Aku Perawan Tua Berkualitas

Aku Perawan Tua Berkualitas
Menempel


__ADS_3

"Papa ...!" seru Alika sembari berlari ke arah papanya berada.


Syifa dan Antika seketika mengikuti ke arah ke mana bocah itu pergi.


Nampak seorang laki-laki tampan menangkap Alika yang tengah berlari ke arahnya, lalu menggendongnya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun beberapa detik kemudian ayah dan anak itu nampak memandang ke arah Syifa dan Antika secara bersamaan.


Syifa segera mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Eits dah, ganteng banget bokapnya!" decak Antika merasa kagum dengan ketampanan papa Alika.


Syifa mengambil selembar tissue lalu mengelap pipi Antika dengan tissue itu.


"Bukan muhrim. Liatnya jangan sampe ileran gitu dong, Tik!" kelakar Syifa seraya terkekeh.


"Yaelah ..., bentar doang deh, Fa!" kilahnya. "Tuh 'kan mereka udah pergi!" gerutunya saat melihat ayah dan anak itu berlalu pergi.


"Kamu berminat jadi ibunya?" tawar Syifa.


"Eh, maksudnya tuh bocah nggak punya ibu? serius papanya duda?" tanya Antika penasaran.


"Katanya sih udah nggak punya mama. Berarti single father 'kan?" ujar Syifa menduga-duga.


"Beneran, Fa? kalau dudanya masih muda dan ganteng begitu ... aku sih juga mau deh jadi ibu pengganti itu bocah!" seloroh Antika dengan penuh semangat.


"Ya kalau berminat kejar aja. Sepertinya dia pemilik kost di tempat aku kost sekarang, Tik," tutur Syifa.


"Beneran? wah kalau gitu gue bakal sering-sering main ke kost lo, Fa!" tukas Antika.


Setelah acara selesai, Syifa dan mamanya pulang setelah bantu-bantu di rumah Nafisa. Tepat di saat itu, dari jarak yang agak jauh Alika nampak berlari menghampiri ke arahnya.


"Kakak!" panggil bocah itu.


Syifa menoleh lalu tersenyum pada bocah itu. Alika nampak sudah berganti baju dengan dress rumahan.


"Alika, tadi dapat kue. Kuenya sama seperti yang kakak kasih kemarin," cicit Alika.


"Kue itu kemarin yang bikin mamanya Kakak juga," ujar Syifa.


"Alika suka. Enak!" ujarnya seraya tersenyum, lalu mengikuti langkah Syifa menuju kamar kostnya.


"Alika ... memangnya tidak capek? kok nggak bobo siang malah main ke sini?" tanya Syifa karena takut jika ayah dan neneknya mencari.


"Alika nggak bisa bobo. Alika udah bilang sama papa, kalau mau main sama Kakak," ujarnya.


Sesaat keduanya nampak asyik mengobrol dan bercanda tawa. Sedangkan Rosa sudah lebih dulu merebahkan diri di tempat tidur.


......................


"Alika ...! Alika ....!" terdengar suara teriakan dari luar.


Rosa yang sudah bangun beranjak ke luar kamar untuk membuka pintu.


"Maaf, apa Alika ada di sini?" tanya papa Alika.

__ADS_1


"Ada, tapi dia sedang tidur dengan anak saya. Apa perlu saya bangunkan?" tanya Rosa.


"Boleh saya memastikannya!" tanya Hanif ingin memastikan bahwa anaknya benar-benar sedang tidur, sebab ia tahu bahwa mereka adalah penghuni kost baru. Ia khawatir jika putrinya kenapa-kenapa.


Rosa mengangguk lalu mundur sedikit dari ambang pintu.


Hanif menjulurkan kepalanya melihat ke arah tempat tidur. Nampak putrinya tengah tertidur pulas dengan dipeluk oleh Syifa yang tidur dengan posisi miring ke samping membelakanginya. Masih lengkap dengan jilbabnya.


"Maaf jika putri saya merepotkan. Tolong jika nanti sudah bangun suruh dia segera pulang!" ujar Hanif.


Rosa mengangguk mengiyakan.


Setelah laki-laki itu pergi Rosa kembali menutup pintu kamarnya. Dia melihat ke arah Syifa dan Alika yang tengah tidur dengan pulas. Rupanya mereka tadi kelelahan bermain hingga ketiduran.


Rosa menepuk pelan lengan Syifa karena sudah sore. "Fa, bangun!"


Syifa segera membuka matanya, lalu melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.


"Udah sore ya...," gumamnya seraya beranjak duduk.


"Tadi, papa Alika ke sini nyariin. Katanya nanti kalau sudah bangun disuruh pulang," ujar Rosa.


"Oh, iya Ma. Syifa salat dulu, Ma!" Syifa segera beranjak bangun dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Saat selesai salat Syifa melihat Alika sudah terjaga, namun anak itu belum beranjak dari tempat tidur.


"Eh, uda bangun ya!" seru Syifa dari tempat sujudnya seraya tersenyum.


Anak itu nampak diam saja seperti ketakutan.


Anak itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Syifa segera melipat mukenanya, lalu mendekatinya. Terlihat bagian bawah dress anak itu nampak basah. Rupanya Alika mengompol.


Syifa melihat ke arah bocah itu yang masih diam tidak berani melihat ke arahnya.


"Alika pipis di kasur, ya? yuk Kakak mandiin!" bujuk Syifa dengan lembut.


"Kakak marah, nggak?" tanya Alika lirih.


"Enggak. Yuk mandi!" ajak Syifa lagi.


"Maaf ya, Kakak!" ujarnya seraya beranjak duduk.


Syifa tersenyum lalu mengangguk. Meski ia bingung nanti malam harus tidur di mana jika kasurnya basah kena ompol, tapi ia berusaha sabar agar tidak membuat anak itu takut.


Seusai memandikan Alika, Syifa nampak bingung. "Mah, dipakaiin apa, Nih?"


"Apa ya?" Rosa juga nampak bingung. Sebab jelas tidak ada baju anak ataupun sesuatu yang pas untuk dipakai anak itu.


Syifa akhirnya mengambil salah satu tank top yang biasa ia pakai untuk dalaman gamis. Setelah dipakai Alika, Alika nampak seperti memakai dress tanpa lengan.


"Nah, begitu dulu juga nggak apa-apa. Kamu antar pulang biar dia bisa ganti bajunya. Kasihan keburu kedinginan!" tutur Rosa.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Syifa menggendongnya lalu membawanya pulang ke rumah besar di sebelah pekarangan tempat kostnya.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum!" ucap Syifa.


Alika minta diturunkan dari gendongan. Alika nampak membuka pintu rumahnya sendiri.


"Kakak, ayo main ke rumah aku!" ajak Alika.


"Em, Alika masuk sendiri aja ya, terus ganti baju dulu. Kakak mau pulang, Kakak belum mandi!" ujar Syifa beralasan.


Alika nampak mengangguk.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Syifa buru-buru beranjak pulang sembari berdada- dadah pada Alika. Ia sungkan untuk menjelaskan bagaimana Alika bisa mengenakan tank top miliknya.


Sesampainya di kost ternyata mamanya sudah lebih dulu membersihkan bekas ompolnya. Lalu menghidupkan kipas angin dan mengarahkannya tepat pada bagian yang basah kena ompol Alika.


"Bakal kering nggak ya, Ma?" tanya Syifa.


"Semoga aj. Kalau nggak ya tidur di lantai kita," ujar Rosa seraya tersenyum. "Jadi inget waktu kamu masih kecil dulu. Sama kayak Alika. Suka ngumpet-ngumpet kalau ngompol di kasur, takut kena marah ...," ujar Rosa sembari terkekeh.


"Iyakah, Ma? makasih ya, Ma. Mama udah sabar merawat Syifa!" ujarnya seraya memeluk mamanya dari samping, lalu mengecup sayang pada pipi mamanya.


"Nggak terasa sekarang kamu udah segede ini. Mama jadi berhayal kalau kamu udah nikah dan punya anak. Nafisa saja sudah menikah di usia muda. Apa kamu juga ingin segera menikah di usia muda?" tanya Rosa.


Mengingat sudah beberapa kali Syifa mendapat lamaran, tidak menutup kemungkinan jika putrinya akan ada yang melamar lagi. Mengingat putrinya itu banyak dilirik oleh pemuda dilingkungan tempat tinggalnya dulu saat di kampung arab. Diam-diam Rosa mengamati. Meski sebenarnya ia ingin melihat Syifa kuliah dan sukses bekerja dan menikmati masa mudanya dengan bahagia, barulah menikah di usia yang cukup.


Ia berharap Syifa tidak seperti dirinya yang harus mengandung diusia muda bahkan tanpa suami. Terlebih dengan penderitaan yang ia alami untuk beradaptasi tinggal dikota ini. Dia berharap nasib putrinya tidak seperti dirinya.


Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu kembali. Rupanya papa Alika yang datang bersama Alika dan salah seorang laki-laki.


"Maaf karena putri saya sudah merepotkan kalian. Saya sudah menyediakan kasur pengganti yang bersih dari kamar kost yang masih kosong!" ujar Hanif.


Rosa dan Syifa saling berpandangan.


"Em, sebenarnya tidak apa-apa jika tidak diganti. Nanti jika kering juga masih bisa dipakai kembali," ujar Rosa.


"Saya tidak ingin kalian merasa tidak nyaman. Pasti akan butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Apalagi ini sudah menjelang malam." Hanif menoleh pada laki-laki di belakangnya. "Man tolong kamu tukar kasurnya dengan yang baru ya!" titahnya pada Maman tukang kebun sekaligus penjaga rumahnya.


"Baik, Den!" Maman segera menuruti perintah majikannya.


"Alika ayo pulang!" titah Hanif.


"Alika mau main sama Kakak. Kakak cantik, Alika pengen seperti Kakak!" ujar bocah itu membuat Hanif refleks melihat ke arah Syifa. Tatapannya datar memandang sejenak ke arah Syifa yang wajahnya tertutup niqob.


Syifa seketika menurunkan pandangannya agar tidak bertemu pandang dengan laki-laki itu.


"Besok lagi ya mainnya, cantik. Lihat ... langitnya sudah mulai gelap. Besok Alika boleh main ke sini lagi!" bujuk Rosa pada bocah itu.


Alika mengangguk. Kemudian mau pulang bersama papanya.

__ADS_1


"Anak itu kenapa bisa menempel sekali sama kamu ...," gumam Rosa seraya melirik pada Syifa.


..._______Ney-nna_______...


__ADS_2