Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Beradaptasi


__ADS_3

Keesokan harinya, dari pukul 02.00 siang Richard sudah sibuk di dapur untuk membuat hidangan yang akan disajikan pada keluarga besar mereka. Yang mengerjakan semua ini dibantu oleh Tina pembantunya, kalau ia mengerjakan sendiri dirinya tidak akan kuat karena semua hidangan di mata dengan porsi yang sangat besar.


Untuk makanan besar memang Richard memasaknya sendiri, untuk makanan kecil dan hidangan pencuci mulut semuanya dipesan dari luar, Richard tidak pandai membuat makanan seperti itu. Ia hanya spesialis membuat makanan besar, tanpa bisa membuat kue atau semacamnya.


Vivy dan dua pembantu lainnya bertugas menyiapkan tempat acara akan berlangsung, mereka juga dibantu oleh beberapa orang yang sudah disewa oleh Vivy untuk mendekorasi agar terlihat bagus.


Nanti malam bukan hanya keluarga besar dari Vivy yang akan datang, keluarga besar Richard juga mereka undang agar bisa ikut berkumpul bersama. Tak lupa asisten kesayangan dan manajer kesayangan juga turut mereka undang agar acara semakin ramai.


Setelah selesai mendekorasi tempat acara akan berlangsung Vivy berjalan masuk ke dalam dapur, cukup cemburu melihat Richard yang bekerja sama dengan Tina menyiapkan bahan bahan masakan, dirinya yang membantu tetapi tidak tahu apa yang harus disiapkan, daripada membuat masalah Vivy hanya bisa menonton saja.


"Sudah siap mendekorasi tempat di sana sayang? Apa tukang dekorasinya sudah datang?"


"Tukangnya sudah datang jadi aku pergi saja dari, aku tidak mau ada orang lain yang terlalu dekat dengan ku. Lebih baik aku melihat kamu masak di sini, kamu terlihat sangat luar biasa kalau sedang di dalam dapur. Begitu sangat seksi." Vivy mengedipkan matanya sampai sedikit menggigit bibirnya.


Richard tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Vivy, ia paham istrinya sedang cemburu karena ia terlalu dekat dengan Tina. Tetapi mau bagaimana lagi kalau tidak membantunya jadinya akan kateter, dan Vivy sendiri juga tidak bisa membantunya.


"Kamu mau bantu aku tidak? Jangan hanya menonton saja." Richard mengedipkan satu matanya.


"Hahaha kamu seperti tidak tahu aku saja, kan kamu tahu kalau aku tidak bisa dalam hal seperti itu, aku yang mencicipi saja lah, kalau rasanya kurang enak aku akan protes padamu. Jangan sampai keluarga aku kamu kasih makan yang tidak enak," ucap Vivy.


"Kamu tenang saja lah, di sana sudah ada beberapa makanan sudah matang silahkan kamu coba. Kalau ada yang kurang enak langsung katakan pada ku ya, aku akan mengoreksinya lagi," ujar Richard.


Tanpa perlu mencoba nya Vivy sangat yakin makanan yang Richard masak rasanya akan begitu enak.


Malam hari ya, pukul 07.00 malam satu persatu datang ke rumah Richard dan Vivy, mereka datang sesuai dengan undangan yang tuan rumah berikan. Keluarga besar Richard sampai dengan keluarga besar Vivy tidak ada yang tidak datang, semua datang sebelum kepergian Vivy dan Richard keesokan harinya.


Vivy dan Richard sendiri masih berada dalam kamar, mereka berdua sedang bersiap-siap sebelum turun ke bawah menyambut para tamu yang datang.


"Sayang apa aku hamil ya. Kenapa perut ku terasa berbeda," ucap Vivy.


"Sayang bagaimana mungkin kamu bisa hamil kita baru Minggu lalu melakukan tanpa pengaman, ya setidaknya 3 sampai satu bulan," kata Richard.


"Aku mau hamil sekarang sayang," ucap Vivy.


Richard mengerutkan dahinya, ada saja kelakuan istri nya yang aneh, mana mungkin bisa hamil datang secara suka suka.


"Sayang," ucap Vivy.


"Sudah jangan aneh aneh, ayo turun," ucap Richard.


Vivy memajukan bibir nya sang suami lagi tidak bisa diajak bercanda.


Mereka berdua berjalan turun dari lantai atas, keduanya bergandengan tangan sambil tersenyum pada para tamu yang datang. Walaupun hanya keluarga dan kerabat dekat senyuman manis wajib diberikan agar tidak ada yang khawatir pada mereka berdua setelah masalah yang ada.


Richard terlebih dahulu ke keluarganya sudah jauh-jauh datang ke rumah ini, memeluk mamanya dengan sangat erat. Mungkin kalau tidak karena sama dia tidak bisa sampai sejauh ini, sang mamah adalah salah satu hal yang tidak pernah Richard lupakan.


Setelah dari keluarganya Richard langsung ke keluarga dari sang istri, dirinya juga dekat dengan keluarga sang istri yang sangat welcome kepadanya. Mereka inilah yang akan menjaga rumah ini selama dirinya dan Vivy pergi selama beberapa tahun.


"Jadi kalian pergi besok? Kenapa begitu cepat sih?"


"Kalau tidak cepat kami sangat bosan di rumah yah, tidak bisa keluar yang tidak bebas melakukan aktivitas seperti biasanya, kalau kami cepat pindah kan kami mas lebih aman," kata Vivy.


"Richard bagaimana dengan proses perpindahan kalian? Semuanya berjalan dengan lancar kan dan diurus oleh negara kan?"


"Iya yah semuanya berjalan dengan sangat lancar, kalau tidak lancar Mana mungkin kamu bisa pintar begitu cepat," ucap Richard.


"Sayang itu Reni sudah datang, dia membawa anak dan suaminya ayo sambut mereka," kata Vivy.


"Ayah dan lain-lainnya bisa menikmati makanan yang sudah aku masak sendiri, semoga kalian suka dengan makanan ini," ucap Richard.


"Jadi yang mau masak semua ini kamu? Wah kamu sangat hebat pantas saja Vivy sampai tergila gila pada kamu."


"Hehehe iya mah." Richard tersenyum malu.


Mereka berdua berjalan mendekati Reni dan keluarganya, Richard langsung menggendong anak kami yang sangat menggemaskan di matanya.


"Apa kabar kamu? Kamu semakin menggemaskan saja di mata paman," ucap Richard.


"Paman mau pergi ke mana? Aku tidak bisa bertemu dengan paman lagi dong?"


"Paman hanya sebentar kok, kita akan bertemu di lain waktu," ucap Richard.


"Membuat acara kenapa tidak bilang padaku dari awal, aku bisa mengirim orang untuk membantu mempersiapkan acara ini."


"Kami sudah terlalu banyak merepotkanmu Reni, kami juga menyewa orang kok untuk membuat dekorasi acara ini, untuk makanan berat dimasak langsung oleh Richard sedangkan kue-kue dan makanan ringan lainnya kami memesan dari luar," kata Vivy.


"Wah kamu Richard sangat pintar dalam memasak," ucap Reni.


Acara malam ini berlangsung dengan sangat lancar, walaupun ada beberapa momen terharu yang terjadi karena malam ini malam terakhir mereka berada di rumah ini. Meskipun begitu Richard dengan Vivy tetap bahagia, mereka bersyukur masih bisa mengadakan acara ini walau serba mendadak.

__ADS_1


Acara selesai pada pukul 12.00 malam, bersatu kamu pulang meninggalkan rumah ini kecuali keluarga Richard yang harus menginap karena rumah mereka yang cukup jauh dari kota. Richard malah berharap salah satu anggota keluarganya bisa menempati rumah ini, karena dari keluarga Vivy bisa menempati rumah ini, mereka hanya bisa memantau dan meminta orang membersihkan rumah ini setiap minggunya. Richard sudah bener-bener sayang terhadap rumah ini, ya sangat berharap rumah tetap baik saat ia tinggalkan pergi.


"Ah malam ini malam terakhir kita di rumah ini," ucap Richard.


"Kenapa sayang kok kamu terlihat sangat sedih," tanya Vivy.


"Bagaimana aku tidak sedih, aku sudah terlanjur mencintai rumah ini, rumah ini tempat nyaman dalam hidupku selain kamu. Semoga semuanya akan tetap baik-baik saja, aku berharap setelah 3 tahun lamanya kita bisa kembali ke tempat ini disediakan," jawab Richard.


Vivy memeluk Richard sambil mengusap wajah Richard. "Jangan khawatir sayang, semuanya kan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, aku dapat menjamin itu semua."


Richard tersenyum sambil mencubit wajah Vivy, sekarang malah dirinya yang seperti banyak keraguan. Padahal seharusnya sebagai suami ialah yang meyakinkan Vivy kalau semuanya akan baik-baik saja, tapi sekarang Vivy yang meyakinkan dirinya ini sudah hal yang aneh untuknya.


"Maafkan aku ya, seharusnya aku memiliki keyakinan yang lebih besar dari kamu, janji tidak akan aku seperti ini lagi."


Malam ini mereka berdua tidur dengan sangat lelap, keduanya memilih langsung tidur karena besok mereka berangkat pagi dari rumah ini. Takutnya kalau tidak langsung tidur mereka akan terlambat bangun, apalagi Vivy dan Richard memiliki kebiasaan bangun sedikit siang kalau sedang tidak bekerja.


Pagi harinya, Richard dengan adiknya memasukkan beberapa koper ke dalam mobil, mereka membawa sekitar 7 koper besar yang berisikan berbagai macam hal, seperti pakaian, dokumen dan lain sebagainya. Walaupun sudah membawa 7 koper besar semua itu tidak sampai seperempat dari barang-barang mereka yang ada di rumah ini, Richard meminimalisir mungkin barang yang mereka bawa.


"Sudah masuk semua, sekarang tinggal kami yang masuk ke dalam mobil," ucap Richard.


"Abang tidak kembali ke sini lagi selama 3 tahun? Bukan itu sangat lama, aku lihat berita di internet terlalu banyak yang menghujat Vivy, hanya media saja yang membesar-besarkan masalah."


"Tidak papa, Vivy membutuhkan tempat untuk memulihkan mental nya setelah semua masalah yang terjadi. Kamu bayangkan saja, hampir satu negeri mencaci maki dan mengatakan hal yang tidak kita kepadanya karena dia mengambil pilihann hidup nya sendiri," ucap Richard.


"Sayang sudah belum," tanya Vivy sambil berjalan mendekati mereka berdua.


"Sudah ayo kita berangkat, pesawat kita tidak sampai sejam lagi terbang," jawab Richard.


Sebelum pergi mereka berdua berpamitan kepada keluarga Richard yang masih ada di dalam rumah, setelah itu barulah mereka berdua pergi meninggalkan rumah diantar langsung oleh adik kandung Richard. Walaupun sedih mereka berdua tetap tersenyum, keduanya tidak ingin membuat keluarga Richard ikut sedih dengan kepergian ke mereka berdua.


Sesampainya bandara mereka berjalan masuk melalui pintu VIP seperti biasanya, setelah check in keduanya menunggu pesawat untuk terbang beberapa saat. Mereka berdua tetap memakai masker agar tidak ada orang yang sadar dengan kehadiran mereka, ya walaupun pasti beberapa orang tetap akan sadar.


Setelah menunggu cukup lama mereka pun diminta untuk naik ke dalam pesawat, keduanya akan segera terbang ke negara yang sangat jauh dari tempat mereka sekarang, di sana mereka akan menjalani kehidupan yang baru selama beberapa tahun lamanya.


Karena waktu tidur malam yang kurang, dalam perjalanan ini mereka habis untuk istirahat. Meskipun mereka tetap merasa bosan karena perjalanan yang begitu lama, beruntung Richard dapat sedikit mencairkan suasana dengan baik.


Setelah kurang lebih 12 jam udara akhirnya mereka mendarat dengan selamat, berdua dijemput oleh teman Richard yang sudah ke tempat ini terlebih dahulu beberapa bulan lalu, Vivy merasa beruntung masih ada orang yang berasal dari negara yang sama dengan dirinya. Ia merasa lebih aman saja jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada mereka berdua.


Mereka berdua di bawah di sebuah komplek perumahan yang tidak jauh dari pusat perkotaan, seperti yang Richard katakan kan sebelumnya komplek perumahan ini tidak begitu besar seperti komplek perumahan mereka, suasananya pun sama jauh berbeda, Jujur saja Vivy cukup takut dengan suasana seperti ini. Ia seperti baru di dunia berbeda dari sebelumnya.


Mereka berdua sampai di sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah komplek perumahan. Keduanya langsung turun dari dalam mobil sambil membawa beberapa barang bawaan yang berada di dekat mereka, Richard minta Vivy untuk masuk terlebih dahulu karena ia harus mengambil koper yang masih ada di dalam bagasi mobil.


"Sayang di mana kamar kita?"


"Kata teman ku kamar kita yang sebelah kiri, ada tiga kamar di rumah ini dan yang sebelah kiri kamar yang paling besar," ucap Richard sambil berjalan mendekati Vivy.


"Ya sudah aku masuk dulu ya kamu bawa semua koper kita ke dalam kamar, jangan biarkan teman kamu masuk ke dalam kamar aku tidak mau," ucap Vivy.


Richard menganggukkan kepalanya, ada 7 koper yang harus dibawa ke dalam kamar, dan semua koper itu sudah turun dari dalam mobil.


Richard meminta temannya untuk pergi meninggalkan mereka berdua, ia sudah tidak memerlukan bantuan teman nya lagi, ia sudah merasa terlalu merepotkan teman nya itu.


Setelah membawa 7 koper itu ke dalam kamar Richard merebahkan dirinya ke atas tempat tidur, ia ingin merebahkan dirinya sejenak sebelum kembali merapikan barang-barangnya ke dalam tempatnya.


"Aku dari kamar mandi, kamar mandinya bagus kok ada showernya," ucap Vivy sambil berbaring di atas tempat tidur.


"Bagaimana tidak terlalu buruk bukan? Memang sih dalam pikiranku juga tidak sebagus ini, ternyata masih terbilang sangat bagus," kata Richard.


"Ya sayang ini di luar ekspektasiku, aku pikir juga tidak sebagus ini ternyata masih bagus dan masih nyaman untuk kita tinggali selama beberapa tahun," ucap Vivy.


"Nanti aku sudah diberitahu dimana tempat belanja bahan makanan, tempat untuk laundry pakaian, dan lain-lain. Aku rasa kita akan betah di tempat ini, ya walaupun hanya 3 tahun." Richard mencium wajah Vivy.


"Kamu kapan mulai masuk kerja," tanya Vivy.


"Aku kurang tau, kemungkinan sih lusa, kantor ku katanya cukup jauh kemungkinan aku akan mengambil mobil," jawab Richard.


"Ah bagus, kamu punya SIM internasional kan," tanya Vivy.


"Ada lah, kalau tidak ada tidak mungkin aku berani mengambil mobil," jawab Richard.


Setelah merasa cukup istirahat Richard pun melanjutkan kegiatannya untuk merapikan barang-barangnya yang masih ada dalam koper. Sedangkan Vivy memilih untuk tidur, ia memang tidak mau melakukan hal seperti itu, ia belum terbiasa untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.


Pukul 7 malam, Richard telah selesai merapikan semuanya, rumah nya juga sudah bersih dan ia memutuskan untuk mandi. Malam ini ia dan Vivy akan makan di luar saja, keadaan tidak memungkinkan untuk dirinya memasak.


"Sayang bangun kamu jetlag ya," ucap Richard.


Vivy membuka mata nya secara perlahan, ia terkejut melihat Richard sudah mandi dan hari sudah gelap.


"Sudah malam," tanya Vivy.

__ADS_1


"Sudah sayang, sudah malam," jawab Richard.


"Maafkan aku sayang, aku tidak membantu kamu merapikan semua ini," ucap Vivy.


"Hahaha tidak papa sayang, asalkan kamu berikan aku jatah yang mantap nanti malam," kata Richard.


"Siap sayang, aku akan melakukan nya dengan sangat baik," ucap Vivy sambil mengedipkan satu mata nya.


Vivy memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum makan malam, ia tidak mau jelek sedangkan suaminya sudah sangat tampan.


Setelah selesai mandi barulah ia dan Richard keluar rumah untuk malam, mereka berdua makan dia sebuah restoran yang tidak jauh dari komplek perumahan.


"Sayang makanan di sini enak enak ya," ucap Vivy.


"Iya aku juga merasakan nya, seperti nya kita akan betah di sini," kata Richard sambil memasukkan makanan ke dalam mulut nya.


Mereka berdua makan dengan sangat banyak, selain karena lapar semua makanan di sini sangat cocok di lidah mereka berdua.


"Sayang," ucap Richard.


"Iya ada apa," tanya Vivy.


"Kamu datang bulan setiap tanggal berapa," tanya Richard.


"Kamu ya lagi makan masih saja menanyakan hal seperti itu, aku aman kok tenang saja," jawab Vivy.


"Bukan begitu, kalau aku tau kapan kamu datang bulan aku bisa menghitung masa subur mu."


"Biar kamu bisa goyang aku selalu," ucap Vivy.


"Hahaha iya sayang, kalau aku tau kan aku bisa membuat kamu hamil lebih cepat," kata Richard.


"Kamu ingin aku hamil cepat sayang? Semoga saja apa yang kamu inginkan cepat terjadi," ucap Vivy.


"Hahaha iya sayang, semoga saja."


Pukul 9 malam mereka berdua kembali ke rumah, keduanya sudah begitu kenyang, untuk Richard ia sudah begitu mengantuk karena sejak tadi belum ada tidur.


Richard langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya, sedangkan Vivy berkeliling rumah untuk melihat apa saja yang ada di dalam rumah ini.


"Sayang kamu sudah tidur, temani aku ke belakang yuk," teriak Vivy.


Vivy mengerutkan dahinya, ia heran kenapa Richard tidak menanggapi ucapan nya.


Vivy berjalan masuk ke dalam kamar, ia ingin melihat apakah Richard sudah tidak atau belum.


"Sayang kamu sudah tidur," ucap Vivy.


"Hmmm sayang aku mengantuk sekali, tapi kok panas ya," kata Richard.


"AC nya rusak seperti nya… Aku juga merasa cukup panas," ucap Vivy.


Belum Vivy selesai berbicara Richard sudah kembali tertidur.


"Sayang.." Vivy menggelengkan kepala nya sambil berjalan mendekati Richard.


Ia melepaskan baju panjang dan levis yang Richard pakai, ia mengerti suaminya sangat kelelahan sekaligus kepanasan.


"Wah…" Vivy menggelengkan kepala nya melihat tubuh Richard yang begitu sempurna, ia sangat cocok menjadi iklan ****** *****.


Karena merasa panas juga Vivy melepaskan baju dan celana nya. Ia ikut tertidur di samping Richard sambil memeluk sang suami, walaupun merasa gerah kalau sudah berpelukan seperti ini tidak ada masalah.


Pagi hari nya, Richard terbangun lebih dulu dari sang istri, ia tersenyum melihat mereka berdua yang hanya menggunakan dalaman saja. Pagi pagi begini energi sudah terkumpul dan paling enak melakukan olahraga pagi, tanpa membangunkan sang istri Richard mulai melakukan pemanasan.


Kata Vivy langsung terbuka saat merasa bagian sensitif nya di sentuh Richard, pagi pagi begini ia paling suka mendapatkan servis dari Richard, suara suara seksi mulai keluar dari bibir manis Vivy.


"Sayang," ucap Richard sambil menatap wajah sang istri.


"Kamu tadi malam tidur. Padahal mau aku berikan servis yang sangat baik," kata Vivy.


"Hehehe maafkan aku sayang, aku sangat kelelahan jadinya aku langsung tertidur, sekarang aku ingin kamu berikan aku servis yang baik," ucap Richard.


"Siap komandan," ujar Vivy sambil menggigit bibirnya.


Pagi ini keduanya kembali mencetak anak di sebuah Negera yang sebelumnya tidak pernah merasakan kunjungi, Richard ingin pencetakan kali ini dapat membuahkan hasil yang sangat baik.


Tut… Tut… Tut… Suara handphone Richard berdering dengan kuat.


"Sayang handphone kamu," ucap Vivy.

__ADS_1


"Tanggung sayang, sebentar lagi aku keluar," kata Richard.


__ADS_2