Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Anakku


__ADS_3

Dari jarak beberapa meter, Rosa berdiri mematung melihat apa yang dilihatnya, tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Ia baru saja pulang dari tempat penyalur tenaga kerja. Baru saja ia menginjakkan kaki di halaman rumahnya, ia melihat sosok yang telah lama ia coba lupakan keberadaannya. Sosok laki-laki yang membuat hidupnya hancur berantakan.


Apa yang dia lakukan di sana! gumam Rosa di dalam hati.


"Rosa...!" seru Rosita saat menyadari kedatangan adiknya.


Semua mata pun beralih menatap ke arah halaman di mana Rosa berdiri.


Sejujurnya Rosa sangat enggan untuk bertemu kembali dengan laki-laki yang sempat menjadi kakak iparnya itu yang juga ayah biologis dari putrinya. Dia ingin berbalik arah dan bersembunyi saja. Namun, kedatangannya sudah terlanjur diketahui oleh mereka semua. Mau tidak mau ia pun harus menghadapinya.


Sementara Edward menatap pilu pada wanita yang merupakan cinta pertamanya itu sekaligus wanita yang telah ia lukai. Perasaan bersalah terus menghantuinya karena Rosa menghilang akibat perbuatannya dan tak pernah kembali lagi hingga sembilan belas tahun setelah kepergiannya.


Bertahun-tahun ia mencari keberadaan Rosa. Ia melacak tujuan kereta yang dulu membawa Rosa pergi. Ia sampai menyewa jasa detektif untuk melakukan pencarian di kota-kota tujuan tersebut yang memungkinkan ditinggali oleh Rosa. Detektif pun melacak ke seluruh gereja di kota-kota tujuan tersebut untuk menemukan Rosa, namun nama Rosalina tidak tercantum di daftar jemaat gereja manapun.


Rosa kemudian melangkahkan kakinya perlahan menuju teras rumah di mana mereka semua menunggu penjelasan darinya. Sebab, hanya Rosa lah yang berhak menjawabnya.


"Rosa ...!" ucap Edward lirih ketika Rosa mulai mendekat ke tempat mereka berkumpul.


Rosa mengabaikan Edward yang sejak tadi terus memandanginya dengan tatapan sendu.


"Mengapa dia ada di sini, Kak?" tanya Rosa dengan tatapan yang tidak suka kepada Rosita.

__ADS_1


"Mama, Tuan ini yang telah menolong Syifa," tukas Syifa seraya tersenyum di balik cadarnya. Ia merasa sangat senang karena mamanya sudah datang.


Mama! gumam Edward seraya mengernyitkan dahinya mendengar Syifa memanggil mama pada Rosa. Ia menyadari satu hal gadis yang ditolongnya berusia delapan belas tahun.


"Rosa, dia putrimu? apa dia--?" ucapan Edward terpotong oleh seruan dari Rosa.


"Kakak, tolong bawa Syifa masuk, Kak!" seru Rosa dengan lantang.


"Syifa, ayo!" Rosita menarik lengan tangan Syifa untuk masuk ke dalam rumah.


Syifa merasa heran dengan sikap mamanya yang tidak seperti biasanya. Ia pun semakin bingung dengan apa yang membuat mamanya tiba-tiba bersikap dingin seperti itu. Dan, lagi mengapa ia tidak boleh mendengarkan pembicaraan mereka. Sejumlah pertanyaan pun terbit fi benak Syifa akan hubungan mamanya dengan laki-laki yang yang barusan menolongnya tadi. Meski rasa penasarannya cukup besar ia akhirnya menurut dengan apa yang di perintahkan oleh mamanya.


Syifa beranjak pergi masuk ke dalam rumah bersama Rosita. Rosita membawanya pergi ke ruang tengah.


"Tante tidak berhak untuk menjawabnya Syifa, biar nanti mama mu sendiri yang menjelaskan padamu," ujar Rosita. Ia tidak ingin salah bicara. Sebab ia pun sadar diri bahwa ia turut bersalah akan peristiwa di masa lampau yang terjadi pada Rosalina.


"Apa dia papaku?" tanya Syifa.


Rosita terperangah akan pertanyaan yang Syifa lontarkan. Ia bingung harus menjawab apa.


......................

__ADS_1


"Rosa, aku senang bisa melihatmu lagi ...," ujar Edward memulai percakapan.


"Namun, aku tidak, Kak! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" ujar Rosa dengan pandangan lurus ke depan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Aku tahu aku bersalah padamu, Ros. Tapi sungguh sepanjang hidupku aku sangat menyesalinya! Dan aku sangat ingin meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Namun bertahun-tahun aku mencarimu, aku tidak dapat menemukanmu, Ros!" ujar Edward dengan sendu.


"Untuk apa mencariku? untuk melihat seberapa buruknya keadaan ku saat itu? Kamu puas telah menghancurkan masa depanku dan merusak hubunganku dengan kakakku? Sembilan belas tahun sudah aku hidup berjauhan tanpa keluargaku. Mengapa sekarang kau harus kembali muncul di hadapanku, hah?" Rosa meluapkan segala amarahnya yang bertahun-tahun terpendam di benaknya pada laki-laki yang telah memberikan luka yang sangat dalam baginya.


"Rosa ..., aku memang bersalah, tapi aku tidak bermaksud ingin membuat hidupmu sengsara. Hal itu spontan terjadi saat aku kecewa karena merasa dibohongi oleh kalian yang bertukar tempat. Sebab, harusnya kaulah yang saat itu menikah denganku, bukan Rosita. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, karena itulah aku mencarimu untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat padamu!" tukas Edward.


Rosa terdiam, apa yang dikatakannya memang hampir sama dengan yang dikatakan mamanya. Mama Sofia memang telah menukarnya dengan sang kakak, wajar saja jika Edward saat itu sangat marah. Mama dan kakaknya pun turut andil dalam hal itu, tidak sepenuhnya salah Edward.


Namun, Rosa tak kuasa meluapkan uneg-unegnya yang selama ini hanya tersimpan di benaknya ketika melihat Edward kembali. Bayangan kejadian sembilan belas tahun silam pun seolah terputar kembali di depan matanya. Hal itu membuatnya kembali merasakan luka yang dulu pernah ia rasakan. Rosa pun hanya bisa menangis tersedu-sedu.


"Ros, tolong katakan sejujurnya, apa setelah kejadian itu kau hamil? Apa Syifa itu anakku?" tanya Edward ingin tahu. Sedari awal melihat wajah Syifa, ia merasa sangat familiar. Dan, saat Syifa memanggil mama pada Rosa, batinnya seketika bergejolak. Ia merasa yakin bahwa Syifa adalah anaknya.


"Dia anakku, aku yang membesarkannya seorang diri. Kau tidak berhak untuk merebutnya dariku!" tutur Rosa.


"Jadi benar dia putriku, Ros?" tanya Edward ingin memastikan sekali lagi.


"Kau memang ayah biologisnya, tapi kau tidak berhak atas dirinya. Pergilah dari hidup kami! Biarkan Syifa hidup bahagia!" ujar Rosa.

__ADS_1


...______Ney-nna______...


__ADS_2