
"Kamu memang tidak terbaik sayang." Richard memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu besok bekerja atau masih libur?"
"Sepertinya besok aku sudah masuk bekerja, memangnya kenapa? Kamu tidak ingin aku berangkat bekerja? Richard menaikkan satu alisnya.
"Ya sudah kalau kamu kerja, besok aku mau perawatan di salon satu hari full, kemungkinan besar juga tidak membawa anak kita, kalau aku bawa kasihan dia menunggu terlalu lama. Nanti aku titipkan dia ke ayah saja," ucap Vivy.
"Wah ada acara apa ini perawatan satu hari full? Dalam waktu dekat kamu syuting ya."
"Tidak ada kok, kamu tenang saja dalam beberapa Minggu ini aku tidak ada jadwal syuting, ada dua pekerjaan kecil di beberapa minggu terakhir, setelah itu aku libur beberapa bulan," ucap Vivy..
"Tidak ada jadwal syuting kenapa perawatan? Apa yang ingin kamu merawat? Kamu sudah sangat cantik begini kok, jangan ada yang kamu rubah lagi." Richard sudah sangat puas dengan istrinya sekarang.
"Aku tidak akan merubah apapun, kamu kenal saja aku tidak akan melakukan hal bodoh itu," ucap Vivy.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku mendukung semua keputusan kamu," kata Richard.
"Nah sebagai suami memang harus seperti itu, mendukung semua keputusan istrinya. Apalagi ini semua juga demi kebaikan rumah tangga kita, aku tidak mau kalah cantik dari pembantu kita," ucap Vivy.
"Ya ya ya terserah kamu sayang," ucap Richard.
***
Pukul 7 pagi, Richard sudah berada di ruang makan untuk sarapan pagi. Ia makan sendiri dan tanpa ditemani Vivy yang sudah berangkat sejak tadi, entah mengapa Vivy berangkat terlalu pagi, bahkan lebih cepat dari ia yang ingin berangkat bekerja.
"Sebenarnya ada apa sih," batin Richard.
"Kopi, aku sedang sedikit mengantuk" jawab Richard.
"Syukurlah dia tidak mengusir ku," batin Tini.
__ADS_1
Segera Tini pun membuat kopi yang Richard inginkan, ia membuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena ia begitu ingin mendapatkan Richard, selain kaya raya Richard juga begitu tampan sekali, ia seperti sosok pangeran dalam sebuah cerita dongeng.
"Ini pak kopinya," ucap Tini.
"Terima kasih dan pergilah, sudah katakankan kalau aku sedang makan jangan ke dapur dulu, aku tidak suka di ganggu," ucap Richard.
"Iya kak maaf." Tini berjalan pergi meninggalkan Richard, setidaknya kali ini ia berhasil membuat kopi untuk majikan tercinta nya.
Sementara itu Vivy dan Reni sedang sarapan di sebuah restoran, mereka berdua membahas masalah pembantu Vivy yang seperti nya sangat berbahaya.
"Kalau kamu masa tidak aman kenapa masih mempertahankannya, pecat aja dia dan cari pembantu yang lain," ucap Reni.
"Masalahnya tidak bisa seperti itu, pekerjaan yang baik sekali tidak ada kesalahan sedikitpun. Kalau aku mencari pembantu lain, tidak mudah untuk mendapatkan orang seperti dia yang sudah cocok dengan rumah ku. Lagi pula dia katanya pembantu, masa aku kalah saing dengan pembantu dan ini semuanya hanya dugaanku saja, aku kan dari dulu memang takut ada orang ketiga dalam rumah tangga ku," kata Vivy.
"Iya sih kamu benar, masa artis seperti kamu kalah sayang hanya dengan pembantu. Kamu kan artis yang sangat cantik, tidak mungkin ada yang bisa menyayangi kamu."
__ADS_1
"Kegiatan ranjang kalian aman kan," tanya Reni.
"Sangat aman, dia tidak bisa berpaling dari goyangan ku," Jawab Vivy.