Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Terjebak bersama.


__ADS_3

Mobil yang mereka berdua berhenti karena menabrak sebuah pohon. Richard yang memiliki kesadaran penuh langsung melihat ke arah Vivy ia sangat takut terjadi sesuatu pada Vivy.


"Vivy," ucap Richard.


"Aku oke, aku tidak papa." Vivy juga melihat ke arah Richard.


"Dahi kamu terluka, kamu terkena kaca," ucap Vivy.


"Nanti saja, ayo turun." Sebisa mungkin Richard membuka pintu mobil, tetapi terasa sangat sulit karena terjepit sebuah pohon besar.


"Dari sini," ucap Vivy.


Vivy terlebih dahulu turun dari dalam mobil, ia sama sekali tidak papa, hanya sedikit sakit di tangan dan kakinya.


Setelah Vivy turun dari dalam mobil Richard pun ikut turun dari dalam. Ia terlihat sedikit pincang dan beberapa luka di tangan dan dahinya.


"Kaki kamu tidak papa," tanya Vivy.


"Tidak papa, jangan khawatir kan aku," jawab Richard.


Richard melihat sekelilingnya, ia bingung apa yang membuat mereka bisa jadi seperti ini. Padahal sebelum ini semuanya terlihat baik baik saja.


Vivy mengambil tisu yang ada di dalam tasnya, ia invite membersihkan darah yang menetes dari tangan dan wajah Richard.


"Kamu benar-benar tidak papa," tanya Vivy


"Aku tidak papa," jawab Richard.


"Seperti nya kita berada di tempat yang cukup berbahaya," kata Richard.


"Maksud kamu bagaimana," tanya Vivy dengan wajah yang panik.


"Mobil kita menginjak bahan peledak, kemungkinan besar masih banyak bahan peledak lainnya," jawab Richard.


"Richard jangan membuat ku takut." Vivy langsung memeluk Richard dari samping.


"Tenang, jangan panik.. Kita jalan pelan pelan ya.."


Beruntung Vivy bersama orang yang tepat, Richard sangat berpengalaman dalam hal seperti ini. Ia sangat tau apa saja yang harus mereka lakukan untuk sekarang ini.


Richard meminta Vivy memeriksa handphone nya, ia ingin tau apakah handphone Vivi memiliki jaringan atau tidak. Handphone nya sendiri tidak memiliki jaringan sama sekali.


"Kenapa tidak ada ya, padahal sebelumnya ada saja," ucap Vivy.


"Tidak papa, ayo.." Richard terus meminta Vivy untuk berjalan, mata nya yang tajam memperhatikan langkah kakinya agar mereka tetap aman.


"Bagaimana ini Richard, aku takut kita mati di tempat seperti ini, mana tidak ada orang lewat lagi," ucap Vivy.


"Tenang Vivy, kamu bersama dengan aku, tidak akan terjadi hal yang mengkhawatirkan. Aku janji sebelum malam kita sudah kembali ke tenda," ujar Richard.


"Aku pegang janji kamu, jangan sampai kamu dusta," ucap Vivy.

__ADS_1


Richard melihat ke arah langit, dari yang terlihat ia dapat memprediksi cuaca akan tidak baik baik saja. Sekarang tujuan utama Richard mencari tempat untuk mereka berlindung.


"Kenapa tidak ada istilah untuk lewat ya," ucap Vivy.


"Mereka tau cuaca akan buruk," kata Richard.


"Ha kamu tau dari mana," tanya Vivy.


"Perkiraan ku," jawab Richard.


"Jangan sok jadi cenayang," kata Vivy.


"Hahaha percaya pada ku," ucap Richard.


Tak lama berjalan mereka berdua menemukan sebuah tempat yang seperti nya bekas tempat berperang dulu, tempat itu sangat cocok di pakai untuk berlindung dari cuaca buruk yang akan datang.


"Richard kenapa tiba tiba gelap dan dingin," ucap Vivy.


"Kan sudah aku katakan tadi, akan ada cuaca buruk.. Sebentar aku periksa dulu sebelum kamu masuk" kata Richard.


Richard masuk ke dalam tempat itu, ia memeriksa nya dengan sangat teliti, dari jejak peninggalan yang ada tempat ini seperti sudah sangat lama di tinggalkan. Hal itu membuat Richard semakin teliti memeriksa setiap sudut tempat ini agar mereka berdua terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan.


"Bagaimana Richard, sudah mau hujan," ucap Vivy.


"Aman masuk," kata Richard.


Vivy pun berjalan masuk ke dalam tempat itu, Richard memilih sebuah spot yang menurut nya aman dari segala hal, ia juga memberikan alas seadanya agar Vivy dapat duduk dengan nyaman.


"Pasir semua," ucap Vivy.


Vivy pun duduk di tempat yang Richard sudah sediakan, ia sangat bersyukur terjebak dengan Richard. Kalau sampai ia pergi dengan Mario entah sudah bagaimana nasib nya. Richard benar-benar memperlakukan nya dengan sangat baik, Richard juga sangat tau apa saja yang harus dilakukan.


Tak lama hujan lebat pun datang, hal itu membuat Vivy cukup khawatir, ia takut hujan akan berlangsung sampai lama dan mereka berdua terjebak di tempat ini sampai besok.


"Dingin," ucap Vivy.


Richard membuka jaket dan menutupi tubuh Vivy menggunakan jaket itu.


"Nanti kamu dingin," ucap Richard.


"Tidak papa.." Richard terus memberikan senyuman manis nya pada Vivy.


Hujan semakin deras, angin kencang juga menerjang tempat itu, Petir menyambar ke sembarang arah. Hal itu membuat Vivy sangat ketakutan.


"Richard boleh aku memeluk mu," ucap Vivy.


Richard langsung memeluk Vivy dengan erat, ia juga menutupi wajah Vivy dengan jaketnya agar Vivy tidak begitu kedinginan. Vivy juga membalas pelukan Richard, ia sangat memerlukan kehangatan tubuh Richard.


"Maafkan aku, aku membuatmu merasakan hal seperti ini," ucap Richard.


"Jangan meminta maaf pada ku, kamu membuatmu merasa bersalah pada mu," ujar Vivy.

__ADS_1


"Kenapa begitu? Bukan nya aku yang salah," ucap Richard.


"Yang mengajak kamu itu aku, bagaimana mungkin kamu yang salah," kata Vivy.


"Ya walaupun begitu kan yang membuat kita kecelakaan seperti ini aku."


"Tidak ada yang tau kita sampai seperti ini, ini senja musibah. Tetapi beruntung nya aku seperti ini dengan kamu, aku jadi merasa lebih aman," ucap Vivy.


"Lebih aman? Atau lebih nyaman," tanya Richard, ia sudah berani mulai menggoda Vivy.


"Richard.."


"Hahaha bercanda," ucap Richard.


"Kita sudah sedekat ini walaupun kita baru beberapa minggu kenal," kata Vivy.


"Kamu tau kenapa seperti itu?"


"Aku tidak tau, aku hanya merasa aman di dekat kamu," ucap Vivy.


"Aman dan nyaman, sesuatu yang berbeda tetapi memiliki arti yang hampir sama."


"Ah kata siapa sama, artinya sangat jauh berbeda kamu jangan menyama-nyamakan," kata Vivy.


"Hahaha maaf maaf," ucap Richard.


"Aku sangat dingin." Vivy mempererat pelukannya.


"Tidurlah, nanti setelah kamu bangun semuanya akan baik-baik saja," ucap Richard.


"Semoga saja apa yang kamu katakan itu benar. Aku ingin setelah bangun nanti hujan sudah berhenti dan kita bisa melanjutkan perjalanan untuk kembali ke tenda."


"Iya aku janji, sebelum malam kita sudah kembali," ucap Richard.


Vivy pun tidur dalam pelukan itu, yang merasa sangat aman dan nyaman ada di dekat Richard. Ia ingin selalu merasakan rasa nyaman dan aman ini, rasa yang sebelumnya sulit ia dapatkan.


Siang hari berganti dengan sore, hujan badai di tempat itu sudah redah, Richard yang sedari tadi tidak tidur langsung membangunkan Vivy. Ia ingin mengajak Vivy kembali melanjutkan perjalanan.


"Bangun," ucap Richard.


"Hmmm sudah selesai," tanya Vivy sambil mengumpulkan nyawanya.


"Sudah, ayo keluar," ucap Richard.


"Ah akhirnya." Vivy bernafas dengan sangat lega. Mereka berdua berdiri dari tempat itu, keduanya terlihat sudah pegal karena terlalu banyak duduk.


"Richard makasih." Vivy kembali memeluk Richard, memeluk Richard sudah seperti hal yang biasa Vivy lakukan.


Keduanya tidak mengatakan apa apa di dalam pelukan itu, mereka berdua larut dalam pikirkan masing-masing.


Richard melepaskan pelukan itu dengan sambil menatap wajah Vivy, begitu juga dengan Vivy yang menatap wajah Richard.

__ADS_1


Richard menyingkirkan pasir yang ada di wajah Vivy, tanpa sengaja tangan nya menyentuh bibir manis Vivy.


Entah setan dari mana, tiba tiba Richard mendekati bibir Vivy. Vivy sadar akan hal itu, tetapi ia tidak menghindari nya, ia malah menunggu Richard melakukan apa yang ada di dalam otaknya sekarang.


__ADS_2