Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Dua suami lebih enak


__ADS_3

"Hmmm oke begitu aku mengikuti apa katamu saja, menurutku sih kamu bisa syuting program TV sekitar 4 sampai 5 bulan ke depan, aku yakin tubuhmu sudah kembali ideal seperti semula. Untuk acara nanti aku yang menentukannya, aku tahu bagaimana selera mu, dan aku tahu acara seperti apa yang kamu inginkan."


"Hahaha syukurlah kamu masih tahu selera apa yang aku inginkan, aku akan berusaha untuk menurunkan berat badanku seperti semula dalam waktu 4 sampai 5 bulan ke depan, aku juga harus membuat konten YouTube agar penggemarku tidak kembali lari, stok video konten sudah sangat menipis," kata Vivy.


"Bagaimana dengan Richard, apakah dia baik-baik saja?"


"Yah dia sangat baik, tadi aku baru selesai video call dengannya. Dia sudah biasa hidup sendiri, ya walaupun tidak selama sekarang setidaknya dia sudah mempunyai basic hidup sendiri, kalau kesehatan dia mah aku tidak khawatir, aku khawatir keselamatan dia karena tempat itu kan sedang dalam konflik yang cukup besar, sewaktu-waktu bisa jadi peperangan pecah," ucap Vivy.


Reni mengusap pundak Vivy, dirinya mengerti apa yang Vivy rasakan, resiko mempunyai seorang suami tentara memang seperti ini, pasti keselamatan yang menjadi kekhawatiran utama seorang istri pada suaminya.


"Dia tuh sangat keren, selain bertanggung jawab dia mengerti apa yang harus dia lakukan. Percayalah semuanya akan baik-baik saja, ketika kontraknya berakhir dia akan kembali dengan selamat bergabung bersama kita," kata Reni.


"Oh ya bagaimana dengan anak mu? Dia sudah bisa apa saja? Si Chris udah mulai lasak." Vivy dan Reni berjalan mendekati anak mereka berdua.


"Anak ini semakin lasak juga, ya namanya juga anak kecil hal yang normal seperti ini. Beruntungnya Adam tidak menambah kerepotanku, dia mengerti mamanya sedang kerepotan mengurus adiknya, jadi dia lebih manja pada ayahnya.


"Wah abang yang baik, jadi ketika anak sudah seusia Adam aku juga ingin menambah lagi, seperti mau bayi perempuan yang sangat cantik," ucap Vivy.


"Nanti saat suami mu pulang langsung kamu gas saja. Kalau satu setengah tahun berarti kurang lebih usia anakmu 1.7 tahun, sudah bisa mempunyai adik," kata Reni.

__ADS_1


"Itu terlalu cepat, dan aku tidak ada menikmati masa masa pacaran lagi dengan suami ku, Setelah dia pulang ya aku ingin memperbaiki kedekatan kami berdua, bisa begitu lama sudah pasti membuat kerenggangan atau kecanggungan di antara kami berdua," ucap Vivy.


"Hahaha iya sih kamu benar, aku mau tanya bagaimana rasanya berpisah dengan suamimu selama 2 bulan lamanya," tanya Reni.


"Kan kamu tahu bulan pertama aku sangat stress, Sekarang aku sudah mulai terbiasa dan sepertinya akan baik-baik saja sampai ke depannya, walaupun dia sangat jarang memberikan kabar aku tetap sabar menunggu kabar darinya. Bahkan dia memintaku untuk mengirim video perkembangan anak kami," jawab Vivy.


"Aku sangat paham pasti LDR begitu berat, dulu aku pernah LDR kurang lebih satu bulan, rasanya begitu berat sekali. Beruntungnya tidak lama dia langsung kembali karena kami sama-sama tidak tahan, jadi sekarang dia memilih bekerja di sini," kata Reni.


"Kamu yang baru satu bulan saja langsung tidak kuat, bagaimana aku nanti yang satu setengah tahun itu pun kalau dia bisa langsung pulang ke kontrakannya terakhir, kalau masih belum bisa pulang apa tidak nambah lagi. Bisa-bisa aku menikah lagi dengan pria lain," kata Vivy.


"Hahaha tidak papa sih, 2 suami yang satu jauh yang satu lagi dekat," ucap Reni.


"Ya mana tau kamu mau dua, kalau mau juga sebenarnya tidak masalah kan, tapi kalau Richard tidak tahu."


"Sebenarnya tidak ada masalah? Dari mana tidak ada masalahnya, sudah pasti akan banyak masalah. Kamu memberikan solusi yang tidak baik, yang ada aku malah dilempar oleh Richard, masih mending dilempar oleh Richard kalau aku sampai di bom bagaimana," ucap Vivy.


"Hahaha iya juga sih. Jangan sampailah kamu melakukan hal itu, kasihan Richard juga," kata Reni.


"Iya memang kasihan Richard siapa juga yang mau, yang memberikan saran aneh kan kamu," ucap Vivy sambil membuang nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


Reni tidak begitu lama di situ, dirinya harus menjemput Adam yang sudah pulang sekolah. Walaupun tidak tega meninggalkan Vivy sendiri di rumah, ia harus tetap pergi tidak mungkin Adam jalan kaki pulang ke rumah.


Setelah kepulangan Reni Vivy memutuskan untuk mandi bersama anaknya, dia akan keluar kembali untuk sekedar menghilangkan rasa suntuk di kepalanya. Untuk sekarang ia masih bunyi sembunyi jika ingin keluar rumah, walaupun tidak 100% aman setidaknya sampai sekarang ia belum dideteksi oleh orang lain.


"Sayang kita jalan jalan, kita cari keperluan kamu," ucap Vivy.


Tak lama bersiap siap Vivy pun meninggalkan rumah menggunakan supir pribadi, ia tidak beraninya tersendiri sambil menjaga anaknya, resikonya terlalu besar memang lebih baik ia menggunakan supir pribadi agar lebih aman.


Sesampainya di mall, Vivy menggunakan topi serta masker agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain, tak lupa pula anaknya dia naikkan ke atas keranjang bayi agar dirinya lebih mudah berjalan. Kalau ia gendong dirinya akan cepat lelah.


"Oke bapak tunggu sini saja ya, kalau mau pergi jangan lama-lama saya juga tidak terlalu lama," ucap Vivy.


"Baik non.."


Vivy pun mendorong keranjang bayi anaknya masuk ke dalam mall, ia menuju ke sebuah butik untuk anak kecil, sekarang ini Vivy sedang senangnya membelanjakan anaknya berbagai macam pakaian dan barang baru.


Tidak lupa Vivy juga merekam semua aktivitas yang ia lakukan bersama dengan sang anak, Vivy ingin Richard melihat anaknya membeli berbagai pakaian dan batang keperluan nya.


"Ini ayah, uang yang ayah berikan untuk membeli semua ini." Vivy mengirimkan video serta pesan di dalam nya.

__ADS_1


"Hahaha dia pasti terkejut aku membeli semua ini," ucap Vivy sambil tertawa.


__ADS_2