
Vivy langsung memeluk Ken dengan erat, walaupun Ken belum dapat mengingat apapun dirinya yakin memang ialah seseorang itu. Ingatannya dan wajah nya memang bisa berubah tetapi perasaannya hatinya tidak akan pernah berubah. Saat Vivy memeluk dirinya, Ken merasakan perasaan yang sangat luar biasa, perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Ken mengerti jika perasaan yang ia rasakan sekarang adalah perasaan cinta dan kasih sayang, mengapa dirinya sebelumnya tidak bisa merasakan perasaan ini karena orang yang ia cintai dan kasihi berbeda jauh dari tempat ia berada sekarang.
"Kamu bukan Ken, kamu Richard suamiku. Aku sangat senang bertemu denganmu sayang, kamu benar-benar Richard.. Hiks hiks hiks.." Vivy tidak bisa menahan tangisnya, ia terus memeluk suaminya sambil menangis dengan cukup kuat.
Walaupun ia juga merasakan apa yang istrinya rasakan sekarang, Ken hampir tertawa mendengar suara tangisan Vivy yang seperti anak kecil, ia berusaha menahan tawa yang agar momen tidak rusak oleh nya.
"Kenapa kamu malah seperti ini, kamu tidak senang ya berteman dengan aku," ucap Vivy.
"Bukan nya aku tidak sampai bertemu denganmu kembali, aku hanya menahan tawa karena kamu menangis seperti anak kecil. Lagi pula aku belum mengingat apapun, aku senang bertemu dengan keluargaku, tapi aku bingung bagaimana cara mengekspresikan kesenanganku ini," kata Ken.
"Mulai sekarang nama kamu Richard bukan Ken lagi, tapi untuk di depan keluarga kamu tidak masalah mereka Mama ke kamu Ken, kamu harus cari tahu kenapa mereka menyembunyikan ini semua darimu. Kalau misalnya memang tidak ada sebabnya, kamu bisa mengatakan semuanya pada mereka dan pulang bersama denganku. Tetapi sebelum itu kita harus ke rumah sakit sekarang, kamu harus melakukan tes DNA antara kamu dengan anak kita, bukannya aku tidak percaya kalau kamu suamiku, tetapi karena kita memerlukan bukti yang valid agar keluarga kamu percaya dan aku bisa membawa kamu pulang," ucap Vivy.
Richard menganggukan kepalanya, memang apa yang dikatakan istrinya ini benar. Tes DNA memang sangat diperlukan agar semuanya clear dan tidak ada lagi yang mengganjal, dengan bukti itu juga ya bisa ikut kembali ke tempat ia berasal bersama dengan keluarga kecilnya.
Setelah mereka bersiap-siap mereka bertiga langsung menuju rumah sakit terdekat, beruntungnya Ken sudah termasuk orang sini jadi semua dapat diproses dengan sangat cepat. Ya Walaupun memang harus menunggu lagi, dokter yang memberikan perkiraan jika hasil tes DNA ini akan keluar 1 sampai 2 minggu lamanya, pas sekali waktu liburan Vivy sekitar satu minggu lebih, Vivy berharap sebelum waktu liburannya berakhir hasil itu sudah keluar.
"Sebenarnya aku bisa meminta tolong pada pihak militer kalau mereka masih di sana, mereka bisa menggunakan sidik jarimu sebagai alat identifikasimu," ucap Vivy.
"Terserah kamu saja sayang, aku ikut dengan kamu bagaimana baiknya. Kalau memang harus ke militer aku pun bersedia untuk pergi ke sana," kata Richard.
__ADS_1
Vivy merasa bodoh kenapa ia tidak langsung ke sana saja, tanpa harus menunggu lama di sana juga Richard bisa langsung teridentifikasi, pihak militer juga bisa langsung membantunya untuk membawa Richard kembali ke rumah dengan aman.
Segera Vivy menghubungi salah satu orang yang mengajaknya ke tempat penghormatan peringatan 1 tahun kemarin, orang itu juga dari pihak militer yang dapat membantu mereka berdua.
Orang itu terkejut mendengar kabar dari Vivy, kebetulan pula memang mereka masih berada di tempat penghormatan peringatan 1 tahun kemarin, Vivy dan Richard diminta untuk masuk ke tempat itu agar bisa diidentifikasi dengan cepat.
Karena Richard tidak mempunyai visa dan paspor, mereka akan dijemput langsung oleh mereka di salah satu pangkalan militer yang terdapat di negara ini. Keduanya langsung diarahkan ke tempat itu, agar nanti saat penjemputan datang mereka bisa langsung terbang.
"Wah ternyata aku sangat penting ya," ucap Richard.
"Pangkat kamu itu juga termasuk tinggi, lagi pulang kalau kamu selamat yang lainnya juga bisa saja selamat. Mereka pasti akan menyelidiki semua ini sampai tuntas," kata Vivy.
"Kita mau terbang, kamu tidak takut kan kalau kita terbang."
"Tidak dong, aku dengan mama sudah terbang," ucap Chris.
"Anak ini sangat menggemaskan ya, apa saat aku hidup aku menghabiskan banyak waktu dengan dia," tanya Richard yang membuat Vivy tertawa.
"Sayang kamu tidak pernah mati, mungkin lebih tepatnya saat kamu sedang bersama kami apakah kamu banyak menghabiskan waktu dengan dia, jawabannya tidak karena saat usianya baru 2 minggu kita sudah berpisah, dia sangat menunggumu pulang sampai selalu bertanya kapan kamu pulang, itu sebabnya sekarang lihat sangat lengket dengan kamu," jelas Vivy.
__ADS_1
"Aku kehilangan momen-momen penting, aku berjanji akan membangun momen penting itu setelah kita kembali ke rumah. Ya walaupun sudah terlambat aku yakin masih bisa aku lakukan," ucap Richard.
"Tidak ada kata terlambat, semuanya masih bisa dilakukan selagi kamu mau," kata Vivy.
Richard memeluk anak-anak dengan erat, rasanya sangat disayangkan sekali yang melewatkan banyak momen penting bersama anak ini. Mengapa hal itu terjadi pada dirinya, kalau saja hal buruk itu tidak terjadi padanya sudah pasti keluarga kecilnya akan sangat bahagia.
Setelah kurang lebih 1 jam lamanya akhirnya jemputan mereka sampai, mereka langsung terbang menggunakan helikopter, saat naik helikopter itu kepala Richard terasa sangat pusing, tanpa diduga ingatan-ingatan kecil mulai muncul kembali di kepalanya.
"Ahh sakit," teriak Richard.
Teriak Richard membuat semua orang panik, mereka meminta agar Richard tidak memaksakan diri untuk mengingatnya. Tanpa mengingat hal itu pun mereka sudah sudah yakin kalau pria ini memang Richard.
Setelah Richard cukup tenang mereka memberikan air minum, tidak ada yang bertanya pada Richard yang telah terjadi, takutnya Richard kembali merasakan pusing di kepalanya.
"Sudah lebih baik sayang," tanya Vivy.
"Aku sedikit mengingatnya, tapi aku belum bisa melihat apa yang terjadi pada helikopter kami," jawab Richard.
"Sudah kamu jangan mengingatnya, nanti kamu semakin pusing," ucap Vivy.
__ADS_1
"Ayah." Chris memeluk ayahnya dengan erat, mendengar teriakan ayahnya tadi membuat dirinya takut.