
Hari yang paling di tunggu Richard dan Vivy akhirnya datang, hari dimana mereka berdua akan mengikat janji pernikahan satu sama lainnya. Mereka berdua akan menjadi suami istri sah secara hukum maupun agama.
Reni sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik, dari lokasi pernikahan dekorasi pernikahan, tamu yang hadir sampai hal hal kecil lainnya. Semuanya ia lakukan demi membuat Richard dan Vivy puas dengan pernikahan mereka berdua.
Sekarang keduanya sedang berada di dalam kamar yang berbeda, keduanya akan bertemu saat acara pernikahan nanti. Pernikahan akan di laksanakan pada menjelang malam, dimana saat matahari mulai terbenam sehingga menampilkan momen yang sangat indah. Waktu pernikahan ini juga sudah di setujui kedua belah pihak.
"Sudah waktunya," ucap Reni pada Richard.
"Dimana Viviy," tanya Richard.
"Sabar Richard. Nanti dia akan datang dengan ayahnya. Richard kamu tampan sekali," ucap Reni, ia sampai kagum dengan ketampanan calon suami Vivy ini.
"Oh iya ini hadiah untuk pernikahan kalian berdua." Reni memberikan sekotak hadiah pernikahan nya untuk mereka berdua.
"Apa ini," tanya Richard.
"Nanti malam kamu buka, harus kamu buka. Sekarang segera keluar, aku juga akan memanggil Vivy."
Sesuai dengan apa yang Reni katakan mereka Richard pun berjalan keluar dari dalam kamar, ia langsung menuju ke lokasi pernikahan yang sudah ia lihat kemarin malam.
"Indah sekali," ucap Richard.
Richard menjadi perhatian tamu yang hadir, wajah tampan dan kegagahannya membuat semua orang mengerti kenapa Vivy memilih Richard. Mereka berdua benar-benar pasangan yang sangat serasi.
Di dalam kamar Reni sedang bersama dengan Vivy, mereka berdua terlihat mengobrol sebelum Ayah Vivy datang menjemput mereka berdua.
"Aku takut ya.."
"Takut apa?" Reni mengerutkan dahinya, karena tiba tiba saja Vivy mengatakan dirinya takut.
"Aku takut malam pertama ku dengar Richard, aku yakin nanti malam aku habis dengan nya. Dia terus membahas malam pertama kami, kan aku sudah pernah cerita pada mu bagaimana milikinya."
"Hahaha pucat langsung wajah mu, malam pertama itu rasanya campur aduk. Ada senang nya, takut nya, sakit nya, enak nya. Tidak bisa di jelaskan dengan kata kata, kamu harus merasakan nya sendiri," ucap Reni.
"Ahh aku takut, pasti sangat sakit aku belum pernah di jamak, sekali di jamak dengan tentara keturunan luar negeri. Bayangkan bagaimana rasanya jadi aku.." Vivy panik sendiri.
"Hahaha itu pilihan mu, oke untuk sekali dua kali mungkin akan sakit. Nanti kalau sudah berkali-kali rasanya sudah berbeda jangan khawatir, malahan kau ingin sendiri apalagi saat suami mu bekerja."
"Bagaimana dengan kamu sekarang," tanya Vivy.
"Kamu tanya aku, aku sudah mempunyai anak dan aku sudah sangat lama menikah. Ya sudah tidak ada rasa sakit lagi, tinggal enak enak nya saja," jawab Reni.
Tak lama Ayah Vivy datang menjemput mereka berdua, Vivya yang melihat Ayahnya datang langsung bangkit dari atas tempat duduknya.
"Sudah ayo.. Sudah waktunya untuk kamu menikah."
__ADS_1
"Iya yah.." Walaupun gugup Vivy tetap bisa mengendalikan dirinya.
Mereka berjalan menuju ke lokasi pernikahan, Vivy melihat dekorasi pernikahan ini sesuai dengan keinginan nya. Dari bentuk, warna sampai detail detail kecil pun sesuai dengan harapan nya, Vivy benar benar berterimakasih pada Reni yang sudah mewujudkan apa yang menjadi impian nya selama ini.
"Aku sangat suka, terima kasih Reni," ucap Vivy.
"Sama sama. Aku senang jika kamu sukai," ujar Reni.
"Itu pangeran mu dia tampan sekali."
"Ahh tampan dan gagah sekali.." Mata Vivy langsung tertuju pada Richard.
Begitu juga dengan Richard yang langsung mengagumi kecantikan Vivy, Vivy selayaknya putri yang turun dari kayangan untuk dirinya.
"Sial cantik sekali," batin Richard.
Vivy berjalan mendekati Richard, ia juga tersenyum manis setiap tamu yang datang. Mereka semua merasa menghadiri pernikahan pangeran dan seorang putri kerjaan, di tambah dengan tema pernikahan yang memang mengusung tema kerjaan.
"Cantik sayang," bisik Richard.
"Aku memang begitu cantik sayang," ucap Vivy.
Karena waktu sudah sangat pas pernikahan pun di mulai. Pernikahan berlangsung dengan sangat hikmat dan lancar, tidak ada kendala apapun di pernikahan ini. Semua orang merasa bahagia setelah keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.
Sinar matahari yang berwarna oranye membuat suasa semakin sakral saja, waktu pernikahan yang tepat menghasilkan sesuatu yang begitu menakjubkan. Tak lupa fotografer mengabadikan momen indah ini.
Sebagai acara penutup mereka berdua mempersembahkan sebuah lagu untuk keluarga dan para tamu undangan. Walaupun mempunyai suara yang pas pasan keduanya bernyanyi dengan sangat percaya diri.
"Sudah sudah masuk kamar sana, kalian pasti lelah. Tidak ada acara yang penting lagi, hanya after party saja, kalian tidak perlu ikut," ucap Reni.
"Kamu memang paling mengerti kami Reni." Segera Richard menggendong Vivy berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Sayang makan dulu," ucap Vivy.
"Di dalam kamar ada, aku sudah tanya Reni tadi," kata Richard.
Keduanya masuk ke dalam kamar yang sudah di hias dengan sangat indah. Di dalam kamar itu juga ada tempat untuk mereka berdua makan malam, seperti nya memang sebelum bertempur keduanya harus mengisi energi yang hilang.
"Wah cantik sekali, kita seperti kakak di restoran mewah," ucap Vivy.
"Reni memang luar biasa."
Mereka berdua duduk berdampingan, walaupun ada dua piring yang tersedia mereka berdua memutuskan makan dalam satu piring yang sama. Keduanya sudah merencanakan ini sebelum menikah, mereka akan selalu makan dalam satu piring yang sama agar bisa terus saling mengingat saat sedang berjauhan.
Satu tangan Richard gatal untuk menutupi belahan dada Vivy yang terlihat, ia tidak mau bagian itu terlihat lebih dulu walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
"Nakal," ucap Richard.
"Tangan kamu yang nakal," kata Vivy.
"Dia mengintip ngintip," ucap Richard.
Karena Vivy gemas, ia sengaja menurunkan nya lagi agar semakin terlihat dengan jelas. Richard sudah say sebagai suaminya tidak masalah jika ia melakukan hal itu.
"Sayang.." Vivy mengedipkan satu mata nya.
"Nakal ya. Wah mulus sekali, besar juga ya.." Richard tidak bisa berkedip dari sana.
"Hahaha otak kamu ya.. Ternyata mempunyai suami mesum seperti kamu sangat lucu," ucap Vivy.
Setelah selesai makan, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya melepaskan pakaian pengantin yang mereka pakai, walaupun hanya memakai dalaman saja keduanya sudah tidak ada rasa malu lagi.
Sambil menyikat gigie Richard memeluk Vivy dari belakang, ia sudah sangat menginginkan tubuh seksi ini sejak lama.
"Kamu seksi sayang," ucap Richard.
"Aku memang sangat seksi," kata Vivy sambil mengedipkan satu mata.
Ini pertama kalinya Vivy memakai bikini di depan Richard, aset dada nya yang termasuk berukuran besar terlihat dengan sangat nyata. Ia sendiri sangat bangga mempunyai aset bagus seperti ini.
"Apa itu," tanya Vivy yang merasakan ganjalan di bagian belakang nya.
"Dia sudah bangun, kamu ingin melihat nya," bisik Richard.
"Tidak tidak, nanti saja sekarang belum siap." Vivy bergidik ngerih merasakan ganjalan itu, dari ganjalan nya saja ia sudah bisa merasakan betapa besar nya milik Richard.
Sambil sikat gigi di depan cermin, Richard terus memeluk Vivy. Tangan nya bermain-main di perut rata Vivy yang begitu menggodanya. Jujur saja Vivy begitu menikmati perlakuan manis Richard, rasa geli yang di timbulkan memancing sesuatu yang terpendam di dalam dirinya. Tangan nya juga sudah mulai nakal mengusap ngusap perut indah Richard, terasa sangat keras berbeda dengan milik nya.
Setelah sikat gigi dan cuci muka selesai, Richard langsung menggendong Vivy membawa nya ke tidur. Mereka berdua saling menatap yang membuat suasana malam ini terasa begitu berbeda.
"Aku mencintaimu sayang." Richard meletakkan Vivy ke atas tempat tidur, ia juga berbaring tepat di samping tubuh sang istri, kakinya sedikit naik ke atas kaki Vivy yang membuat suasana terasa lebih intim lagi.
Richard tidak ingin langsung tancam gas, ia ingin membuat Vivy nyaman terlebih dahulu dengan dirinya. Mengobrol santai dengan pembahasan sedikit mesum akan memancing g*irah yang terpendam.
"Aku takut," ucap Vivy.
"Why?"
"Punya kamu terlihat begitu besar, takut tidak muat," ucap Vivy.
"Tidak mungkin sayang benda itu di desain sesuai dengan kebutuhan nya. Kamu saja bisa melahirkan bayi yang besar, ya kali punya ku tidak muat."
__ADS_1
"Ya terus aku merasakan sakit terus seperti melahirkan bayi gitu. Sayang jangan di masukan sekarang ya.." Vivy berharap Richard mau mengerti dirinya dan sudah pasti untuk kali ini tidak bisa.