
Mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah yang kurang senang, saat seperti ini ada saja yang menganggu kebersamaan keduanya. Kalau sudah jumpa media keduanya tidak akan bebas lagi di tempat umum, takutnya ada media yang mengikuti mereka secara diam-diam.
"Sayang seperti nya kita tidak ada guna lama lama di sini, toh tujuan kita ke sini kan untuk liburan dengan tenang, kalau sudah jumpa media kita tidak akan tenang," ucap Vivy.
"Hmmm apa kita kembali ke rumah saja?"
"Sepertinya lebih baik begitu, di rumah kita bisa lebih bebas. Lagi pula kamu kan akan mulai masuk kerja, nanti kamu tidak mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat jika terlalu lama di sini," kata Vivy.
"Ya sudah, kita kembali bersama dengan keluarga kita saja," ucap Richard.
"Tidak bisa juga sayang, kita kembali menggunakan jet pribadi. Kalau dengan keluarga kita itu sama saja kita memberi makan media."
"Oh begitu ya.. Ya sudah kamu bicarakan dengan Reni. Tidak rumah juga lebih enak, kita jauh lebih bebas mau ngapain saja," kata Richard.
Malam hari nya Vivy mengundang Reni masuk ke dalam kamarnya, ia ingin membahas masalah kepulangannya, sekaligus masalah jumpa media yang akan dilakukan keesokan nya.
"Dia tidur," tanya Reni.
"Iya habis mandi langsung tidur, bagus deh aku jadi tidak tenang," jawab Vivy.
"Hahaha memang begitu, kalau baru menikah pasti manja terus bawaannya, bagaimana bisa malam pertama kalian gagal?"
"Punya dia besar sekali, sakit banget aku tidak tahan, padahal sudah memakai apa yang kamu berikan. Mana tenaganya sangat kuat, kalau sudah di bawa kakungan nya aku tidak bisa berbuat ap apa lagi."
"Dari postur tubuh nya sudah terlihat sih. Apalagi dia tentara, dia memiliki fisik yang kuat, itu sebabnya kamu sampai tidak bisa apa apa. Ini juga alasan ku menikah dengan yang lokal saja, aku tidak mau pusing sendiri," kata Reni.
"Hahaha mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur cinta pada nya, melihat nya tidur begitu saja sudah membuat mu bergetar. Rasanya ingin selalu memeluk nya, menciumnya memegang perut nya yang sangat bagus," ucap Vivy.
"Hahaha sudah sudah, dasar perempuan gatal, sekarang bagaimana apa yang ingin kamu katakan?"
"Kita jumpa media besok, dan aku ingin pulang Lusa. Tempat ini sudah tidak aman untuk ku, percuma saja aku di sini kalau ada media yang bisa mengincar ku."
__ADS_1
"Hmmm ya sudah, aku juga harus pulang besok. Kalian bisa pulang sendiri menggunakan jet seperti sebelumnya. Nanti aku yang urus, sudah kan tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi," tanya Reni.
"Tunggu dulu, bagaimana cara nya agar tidak sakit, aku takut dia minta lagi dan rasanya sakit lagi," jawab Vivy.
"Bagaimana rasanya agar tidak sakit, gampang." Reni membisikkan sesuatu pada Vivy dan bodoh nya Vivy percaya dengan Reni, padahal yang Reni katakan sesuatu yang menguntungkan Richard.
Setelah memberikan sesuatu masukan yang tidak jelas Reni pun berjalan pergi meninggalkan kamar Vivy, sedangkan Vivy mendekati sang suami yang masih terlelap. Ini pertama kalinya Vivy melihat Richard tidur lebih dulu dari nya.
"Tampan sekali suami ku." Vivy memberikan banyak kecupan manis di wajah sang suami.
"Baby kamu menganggu ku."
"Baby? Kamu apa apaan sayang, panggilan baru?" Vivy tampak terkejut dengan panggilan baru dari Richard.
"Hehehe hanya iseng saja sayang. Kamu sudah berbicara dengan Reni? Bagaimana hasilnya?"
"Ya sesuai dengan keinginan kita, sayang kamu mau jatah lagi tidak?"
Richard menggelengkan kepalanya. "Nanti saja saat sudah di rumah," ucap Richard.
"Hehehe aku tidak mau membuat kamu sakit lagi, apalagi kamu akan jumpa media. Kalau sudah di rumah kan bisa bebas," jawab Richard.
Vivy mendekati bibir Richard dan memberikan beberapa kecupan manis.
"Kamu sangat mengerti aku sayang, aku sangat mencintaimu." Vivy memeluk Richard dengan erat.
"Sayang aku juga sangat mencintai mu.. Tidak jatah bukan berarti tidak mendapatkan apa yang aku suka sayang." Richard mengedipkan satu mata nya.
"Hehehe kamu mau apa sayang," tanya Vivy.
"Memeluk kamu sepanjang malam." Richard menarik Vivy ke dalam pelukan nya yang hangat. Ia terus memeluk Vivy sampai Vivy kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Sayang jangan membunuh ku," ucap Vivy.
"Hehehe tangan kamu nakal juga ya."
"Ketiak kamu bau, di cukur sayang sampai lebat seperti itu," ucap Vivy.
"Tidak mau, jadi tidak gagah lagi aku nanti."
"Tangan kamu sayang, kamu berbicara sambil memainkan dada ku," ucap Ric.
Vivy tersenyum mendengar ucapan Richard, yang ia tau dada pria sama sensitif nya dengan wanita, ia juga sangat suka memainkan cockcips milik Richard yang sangat menggemaskan.
"Geli sayang," ucap Richard.
"Jadi tegang begini, tadi lembut. Kamu terangsang sayang?"
"Hehehe kamu pikir hanya wanita yang seperti itu, pria juga sayang," ucap Richard.
"Sayang teman teman kamu sudah pada menikah belum? Kan mereka tugas berbulan bulan lamanya. Bagaimana kalau mereka merindukan istri mereka? Terus kalau ingin main bagaimana?"
"Ada beberapa yang sudah menikah, kalau mereka merindukan istri mereka ya di tahan, kalau sudah mempunyai waktu untuk menghubungi istri mereka baru mereka bisa menghubungi nya, terus kalau ingin main ya tergantung orang nya, ada yang kuat ada juga yang olahraga tangan," ucap Richard.
"Kamu sendiri bagaimana nanti nya?"
"Aku sendiri ya tidak tau, semoga saja aku tahan jauh dari kamu," ucap Richard.
"Mana mungkin," kata Vivy.
"Hahaha ya tidak mungkin aku bisa jauh dari kamu, aku pasti sangat merindukan mu."
"Nanti kalau aku syuting kamu tetap ikut aku, kamu tetap akan jadi bodyguard ku sayang," ucap Vivy.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku akan menjadi bodyguard palsu mu, yang terpenting saat aku libur bekerja dan aku bisa selalu dekat kamu."
Karena sudah malam keduanya pun memutuskan untuk tidur, mereka harus ne mengumpulkan energi untuk kegiatan besok, sepertinya besok keduanya memiliki kegiatan yang cukup padat.