
Keesokan harinya, pagi ini mereka berdua masih belum bangun dari tempat tidur, keduanya masih ingin bermalas-malasan, walaupun hari ini Vivy ada jadwal dadakan ia tidak ambil pusing dengan jadwal itu. Jumpa media secara mendadak bukan hal pertama dalam hidup nya, ia seorang artis profesional yang biasa dalam menghadapai hal seperti ini.
"Sayang mandi gih, nanti kamu terlambat," ucap Richard.
"Ini masih jam delapan sayang, aku jumpa media jam 11, masih lama lagi."
"Aku ikut ucap ya. Aku takut kamu kenapa napa," ucap Richard.
"Kalau kamu ikut orang orang akan curiga dong, kamu mau media menyelidiki mu," kata Vivy.
"Sangat ribet sekali, ya sudah aku mengantarkan keluarga kita ke bandara saja."
"Nah itu lebih baik, kamu tidak menyesalkan menikah dengan artis seperti ku," tanya Vivy sambil mengusap wajah Richard.
"Untuk apa aku menyesal menikah dengan kamu, sebelum aku memutuskan untuk menikah dengan kamu aku sudah memikirkan, aku sudah tau resiko apa yang aku dapatkan," jawab Richard dengan senyuman manis di bibir nya.
Jari Vivy berputar-putar di wajah sang suami, rasanya begitu bahagia mempunyai suami seperti Richard. "Sudah tampan, pengertian, gagah. Aku sangat mencintaimu kamu sayang." Jari Vivy berhenti tepat di bibir manis Richard.
"Sayang nakal sekali ya, sebelum dengan aku apa kamu pernah mencintai seseorang sedalam aku," tanya Richard.
"Tidak pernah," jawab Vivy.
"Halah tidak mungkin," ucap Richard.
"Hahaha sayang sayang kamu bisa saja, aku tidak pernah seserius ini menjalin sebuah hubungan, ini pertama kalinya aku serius dengan hubungan," kata Vivy.
"Iya aku tau ini pertama kalinya kamu serius menjalin hubungan, tapi kalau paling kamu cintai," Richard mengerutkan dahinya.
Vivy tertawa mendengar perkataan Richard, sekarang ia tau sifat asli Richard yang sebelumnya baru ia ketahui. Richard tipe pria yang perlu namanya pengakuan, bukan kali pertama Richard seperti ini, dan ia baru sadar sekarang.
"Kamu yang paling aku cintai itu sebabnya aku mau menikah dengan kamu dan memberikan apa yang kamu inginkan, sudah kan sayang." Vivy memberikan kecupan manis agar suaminya percaya dengan apa yang ia katakan.
Setelah mengatakan itu, Vivy beranjak dari tempat tidur, ia ingin mandi agar tidak terburu buru saat Reni datang menjemput nya nanti.
"Sayang goyang sedikit," ucap Richard.
"Apa yang mau di goyang? Aku siap bergoyang seperti penyanyi dangdut." Vivy membalik tubuh nya agar menghadap ke arah Richard.
Vivy sedikit memasang wajah genit sambil menggoyangkan tubuhnya, ia seperti seorang penyanyi dangdut yang sedang tampil di atas panggung. Richard yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya, istrinya benar benar terlihat begitu menggemaskan.
"Sayang," ucap Richard.
"Hahaha bagaimana aku sangat jago kan," kata Vivy.
"Kamu kenapa bisa seperti itu? Kamu membuat adik ku bangun sayang," ucap Richard.
Sambil tetap bergoyang Vivy berjalan mendekati Richard, ia menyentuh junior Richard yang ternyata sudah begitu kerasnya.
"Sayang kamu mudah sekali terangsang," ucap Vivy.
"Normal." Richard menurunkan selimut yang ia pakai sehingga memperjelas tonjolan yang ada di celana nya.
Vivy sampai menggelengkan kepala nya, bagaimana mungkin bisa Richard memiliki ukuran junior sebesar ini. Ia sampai tidak bisa membayangkannya sebesar besar kerusakan yang junior ini perbuat.
"Sayang kamu tidak bisa memperkecil ukuran nya," ucap Vivy.
"Bagaimana mungkin bisa, seperti dada kamu yang besar apa kamu bisa memperkecil nya? Sangat pas sayang itu kamu besar dipasangkan dengan milik aku yang besar," kata Richard.
"Sayang sudah mau mandi aku, jangan kamu ajak aku berpikir kotor." Sebelum Richard mengatakan hal yang tidak tidak lagi, Vivy berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Pukul setengah sebelas siang, bersama dengan Reni Vivy pergi meninggalkan Villa. Mereka berdua akan ke tempat pertemuan Vivy dengan media, sedangkan Richard memilih mengantarkan keluarga nya ke bandara. Ia juga berencana ke tempat Vivy berada dengan menggunakan penyamaran yang baik.
Ternyata bukan hanya satu media yang bertemu dengan Vivy, ada beberapa media yang tidak tau caranya mereka tau jika Vivy sedang tempat ini. Ia curiga ada seseorang yang membocorkan penerbangan nya ke sini, ia sangat takut salah satu media bertanya tentang pernikahan.
Beruntung selama proses wawancara tidak ada hal yang membuat Vivy panik, semuanya berjalan dengan sangat baik. Pertemuan media berlangsung cukup lama, mereka menghabiskan waktu sekitar 1 jam setengah lamanya.
Selama sejam Richard memantau Vivy dari berbagai arah, ia menggunakan topi yang ia beli bersama dengan Vivy, tak lupa ia menggunakan masker hitam agar tidak ada yang mengenalinya, ia sudah cukup sering terekspos media saat menjadi bodyguard Vivy.
"Sial itu Richard," batin Vivy yang sadar dengan kehadiran suaminya.
"Oke kita kemana lagi," tanya Vivy.
__ADS_1
"Terkahir kita ke pantai, langsung saja."
"Oke.."
Vivy berjalan menuju pantai, di ikuti kamera di depan nya, mereka semua melalui Richard begitu saja. Dengan perfesional Vivy seperti tidak melihat suaminya, padahal ia melihat Richard dengan sangat jelas.
"Dia lagi," ucap Richard.
Richard sangat tanda dengan dua orang di belakang Vivy, dua orang itu yang memotret nya saat pertama kali ke rumah Vivy. Dengan perlahan ia mendekati dua orang itu untuk membereskan nya.
"Ikut aku." Richard kembali menunjukkan kartu tanda pengenal nya.
Dua orang itu langsung teringat akan pria yang sedang dengan mereka berdua. Saat mereka berdua ingin berbicara, Richard kembali mengancam mereka berdua sambil menarik nya dengan paksa.
Richard membawa mereka berdua ke tempat yang cukup sepi, ia sangat yakin mereka berdua yang menjadi dalang dari semua ini.
Dengan paksa Richard mengambil kamera yang mereka pegang, ia kembali menghapus semua foto yang ada. Beberapa foto yang tidak benar ada di kamera itu.
"Oke kalian akan aku proses di tempat ku langsung," ucap Richard dengan tatapan tajam ke arah mereka berdua.
"Ja.. jangan tuan…"
"Kalian sudah melanggar privasi nona Vivy. Beberapa foto tidak benar ada di sini, kalian pikir kalian bisa aman setelah mengambil foto menjijikan ini," ucap Richard.
"Kami tidak akan mengulangi nya tuan."
"Berikan Handphone kalian berdua, buka gelari dan hapus semua foto yang ada," ucap Richard.
Richard takut beberapa foto sudah di pindahkan ke handphone, dan benar saja saat Vivy keluar dari Villa mereka berdua sudah mengambil foto Vivy. Ia sangat takut keduanya tau jika ia dengan Vivy sudah menikah.
"Dari mana kalian tau nona Vivy ada di sini," tanya Richard.
"Kami membeli informasi tuan. Tuan sendiri kenapa ada di sini?"
"Aku bodyguard nya dan sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga nya. Kalian berdua sih pengangggu jangan sekali sekali mendekati nona Vivy, atau kalian akan aku proses di tempat ku langsung."
Setelah memastikan semua foto yang ada terhapus Richard berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, ia begitu emosi pada kedua orang ini sehingga melemparkan handphone mereka begitu saja. Keduanya menatap kepergian Richard dengan tanda tanya, kecurigaan mereka pada Richard sekarang besar saja, mereka sangat yakin Richard memiliki hubungan khusus dengan Vivy.
Setelah selesai dengan media Vivy langsung kembali ke Villa, walaupun syuting beberapa jam saja ia merasa cukup lelah. Ia ingin meminta penjelasan pada Richard yang terlihat di lokasi syuting nya tadi, apaa yang Richard lakukan sangat beresiko untuk keduanya.
"Tidak lah, kalau aku pulang bagaimana dengan kamu. Kita pulang bersama besok," jawab Reni.
"Hahaha terimakasih, hmmm apa Richard masih di Villa atau pergi setelah mengantarkan keluarga ke bandara," ucap Vivy.
"Kamu lihat saja di kamar, kalau tidak ada berita sedang keluar," kata Reni.
"Kamu tidak melihat nya di lokasi syuting tadi, aku hanya ngeles saja tadi," ucap Vivy, ia haran kenapa Reni tidak melihat suaminya yang jelas jelas ada di lokasi syuting mereka tadi.
"Aku tidak melihat nya, kamu istrinya dan mudah untuk mu mengenali nya," ucap Reni.
"Sayang.." Richard berlari dari belakang mereka berdua.
"Nah itu dia. Kan sudah aku katakan dia keluar dan habis dari lokasi syuting tadi," kata Vivy.
"Ada yang ingin aku bahas dengan kamu." Richard menarik Vivy menuju kamar mereka berdua.
"Ada apa sayang," tanya Vivy.
"Kamu harus berhati-hati lagi, ada dua orang yang sudah aku pergoki mengambil beberapa foto yang menjijikan, mereka juga sempat memotret ku saat aku ke apartemen mu waktu itu," jawab Richard.
"Ha!! Bagaimana kamu tau? Kamu memergoki mereka berdua," tanya Vivy.
"Iya sayang kan sudah aku katakan aku pergoki mereka berdua, sekarang kamu amam karena mereka berdua sudah aku berikan pelajaran, tetapi kedepannya aku tidak tau mereka akan tetap melakukan hal yang sama atau tidak. Keduanya sangat bandel, dan mereka seperti tidak ada kapok nya, mereka juga yang menyebarkan informasi kalau kamu ada di sini," jawab Richard.
"Sial.. Aku sangat tidak suka dengan orang seperti itu, foto menjijikan yang kamu katakan maksudnya bagaimana?"
"Mereka mengambil foto bagian terlarang, seperti belahan dada kamu dan lain lain, itu sangat berbahaya untuk kamu," ucap Richard.
"Sayang aku takut." Vivy langsung memeluk Richard.
"Selagi ada aku kamu akan aman," ucap Richard sambil mengusap punggung Vivy.
__ADS_1
Karena keduanya sudah merasa tidak aman di tempat ini mereka berdua pun memutuskan untuk meninggalkan Villa, sebelum pergi keduanya membuat rencana dengan Reni, mereka pergi secara berpisah dengan jarak yang cukup jauh, intinya hal ini membuat orang berpikir kalau Reni adalah Vivy.
Rencana di laksanakan dengan sangat baik, dan benar saja dia orang yang Richard temui tadi masih di sekitar Villa, mereka berdua terkecoh dengan apa yang sudah Vivy dan lainnya rencanakan.
Setelah berhasil kabur dari mereka berdua, Richard dan Vivy dapat bernafas dengan sangat lega, Richard mengendarai mobil dengan sangat santai.
"Sayang rencana kamu sangat baik sekali," ucap Vivy.
"Hahaha aku memang sangat pandai membuat rencana sayang, kamu harus bersyukur mempunyai suami seperti ku."
"Sombong sekali kamu sayang," ucap Vivy.
"Sepertinya saat di rumah nanti aku harus memberikan mu pengawasan yang sangat ketat dan satu lagi berhenti memakai pakaian yang seksi, aku suka kamu seksi tapi aku takut orang orang seperti mereka memanfaatkan hal ini."
"Hehehe iya sayang, aku akan merubah style ku menjadi lebih tertutup, kamu tenang saja aku akan mengikuti apa yang suami ku katakan," ucap Vivy.
Mereka berdua menuju sebuah hotel yang tidak jauh dari bandara, mereka memutuskan menginap di dekat bandara agar keduanya bisa langsung terbang tanpa menghabiskan perjalanan yang jauh ke bandara. Ini juga meminimalisir mereka berdua untuk tidak bertemu dia bajingan itu.
"Kamu sudah pesan kamar hotel," tanya Richard.
"Sudah," jawab Vivy.
"Dua kamar, kamu tidur sendiri malam ini," ujar Vivy.
"Enak saja saja, percuma kita menikah kalau aku tidur sendiri," ucap Richard.
"Hahaha bercanda sayang. Kamu tidak tau aku saja yang suka bercanda dengan kamu," kata Vivy sambil tertawa.
Sesampainya di hotel itu Vivy bergerak ke lobby untuk cek in sedangkan Richard mencari makanan untuk mereka berdua, karena perjalanan yang sangat jauh keduanya sudah merasa lapar kembali, padahal sebelum berangkat tadi keduanya sudah makan cukup banyak.
Richard telah mendapatkan makanan untuk mereka berdua makan, dan Vivy menyelesaikan cek in nya. Karena tidak ada lagi yang mereka ingin beli, keduanya langsung bergerak menuju kamar.
"Akhirnya bisa rebahan lagi." Vivy langsung berbaring di atas tempat tidur.
"Mau makan dulu atau mandi dulu?"
"Makan," jawab Vivy sambil beranjak dari tempat tidur, ia berjalan mendekati Richard yang sedang menyiapkan makanan mereka.
"Kamu membeli apa," tanya Vivy.
"Aku tidak mendapatkan makanan sehat, aku membeli udang, ayam, nasi dan beberapa sayuran. Kamu makan saja, sesekali tidak masalah makan makanan seperti ini," jawab Richard.
"Ah sayang ini makanan sehat kok." Vivy duduk di samping Richard dan mulai memakan makanan yang ada.
"Enak sekali sayang," ucap Vivy.
"Kamu ya cuci tangan dulu." Richard bergerak mengambil air minum dan pencuci tangan.
"Makasih sayang." Vivy merasa terhormat mendapatkan pelayan yang baik dari suaminya.
Mereka berdua memiliki sifat yang berbeda, Richard jauh lebih perfeksionis dari Vivy. Ia menyiapkan segala hal yang di perlukan oleh Vivy, termasuk hal hal kecil seperti ini.
"Kamu kalau makan pelan pelan. Jangan seperti anak kecil begitu," ucap Richard.
"Biar saja, mau bagaimana pun cara makan ku kamu tetap mencintai ku." Vivy mengedipkan satu matanya.
Keduanya makan dengan sangat lahap, mereka harus mengenyangkan perut mereka karena malam nanti mereka tidak akan makan lagi.
"Misal kalau aku lapar lagi, kita bisa pesan kan di hotel ini," tanya Richard.
"Bisa sayang, tapi kamu yakin lapar lagi, kamu sudah makan sangat banyak loh," jawab Vivy.
"Nanti kalau aku buang air besar aku pasti lapar lagi, untuk berjaga-jaga sayang," ucap Richard.
"Kamu sangat jorok membahas BAB saat makan."
"Tapi kamu tetap cinta kan," ucap Richard.
"Itu mah pasti sayang," kata Vivy.
Setelah selesai makan keduanya bersantai sejenak di balkon kamar hotel, walaupun hanya memandangi perkotaan keduanya cukup puas berada di tempat ini, yang terpenting keduanya merasa sangat aman.
__ADS_1
"Kalau tidak ada mereka berdua, pasti kita bisa bebas," ucap Richard.
"Hehehe maafkan aku ya, karena aku kamu tidak bisa menikmati masa pengantin baru dengan baik," kata Vivy.