
Hari demi hari telah berlalu, semuanya berjalan dengan sangat baik. Richard sudah mendapatkan, walaupun ingatannya sampai sekarang belum pulih Richard sudah dapat mulai bekerja di perusahaan milik keluarga Vivy, sedangkan Vivy sudah mengurangi kegiatan nya di dunia hiburan, ia hanya syuting tiga kali dalam seminggu. Vivy sudah berjanji pada suaminya untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak mereka, sebagai istri yang baik Vivy ikuti apa yang suaminya inginkan.
Pagi ini Vivy sedang mempersiapkan pakaian kerja suaminya, sudah 1 bulan Richard bekerja di perusahaan itu, semuanya berjalan dengan baik dan Richard dapat beradaptasi dengan baik juga.
"Kenapa kamu terlihat pucat," tanya Richard sambil memeluk Vivy dari belakang.
"Aku sedang sedikit tidak enak badan, biasanya pagi hari begini aku merasa semangat Entah mengapa kali ini kok tidak enak saja," jawab Vivy.
"Kamu pasti sakit, ya sudah kamu tidak perlu menyiapkan pakaianku. Aku juga tidak akan bekerja kalau kamu sakit."
"Tidak sayang aku tidak sakit, aku baik-baik saja, aku hanya sedikit tidak enak badan saja," ucap Vivy.
"Sudah berapa kali aku bilang jangan membantah suamimu, lagi pula aku bekerja di perusahaan keluargamu, mereka juga tidak akan mengizinkan aku bekerja jika kamu sedang sakit," kata Richard sambil menggendong Vivy ke atas tempat tidur.
"Anak kita di mana?"
"Kamu lupa atau pura-pura lupa? Anak kita bukannya sedang bersama nenek dan kakeknya," ucap Vivy.
"Sayang aku lupa, kamu tidak sedang datang bulan kan. Bukan nya ini sudah waktunya kamu datang bulan."
"Ya sayang aku juga bingung, seharusnya aku sudah datang bulan," kata Vivy.
__ADS_1
"Ah kamu hamil mungkin," ucap Richard.
"Ah mana mungkin sayang, kamu tau kan aku sulit hamil," kata Vivy.
"Sayang kamu jangan begitu, ya mana tau kan," ucap Richard.
"Sayang buka handuk kamu," ujar Vivy sambil menarik nya.
"Eh ada apa sayang," tanya Richard.
"Lagi pengen sayang, walaupun sedang tidak enak badan aku jadi ingin," jawab Vivy.
"Ha kamu ngarang sekali sayang," kata Vivy sambil memainkan nya.
"Waktu itu sekitar 20 cm lebih, sekarang tidak sampai sepertinya."
"Sayang yang merasakan nya itu aku, bukan kamu, malah semakin penuh sayang. Aku sangat suka ini sayang," ucap Vivy.
"Kenapa kamu jadi seperti ini sayang, kamu ngidam ya kayak waktu itu."
Vivy tidak menanggapi apa yang Richard katakan, ia mulai mengambil posisi yang tepat dan bergoyang dengan irama yang Indah.
__ADS_1
"Sayang.." Richard tidak bisa menahan dirinya, ia paling tidak bisa Vivy memimpin saat awal awal seperti ini.
"Sakit ya," ucap Vivy sambil mengigit bibirnya.
"Kamu belum terlalu siap sayang, kamu terlalu terburu-buru," kata Richard.
"Mamah ayah.." Chris masuk ke dalam kamar itu secara tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Richard dengan Vivy sangat terkejut, Richard menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Sayang kamu keluar sebentar ya.."
"Ayah sedang apa, kenapa mamah ada di dalam selimut," tanya Chris.
"Tidak ada sayang, sekarang kamu kuat dulu, nanti ayah akan menyusul," jawab Richard.
"Oke.." Chris berjalan keluar dari dalam kamar itu.
"Bukan nya di dengan kakek neneknya," ucap Vivy.
"Mana aku tau sayang, kamu sih asal main saja," kata Richard.
__ADS_1