Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Kenangan


__ADS_3

Richard menatap kepergian sang istri beserta anaknya, walaupun bibirnya berusaha untuk tersenyum terlihat dengan jelas milik wajahnya menuju kesedihan yang teramat dalam. Vivy tidak sanggup melihat ekspresi sang suami, ia memalingkan wajahnya dari kaca pesawat ke arah yang lain, pesawat mulai bergerak barulah Vivy kembali kembali melihat ke arah Richard, secara perlahan Richard mulai hilang dari pandangan nya, Vivy kembali menangis sambil memeluk anaknya.


Richard mengambil nafasnya dengan perlahan dan membuangnya dengan kasar. Rasanya sangat berat sekali, berpisah dengan anak yang baru lahir beberapa minggu sangatlah berat, apalagi ia sudah sangat menantikan anak itu, entah berapa lama lagi ia akan bertemu dengan anak itu. Ia berharap waktu segera menjawabnya.


"Sudah ayo Richard, kita harus kembali bekerja. Aku yakin istri anak kita aman di sana, kita tidak boleh egois keselamatan mereka yang nomor satu dan sekarang kita mempunyai tanggung jawab yang besar."


"Kau benar kita tidak boleh egois, keselamatan mereka yang nomor satu." Richard tersenyum sambil berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Richard kembali ke rumah untuk membereskan barang barang nya, ia membawa semua barang yang tersisa ke dalam asrama, semua hal yang mempunyai kenangan nya bersama dengan istri dan anak nya ia bawa tanpa tersisa. Biarkan lah rumah ini satu satunya yang menyimpan semua kenangan yang ada.


Richard teringat kali mereka berdua sampai di sini, bagaimana mereka berdua beradaptasi, bagaimana mereka berdua bersama-sama membersihkan rumah ini, bagaimana mereka berdua membuat konten bersama, bagaimana mereka berdua menunggu kelahiran Chris, semuanya teringat dengan sangat jelas. Hal itu kembali membuat Richard bersedih, meskipun begitu Richard tidak tetap bergerak dengan cepat dan pergi meninggalkan rumah ini untuk selamanya.

__ADS_1


"Selamat tinggal kenangan," ucap Richard.


Perjalanan akan menempuh waktu yang sangat lama, sebelum terbang Vivy sudah mempersiapkan semua kebutuhan anaknya, ia tidak mau sang anak tersiksa di perjalanan yang panjang ini, ia saja sebagai seseorang yang sudah dewasa merasa lelah dengan perjalanan panjang ini.


"Sayang kamu anak yang hebat, baru beberapa Minggu lahir sudah berpisah dengan ayah kamu. Mamah harap secepatnya kamu bisa bertemu kembali dengannya, kalian tidak boleh berpisah terlalu lama," ucap Vivy.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 jam lamanya akhirnya Vivy dapat mendarat dengan selamat, ia ingat dirinya masih menjadi seorang artis. Dirinya takut masih ada yang mengenalinya, sebelum keluar pesawat Vivy memutuskan untuk menutup diri, privasi anaknya sekarang sedang di pertaruhkan.


Sesampainya di rumah di bantu oleh keluarga Vivy langsung memasukan semua batang yang ia bawa ke dalam kamar, ia tinggal di rumah nya sendiri yang lebih aman, keluarga nya ia minta untuk datang agar bisa membantunya merapihkan rumah.


"Aku titip anak ku ya. Aku ingin memberikan kabar suami ku," ucap Vivy.

__ADS_1


"Iya sayang, anak kamu sangat mirip dengan Richard, ayah sangat senang mempunyai cucu yang menggemaskan seperti ini."


Sambil tersenyum Vivy berjalan pergi meninggalkan mereka semua, ia ingin memberikan kabar sang suami yang seharusnya saya dan beristirahat, tidak mungkin dalam waktu 15 jam Richard masih bekerja.


"Sayang, aku sudah sampai,* ucap Vivy sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


"Syukurlah, aku lega mendengar nya sejak tadi aku menunggu kabar dari mu. Aku juga sudah pindah dari rumah ke asrama," kata Richard.


"Semua barang barang kita bagaimana," tanya Vivy.


"Aku bawa kok, barang barang itu aku letakan di tempat khusus, nanti akan aku kirim ke sana," jawab Richard.

__ADS_1


__ADS_2