Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
pulang


__ADS_3

"Sudah mau malam tidak baik duduk di luar ruangan, lebih baik kita mandi setelah itu istirahat," ucap Richard.


"Iya sayang, aku ingin mandi dengan kamu. Terus memeluk kamu, memainkan perut kamu yang bagus, meremas pantat kamu, mencium dada kamu yang bidang," kata Vivy.


"Semuanya kamu, aku harus melakukan apa," tanya Richard.


"Bebas," bisik Vivy.


"Bebas sayang," tanya Richard.


"Iya sayang bebas," jawab Vivy.


Vivy merangkak naik ke atas pangkuan tubuh Richard. Ia membuka satu persatu kancing baju yang Richard pakai. Richard tertawa melihat tingkah istri nya, saat di dalam kamar sejak menikah ia memang jarang memakai baju, kemungkinan besar Vivy sudah ketagihan dengan tubuh nya yang membuat Vivy ingin Richard terus tidak memakai baju.


"Aku suka dengan tubuh kamu, wanginya enak sekali." Vivy memeluk Richard dengan erat, ia memberikan beberapa kecupan manis di tubuh Richard.


Richard menggendong Vivy masuk ke dalam kamar mandi, mereka berdua akan segera mandi bersama untuk kesekian kalinya, saat mandi keduanya sudah biasa tidak memakai apa apa. Sudah tidak ada lagi rasa malu di antara mereka berdua, keduanya sangat percaya diri dengan bentuk tubuh Mereka yang sangat indah.


"Sayang," ucap Richard.


"Iya sayang ada apa," tanya Vivy.

__ADS_1


"Bisa malam ini." Richard mengedipkan mata nya.


"Kata kamu nunggu di rumah, ya aku mau saja sih. Tapi takut nya saat kita dalam perjalanan ke rumah aku jadi sulit bergerak, kan kamu tau perjalanan dari tempat ini ke rumah sekitar 8 jam lamanya," jelas Vivy.


"Hehehe iya sayang aku bercanda, ayo mandi dengan cepat setelah ini kita istirahat," ucap Richard.


Setelah selesai mandi mereka berdua langsung berbaring di atas tempat tidur tanpa memakai pakaian ganti, keduanya hanya menggunakan handuk kimono untuk tidur malam ini.


"Selama malam," ucap Richard.


"Malam sayang, aku sangat mencintaimu," kata Vivy.


"Sayang aku lebih mencintai mu," ucap Richard.


"Sayang apa Reni sudah sampai di sini juga," tanya Richard.


"Sudah sayang, tadi mereka sudah memberikan ku pesan, semuanya aman terkendali," jawab Vivy.


"Syukurlah, aku sangat gemas dengan anaknya Reni, wajahnya sangat ingin aku makan," ucap Richard.


"Hahaha iya sayang, aku pun saja, umur nya baru empat tahun setengah jadi masih terlihat sangat menggemaskan, jika sudah besar sedikit lagi pasti berubah menjadi menjengkelkan seperti keponakan ku," kata Vivy.

__ADS_1


"Kita akan mempunyai anak seperti anak itu sayang, segera." Richard memberikan kecupan manis di bibir Vivy.


"Maafkan aku ya, karena aku kamu tidak bisa langsung mempunyai anak."


"Jangan meminta maaf sayang, sudah cukup oke. Jangan kamu pikirkan, bisa menikah dengan kamu saja sudah membuatku begitu bahagia," ucap Richard, walaupun ingin sekali mempunyai anak Richard tidak ingin memaksakan kehendaknya, ia sangat menghargai pekerjaan Viny sebagai publik figur, mereka tidak bisa mempunyai anak dengan cepat juga bukan karena Vivy, tetapi perjanjian kontrak selama dua tahun kedepan.


"Sudah tidur sayang."


Mereka berdua pun tertidur sambil berpelukan, tidak afdol jika tidur tidak sambil berpelukan dengan begitu erat.


***


Keesokan paginya, pagi ini keduanya bangun cukup pagi dari biasanya. Keduanya sudah rapi padahal masih pukul 7 pagi, mereka bangun lebih bagi sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu pesawat yang mereka naiki berangkat pagi ini, Keduanya masih belum mendapatkan kepastian kapan pesawat mereka akan terbang.


"Jam setengah delapan," ucap Richard.


"Masih jam 7 sayang, kamu salah lihat jam."


"Bukan itu sayang, maksudnya pesawat kita jam setengah delapan, mereka menunggu kita di lobby hotel," ucap Richard.


"Berarti seka.." Segera keduanya membereskan barang barang mereka dan langsung berlari menuju lobby hotel.

__ADS_1


"Kok mendadak," ucap Vivy


"Pesawat jam 8. Kita harus mengurus pengembalian mobil, tidak mungkin mobil yang kita bawa di tinggal begitu saja," ucap Reni.


__ADS_2