
Setelah melalui berbagai macam pertimbangan antara Richard dengan Vivy dan tentu saja keluarga mereka, pada akhirnya Vivy mau pulang terlebih dulu dari Richard. Bagi Vivy sangat berat sekali meninggalkan Richa di sini, tetapi demi kebaikan mereka semua dan tentu saja anak mereka mau bagaimana lagi Vivy tidak bisa egois dengan dirinya.
Anak mereka masih berusia beberapa minggu, dan setiap harinya kondisi tempat ini semakin memburuk, takutnya terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, bagi Vivy selamatan anaknya yang paling mereka utamakan saat ini.
Begitu juga dengan Richard, selain anaknya keselamatan sang istri juga nomor satu. Dirinya sendiri tidak peduli dengan keselamatannya, ia sudah biasa melewati hal-hal seperti ini sebelum menikah dengan Vivy, dan syukurnya yang selalu bisa melewati semua ini dengan baik, Richard berharap untuk hari ini ia dapat juga melewati semua ini dengan baik. Dirinya sudah mempunyai tanggung jawab pada keluarga kecilnya, ia juga tidak mau anaknya tumbuh tanpa seorang ayah.
Berapa hari sebelum kepulangan Vivy, Richard menyiapkan berbagai macam keperluan Vivy dan anaknya, karena kondisi yang semakin memburuk Vivy tidak boleh keluar dari rumah, ia hanya bisa menunggu Richard di rumah bersama sang anak.
"Sepertinya sudah cukup, mereka bisa membeli keperluan lainnya di sana," ucap Richard.
Setelah dirasa semuanya sudah cukup Richard pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, ia tidak mau terlalu lama meninggalkan istri dan anaknya di rumah, waktu mereka sudah tidak banyak dan ia ingin lebih menghabiskan waktu dengan mereka berdua.
Di rumah Vivy bersama dengan anaknya menunggu Richard di depan televisi, mereka berdua menonton berita yang menyiarkan kondisi kota ini saat ini. Semuanya tampak memburuk, dari kebutuhan hidup, transportasi sampai dengan keamanan. Padahal sebelum masalah ini datang kota ini termasuk kota yang sangat baik.
"Sayang aku pulang." Richard berjalan mendekati mereka berdua.
"Apa kebutuhan masih banyak dijual? Lihat katanya kebutuhan hidup sudah menipis," tanya Vivy.
"Ya begitulah, juga tetapi harganya berlipat-lipat dari biasanya, itu sebabnya aku tidak membeli banyak. Terpenting selama beberapa hari kedepan semua kebutuhan sudah aman, nanti ketika kamu di sana kan kamu bisa membelinya," jawab Richard.
"Oh ya kamu tidak tinggal di rumah sendirian? Aku tidak mau kamu tinggal di rumah sendiri, daripada tinggal sendiri lebih baik tinggal bersama keluargamu saja, aku juga tidak terlalu khawatir kalau kamu tinggal dengan keluargamu," ucap Richard.
__ADS_1
"Tidak tidak tidak, aku tinggal sendiri saja di rumah. Lagi pula di rumah itu sangat aman, nanti aku juga bisa meminta Angel atau Reni untuk tinggal di rumah itu," kata Vivy.
"Sayang ingat jika anak kita baik, sekarang aku masih bisa melihat wajah gembulnya, masih bisa melihat dia tidur dengan sangat lucu. Nanti ketika aku pulang dia sudah bisa berjalan, sudah bisa berbicara, dan sudah bisa berlari ku," ucap Richard sambil mengusap wajah sang anak.
Vivy hampir mendengar apa yang Richard ucapkan, rasanya sangat menusuk hatinya. Kenapa banyak sekali masalah yang menghampiri pernikahan mereka berdua, dari awal mereka bertemu, setelah mereka menikah, sampai dengan sekarang saat mereka mempunyai anak. Hidup mereka terasa sangat berat, entah bagaimana kedepannya nanti. Vivy sangat berharap semuanya dapat berlalu dengan cepat, dan keluarga kecil mereka dapat hidup dengan bahagia.
"Sudah jangan sedih, sekarang kita makan yuk, aku tadi mau membeli beberapa makanan untuk kita makan, aku tahu kamu pasti sangat lapar kan."
"Ya sayang kamu tahu saja aku sangat lapar," ucap Vivy.
"Aku tahu kamu suka makan, selagi masih ada kamu di sini aku bebaskan kamu makan apa sayang kamu mau."
"Hahaha maafkan aku sayang, sudah sudah aku janji tidak akan bicara yang sudah sedih," kata Richard.
Mereka berdua pun akan bersama, waktu yang tersisa mereka habiskan dengan sangat baik. Setelah berpisah nanti Entah kapan mereka akan bertemu lagi, kontrak Richard memang habis satu setengah tahun, kalau semuanya membaik ia mungkin bisa langsung pulang. Tetapi kalau tidak kunjung juga membaik dirinya tidak akan pulang entah sampai kapan itu, itulah yang memberi Richard begitu sedih setelah mengetahui tempat ini sedang melakukan berkonflik.
Hari yang paling Vivy dan Richard tidak tunggu akhirnya datang, hari dimana Vivy dengan Chris pergi meninggalkan tempat ini, ia akan tinggal sendiri sampai beberapa tahun kedepan.
Sedari tadi malam mereka keduanya sudah terlihat sangat sedih, bahkan beberapa kali Vivy sampai menangis karena terlalu sedih. Meninggalkan sang suami sendiri di sini adalah sesuatu yang tidak pernah Vivy pikirkan sebelumnya, entah mengapa ada masalah seperti ini melimpah keluarganya.
"Sayang semua sudah siap, ayo ke bandara yang lainnya juga sudah di bandara," ucap Richard.
__ADS_1
"Sayang aku tidak ingin pergi… Hiks hiks hiks.." Vivy menangis di dalam pelukan Richard, begitu juga dengan Richard yang tidak bisa menahan tangisnya, sebelum Vivy sadar dirinya menangis Richard segera menghapus air matanya.
"Sudah jangan menangis, nanti kita terlambat. Ayo cepat.." Richard tidak ingin terlalu banyak momen haru, semakin cepat Vivy pergi semakin sedikit momen haru yang ada.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah, Richard membawa mobilnya ke bandara militer, di sana lah Vivy, Chris dan yang lainnya akan terbang kembali ke negara asal mereka.
Sesampainya di bandara mereka langsung mendekati pesawat yang sudah ramai orang berkumpul, banyak yang menangis di tempat itu, kemungkinan karena ini pertama kalinya mereka berpisah, sebelumnya memang tidak pernah ada masalah yang begitu besar di tempat ini.
"Anak ayah, maafkan ayah yang tidak bisa menemani tumbuh kembang mu. Ayah yakin kamu akan tumbuh jadi pria yang pintar dan tampan. Ayah begitu menyayangi mu," ucap Richard.
Vivy hanya bisa menangis sambil merekam momen haru itu, ia ingin anaknya tahu kalau sang ayah pria yang bertanggung jawab akan hal apapun.
"Ayah sangat menyayangi mu," ucap Richard sambil menciumi wajah Chris, anak itu yang awalnya tertidur tiba tiba menangis dengan keras, hal itu membuat Vivy merasa tidak enak. Sebelumnya anak ini tidak pernah menangis sekeras ini.
"Cup cup cup.. Dia tau kalau mau berpisah dengan ayahnya," ucap Richard.
"Kenapa kamu nangis sayang, sudah diam diam diam tidak apa-apa." Richard berusaha menenangkan anaknya kembali.
"Sayang sudah waktunya berangkat, kamu harus segera masuk ke dalam pesawat," kata Richard.
"Hmmm iya sudah waktunya berangkat, aku berangkat sayang. Kamu baik-baik di sini ya, selalu berikan aku kapan, dan segera pulang jika sudah waktunya, Jangan lupakan aku dengan anaknya," ucap Vivy sambil memeluk Richard.
__ADS_1