
Pukul 12 siang mereka berdua baru bangun dari tidur yang panjang, keduanya terlihat senyum senyum sendiri setelah sukses nya pertempuran kemarin. Vivy sangat puas mendapatkan suami yang gagah perkasa, dirinya tidak bisa berkata kata apalagi sangking menikmati pertempuran malam kemarin.
Begitu juga dengan Richard, semua tentang Vivy ia suka, dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak ada yang ia lewatkan sedikitpun. Kalau begini ia tidak yakin bisa bekerja dengan tenang tanpa memikirkan Vivy, apalagi yang ia di awal tahun nanti kemungkinan besar ia akan berpisah cukup lama dengan Vivy.
"Puas," tanya Richard.
"Sangat puas sayang, kamu sangat hebat, ya walaupun masih ada sakit sakit nya tapi rasa nikmat nya jauh lebih banyak," jawab Vivy.
"Hahah dari kemarin coba kamu begini. Pasti dapat merasakan rasa ini sejak malam pertama kita," kata Richard.
"Kamu hari ini ada tugas," tanya Vivy.
"Ada sayang, aku di minta untuk ke kantor, tadi aku terbangun karena panggilan dari bos," jawab Richard.
"Mungkin kamu mau berikan pekerjaan tambahan," kata Vivy.
"Seperti nya ada perubahan peraturan dan pemberian jadwal tahunan, semoga saja tidak membuat kita lama berpisah," ucap Richard.
"Apapun pekerjaan dan tugas kamu aku akan mendukungmu. Bekerja di meja baik sayang, aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti kamu," ujar Vivy.
"Aku mandi dulu ya, jam 1 nanti aku sudah harus berangkat," ucap Richard.
"Sayang aku tidak bisa membuat sarapan. Kamu makan di luar saja ya."
"Iya sayang, aku akan makan di kantor. Aku bawa mobil kamu ya, terlalu jauh keluar jika aku naik angkutan umum," ucap Richard.
"Mobil aki mobil kamu juga, nanti aku minta Reni memindahkan beberapa mobil ku yang ada di rumah ayah. Kalau satu mobil saja akan ribet untuk kita," kata Vivy.
"Emang nya kamu punya berapa mobil," tanya Vivy.
"4 mobil berbeda, banyak mobil banyak bayar pajak," jawab Vivy.
"Apa perlu aku membeli mobil juga?"
"Untuk apa kamu membeli mobil juga. Yang ada kita malah kewalahan bayar pajaknya, mobil 4 sudah cukup untuk kita," ucap Vivy.
"Hahaha aku bercanda sayang, sebenarnya juga 4 mobil sudah kebanyakan untuk kita, kita mah dua mobil saja sudah cukup itupun kalau aku bekerja di sini kalau aku kerja di luar Aku tidak membutuhkan mobil."
"Iya sayangku sudah cepat sana mandi, nanti kamu terlambat dan kamu mendapatkan omelan lagi," ucap Vivy.
__ADS_1
Richard masuk ke dalam kamar mandi, yang membersihkan tubuhnya sangat-sangat cepat agar dirinya tidak terlambat ke kantor. Waktu sudah hampir menunjukkan jam 01.00 siang dan ia masih belum berangkat dari rumah.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap Richard pun berpamitan pada sang istri, ini pertama kalinya ia bekerja setelah ia menikah dengan Vivy.
"Kamu hati-hati ya jangan lupa membawakan aku makanan."
"Sayang kamu makan apa? Aku pesan sekarang saja ya, kalau menunggu aku nanti sore baru kamu makan dong," ucap Richard.
"Aku pesan online saja, kamu pergi saja sekarang kalau kamu pulang sore makanannya bisa untuk kita makan malam, hati-hati dan ingat jangan melirik wanita lain." Vivy memberikan ultimatum agar Richard tidak macam-macam diluar sana.
Richard pun pergi meninggalkan rumah, beruntung rumah mereka berada di pusat kota yang tidak jauh dari kantor tempat Richard akan berkumpul dengan teman-teman yang lainnya. Ia berharap mendapatkan pekerjaan tambahan agar dirinya tidak terlalu bosan di rumah, apalagi sang istri akan mulai syuting dan tidak mungkin ia hanya di rumah saja
Selagi suaminya pergi bekerja Vivy memutuskan untuk berenang di kolam renang bawah, ia sudah cukup lama tidak menjalankan hobinya ini. Salah satu keputusan yang mengambil rumah ini karena memiliki kolam renang yang sangat luas.
"Sakit juga ya, aku pikir tidak sakit lagi ternyata masih sakit juga." Vivy berjalan dengan perlahan.
Sampai sekarang Vivi belum memiliki niat untuk mempekerjakan pembantu di rumah ini, dirinya takut pembantu yang ia kerjakan nanti malah menggoda suaminya sendiri, sudah banyak kasus seperti ini terjadi pada teman-temannya, apalagi ia juga akan sibuk syuting yang membuat suaminya kurang mendapatkan perhatian darinya.
"Tapi kalau misalnya aku tidak menyewa pembantu siapa yang membersihkan rumah ini, mungkin Richard bisa sesekali membersihkan rumah ini tetapi tidak mungkin seterusnya yang membersihkannya. Aku sendiri tidak bisa, apa bisa pun aku malas." Vivy bingung sendiri dengan dirinya.
Pukul 05.30 sore Richard baru kembali ke rumah dengan membawa berbagai macam makanan sesuai dengan pesanan sang istri, ia mendapatkan beberapa kabar dari tempat ia bekerja yang tidak tahu kabar baik atau kabar buruk di mata Vivy. Yang jelas sambil makan nanti ia akan menjelaskannya semua pada Vivy agar Vivy mengerti tentang pekerjaannya.
"Sayang aku sudah pulang." Richard langsung memeluk sang istri dari belakang.
Richard menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan Vivy, Richard tidak yakin istrinya dapat membuat minuman yang Vivy tawarkan. Entah mau basa-basi atau apa ya ingin mengikuti permainan yang Vivy buat.
"Oke dengar sayang aku ingin kopi susu, kopinya jangan lupa disaring dan susunya menggunakan susu kental manis, terus agak ditarik sedikit agar sedikit memunculkan busa."
Sambil tersenyum Vivy mendekati sang suami, yang menarik Richard ke arah sofa dan mendorong Richard duduk di atas sofa. Setelah itu dirinya merangkak naik ke atas pangkuan suaminya, ia membuka satu persatu kancing baju yang ia pakai, apa yang Richard inginkan bisa langsung di ambil dari sumber nya.
"Kamu mau yang ini atau mau yang tadi," tanya Vivy.
"Yang ini dong sayang." Nyata permainan yang Vivy berikan sangat menguntungkan untuknya. Vivy sangat tahu suaminya baru pulang kerja yang membutuhkan asupan penting seperti ini.
Tanpa diduga pertempuran diantara mereka pun kembali terjadi, mereka bertempur di ruang makan tanpa memikirkan ada orang yang melihat mereka berdua, keduanya begitu menikmati pertempuran ini. Suara kulit yang berlagah membuat suasana di ruangan ini semakin terasa panas, belum lagi ******* seksi yang keluar dari bibir keduanya.
Pukul 7 malam setelah selesai bersih bersih mereka berdua makan malam di dalam kamar, keduanya makan begitu lahap karena kehabisan energi setelah pertempuran tadi.
"Sayang kamu membawa pengaman kemana mana," tanya Vivy.
__ADS_1
"Tidak sayang, kebetulan tertinggal di dalam dompet ku. Waktu kita beli di tempat kita menikah, aku memasukan beberapa pengaman di dalam dompet," jawab Richard.
"Oh begitu, oh iya bagaimana pekerjaanmu apakah lancar?"
"Sayang aku mendapatkan pekerjaan baru, sebenarnya bukan pekerjaan baru bisa dibilang pekerjaan tambahan. Selama aku tidak bertugas keluar aku mendapatkan tugas di kantor setiap senin sampai Jumat, untuk tahun depan aku mendapatkan tiga kali tugas keluar, sama awal tahun sekitar satu setengah bulan, kedua pertengahan tahun sekitar 1 bulan, dan ketiga kitab bulan 9 selama 2 bulan setengah. Aku banyak mendapatkan tugas keluar tahun ini," ucap Richard.
"Di total kamu pergi meninggalkanku 5 bulan dalam satu tahun, waktu kita benar-benar terbatas ya. Belum lagi kalau aku syuting saat kamu tidak bekerja keluar, pertemuan kita semakin terbatas," ujar Vivy, bajunya terlihat cukup sedih karena sebenarnya ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama suaminya di tahun pertama mereka menikah.
Richard mengusap tangan Vivy, sebelum menikah keduanya sudah memahami resiko yang akan mereka hadapi. Richard dapat mengerti pekerjaan Vivy, seharusnya Vivy juga dapat mengerti pekerjaannya, selain Vivy yang masih mempunyai tanggungan keluarga di rumah yang masih mengharapkan pundi-pundi uang darinya. Kalau dia tidak banyak mengambil pekerjaan di luar uangnya akan dia dapatkan tidaklah banyak, Richard tidak mau selalu merepotkan Vivy dalam urusan uang.
"Tidak papa sayang, kamu jangan khawatir ya aku tidak akan mempermasalahkan pekerjaan kamu. Sebelum kita menikah aku sudah memahami resiko apa yang aku dapatkan setelah menikah dengan kamu, ini salah satu risiko yang harus aku dapatkan dan aku sudah siap, aku berharap walaupun kita banyak berpisah daripada bertemu rumah tangga kita tetap aman tanpa ada masalah apapun. Aku juga banyak jadwal syuting di tahun ini besok, kemungkinan besar jadwal syutingku dengan pekerjaan keluar kamu berbarengan, jadi kita sama-sama sibuk dan ketika sudah masuk waktunya libur kita bisa menghabiskan berdua dengan tenang." Vivy tersenyum manis, ia juga tidak mau membuat Richard terbebani.
"Mungkin tahun besok kita sangat sibuk, aku janji 3 tahun ke depan aku akan mengurangi pekerjaanku, kalau bisa aku keluar dari pekerjaanku sekarang agar aku bisa banyak menghabiskan waktu di rumah bersama denganmu," ucap Richard.
"Sayang kamu tidak perlu melakukan itu, tapi kalau kamu merasa kamu sudah siap untuk keluar tidak masalah juga sih, nanti aku akan meminta Ayah memasukkan ke dalam perusahaannya yang terbilang cukup sukses, dia juga sama sepertimu mantan tentara." Vivy merasa sepertinya Richard bisa bekerja dengan sang ayah, apalagi Richard sangat di sayang sang Ayah.
"Oke sayang."
Setelah selesai makan mereka berdua bersantai di balkon kamar, keduanya mempunyai tempat favorit di rumah ini yaitu balkon kamar yang sangat luas, dari sana mereka dapat melihat pemandangan yang sebenarnya biasa saja tetapi sudah cukup untuk mengusir kebosanan.
"Sayang aku bingung sekali," ucap Vivy.
"Kamu bingung kenapa sayang? Kalau bingung ya katakan padaku mana tahu aku bisa membantumu."
"Rumah kita kan cukup luas, tidak mungkin hanya dibersihkan satu minggu atau dua minggu sekali, yang ada rumah kita banyak debunya dan tidak akan nyaman untuk ditinggalin. Aku bingung harus punya pembantu atau tidak, kalau aku menyewa pembantu takutnya kamu selingkuh sama pembantu itu, tetapi kalau aku tidak menyewa siapa yang akan membersihkan rumah ini," ucap Vivy.
"Ya kalau kamu menyewa pembantu yang cantik seksi dan kamu meninggalkan ku bekerja ya mungkin aku bisa selingkuh, makanya kamu jangan mencari pembantu yang cantik-cantik," ujar Richard sambil tertawa jahil, ia heran ada saja Vivi pikirkan tentang dirinya. Hanya orang bodoh yang mau selingkuh dari sosok wanita seperti Vivy, ya walaupun Vivy bukan termasuk wanita yang pandai melakukan pekerjaan rumah, Vivy mempunyai kelebihan lain yang tidak semua miliki.
"Kan kamu begitu sudahlah tidak usah mau nyewa pembantu, kamu saja membersihkan rumah setiap harinya aku tidak mau tahu," ucap Vivy dengan wajah yang ngambek.
"Hahaha aku bercanda, begini saja biar aman kita nanti cari pembantu yang sudah berusia 30 tahun ke atas, sepertinya dua pembantu saya sudah cukup untuk membersihkan rumah ini. Untuk area kamar aku tidak mau ada yang masuk kecuali kita berdua, dan kalau orang lain harus ada izin dari aku atau kamu, karena kamar tempat paling privasiku," ujar Richard.
"Terus kalau di atas usia 30-an tapi masih cantik bagaimana, aku saja sudah 25 masih cantik seksi dan menggoda kamu?" Vivy mengerutkan dahinya.
"Kamu tenang saja nanti aku cari yang tidak cantik, tidak seksi dan tidak menggoda seperti kamu, kalau aku yang membersihkan satu rumah ini yang ada aku kurus karena rumah ini sangat besar, kita juga perlu pembantu untuk belanja keperluan sehari-hari, kalau aku tidak di rumah dia bisa memasak untuk kamu agar kamu tidak memberi makanan dari luar terus, dan bisa membantu kamu jika kamu memerlukan bantuan," ucap Richard.
"Untuk makanan mah aku bisa meminta Angel untuk mengantarkan setiap hari, itu sudah menjadi pekerjaannya," ujar Vivy.
"Jangan sayang, dia bekerja kalau sedang syuting saja berikan dia keringanan agar dia bisa mendapatkan pacar. Dia pasti juga ingin menikah," kata Richard.
__ADS_1
Vivy menganggukkan kepala nya, ia paham apa yang Richard katakan.
Pukul 10 malam mereka berdua kembali masuk kedalam kamar, keduanya ingin istirahat karena begitu lelah dengan kegiatan hari ini. Tidak ada jatah lagi setelah pertempuran sore tadi, walaupun Richard ingin lagi ia tetap mengerti batasan yang bagus untuk mereka berdua.