
Satu minggu telah berlalu, Vivy sudah kembali ke apartemen nya sejak satu hari lalu, ia memutuskan untuk pulang lebih dulu dari yang lainnya, selain mengejar promosi filmnya yang segera tayang, Vivy merasa tubuh nya sudah begitu lelah, ia ingin istirahat full di apartemennya
Hubungan nya dengan Richard masih berjalan dengan baik, walaupun sejak terakhir mereka bertemu sampai sekarang mereka tidak ada saling bicara atau tatap muka. Sesekali Richard memberikan dan menanyakan kabar Vivy, itu sudah membuat Vivy senang.
"Aku mau video call." Richard mengirimkan pesan pada Vivy.
Belum sempat Vivy membalasnya Richard sudah menghubunginya, segera Vivy mengangkat panggilan video call itu.
"Sayang," ucap Vivy.
"Sedang apa?"
"Lagi tiduran, aku habis mandi. Kamu sedang apa?" Vivy merasa heran pada Richard yang terlihat sedang di dalam kamar mandi.
"Aku sedang di dalam kamar mandi, tidak ada tempat yang bagus untuk menghubungi mu selain di sini," ucap Richard.
"Sayang aku.. Kamu begitu tersiksa ya.."
"Tidak.. Yang terpenting aku mendengar suara dan melihat wajah mu," ucap Richard.
"Sekarang aku tanya, kamu ada waktu untuk ke premier film ku? Kalau tidak ada jangan dipaksa," kata Vivy.
"Ada, lusa aku sudah kembali. Tapi aku tidak ke kota, aku ke rumah orang tua ku, mereka sudah kembali dari rumah sakit. Aku mengucapkan banyak Terima kasih untuk kamu, karena uang yang kamu berikan orang tua ku bisa berobat dengan baik," ucap Richard.
Vivy terkejut mendengar hal itu, ternyata apa yang dikatakan Reni waktu itu tentang orang tua Richard. Vivy menyesal baru sadar sekarang, kalau ia tahu ia pasti akan memberikan lebih dari yang kemarin.
"Syukurlah, kapan kapan ajak aku ke rumah orang tua mu," ucap Vivy.
"Ya pasti, sekalian menentukan tanggal," ujar Richard.
"Itu mah di rumah orang tua ku," kata Vivy.
"Hahaha sebelum aku ajak kamu ke rumah orang tua ku, kamu ajak aku dulu ke rumah orang tuamu, rumah orang tuamu dimana?"
"Yang mana? Yang ayah ku tidak jauh dari kota, yang mamahku di pinggiran kota, mereka sudah mempunyai keluarga masing masing," ucap Vivy.
"Wah keren, kamu sudah mempunyai dua ayah dan dua ibu," kata Richard.
"Hahaha ya begitulah… Setelah premier film aku akan ke rumah ayah ku, kamu ikut ya.."
"Tidak janji tapi aku usahakan," ucap Richard.
__ADS_1
"Sayang aku sangat merindukanmu, kamu cepat pulang.."
"Segera sayang, sudah dulu.. Tidak enak lama lama di sini aku harus kembali," ucap Richard.
"Cium jauh."
"Muach." Richard melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
"Hahaha bagaimana rasanya," tanya Vivy.
"Merinding merinding senang," jawab Richard.
"Ada ada saja kamu ya.." Sambil tersenyum Vivy mematikan sambungan telepon itu.
"Ahh baru juga selesai berbicara dengan nya, sudah kangen saja. Tubuh nya itu enak banget untuk di peluk, jadi ingin cepat menikah," batin Vivy.
Saat sedang asik asiknya menghayal tiba tiba terdengar suara bel pintu apartemen Vivy, Vivy membukakan matanya dan langsung berjalan untuk membuka pintu itu, ia sudah tahu siapa yang datang ke apartemen nya.
"Masuk," ucap Vivy.
"Hay.."
"Kamu sudah kembali," tanya Vivy.
"Aku juga kembali kemarin, boleh aku masuk," ucap Mario.
"Kamu mau apa kesini? Aku sedang sendiri," kata Vivy.
"Membahas masalah film kita," ujar Mario.
"Oke masuk.." Vivy tidak ada pilihan lain lagi.
"Sayang Mario datang ke apartemen ku." Vivy mengirimkan pesan pada Richard, ia sudah milik Richard dan ia harus melapor pada Richard kalau ada seseorang pria yang datang berkunjung ke apartemen nya.
"Duduk.. Kamu mau minum apa," tanya Vivy.
"Jangan repot repot.. Aku hanya ingin membahas film dengan kamu," jawab Mario.
"Oh oke.." Mereka berdua pun duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
Mario tetap berada di samping Vivy, hal itu membuat Vivy kurang nyaman. Ia paling tidak bisa seperti ini, kalau dengan Richard ia akan suka berbeda kalau dengan Mario.
__ADS_1
"Film kita baru selesai syuting," ucap Vivy.
"Iya ada beberapa adegan tambahan, akan syuting bulan depan," kata Mario.
"Iya kau tau, nah aku bingung. Sutradara memberikan ku naskah baru, kita jadi mempunyai banyak adegan romantis, bukan nya yang kemarin sudah pas," ucap Vivy.
"Menurut aku sih memang masih kurang, orang akan jenuh jika terlalu banyak adegan tidak penting, beberapa orang lebih suka melihat adegan romantis di tengah tengah adegan action."
Vivy membuang nafasnya dengan perlahan padahal ia sudah sangat senang tidak begitu banyak adegan romantis. Sekarang ia harus melakukan nya dengan Mario padahal ia sendiri sudah mempunyai pacar.
"Kenapa," tanya Mario.
"Tak ada, emang ada yang salah dari wajah ku?"
"Tidak ada, hmm minggu depan kamu ada premier film," tanya Mario.
"Iya aku ada premier film, kamu datang ya," jawab Vivy, ia sangat terpaksa mengundang Mario.
"Iya aku pasti akan datang," kata Mario.
"Ah kenapa dia datang sih, kenapa dia jadi sok manis begini," batin Vivy.
Memang kalau sudah tidak suka dengan seseorang mau seseorang itu bersikap manis pun tetap saja rasanya tidak nyaman, padahal menurut Vivy sekarang Mario tidak melakukan kesalahan apapun. Mario hanya datang untuk membahas naskah baru dari film mereka berdua dan itu hal yang normal dilakukan sepasang pemeran dalam sebuah film.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk seorang wanita yang menyelamatkan Vivy dari Mario, wanita itu adalah Reni Managernya Vivy. Dirinya datang dengan melebarkan senyuman kepada mereka berdua.
"Ada tuan Mario sepertinya aku mengganggu." Reni berjalan mendekati mereka berdua.
"Tidak mengganggu kok, kami hanya membahas naskah tambahan yang sutradara dari berikan. Kebetulan ada kamu jadi tempatnya tidak begitu sepi," kata Vivy.
Mario membuang nafas dengan perlahan, keinginannya ingin berduaan dengan Vivy sepertinya tidak bisa terjadi. Padahal menurut Mario memberikan respon yang baik padanya.
"Ya sudah aku tidak ingin mengganggu kalian aku ke belakang dulu, jangan terlalu lama ya ada yang ingin aku bicarakan dengan Vivy."
"Sebentar lagi kami selesai jangan khawatir," ucap Mario.
Seperti Mario katakan setelah pembahasan naskah selesai Mario langsung pergi meninggalkan apartemen Vivy, yang awalnya ia ingin berduaan dengan Vivy dan mengajak Vivy jalan-jalan tidak bisa terjadi. Semua ini karena kedatangan manager Vivy yang menjengkelkan di mata Mario.
"Kamu datang di waktu yang tepat," ucap Vivy.
"Pacar mu yang meminta ku ingin segera datang," kata Reni.
__ADS_1