
Beberapa hari pun berlalu, semuanya berjalan dengan sangat baik. Richard sudah mulai dengan pekerjaan tambahan yang ia ambil, sedangkan istrinya Vivy masih fokus di rumah mengistirahatkan tubuhnya sebelum ia kembali syuting.
Pekerjaan tambahan yang harus kita ambil membuat merasa lebih berguna dari biasanya, ia tidak terlalu banyak menganggur dan dapat menggunakan tenaganya dengan maksimal. Dirinya sangat senang mendapatkan pekerjaan tambahan ini.
Setelah 3 hari bekerja sampai tiba di hari Sabtu di mana Richard libur, Richard hanya bekerja dari hari Senin sampai dengan Jumat, hari Sabtu Minggu ya gunakan untuk quality time dengan sang istri.
Hari ini mereka berdua akan pergi ke sebuah tempat untuk mencari pembantu, keduanya memutuskan mengambil tiga pembantu agar keperluan mereka dapat ditangani dengan baik. Ketiga pembantu itu mempunyai tugas masing-masing yang berbeda, dari membersihkan lantai 1, lantai 2 dan mempersiapkan semua kebutuhan dapur. Mereka mendapat tugas masing-masing sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
"Ingat cari yang sudah cukup tua, aku tidak mau kamu mengambil yang cantik sepertiku."
"Kata Reni mereka amankan, secara mereka akan lebih tahu tentang kehidupan kita, mereka akan tahu jika kamu sudah menikah denganku dan kalau mereka tidak aman mereka akan membocorkan semuanya ke publik," ucap Richard.
"Iya sayang aku sudah berbicara dengan Reni dan semuanya aman terkendali, Reni tidak mungkin mengambil pembantu yang tidak dapat dipercaya, privasi kita tetap akan aman tanpa harus kamu khawatirkan," kata Vivy.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang ini privasi kita memang yang paling terpenting. Nanti ikutin saja apa yang hari ini katakan kamu jangan macam-macam ya, takutnya kamu cemburu buta dan merusak semuanya," ucap Richard.
"Sayang seharusnya jangan macam-macam itu kamu, kok aku pula yang kamu katakan jangan macam-macam. Tapi kalau dia berani main-main padaku sudah pasti aku akan mengamuk, apalagi sampai dia berani melirik lirik suamiku," ujar Vivy.
Setelah kurang lebih 60 menit mengemudi akhirnya mereka berubah sampai di sebuah tempat yang seperti panti asuhan, mereka berdua pun turun dari dalam mobil karena Reni sudah menunggu keduanya di depan panti itu.
Richard dengan Vivy berjalan mendekati Reni, mereka berdua penasaran kenapa Reni memilih tempat ini yang letaknya cukup jauh dari kota. Padahal kalau hanya mencari pembantu saja di kota pun banyak, tidak perlu sampai ke pelosok seperti ini.
"Kamu sudah lama di sini? Kenapa kita harus ke sini sih kan masih banyak pembantu di kota?" Vivy mengerutkan dahinya, dirinya takut jika mengambil sembarangan seperti ini malah tidak aman.
"Beberapa artis mengambil pembantu dari sini, dan semuanya aman terkendali. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari temanku, kalian tenang saja kalian hanya tinggal mewawancarai beberapa orang di dalam sana. Jangan katakan ini untuk rumah kalian, katakan saja ini untuk rumah orang tua Vivy. Nanti ketika sudah mendapatkan tiga pembantu yang kalian inginkan, barulah kita memproses mereka bertiga," ucap Reni dengan sangat jelas.
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu, di dalam sudah ada 10 orang yang sedang menunggu Vivy dan Richard. Mereka semua tidak terkejut dengan kedatangan Vivy, karena sebelumnya mereka sudah diberitahu, lagi pula sudah banyak artis yang datang ke tempat ini.
__ADS_1
Satu persatu Vivy mewawancarai mereka semua, walaupun hanya menjadi pembantu Vivy tetap melakukan wawancara agar yang masuk kerumahnya nanti manusia yang dapat ia percaya, Vivy merasa semua orang yang ia wawancarai lulus dari penilaian nya, ia tidak ada masalah dengan mereka, dan ia sudah mendapatkan 3 nama yang cocok untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Dia dia dan dia, bagaimana sayang," tanya Vivy.
"Wow ada yang cantik, kamu serius dia masuk ke rumah kita," tanya Richard, ia heran kenapa Vivy memilih satu orang yang menurut nya masih di bawah 30 tahun.
"Dia yang paling bisa membuat makanan sehat, aku memerlukan nya. Lagi pula dia sudah melewati tes psikolog dan tes dari ku, dia aman kok. Tapi kamu nya jangan sampai gak aman, awas saja kamu sampai melirik wanita ini," ucap Vivy dengan tatapan yang super tajam.
Setelah mendapatkan 3 nama yang mereka mau. Ketiganya mereka bawa ke ruangan itu, nah sekarang baru lah Reni memproses mereka bertiga, ketiga nya harus menandatangani beberapa surat perjanjian tertulis, semua ini agar privasi Vivy dan Richard terjaga dengan baik.
Ketiganya terkejut ketika tau Vivy dan Richard pasangan suami istri, mereka pikir Richard hanya asisten artis dari Vivy, ternyata pria tampan ini suami dari artis besar.
Walaupun terkejut mereka tetap perfesional, ketiganya tidak berani mengatakan hal yang macam macam, mereka sudah sangat senang dapat bekerja dengan artis besar seperti Vivy.
"Sudah ayo pulang," ucap Richard.
"Sayang kamu begitu menyeramkan," ucap Vivy.
"Hahaha sengaja sayang, kalau aku terlihat baik yang ada mereka malah nakal pada ku, kamu mau mereka nakal pada ku," kata Richard.
"Bagus sayang.."
Richard dan Vivy pun pergi meninggalkan tempat itu, mereka berdua langsung kembali ke kota, keduanya sudah tenang mempunyai pembantu yang sesuai dengan keinginan mereka.
"Sayang kita jalan jalan ke mall yuk," ucap Vivy.
"Ayo, tapi apa tidak masalah," tanya Richard.
__ADS_1
"Pakai masker, jangan bergandengan tangan dan kamu bawakan belanjaan ku. Mereka pikir kamu tetap bodyguard ku," jawab Vivy.
"Yah nasib ku memang jelek sekali, sudah tampan seperti ini malah menjadi bodyguard."
"Hahaha tidak papa sayang, walaupun kamu di luar menjadi bodyguardku tetapi di dalam kamu menjadi suamiku." Vivy mengedipkan matanya sambil sedikit menggigit bibirnya.
"Mulai nakal wanita ini, jangan begitu nanti kamu aku makan." Richard membuang nafas dengan perlahan, ia paling tidak bisa melihat Vivy seperti itu.
Sesampainya di mall keduanya memilih tempat parkir yang sepi, tak lupa Richard dengan Vivy memakai masker dengan warna yang berbeda agar tidak menimbulkan kecurigaan. Richard juga memakai topi yang mereka beli bersama di tempat pernikahan mereka waktu itu, penyamaran Richard terlihat sangat bagus, dirinya terlihat benar-benar seperti seorang bodyguard.
"Kamu sudah siap,'' tanya Vivy.
"Iya aku sudah sangat siap, aku dulu atau kamu dulu yang keluar dari dalam mobil."
"Aku dulu lah kalau kamu duluan nanti seperti kamu yang tuannya bukan aku," ucap Vivy.
"Hahaha baik tuan putri."
Setelah Vivy turun dari dalam mobil barulah Richard bergerak keluar dari dalam mobil, ia mengikuti langkah kaki Vivi yang tergolong sangat cepat. Beruntung ia memiliki langkah kaki yang panjang sehingga mudah untuknya mengikuti ke mana Vivy melangkah, walaupun dengan jalan-jalan kamu seperti ini keduanya sudah sangat bahagia. Ini lebih menghasilkan dari apa yang mereka pikirkan sebelumnya, apa lagi keduanya sering memberikan kode khusus.
Setelah kurang lebih 2 jam lamanya mereka dibilang mall, Richard sudah membawa berbagai macam belanjaan milik istrinya. Dirinya benar-benar seperti bodyguard yang siap membawa apa saja yang Vivy beli, karena sudah sangat berlebihan dicat memberikan kode pada Vivy agar berhenti belanja dan kembali ke dalam mobil.
Vivy yang mengerti kode dari Richard segera kembali ke mobil sebelum sang suami mengamuk. Ia sendiri tidak sadar telah belanja sebanyak ini, padahal sebelumnya ia tidak ada niat untuk belanja.
"Untuk apalah semua ini? Kamu benar-benar sangat boros."
"Tidak masalah, aku mempunyai uang untuk bersenang-senang. Jadi sesekali menghabiskan uang untuk bersenang-senang apa salahnya," ucap Vivy.
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi meninggalkan mall dan langsung kembali ke rumah, untuk malam ini Richard lah yang akan membuat makan malam untuk mereka.