengan merepotkan papa atau Mama."
"Lagi pula saat tahu jika Syifa punya papa saja, hal itu saja sudah membuat Syifa bahagia karena memiliki keluarga yang lengkap. Syifa tidak menyangka dan sangat bersyukur karena papa begitu baik memperlakukan Syifa," tutur Syifa.
Hal itu membuat Rosa menatap sendu pada putrinya. Ia hanya berharap cukup sudah penderitaan yang ia dapatkan di masa lalu, semoga kedepannya hanya ada kebahagiaan untuk putrinya.
"Oh ya, bagaimana dengan dengan hari pertama Mama kerja?" tanya Syifa.
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan cukup baik Syifa. Majikan Mama juga sangat baik. Semoga kedepannya tetap baik-baik saja!" ujar Rosa.
"Alhamdulillah, Syifa ikut senang jika Mama merasa nyaman di tempat kerja," ujar Syifa lalu memeluk mamanya dari samping.
Sebulan berlalu dan semuanya nampak berjalan dengan baik. Syifa sudah mulai kuliah dan Rosa mulai terbiasa dengan pekerjaannya.
"Mbak, kata suamiku masakan Mbak Rosa itu lumayan enak. Ayo dong Mbak bagi resepnya!" ujar Mia pada Rosa.
"Dengan senang hati, Bu. Yang barusan itu masakan kesukaan putri saya, Bu. Saya hanya menggunakan bahan-bahan pada umumnya. Tidak ada resep rahasia kok, Bu," ujar Rosa.
"Mbak Rosa ini, sudah aku bilang jangan panggil Bu, kita kan seumuran!" tukas Mia.
"Tidak, Bu. Rasanya tidak sopan jika saya memanggil Anda seperti Anda memanggil saya!" tolak Rosa.
"Mbak Rosa ini. Oh ya, Mbak. Suami Mbak, kerja apa?" tanya Mia.
Rosa tertegun mendengar pertanyaan Mia. Rosa cukup tidak nyaman ketika ada orang yang mengorek tentang hal pribadinya meski hal itu cukup umum dilontarkan pada orang yang baru mengenal.
"Saya tidak memiliki suami, Mbak," jawab Rosa.
__ADS_1
"Oh, jadi suami Mbak sudah meninggal? Maaf ya, Mbak? saya tidak bermaksud untuk membuat Mbak Rosa bersedih mengingatnya!" ujar Mia.
..._____Ney-nna_____...