
Usai berdoa acara dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang sudah disediakan. Ada kurma, kebab dan makanan khas timur tengah lainnya. Untuk menu utamanya adalah Nasi kebuli yang disajikan dalam satu wadah atau dulang yang berukuran sedang. Satu dulang bisa disantap oleh tiga sampai empat orang.
Begitupun dengan Syifa, Antika dan Nafisa. Mereka makan bersama dalam satu dulang untuk bertiga. Rasanya ada kenikmatan tersendiri jika menyantap makanan bersama-sama. Lebih terasa kebersamaannya dan tentunya lebih menggugah selera.
Usai acara Nafisa mengenalkan Syifa dan Antika pada sepupu suaminya yang juga bernama Asyifa tadi.
"Kak, ini kenalin sahabat aku. Yang ini namanya Antika dan yang satunya adalah yang pernah aku ceritain ... yang namanya juga, Syifa!" ujar Nafisa seraya menggandeng lengan Asyifa, sepupu suaminya.
Mereka pun saling berjabat tangan. Asyifa Aulia Assegaf, begitulah syarifah berparas cantik itu memperkenalkan diri. Tidak banyak yang mereka obrolkan karena orang tua Asyifa segera mengajaknya pulang.
Syifa dan Antika kemudian membantu beres-beres. Begitupun dengan kerabat yang lain. Usai beres beres Antika minta ijin untuk pulang lebih dulu karena ada keperluan.
Suasana rumah pun mulai sepi sepeninggal kerabat yang juga sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah Nafisa, suaminya dan Abi Imron sebagai tuan rumah. Syifa dan mamanya pun turut tinggal karena ada yang hendak dibicarakan sesuai pesan dari Nafisa tadi.
Kini ketiga perempuan itu ikut duduk di ruang tamu bergabung dengan suami Nafisa yang sudah sejak tadi menunggu.
"Kamu kesehariannya tinggal di sini 'kan, Naf?" tanya Rosa membuka obrolan sembari menunggu abi Imron datang.
"Iya, Tante. Tapi terkadang Abi juga sendirian ketika saya pulang ke rumah Mas Ikhsan. Sebab, ummi nya Mas Ikhsan suka nanyain kalau kita lama nggak pulang ke sana. Jadi ya bolak-balik ke sana ke mari!" ujar Nafisa seraya tersenyum melirik ke arah suaminya.
Beruntung suaminya itu tidak banyak menuntut dan cukup pengertian ketika ia ingin pulang ke rumahnya. Apalagi ia tidak tega jika membiarkan abinya mengurus rumah dan segala kebutuhan beliau seorang diri.
Rosa tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan.
"Oh ya, kapan Ilham pulang?" tanya Rosa lagi.
"Bulan depan, Tante. Bang Ilham katanya juga sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang. Katanya tidak sabar ingin ziarah ke makam ummi. Katanya, abang sangat sedih karena tidak bisa melihat ummi untuk yang terakhir kalinya," tuturnya. Suasana seketika berubah sendu.
__ADS_1
"Ekhm!" sebuah suara deheman membuat mereka semua serentak mendongak ke arah seseorang yang baru datang.
Imron segera duduk di kursi kosong ruang tamu, di antara mereka yang sudah menunggu.
"Maaf membuat kalian menunggu. Langsung saja saya mulai pembicaraan ini pada intinya. Seharusnya saya yang mendatangi rumah kalian bukannya kalian yang harus datang. Tapi, karena kebetulan ada kesempatan kita berkumpul di acara walimatul haml, Nafisa, saya pikir sekalian saja saya sampaikan maksud saya meminta kalian untuk tidak pulang lebih dalu!" ujar Imron dengan tegas.
Semua nampak diam dan hanya mengangguk tanda setuju.
"Jadi begini, Ros. Sebelum kepergian Syarifah, ia menyampaikan pesan agar saya menikah lagi sepeninggalnya nanti. Tentu saja saat itu saya langsung menolak karena saya berharap dia masih bisa sembuh. Namun, beberapa jam sebelum meninggal ia kembali meminta kepada saya untuk ... mengkhitbah kamu!"
Deg.
Syifa dan Rosa sontak saja terkejut mendengar penuturan abi Imron. Namun, tidak dengan Nafisa dan suaminya. Sebab, disaat itu Nafisa juga turut mendengar permintaan umminya. Dan itu membuatnya sangat sedih dan bimbang saat pertama mendengarnya.
Nafisa tahu jika abangnya memiliki rasa yang lebih pada sahabatnya itu. Namun, permintaan umminya membuatnya bimbang dan tidak ingin membuat umminya kecewa. Ummi ingin abi ada yang mengurus sepeninggalnya. Dan, Tante Rosa adalah sahabat dekat ummi yang ummi percaya bisa melanjutkan tugasnya sebagai pendamping hidup yang baik untuk abi.
Nafisa tengah tertidur dengan beralaskan tikar yang digelar di lantai sebelah tempat tidur umminya. Sementara Imron duduk di kursi di hadapan istrinya.
Tiba-tiba sebuah usapan lembut di punggung tangannya membuat Imron terjaga. Istrinya itu tengah memandangnya dengan tersenyum teduh, meski bibirnya memucat.
Syarifah mulai bergumam. Awalnya ia meminta minum karena merasa kehausan. Lalu ia kembali berucap lirih pada suaminya.
"Bi, Ummi mohon sepeninggal Ummi nantinya, Abi menikah lagi. Menikahlah dengan, Rosa. Ummi ingin ada yang mengurus Abi. Dan, Ummi yakin Rosa bisa melakukan hal itu dengan baik!" ungkap Syarifah dengan suara terbata-bata.
"Ummi ...." Imron hendak menyela, namun dengan cepat Syarifah menggenggam jemari suaminya itu, tanda jika ia belum selesai berbicara.
"Abi, Rosa adalah perempuan yang baik. Ia berhak untuk bahagia. Selama ini dia bisa menjaga dirinya dengan baik meski ia pernah ternoda. Di balik musibah yang datang kepadanya, Ummi yakin saat Allah mengirimnya ke kampung kita dan bertemu dengan Abi waktu itu, Allah ingin membimbingnya ke jalan yang benar karena ia perempuan yang Allah pilih untuk menerima hidayah-Nya. Mungkin saja jalannya lewat Abi, Allah ingin Abi menjaga dan membimbingnya. Ummi mohon ... lindungi dia, sayangi dia sebagaimana Abi menyayangi, Ummi!"
__ADS_1
Nafisa yang sebenarnya tidak bisa tidur pun ikut mendengarkan hal itu. Tanpa kedua orang tuanya sadari, ia meneteskan air mata mendengar perkataan umminya. Rasanya belum rela jika umminya akan pergi secepat ini.
Flashback Off.
Syifa nampak terdiam terpaku dengan mata berkaca-kaca mendengar abi Imron menceritakan pesan terakhir istrinya saat di rumah sakit. Perasaan resah sedari tadi akhirnya terjawab juga. Otaknya seolah beku dan tak tahu harus berbuat apa mendengar hal itu.
Sementara Rosa mulai menangis tersedu-sedu mendengar hal itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika seorang perempuan yang selama ini dianggapnya seperti seorang kakak perempuan baginya itu memiliki keinginan yang sangat mulia di saat terakhirnya.
Nafisa yang melihat kesedihan di mata sahabatnya seketika menggenggam tangan Syifa dengan erat.
Syifa menoleh ke arah Nafisa yang nampak tenang. Menyadari jika itu artinya Nafisa sudah mengetahui hal ini sedari awal.
Jadi inikah maksudmu saat itu, Sa? gumam Syifa yang hanya ia ucapkan di dalam hati.
"Jadi, bagaimana menurut kalian?" Abi Imron kembali membuka suara setelah beberapa saat mereka semua larut dalam kesedihan masing-masing.
"Aku tidak bisa menjawabnya, Mas. Aku tidak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya. Aku harus membicarakan hal ini juga dengan Syifa. Tolong beri saya waktu!" ponta Rosa dengan diselingi isakan.
"Baiklah. Silahkan kalian berdiskusi terlebih dahulu. Aku akan menunggu keputusan kalian. Ini bukan paksaan. Keputusan ada di tangan kalian. Jika kalian sudah menemukan jawabannya kalian bisa memberitahu saya!" tutur Imron dengan sabar.
Setelah itu Syifa dan mamanya berpamitan untuk undur diri karena hari sudah menjelang petang. Nafisa menawarkan diri untuk mengantar mereka. Akhirnya mereka pulang dengan diantar Nafisa dan suaminya.
Saat sampai di depan kost Syifa, Nafisa bergegas turun. Setengah berlari ia menahan Syifa yang hendak memasuki pekarangan kost.
"Syifa, tunggu!" seru Nafisa.
"Ada apa, Sa?" tanya Syifa terkejut saat Nafisa memanggilnya.
__ADS_1
...______Ney-nna______...