
Hari demi hari pun berlalu, tanpa terasa sudah 4 bulan Vivy mengandung, kehamilan Vivy berjalan dengan sangat baik, dirinya dapat mengatasi semua masalah yang datang, bukan sebuah masalah besar hanya masalah kecil selayaknya wanita hamil. Semua itu berkat Richard dan Reni yang selalu membantu dirinya mengatasi masalah itu, memang ia merasa sangat beruntung mempunyai dua orang ini dekatnya.
4 bulan lalu Reni menunda kedatangannya ke tempat Vivy sampai waktu yang tidak dapat di tentukan, semua itu karena ada masalah kecil saya manajemen tempat Reni bekerja. Beruntung masalah itu sudah selesai ya bisa berangkat keesokan harinya, sebelum berangkat sudah pasti Reni memberikan Vivy kabar agar Vivy dapat menyebutkan dengan baik
"Sayang kamu ingatkan besok Reni datang bersama dengan keluarganya, kita hari ini belanja yuk." Vivy berjalan mendekati pijat yang baru pulang kerja.
"Hari ini pekerjaanku begitu banyak. Aku cukup lelah jika harus pergi sekarang, kan aku waktu istirahat 1 sampai 2 jam setelah itu kita pergi," ucap Richard.
"Iya, kamu langsung istirahat di kamar saja."
Sambil tersenyum Richard itu berjalan masuk ke dalam kamar, jika ia sudah berkata lelah memang dirinya begitu lelah. Kalau masih bisa ditahan ia pasti akan menahannya, sekarang tubuhnya sudah tidak kuat untuk menahan rasa lelah ia rasakan.
Vivy merasa kasihan pada sang suami, karena selama ia hamil semua pekerjaan rumah Richard yang menanggungnya, dirinya ingin membantu tetapi Richard melarangnya dengan alasan menjaga kehamilan agar tetap baik. Sebagai istri yang baik Vivy tidak mau membuat suami khawatir, ia selalu mengikuti apa yang Richard katakan.
__ADS_1
"Aku pijitin ya, kamu sangat lelah kan." Vivy duduk di samping itu berhijab yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Terima kasih sayang kamu sudah mengerti aku," ucap Richard.
"Kandunganku sudah masuk lebih dari 4 bulan, aku sudah tidak masalah untuk beraktivitas seperti biasanya, kamu jangan marah untuk melakukan pekerjaan rumah karena itu sudah menjadi tugasku," kata Vivy.
"Tapi kamu yakin sayang, takutnya malah kamu kecapean kandungan kamu terkena masalah lagi, aku tidak mau ya sampai hal itu terjadi."
"Tidak akan sayang, kamu berpikir positif saja deh, kalau semuanya dilakukan dengan hati-hati dan baik pasti hasilnya juga akan baik," ucap Vivy.
"Aku akan mengambil alih beberapa pekerjaan kamu, pertama untuk mencuci piring aku yang akan melakukannya, menyapu dan membersihkan kamar juga aku yang akan melakukannya, memasukan pakaian kotor ke dalam tempatnya juga aku yang akan melakukannya dan beberapa pekerjaan kecil lainnya. Kamu tenang saja aku akan melakukannya dengan hati-hati," ucap Vivy.
"Oke sudah sangat membantuku, memang kalau untuk memasak harus aku yang melakukannya karena kamu tidak bisa memasak. Seminggu aku bisa membersihkan taman dan membersihkan seisi rumah," kata Richard.
__ADS_1
Richard sangat bersyukur istrinya mau pembantunya untuk mengurus semua ini, walaupun memang sudah menjadi tugas Vivy yang tidak enak meminta Vivy untuk melakukannya. Selain karena Vivy sedang hamil, sudah pasti Vivy tidak melakukan hal seperti ini di rumahnya, ia merasa malu karena mengajak Vivy hidup susah.
"Terimakasih sayang, aku sangat bersyukur mempunyai istri seperti kamu," ucap Richard.
"Aku yang sangat bersyukur mempunyai suami seperti kamu," kata Vivy.
Jam 8 malam mereka berdua pergi meninggalkan rumah untuk membeli kebutuhan yang cukup banyak, kedatangan Reni ke tempat mereka sudah sangat mereka tunggu, tidak mungkin keduanya tidak mempersiapkan kebutuhan Reni nanti saat menginap di rumah mereka, walaupun keduanya belum tahu apakah Reni akan menginap atau tidak.
"Menurut kamu dia akan menginap atau tidak?"
"Sudah pasti akan menginap, kalau tidak akan aku paksa untuk menginap di rumah kita. Mau menginap di hotel biayanya mahal, walaupun dia mempunyai banyak uang kalau ada yang gratis kenapa harus bayar," ucap Richard.
"Hahaha dia tidak seperti itu sayang, dia akan menginap kalau merasa nyaman," kata Vivy.
__ADS_1
"Dia pasti akan nyaman sayang." Richard mengusap perut Vivy yang mulai membesar.