Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Berkenalan


__ADS_3

"Halo mah.." Richard melambaikan tangan nya.


"Mana pacar kamu? Katanya pacar kamu cantik."


"Mamah jangan terkejut ya, mamah pasti tidak menyangka," ucap Richard.


"Siapa sih sayang, pacar kamu artis? Tapi mana mungkin."


"Sayang.." Richard menarik Vivy di dekat nya.


"Halo mah." Vivy tersenyum sambil melambaikan tangan nya.


"Ahh.." Sangking terkejut nya handphone itu sampai terjatuh.


"Kamu mengejutkan mamah sayang," ucap Richard.


"Sayang kamu serius? Dia artis terkenal." Satu persatu keluarga Richard melihat ke arah kamera.


"Kalian jangan merekam apapun, hargai privasi pacar ku," ucap Richard.


"Iya bang.. Kakak cantik sekali."


"Makasih.. Kalian semua harus datang di acara pernikahan kami ya, awas saja ada yang tidak datang," ucap Vivy.


"Kamu mau menikah?"


"Iya mah, mungkin sebelum akhir tahun," ucap Richard.


"Dimana kak?"


"Luar negeri, tidak bisa sembarangan," ucap Richard.


"Oke, belikan kami tiket kami akan datang."


"Bang bagaimana bisa mendapatkan seorang artis? Bagaimana mungkin bisa Abang yang sibuk bekerja bisa berpacaran dengan artis."


"Hahaha aku tampan, aku banyak kenalan dan mudah untuk ku mendapatkan wanita cantik ini, dia suka duluan padaku," ucap Richard.


"Kamu duluan yang suka aku," kata Vivy.


"Sayang kamu lupa.." Richard mengedipkan satu matanya.

__ADS_1


"Ya benar aku duluan yang suka dengan dia, wajahnya tampan sekali, sikap nya begitu baik, dia perhatian sekali." Vivy mengecup wajah tampan Richard.


"Wah wah memang benar, wajah tampan bisa mendapatkan segala nya."


"Mah mamah cepat sembuh, nanti kalau Mamah sembuh mamah bisa datang ke acara pernikahan kami," ucap Vivy.


"Iya sayang, mamah pasti sembuh."


Setelah menghubungi keluarga Richard mengajak Vivy jalan jalan keluar Villa, ya walaupun hanya di sekitar Villa mereka berdua ingin jalan jalan seperti pasangan pada umumnya. Richard sangat lega telah mengenalkan Vivy pada keluarga nya, ia sudah menduga jika keluarga nya pasti menerima Vivy dengan baik. Apalagi Vivy sudah mempunyai nama yang baik di masyarakat umum.


"Sayang bagaimana jika keluarga kamu meminta ku untuk hamil."


"Tidak mungkin sayang, mereka tidak seperti itu. Mereka mengerti siapa kamu dan apa tuntutan kamu, kamu saja dapat menerima aku pasti keluarga ku dapat menerima keputusanmu," kata Richard.


"Ini Villa kamu," tanya Richard.


"Iya sayang, ini Villa aku. Aku beli beberapa tahun lalu," jawab Vivy.


"Masalah rumah bagaimana? Aku dapat rumah dinas kalau kamu mau, tapi agak jauh dari pusat kota. Apa aku beli rumah saja," ucap Richard.


"Jangan deh, kita tinggal di apartemen ku saja, tapi kita tetap membutuhkan rumah sih." Vivy tampak berpikir, ia tidak mau Richard menghabiskan uang nya. Keuangan nya lebih mampu dari Richard, sebenarnya ia ingin membeli rumah untuk tempat tinggal nya, tetapi ia takut menyinggung Richard.


"Kamu ada uang berapa? Seperti nya kita memerlukan rumah," tanya Vivy.


"Kamu pasti berjuang untuk mengumpulkan uang itu," ucap Vivy.


"Hahaha ini bonus ku selama beberapa tahun aku bekerja, baru aku ambil beberapa waktu lalu. Aku mengambil nya karena aku ingin menikahi kamu," kata Richard.


"Aku boleh meminta nya setengah," tanya Vivy.


"Apa cukup hanya setengah nya?"


"Ya kita bagi dia sayang, aku setengah kamu setengah. Rumah itu kan untuk tempat tinggal kita, untuk mendapatkan rumah dengan keamanan yang bagus bisa menggunakan nama ku," ucap Richard.


"Kamu bisa menggunakan semuanya, nanti untuk biaya pernikahan kita aku bisa mencari lagi."


"No.." Vivy menggelengkan kepala nya.


"Yang menikah kita berdua, yang menanggung beban harus kita berdua. Kalau kamu tidak mau ya kamu bisa membelinya sendiri."


Richard tersenyum mendengar ucapan Vivy, untuk sekarang memang Vivy benar. Keuangan nya belum stabil karena menikah dengan cepat, belum lagi biaya kesehatan keluarga nya masih ia tanggung.

__ADS_1


"Oke sayang, aku ikut kata kamu." Richard memeluk Vivy dari samping.


"Nah begitu dong. Kan kita sudah sepakat tentang keuangan," ucap Vivy.


Jika tidak hati hati masalah keuangan bisa menjadi masalah yang sangat besar, apalagi posisi mereka sekarang Vivy lebih banyak menghasilkan uang. Hal itu membuat Vivy sangat hati hati, ia tidak mau rumah tangganya goyang karena hanya masalah keuangan saja.


***


Keesokan harinya, Richard membuang sarapan untuk sang pacar, mereka berdua tidak tidur di satu kamar yang sama, jadi Vivy tidak tau jika Richard sudah bangun lebih dulu dari nya.


Kebetulan saat Richard bangun tadi, beberapa orang tengah membuat makanan untuk mereka, ia meminta orang itu pergi dari Villa ini, ia sendiri yang akan membuat sarapan.


"Pasti Vivy membuat peraturan mereka harus selesai memasak sebelum ia bangun, memang artis satu ini sangat berbeda," ucap Richard.


Kebetulan bahan masakan yang ada juga bahan masakan yang sehat. Richard bisa membuat masakan sehat untuk calon istri nya.


Dengan cekatan Richard mengolah bahan masakan itu, ia membuat sesuatu yang sangat spesial yang mungkin sebelumnya Vivy belum pernah memakannya.


Sekitar 45 menit memasak Richard menyelesaikan semuanya dengan baik, ia menghias makanan itu dengan indah agar Vivy lebih selera makan. Bukan hanya satu makanan, ia membuat berbagai macam makanan dengan sangat cepat.


"Puding buah sudah keras, sekarang tinggal membawa nya ke kamar," ucap Richard.


Belum jadi suami saja Richard sudah sebegitu perhatian nya dengan Vivy, ia memang tidak mempunyai harta yang berlimpah, tetapi ketulusan nya pada Vivy tidak dapat di ragukan lagi.


Tanpa mengetuk pintu Richard masuk ke dalam kamar Vivy, ia bisa asal masuk karena ia sudah meminta Vivy untuk tidak mengunci pintu kamar.


"Dasar kebo," ucap Richard.


Richard meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja, kemudian ia mendekati Vivy untuk membangunkan nya.


"Sayang bangun," ucap Richard sambil menciumi wajah Vivy.


Perlahan Vivy membuka matanya, bangun di pagi hari memang paling tepat melihat wajah Richard. Ia sangat bahagia Richard ada di depan wajahnya.


"Nakal asal masuk kamar anak gadis," ucap Vivy.


"Kamu mau makan," tanya Richard.


"Malas turun ke bawah," jawab Vivy.


"Itu." Richard menunjuk makanan di atas meja.

__ADS_1


"Kamu yang masak," tanya Vivy.


"Siapa lagi jika bukan aku." Jawab Richard dengan bangga.


__ADS_2