
Setelah membuatkan kan teh hangat untuk Vivy Richard langsung bergerak kembali ke kamar, di dalam kamar ia melihat istrinya sudah memakai pakaian haram. Entah apa yang ingin Vivy lakukan, Richard hanya tersenyum melihat sambutan yang sensual itu.
"Sayang anak kita belum kamu lihat," ucap Vivy.
"Ini teh hangat kamu, aku lihat anak kita dulu." Richard memberikan teh itu kan istrinya, dan langsung bergerak menuju kamar Chris yang terletak di samping kamar mereka.
"Memiliki suami seperti Richard tidak akan membuat ku cepat tau. Aku benar benar diperlakukan seperti selayaknya seorang ratu," ucap Vivy.
Vivy yang mendapatkan pelayanan seperti ini merasa tidak enak jika kurang memberikan servis yang bagus pada suaminya, ia selalu ingin memberikan sesuatu yang setimpal seperti yang Richard berikan kepada nya.
"Sayang anak kita aman. Dia kelelahan, kemungkinan besar besok baru bangun," ucap Richard sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kalau punya anak banyak pun aku tidak akan bingung mengurus nya, ada kamu yang sangat luar biasa," ujar Vivy.
"Hahaha kamu bisa saja sayang, aku mau bersih bersih dulu ya, oh iya sayang si Tini itu kenapa kerjaan nya di dapur terus sih," tanya Richard.
__ADS_1
"Ya karena memang pekerjaan yang dilakukan, kalau pekerjaan di lantai atas tidak mungkin jadi dapur."
"Iya sih kamu, aku harus mengurangi intensitas ku ke dapur, aku sangat sering bertemu dengannya. Dan tadi aku bertemu dengan nya kembali," ucap Richard.
"Kenapa kamu takut tergoda oleh nya," tanya Vivy.
"Bukannya menjaga lebih baik, lebih baik menjaga diri daripada kebablasan," jawab Richard sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang kamu suami yang luar biasa, aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu. Waktu itu kalau aku buru-buru mencari pengganti kamu, kemungkinan besar aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi, kesabaranku selama ini benar-benar membuahkan hasil yang baik," ucap Vivy, selain memberikan batasan Richard dengan pembantu nya. Vivy sadar ia harus tetap cantik, ia tidak boleh terlihat lebih jelek dari pembangunannya walaupun sedang hamil.
Ia mengambil handphone nya untuk menghubungi Reni, ia belum mendapatkan jadwal terbarunya. Secepatnya ia harus mendapatkan jadwal itu agar bisa mengatur waktu dengan baik.
"Aku baru ingin mengirimkannya kepadamu."
"Ya sudah kirimkan lah sekarang, oh iya salam langganan kita itu masih buka kan," tanya Vivy.
__ADS_1
"Oh yang itu dia sudah pindah, aku mempunyai tempat salon yang lebih baik dari tempat itu, kamu perawatan ya," tanya balik Reni.
"Iya dong, aku tidak mau terlihat jelek. Kamu tau suami ku tampan, pasti banyak yang mengincarnya, aku tidak mau kalah dengan pelakor," ucap Vivy.
"Hahaha kamu takut ya. Iya sih ini hal yang wajar, kamu sedang hamil pasti pikiran mu ke mana-mana."
"Iya pikiran ku sedang ke mana-mana, walaupun aku percaya padanya tetap saja aku harus memberikan benteng terkuat agar tidak ada wanita lain yang bisa menembusnya," ucap Vivy.
"Hahaha benar, nanti aku beritahu alamatnya, ya sudah suami ku mau minta nyusu," kata Reni.
"Nah aku juga mau memberikan susu pada suami ku, bye bye." Vivy mematikan sambungan telepon itu.
Richard keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, Vivy tersenyum sambil meminta Richard untuk berjalan mendekati nya.
"Ada apa sayang," tanya Richard.
__ADS_1
Vivy melepaskan handuk yang melingkar di perut Richard, dengan cepat ia melahap benda yang masih tertidur itu.