Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
uang bulanan


__ADS_3

***


Satu bulan pun berlalu, satu Minggu sebelum tahun baru Vivy dengan Richard mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Vivy harus syuting di beberapa tempat untuk acara akhir tahun dan Richard mempersiapkan kepergian nya pada awal tahun, ia mempunyai tugas selama satu bulan lebih di luar negeri, ini akan menjadi tugas pertama nya setelah ia menikah dengan Vivy.


"Kamu mau pergi jam berapa," tanya Richard sambil bersiap siap.


Vivy bergerak dari atas tempat tidur. "Jam 9 pagi, nanti angel menjemput ku. Kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah siap untuk pergi," tanya Vivy.


"Hmmm iya sayang, aku sudah hampir selesai. Aku mempunyai waktu satu Minggu lagi dengan kamu, sebelum aku pergi selama sebulan lebih," jawab Richard.


"Sayang kamu jadi membuat ku sedih, mana dalam waktu seminggu itu kita sangat sibuk lagi, semoga saja kita masih dapat membuat waktu yang tersisa jadi lebih menarik." Vivy beranjak dari ata tempat tidur, ia berjalan mendekati Richard dan memeluknya dengan erat.


Bagaimana tiga orang itu, apa semuanya bekerja dengan baik," tanya Richard.


"Sangat baik, mereka bertiga hari ini gajian. Kamu tolong berikan ya pada mereka, uang nya ada di laci meja rias. Aku mungkin akan pulang malam, tidak enak membuat mereka menunggu," jawab Vivy.


"Oke nanti aku berikan pada mereka bertiga," ucap Richard.


Setelah selesai bersiap siap Richard berjalan turun dari kamar, ia ingin sarapan sebelum pergi bekerja. Sarapan Richard jarang ditemani oleh sang istri, ia tidak pernah mau mengganggu Vivy yang juga sedang bersiap siap untuk syuting, lagi pula ia hanya tinggal makan saja. Semua masakan di masak oleh pembantu di rumah ini.


"Selamat pagi tuan," ucap Tina yang sedang mempersiapkan makanan di atas meja.


"Hmmm," gumam Richard.


Ia begitu dingin dengan para pembantu nya, ia mengerti tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, ia ingin menjaga diri agar tidak terjadi hal hal yang tidak diharapkan.


Richard makan dengan sangat cepat, lebih cepat makan lebih cepat pula ia bekerja bekerja.


"Sayang kamu sudah mau berangkat," tanya Vivy dari atas tangga.


"Iya, ada yang ingin kamu katakan," tanya Richard.


"Aku membawa mobil yang biasa kamu bawa ya. Barang barang ku cukup banyak, aku memerlukan mobil itu, kamu bisa memakai mobil yang berwarna putih," jawab Vivy.


"Iya.. Aku berangkat sekarang, bye.." Richard berjalan pergi meninggalkan ruang makan.


"Tuan tidak pernah menghabiskan makanan nya, apa masakan ku kurang enak," batin Tina.


Vivy kemana masuk ke dalam kamar nya, ia hanya tinggal menunggu Angel datang ke rumah nya setelah itu barulah mereka berangkat ke lokasi syuting.


Hari ini Vivy akan syuting bersama dengan Mario yang sudah lama tidak bertemu dengan nya, mereka berdua mempunyai satu projek bersama di sebuah acara televisi, karena sudah pernah syuting bersama mereka berdua sama sama mau mengambil proyek ini. Vivy juga sudah izin pada sang suami sebelum mengambil proyek ini.


Pukul 9 pagi Vivy dan Angel sampai di studio salah satu stasiun Televisi ternama. Keduanya langsung masuk ke dalam dan menuju ruang tunggu sebelum syuting berlangsung.


"Vivy.." Mario berlari mendekati wanita yang sebenarnya cukup ia rindukan.


Vivy tersenyum melihat Mario berjalan mendekatinya. Ia sudah tidak ada rasa tidak suka lagi pada Mario karena sudah menikah dengan Richard, Richard juga memintanya bersikap baik pada semua orang termasuk Mario yang sebenarnya baik juga.


"Apa kabar," tanya Mario.


"Aku sangat baik bagaimana denganmu?"


"Aku juga sangat baik, aku baru menyelesaikan satu judul film baru. Aku dengar kamu liburan ke Selandia baru ya," tanya Mario.


"Kamu tahu dari mana? Kamu ada di sana juga?" Vivy mengerutkan dahinya.


"Aku mendengarnya dari berita, mana kamu melakukan ikutan beberapa waktu lalu," ucap Richard.


"Oh iya aku lupa, aku liburan beberapa minggu disana bersama keluargaku."


"Dan Richard," tanya Mario.


"Kamu apaan sih? Baru bertemu sudah membuatku kesal. Kamu jangan sama tebak-tebak begitu dong, kalau ada media dengar akan menjadi gosip untukku."


"Aku tidak menebak-nebak, coba kamu lihat berita sekarang. Kalian bergandengan tangan, kalian bermesraan toko, aku tidak melihat di berita." Mario menunjukkan wajah yang sedikit kebingungan, ia sendiri melihat semuanya di berita pagi ini.


Reni yang juga sudah melihat berita buruk ini segera menghubungi Vivy, Vivy harus segera pergi sebelum media mengejarnya.


"Kembali ke mobill sekarang," ucap Reni.


"Bagaimana bisa?"


"Cepat Vivy." Segera Vivy dan Angel langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berdua diminta ke kantor agensi untuk merundingkan masalah yang terjadi.


Sesampainya di kantor agensi mereka berdua masuk ke dalam ruangan Reni, Reni terlihat mandiri sambil memegang kepalanya, ia seperti sangat pusing memikirkan masalah yang terjadi. Padahal mereka sudah menjaga ini sangat baik agar tidak terendus media, tapi sayang sama media tetap mendapatkan berita buruk tentang Vivy dan Richard.


"Di mana ini Reni, aku yakin sebentar lagi banyak media yang mengejarku dan Richard." Vivy juga kebingungan.


"Aku takutnya setelah ini ada foto atau video pernikahan kalian, kalau itu sampai terjadi semuanya akan kacau." Reni bergerak duduk di depan Vivy, dirinya sangat bingung sekalian bertanggung jawab tentang segala hal yang menyangkut Vivy, masalah Vivy sekarang karena dirinya yang kurang berhati-hati.


"Kalau menurutmu bagaimana?"


"Aku rasa kalau sampai foto atau video pernikahanku keluar lebih baik kita mengakui nya saja di publik, lagi pula Richard juga sama orang tentara yang memiliki image yang baik, jadi sepertinya tidak akan terlalu berpengaruh dengan karirku," ucap Vivy.


"Kamu melanggar kontrak dong, kamu bisa bayar denda yang sangat banyak," ujar Reni.


"Tabungan ku lebih dari cukup untuk membayar semua denda itu, setelah mengakui semua itu pasti banyak yang memutuskan kerjasama padaku kedepannya. Itu menjadi kesempatan untukku, aku akan menghilang dari media selama 2 tahun lamanya, setelah masalah merendah baru lakukan kembali."


"Panggil suamimu sekarang, kita juga harus membicarakan masalah ini dengannya," ucap Reni.


Richard juga dalam perjalanan ke tempat Vivy berada, ia sangat terkejut dengan berita hari ini. Saat dirinya sampai kantor semua orang langsung menyerbunya, awalnya ia tidak tahu tentang berita ini, ia sangat bingung kenapa semua orang datang menyerbunya, ternyata setelah melihat berita yang ada kepergiannya dengan Vivy bocor di media.


Sesampainya di agensi Vivy, Richard dikelilingi media yang sudah menunggu Vivy dan dirinya sejak tadi. Hal itu membuat Richard kebingungan dan berusaha untuk keluar dari serbuan media itu.


Richard dibantu oleh satpam yang ada di sana sehingga ia berhasil keluar dari serbuan media. Richard juga langsung diantar ke ruangan tempat Vivy berada, wajahnya terlihat sangat panik sekali.


"Sayang kenapa bisa terjadi?" Richard be berjalan masuk ke ruangan itu.


"Aku juga tidak tahu, sepertinya bukan hanya dua orang yang kamu pergoki yang mengikuti kita, banyak orang lain yang mengikuti kita sampai sana. Beritanya keluar tepat sekali saat baru mulai syuting, orang itu sangat pintar mengeluarkan berita ini," ucap Vivy.


"Terus bagaimana? Apa kita akan muncul di publik?"


"Kita ke depannya bagaimana, tetapi Vivy sudah mempunyai rencana untuk mengakui pernikahan kalian, Vivy ingin pergi setelah mengakui ini semua selama 2 tahun lamanya. Setelah itu barulah dia akan kembali ke dunia hiburan, tetapi semua keputusan di tanganmu dan di tangan Vivy. Sekarang aku serahkan kepada kalian berdua bagaimana baiknya, menjalani ini semua kalian berdua," ucap Reni.


"Sayang kamu sangat tidak aku kenakan di publik? Kalau kamu siap aku akan memperkenalkan kamu, kamu tidak perlu khawatir profesi kamu akan melindungi kamu, mereka tidak akan berani mengulikmu lebih jauh lagi karena kamu seorang tentara."


"Aku terserah kamu saja, kalau kamu tidak masalah memperkenalkan aku di publik perkenalkan saja aku," ucap Richard.


"Jika kamu ingin pergi meninggalkan negara ini, sebelumnya aku mendapatkan tawaran pindah tugas di sebuah negara yang cukup jauh, tetapi selama 3 tahun. Kalau kamu mau kita bisa mengambil tawaran itu dan kita pergi dari sini, setelah tugas itu selesai kita kembali lagi ke sini dan kamu bisa kembali ke dunia hiburan."


Vivy menatap Reni dan Angel, mereka berdua lah yang paling berat untuk ia tinggalkan.


"Sudah pergi saja tidak apa-apa, ingin terbaik untuk kita semua. 3 film kamu akan tayang pada tahun terakhir, usahakan jika film itu akan tetap tayang pada walaupun hanya tanpa kamu di sini," ucap Reni.


"Aku akan sangat merindukan mu nona," ujar Angel.


"Aku juga, ini yang terbaik untuk kita," ucap Vivy.


Mereka berdua membuat rencana untuk memperkenalkan Richard sebagai suami lusa, Reni akan mengundang berbagai media untuk menyaksikan pengumuman ini. Walaupun pasti akan banyak pro dan kontra ini harus segera terjadi sebelum berita pernikahan mereka berdua tersebar, kalau sampai tersebar lebih dulu pihak kontra pada pernikahan Vivi akan lebih banyak.


Untuk kepindahan Vivi dan Richard akan diatur oleh Richard sendiri, sebisa mungkin selama satu minggu ini perpindahan mereka berdua bisa dapat berjalan dengan baik. Walaupun terasa berat untuk Vivi meninggalkan karirnya sekarang, inilah yang terbaik untuk mereka saat ini. Dirinya juga ingin hidup aman dan tentram bersama sang suami, selama beberapa tahun ia akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan kemungkinan besar menjadi ibu dari anak-anak Richard nanti.


Beruntung perumahan tempat tinggal Richard dengan Vivy sekarang belum diketahui oleh media ataupun publik lainnya, sehingga mereka dapat dengan aman beberapa hari di dalam rumah itu. Keduanya juga langsung pulang ke rumah, Vivy membatalkan semua syuting nya dan Richard meminta cuti beberapa hari.


"Sayang kamu tidak papa kan," tanya Vivy.


"Kenapa dengan ku sayang, aku sama sekali tidak papa. Seharusnya aku yang bertanya Kamu tidak apa-apa kan, kamu yang sangat dibebani oleh masalah ini bukan aku," jawab Richard.


"Aku sangat baik sekali, ya walaupun terasa berat untukku mau bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur. Semua yang terjadi karena pilihanku dan aku harus bertanggung jawab dengan pilihanku sendiri, aku sama sekali tidak menyesal menikah denganmu, memang sudah waktunya aku untuk istirahat di dunia hiburan beberapa waktu kedepan. 3 tahun depan aku akan menjadi ibu rumah tangga yang sangat baik dan kemungkinan aku akan menjadi Ibu bagi anak mu," ucap Vivy.


"Kamu bisa hamil," tanya Richard.


"Sangat bisa sekali, aku ingin mengandung anak kamu sayang," jawab Vivy.


Di balik semua masalah yang ada pasti ada hikmahnya, mereka berdua berusaha untuk tidak memikirkan masalah ini dan fokus apa yang akan mereka lakukan di 3 tahun mendatang. Vivy sendiri sudah mempunyai banyak rencana, ia sudah tidak sabar menjalani semua rencana itu dengan baik.


***


Beberapa hari pun berlalu, hari ini Richard akan muncul di pabrik sebagai suami seorang artis besar. Ia yakin kemunculannya ini akan menjadi kontroversi bagi banyak orang, pro dan kontra pasti akan terjadi, semua ini sudah menjadi resikonya dan harusnya terima dengan baik. Vivy aja dapat menerima ini semua dengan baik, akan kurang ngajar kalau dirinya tidak bisa menerimanya.


"Kamu sangat tampan, seperti selayaknya seorang artis. Begini mah kamu langsung diterima oleh publik."

__ADS_1


"Sayang jangan begitu dong, kamu tahu aku sangat deg-degan loh," ucap Richard.


"Hahaha bukan kamu saja, aku sudah biasa tampil di publik saja sama deg-degan apalagi kamu. Rasanya jantungku hampir copot, beberapa hari kebelakang semua berita hanya berisi tentang kita. Beruntung tidak ada yang tahu tentang identitasmu, mereka tahu kemungkinan tidak berani memunculkannya ke publik."


"Kalian sudah siap belum, sudah banyak media yang menunggu dan sepertinya sudah bisa untuk dimulai, ingat kalian harus mencoba semuanya dengan baik dan benar, jangan terlalu jujur berbohong sedikit tidak masalah," kata Reni.


"Siap.." Mereka berdua pun berjalan keluar dari ruangan itu.


Keduanya langsung menjadi pusat perhatian banyak orang, jepretan kamera di mana-mana sehingga memunculkan kesan silau bagi Richard dan Vivy. Keduanya sampai dituntun agar dapat sampai di tempat duduk mereka berdua.


Setelah keduanya duduk proses perkenalan Richard pun di mulai, semua orang terkejut saat tahu jika Richard ternyata suami dari Vivy. Apalagi keduanya mengaku menikah baru beberapa minggu yang lalu, berbagai macam respon membuat suasana sedikit ricuh, beruntung Richard dapat meminta mereka semua untuk tenang.


Setiap media mendapatkan satu pertanyaan khusus untuk mereka berdua, karena yang datang mereka hanya diperbolehkan menanyakan satu pertanyaan saja. Ada pertanyaan dijawab dengan baik oleh Richard dan Vivy, termasuk rencana hiatus Vivi di dunia hiburan. Hal itu juga membuat l banyak orang terkejut, karena Vivy salah satu artis besar di negara ini besar di Negeri ini, kepergian Vivy pasti membuat gonjang ganjing banyak orang.


Setelah proses Jumpa media selesai mereka berdua masuk kembali ke sebuah ruangan, keduanya terlihat begitu kelelahan. Apalagi banyak pertanyaan aneh yang seharusnya tidak di tanyakan.


"Ah niat ku untuk pindah jadi lebih besar, mereka bertanya tanpa memikirkan perasaan orang lain," ucap Vivy.


Richard tersenyum mendengar ucapan Vivy, ia pun merasakan hal yang sama.


"Sayang kamu benar benar yakin mau pindah," tanya Richard.


"Yakin sayang, nanti perumahan tempat kita tinggal akan bagaimana?"


"Yang jelas tidak ada kolam renang, bathup dan hal hal yang biasanya kamu dapatkan di rumah kita, kita akan menempati sebuah perumahan tentara," ucap Richard.


"Oke tidak masalah. Aku masih tetap suka kok, aku ingin jauh dari media," ujar Vivy.


"Oke, semuanya sudah aku urus. Kemungkinan besar Minggu depan kita sudah bisa berangkat," kata Richard.


"Sudah tenang kalian berdua," tanya Reni sambil berjalan mendekati keduanya.


Richard dan Vivy menganggukkan kepala mereka, keduanya sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Jangan membuka media sosial, sudah sibuk saja dengan urusan rumah tangga kalian, kalian akan sakit hati sendiri melihat apa yang netizen tulis," ucap Reni.


"Iya Reni, kamu akan sibuk membuat anak ya kan sayang," ujar Vivy.


"Sayang.." Richard memberikan tatapan tajam pada Vivy.


Vivy merasa bodoh amat dengan tatapan tajam Vivy, selama ini kehidupan ranjangnya biasa biasa saja. Karena sudah tidak takut akan hamil Vivy akan banyak melakukan adegan yang luar biasa.


Pukul 9 malam keduanya pulang ke rumah, ada beberapa hal yang harus mereka siapkan sebelum pindah Minggu depan. Keduanya memutuskan menyicilnya dari sekarang agar tidak keteter saat waktu pindah nanti.


"Sayang kamu membawa apa saja," tanya Vivy.


"Bawa pakaian yang banyak, fokuskan pakaian dengan beberapa musim, terus alat make up kamu, tas dan sepatu, jangan lupa untuk membawa obat obatan," jawab Richard.


"Banyak ya sayang," ucap Vivy.


"Iya memang banyak, kita pergi bukan satu dua Minggu, tapi 3 tahun di sana aku tidak akan tugas keluar lagi. Ya aku hanya bertugas di negara itu," kata Richard.


"Hahaha syukurlah sayang, kalau kamu pindah pindah tugas aku takut sendiri di rumah," ucap Vivy.


Tiba tiba Richard mempunyai ide sedikit jahil pada Vivy, ia ingin bercanda pada Vivy agar suasa tidak begitu tegang.


"Sayang sebenarnya ada rahasia yang belum aku beritahu pada kamu," ucap Richard.


"Apa itu," tanya Vivy.


"Kamu jangan marah ya " ucap Richard.


"Kalau kamu tidak macam macam aku tidak akan marah," kata Vivy.


Richard memegang tangan Vivy, ia menatap mata Vivy sebelum mengatakan rahasia yang ia sembunyikan.


"Sebenarnya aku selingkuh dengan Tina. Kami sudah menjalin hubungan selama 1 bulan," ucap Richard.


Vivy menganggukkan kepala nya, ia tahu Richard sedang mempermainkan nya. Mana mungkin Richard selingkuh dengan pembantu nya. Interaksi mereka saja sangat jarang sekali.


"Sayang aku sangat lega kamu mengatakan nya lebih dulu, sebenarnya aku juga selingkuh dengan Mario, kami selingkuh beberapa Minggu terakhir, sebenarnya aku tidak mau tetapi dia memaksa ku. Dan ternyata enak juga sayang, punya dia lebih besar dari punya kamu, tenaga dia jauh lebih kuat dari kamu."


Mata Richard terbelalak mendengar apa yang Vivy katakan, wajah Vivy terlihat begitu serius mengatakan nya. Dengan mudah nya Richard percaya dengan apa yang Vivy katakan, apalagi Vivy seorang artis yang dapat akting dengan sangat baik.


"Lah kenapa kamu marah, aku saja tidak marah kamu selingkuh. Kenapa kamu marah aku selingkuh," ucap Vivy.


"Sayang aku bercanda, jangan di anggap serius. Oh jadi kamu begitu ya, aku tidak menyangka dengan mudah nya kamu selingkuh dengan Mario," kata Richard.


"Lah kamu bercanda? Aku pikir kamu serius? Kalau begitu jadinya aku sendiri dong yang selingkuh," ucap Vivy.


"Sayang!! Kamu bercanda kan," tanya Richard dengan wajah yang masih serius.


"Apa ada wajah bercanda di wajah ku? Perasaan aku tidak ada bercanda sayang, aku serius." Vivy terus memasang wajah serius nya. Ia sangat jago sekali dalam akting.


Richard meletakkan barang barang nya dengan kasar, rasanya ia ingin memukul Vivy tetapi tidak mungkin juga.


"Kamu marah," tanya Vivy.


"Kamu masih tanya," jawab Richard.


"Aku bercanda sayang, kamu kok serius begitu sih." Vivy menaikan dua alis nya.


Richard membuang nafasnya dengan perlahan, awalnya ia yang ingin menipu Vivy tetapi Vivy yang malah menipu dirinya, rasanya begitu kesal sekali.


"Sayang." Richard menarik Vivy dan melempar nya ke atas tempat tidur.


"Hahaha kamu kenapa sayang. Kamu kesal? Kamu duluan yang mau membuat ku kesal." Vivy tertawa dengan sangat puas, walaupun Richard membanting nya di atas tempat tidur.


Richard berjalan mendekati Vivy, ia menurunkan resleting celana nya sambil memberikan tatapan yang Vivy dapat mengerti.


Sambil tersenyum Vivy mendekati Richard, ia sudah tau apa yang Richard inginkan. Walaupun belum mahir ia sangat senang melakukan apa yang membuat Richard bahagia.


"Bagus ini membuat ku jadi tidak marah lagi pada kamu," ucap Richard.


"Sayang tidak kuat."


"Hahaha kuat sayang, jangan khawatir tidak akan ada masala." Richard mengedipkan satu mata nya.


****


Keesokan harinya, mereka berdua sedang berenang bersama. Keduanya ingin puas puas melakukan hal yang mungkin tidak bisa mereka lakukan setelah pindah nanti. Sebenarnya ada beberapa kebingungan yang Richard alami sebelum pindah, salah satunya tentang rumah ini. Ia sama bingung siapa ya akan menempati rumah ini, apa rumah ini apa mereka jual padahal mereka berdua baru saja membelinya beberapa bulan lalu.


"Sayang rumah ini bagaimana," tanya Richard.


"Rumah ini di rawat keluarga ku sayang, kamu jangan khawatir." Vivy menaikan satu alisnya.


"Sayang kamu serius deh… Sayang tau kalau rumah ini di kosongkan, atau kita jual saja deh," ucap Richard.


Vivy memegang perut Richard dan memainkan nya. "Sayang kamu jangan khawatir, rumah kita aman kok, tidak akan di jual dan akan dirawat keluarga ku," ujar Vivy.


Richard membalik Vivy dan memeluknya dari belakang, ia melepaskan penghalang diantara mereka berdua. Vivy cukup panik karena di rumah ini masih ada 3 pembantu mereka, kalau sampai di lihat mereka sendiri yang malu.


"Jangan di kolam renang sayang, kamu tidak malu jika ada yang melihat kita," ucap Vivy.


"Kata kamu ingin memakai berbagai macam gaya. Sekarang di kolam renang kamu tidak berani," kata Richard.


"Bukan tidak berani sayang, nanti kalau ada yang melihat bagaimana, aku tidak aku ada yang melihat kita sedang ehem. Ini burung sudah berdiri lagi," ucap Vivy.


"Sudah lah." Richard memilih mengalah, ia juga sebenarnya takut di lihat orang lain.


"Tadi Reni menghubungi ku, pengumuman pernikahan kita lebih banyak kontra dari pada pro. Mereka begitu kecewa pada ku, malahan ada beberapa media yang menduga aku hamil duluan. Padahal kita saja sah dulu baru ehem," ucap Vivy dengan wajah yang sedih.


"Sayang jangan sedih, jangan masukan ke hati tentang berita yang ada. Yang terpenting apa yang diberikan tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya, tau gitu sebelum aku menikahi kamu aku langsung gas pol buat kamu hamil. Enak sekali membuat berita yang tidak tidak, dipikir mempertahankan hawa nafsu itu mudah," kata Richard dengan wajah yang kesal.


"Hahaha kenapa jadi kamu yang ngamuk sayang, sabar sayang kita tidak bisa membuat semua orang suka pada kita," ucap Vivy.


"Nah itu kamu tau sayang, jangan pernah peduli apa yang mereka katakan kalau itu tidak benar," ujar Richard.


"Kita bisa keluar tidak ya," tanya Vivy.


"Tidak lah, yang ada kita malah di buru media. Lebih baik kita diam saja di rumah sampai waktu nya kita pindah rumah," jawab Richard.

__ADS_1


"Hmm ya bosan dong aku sayang, kenapa ada masalah seperti ini sih," ucap Vivy.


"Sudah sayangku jangan mengeluh, aku berjanji tidak akan membuat kamu bosan." Richard mengusap wajah Vivy dengan lembut.


Setelah selesai berenang keduanya sarapan di pinggir kolam renang, pembantu mereka menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Mungkin ini Minggu terakhir mereka mempunyai pembantu, setelah pindah nanti keduanya akan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.


"Sayang."


"Iya ada apa? Enak makanan nya," tanya Vivy.


"Sebenarnya sejak lama aku kurang cocok dengan makanannya dia masak, itu sebabnya aku lebih masak sendiri daripada memakan masakan dia."


"Aku sih sudah tidak heran, aku sih makanan pas saja karena aku tidak terlalu masalah dengan makanan yang tidak begitu memiliki rasa. Kamu makananan yang kamu masakan memiliki rasa yang kuat, jadi saat kamu mencoba makanan yang tidak begitu kuat rasanya kamu merasakan tidak cocok," kata Vivy sambil mengambil makanan Richard, ia bisa melakukan hal seperti ini. Apalagi Richard jarang menghabiskan makanan nya sendiri.


"Kenapa ya rasanya seperti ada yang kurang, padahal seharusnya bisa lebih enak. Aku malas mengatakannya karena takut dia sakit hati, walaupun aku jarang menghabiskan makanan yang dia masak," kata Richard.


"Hahaha itu sudah membuatnya sakit hati bukan? Dia juga sudah bertanya padaku kenapa kamu jarang menghabiskan makanan yang dia masak, aku jawab saja kamu sangat pandai dalam memasak, sepertinya kamu kurang cocok dengan makanan yang dia masak."


"Terus bagaimana responnya," tanya Richard.


"Tidak bagaimana bagaimana, dia mengerti kok dan memang kita tidak bisa memaksakan selera orang lain," jawab Vivy.


"Setelah pindah nanti kamu harus belajar masak, kamu harus belajar mencuci baju, kamu harus belajar membersihkan rumah dan kamu harus belajar segala hal tentang ibu rumah tangga," ucap Richard.


"Iya aku mau belajar tetapi aku tidak janji melakukan semuanya, kumohon kamu ya yang melakukan semuanya," kata Vivy sambil memasang wajah imut, untuk melakukan itu ia tidak akan sanggup.


Richard membuang nafas dengan perlahan, ia juga tidak akan memaksa Vivy untuk melakukan pekerjaan itu. "Kalau kamu mau saja, kalau tidak ya aku sendiri yang melakukannya kamu tenang saja," ucap Richard.


Keduanya telah menyelesaikan kegiatan maka mereka, mereka berdua meletakkan piring kotor di tempatnya dan langsung berjalan ke arah kamar. Keduanya sudah cukup lama berarti kolam renang, jika sampai siang nanti yang ada keduanya akan masuk angin.


"Bagaimana dengan Angel? Jadi bekerja dengan siapa kalau kamu pensiun?" Tiba-tiba dicat teringat akan Angel, menurutnya Angel sudah sangat cocok bekerja dengan Vivy.


"Dia kan mempunyai agensi, di dalam agensi itu juga banyak artis lainnya selain aku, jadi dia akan menangani artis lainnya. Hal seperti ini bukan hal yang aneh, sudah sangat biasa terjadi di dunia entertainment," jawab Vivy.


"Kenapa kamu jadi memikirkan dia, kamu selingkuh dengan dia." Vivy berjalan mendekati Richard sambil menatapnya dengan tajam. Memiliki istri seorang artis membuat Richard sulit membedakan mana yang serius mana pula yang bercanda, wajah Vivy sangat sulit untuk di tebak.


"Ini kamu serius atau bercanda? Kalau kamu bercanda aku bisa bercanda juga, tapi kalau kamu serius aku tidak berani." Richard angkat tangan terlebih dahulu sebelum ia jadi bulan-bulanan sang istri.


"Kamu lihat aku, apa ada di wajahku wajah bercanda? Kalau ada silahkan bercanda kalau tidak ada kamu mau apa? Sekali lagi aku tanya kamu suka dengan dia atau kamu pernah selingkuh dengan dia?" Vivy mempertajam tetapannya, hal itu membuat Richard semakin takut.


"Aku berani bersumpah kalau aku tidak ada selingkuh dengan wanita manapun, aku fokus bekerja dan fokus mengurus kamu. Jadi jangan tuduh aku selingkuh dengan siapapun, aku sudah lelah dengan tuduhan kamu aku bisa melakukan apa yang kamu tuduhkan."


Vivy menganggukkan kepalanya. "Oh jadi begitu, ini ternyata ya aku pikir selama ini tidak berani." Bertepuk tangan sambil tersenyum dengan senyuman yang menakutkan.


Hal itu semakin membuat Richard sangat takut, ia sudah tidak sanggup lagi kalau Vivy seperti ini. "Sayang aku tidak pernah macam macam dengan kamu, aku cinta mati pada kamu." Richard langsung memeluk Vivy dengan erat.


Vivy semakin senang melihat Richard begitu ketakutan, Kalau sudah seperti ini Richard tidak akan mungkin berani macam-macam padanya. Sekarang ia bisa bernafas dengan lega, Richard miliknya dan hanya untuknya, ada wanita lain yang boleh mengambil Richard darinya.


"Oke kamu serius kan, awas aja kalau kamu berani macam-macam ya. Aku akan menghabisimu, ingat kata-kataku sayang." Vivy membalas pelukan Richard, tangannya masuk ke dalam celana Richard untuk mengambil sosis besar.


"Mau," tanya Vivy.


"Mau sayang, aku tadi kan sudah ingin," jawab Richard.


***


Sore hari nya, Richard diminta untuk ke kantor nya bersama dengan Vivy, belum pindah mereka berdua harus mengurus beberapa hal di kantor tempat Richard bekerja. Karena Vivy harus ikut Richard ngajak Vivi sekaligus mengusir kebosanan di rumah, Vivy begitu senang bisa keluar kembali dari rumah, ya walaupun hanya menemani sang suamiku kantornya.


"Kamu terlihat sangat senang sayang," ucap Richard.


"Aku sangat bosan di rumah, sekarang aku bisa keluar walaupun hanya menemanimu ke kantor. Kuharap di sana sedikit bebas, kan di sana tempat penting tidak mungkin ada media yang mengikuti kita."


"Hahaha aku dapat merasakan kesenangan kamu itu. Jujur saja aku juga bosan di rumah terus, beruntung komandanku memanggil kita. Kalau tidak sampai hari Minggu besok kita akan tetap di rumah, tanpa bisa keluar seperti biasanya," ucap Richard.


"Sudah ya sayang aku sudah tidak sabar untuk keluar," ujar Vivy.


"Kamu sudah tidak sabar untuk keluar? Sudah ayolah." Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah, banyak naik mobil yang sebelumnya jarang mereka gunakan agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang yang mengenal mereka berdua. Keduanya benar-benar ingin menghindari orang-orang seperti itu, Mereka ingin hidup tenang seperti selayaknya orang pada umumnya.


Perjalanan dari rumah mereka ke tempat kerja Richard hanya berjarak 30 menit, sesampainya di tempat itu mereka berdua langsung masuk ke dalam. Richard mengajak Vivy ke sebuah ruangan tempat komandannya berada.


"Kalian sudah datang ya, sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua. Richard tidak memberitahuku jika dia menikah dengan kamu, kamu sangat hebat tidak bisa menyebabkan artis besar seperti Vivy."


"Terima kasih atas ucapan selamatnya komandan, kalau saya memberitahu anda dari awal anda pasti hangat heboh," ucap Richard.


"Hahaha kok bisa saya Richard, oke mengenai perpindahan tugas Richard di luar negeri sudah di-acc dengan sangat baik, semua berkas dan keperluan kalian sudah berhasil diterbitkan, jadi kalian sudah bisa berangkat dimulai dari Lusa sampai seterusnya, terserah kalian mau berangkat kapan yang jelas tidak boleh lebih satu minggu dari sekarang."


"Baik komandan, kami akan langsung berangkat lusa, sebelum mulai bekerja aku bisa mengajak istriku jalan-jalan terlebih dahulu," ucap Richard.


"Silakan dan selamat bertugas." Sambil memberikan sebuah map komandan itu bersalaman pada Richard dan Vivy.


Setelah mengambil map dari tangan komandan mereka berdua pun keluar dari ruangan itu, Richard mengajak bisa berkeliling tempat ini tidak terlalu bosan. Terlalu cepat juga bagi mereka untuk pulang ke rumah, mereka juga belum ada satu jam keluar dari dalam rumah.


"Wah mereka semua sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, walaupun mereka juga melirikku tapi mereka tetap fokus dengan pekerjaan yang ada," ucap Vivy.


"Itu sudah aku menjadi kewajiban sayang, tidak bisa asal-asalan apalagi sampai datang mendekatimu dan meminta tanda tangan padamu. Mereka sangat menghargai privasi seseorang, dan kebanyakan dari orang di sini sudah menikah dengan orang orang penting juga.


Kurang lebih satu setengah jam mereka berkeliling di tempat itu, keduanya sangat bahagia bisa berkeliling di tempat itu walaupun hanya melihat-lihat saja, itu semua sudah dapat mengusir kebosanan yang ada di dalam hati mereka.


"Sudah puas sayang," tanya Richard.


"Sudah sangat puas sayang, terimakasih sudah membawa ku mengelilingi tempat ini," jawab Vivy.


"Hahaha iya sayang, ya sudah kita pulang sekarang, kita harus segera bersiap siap karena lusa kita berangkat," kata Richard.


"Malam ini kita ke rumah ayah ku, kita harus berpamitan dengan mereka dan besok kita ke rumah kedua orang tua mu," ucap Vivy.


"Bagaimana kalau besok saja kita buat acara di rumah. Nanti keluarga kita yang ke rumah kita sekalian perpisahan," kata Richard.


"Terus yang masak siapa? Kamu masak banyak," tanya Vivy.


"Aku yang akan memasaknya, nanti sebelum pulang aku belanja dulu. Untuk penyamaran aku jago nya," jawab Richard.


"Ya sudah sayang, ayo kita pulang," ucap Vivy.


Richard memilih belanja di minimarket sebelum komplek perumahan nya, di sana akan jauh lebih aman karena tidak ada yang tau mereka tinggal di tempat itu. Richard memakai Hoodie, topi serta maker agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain.


"Aku keluar sayang." Richard berjalan keluar dari dalam mobil.


Di dalam minimarket Richard mengambil keranjang dorong agar muat banyak bahan bahan makanan. Ia mengambil banyak sekali bahan makanan yang berguna untuk nya, sebisa mungkin semua bahan bahan ini habis sekali pakai.


Richard bergerak dengan sangat cepat agar Vivy tidak begitu lama menunggu nya. Ia berjalan ke kasir dengan membawa berbagai macam belanjaan yang ada.


"Mas suami nya Vivy ya?"


"Iya ada masalah," tanya Richard, ia haran masih saja ada yang kenal dirinya. Padahal ia sudah memakai masker, sebelum ada masalah ini boro boro yang mengenal nya, orang tahu dirinya hidup saja belum tentu ada.


"Tiara ada, ternyata benar gagah ya. Aku salah satu fans nya Vivy, aku sangat mendukung hubungan mas dengan Vivy, sampai kan salam ku pada nya."


"Kamu setuju hubungan ku dengan dia," tanya Richard.


"Iya, aku mendukungnya. Katakan pada nya sebanyak apapun orang yang menghujat nya tetap ada orang yang menyayangi dan mendukungnya."


"Terimakasih, aku akan mengatakan nya langsung," ucap Richard.


Setelah selesai belanja Richard langsung kembali masuk ke dalam mobil, ia akan menyampaikan semuanya pada Vivy setelah sampai rumah nanti.


"Sayang nanti aku ingin mengatakan sesuatu yang penting," ucap Richard.


"Sekarang saja," kata Vivy.


"Tanggung hampir sampai rumah," ucap Richard.


Sesampainya di rumah mereka membawa semua belanjaan ke dapur, Richard langsung menyusun semuanya di dalam kulkas agar tetap segar.


"Sayang kamu tau tidak," ucap Richard.


"Apa? Kamu jangan membuat ku penasaran," kata Vivy.


"Tadi ada penggemar kamu, aku bertemu dengan penggemar setia kamu," ucap Ric.


"Terus?"

__ADS_1


"Dia berkata akan tetap mendukung semua keputusan kamu. Menikah bukan hal yang buruk, dia percaya kamu orang yang baik dan dia percaya apa yang kamu lakukan ini semua demi kebaikan kamu."


Vivy tersenyum mendengar ucapan Richard, ia sangat senang masih mempunyai penggemar yang setia ke padanya. Vivy jadi merasa lebih bersemangat melalui inti semua, ternyata di balik semua komentar buruk pada nya masih ada komentar baru untuk nya.


__ADS_2