Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Villa


__ADS_3

Waktu demi waktu pun berlalu, kesibukan Vivy untuk promosi film nya membuat nya tidak bisa bertemu dengan Richard. Apalagi sekarang Richard sering bolak balik ke rumah orang tuanya, hal itu membuat mereka berdua semakin jarang bertemu.


Kurang lebih sudah 2 Minggu Vivy dengan Richard tidak bertemu, dan hari ini mereka berdua akan bertemu. Masa promosi film baru Vivy telah selesai, terakhir kali kemarin ia promosi di luar kota. Sekarang Vivy jadi mempunyai banyak waktu bersama dengan sang pangeran hati.


Sekarang Vivy dalam perjalanan ke Villa, ia akan bertemu dengan Richard di Villa tempat ia beristirahat.


"Vivy aku sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan kamu waktu itu," kata Reni.


"Bagaimana?"


"Kalau kamu mau menikah secara diam diam bisa, tapi ya di luar negeri," ucap Reni.


"Lalu," tanya Vivy.


"Kamu punya waktu libur sampai akhir tahun, beberapa program tv kamu di undur sampai awal tahun depan. Kalau kamu ingin menikah dengan Richard segera lah, tapi ingat jangan sampai hamil."


"Ya sudah aku tidak membuat anak, yang penting aku menikah dengannya," kata Vivy.


"Hahaha ini anak aneh, kamu pikir laki laki mau. Ya tidak lah, selain berkeluarga tujuan mereka mengajak wanita menikah ya biar bebas melakukan nya."


"Iya ya.. Suami kamu bagaimana?"


"Kalau dia jangan kamu tanya, setiap hari dia meminta nya. Kalau memang kalian jadi menikah langsung beritahu aku, aku akan menyiapkan tempat nya. Kalian tidak bisa menikah sembarangan," kata Reni.


"Oke nanti aku bahas dengan dia," ucap Vivy.


Sesampainya di Villa itu Vivy langsung masuk ke dalam, ia masuk sendiri karena memang Reni langsung pulang ke rumah nya, ia juga tidak mau mengganggu Vivy dengan Richard.


"Sayang.." Richard juga berjalan masuk ke dalam Villa itu, saat Vivy sampai tadi ia juga sampai.


"Sayang kamu sudah sampai juga." Segera mereka berdua berpelukan, keduanya melepaskan rasa rindu yang menggebu-gebu.


"Bagaimana mamah. Apa mamah sudah lebih baik," tanya Vivy.


"Mamah sulit untuk lebih baik, sakit nya sudah begitu parah dan mamah juga sudah tua.. Kalau baik pun tidak lama, seperti waktu itu yang sempat pulang ke rumah," jelas Richard.


"Lusa kita ke rumah kamu ya. Aku ingin melihat mamah," ucap Vivy.


"Iya sayang, aku sudah mengatakan nya pada mamah. Pacarku yang cantik akan datang." Richard mengecup bibir Vivy.


"Tadi Reni berkata, kita ada kesempatan untuk menikahi sampai akhir tahun. Kalau keluarga ku kan sudah setuju, bagaimana dengan kamu dan keluarga kamu?"

__ADS_1


"Kamu benar benar siap untuk hidup dengan ku," tanya Richard.


"Aku benar benar siap sayang, aku tidak bisa terlalu lama berpisah dengan kamu. Aku ingin hidup selamanya dengan kamu."


"Apa yang harus aku siapakan? Kita akan segera menikah sebelum akhir tahun," ucap Richard.


"Mungkin hanya data diri kamu saja, kamu tidak perlu mengurus apapun di acara pernikahan semuanya akan di urus oleh Reni, kita tidak bisa sembarangan," kata Vivy.


"Lalu biaya pernikahan bagaimana?"


"Sebagian uangku ada pada Reni, dia pasti akan menggunakannya," ucap Vivy.


"Tidak bisa begitu sayang, aku laki laki dan aku yang harus membiayai pernikahan kita."


"Tidak sayang, itu sudah kuno, mau pria ataupun wanita siapa saja boleh," ucap Vivy.


"Sayang."


"Begini saja deh, aku tidak ingin merendahkan kamu sebagai calon suami ku. Aku ingin satu barang spesial untuk aku, apapun itu mau seberapapun harganya yang terpenting spesial. Dan satu lagi tidak merendahkan aku dan tidak membuatmu kesulitan," ucap Vivy.


Richard pasti akan memberikan nya, tetapi ia tetap tidak enak jika biaya pernikahan mereka Vivy semua yang menanggung nya.


"Sini duduk, sebelum kita menikah banyak hal yang harus kita bahas." Vivy mengajak Richard duduk berdua di sofa.


"Aku mencintaimu." Richard memeluk Vivy dengan erat, ia sangat beruntung menikah dengan Vivi yang mempunyai pemikiran dewasa.


"Tapi aku tidak mempunyai anak dulu, bukan tidak mau sih. Belum bisa mempunyai anak dulu," ucap Vivy.


"Ah tidak papa yang penting bisa buat," kata Richard.


"Aku juga tidak bisa buat sayang."


"Ha!! Kenapa?"


"Sebenarnya aku itu transgender," ucap Vivy.


Richard membuang nafasnya dengan perlahan, wanita ini ingin mengerjainya.


"Mana lihat," ucap Richard.


"Mau lihat? Bayar duku," kata Vivy.

__ADS_1


"Berapa yang harus aku bayar," tanya Richard.


Tidak ternilai," jawab Vivy sambil mengedipkan matanya.


"Sayang kamu sunat tidak," tanya Vivy.


"Kok kamu tanya gitu," ucap Richard, wajahnya terlihat kebingungan.


"Sebelum menikah memang harus tau akan hal itu."


"Ya menurut kamu bagaimana? Kalau penasaran lihat saja sendiri."


"Ih tidak ah, geli aku. Pasti hitam terus mengkerut, aku tidak bisa membayangkan nya," ucap Vivy sambil mengidik ngeri.


"Hahaha kamu bisa saja, tidak sayang tidak seperti itu, kamu lihat kulit aku. Apa aku hitam? Tidak kan? Berarti Richard junior tidak hitam dong."


"Iya sih." Vivy menganggukkan kepala nya.


"Berapa ukuran nya," tanya Vivy.


"Pertanyaan kamu aneh sekali sayang," ucap Richard.


"Mau tau aku, aku ingin berjaga jaga.. Tinggi kamu 180 ke atas, tangan kamu juga besar. Pasti besar juga kan," kata Vivy.


Richard rasa Vivy sudah di pengaruhi seseorang, orang terdekat Vivy yang sudah sudah menikah adalah Reni.


"Pasti dia," batin Richard..


Richard mendekati telinga Vivy dan membisikkan sesuatu pada Vivy. Mata Vivy langsung terbelalak mendengar apa yang Richard katakan.


"Serius," tanya Vivy.


"Hahaha kamu tidak percaya?"


"Kamu ada keturunan bule," tanya Vivy.


"Dari nama ku, sampai dengan wajah ku kamu pasti akan tau."


"Ahh senang nya…" Vivy langsung memeluk Richard, hal itu semakin membuat Richard keheranan.


"Kamu senang sekali" ucap Richard.

__ADS_1


Vivy mendekati telinga Richard dan membisikkan sesuatu pada Richard.


"Ha…"


__ADS_2