
Setelah melakukan hubungan suami istri dengan Richard, entah kenapa Vivy merasakan ketidaknyamanan pada perut bagian bawah nya, awalnya Vivy mengabaikan nya ia pikir hanya rasa tidak nyaman biasa. Tetapi semakin ia biarkan malah semakin tidak nyaman, malah berujung ke rasa sakit.
"Sayang perut ku kok sakit ya," ucap Vivy.
"Sakit kenapa sayang," tanya Richard sambil mengusap perut Vivy.
"Tidak tau, tadi hanya tidak nyaman sekarang kok sakit," jawab Vivy.
"Kamu mau melahirkan sayang," tanya Richard dengan wajah yang panik.
"Jangan ah, keluarga ku belum datang," jawab Vivy.
"Sayang kalau memang mau melahirkan tidak bisa di tunda sampai keluarga kita datang," ucap Richard.
"Ah ah sayang sakit banget." Vivy menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakit yang ada.
Segera Richard menghubungi dokter yang memang khusus mereka, sejak sebulan terakhir mereka sudah menyewa dokter untuk menangani proses persalinan Vivy di rumah, mereka mencari dokter yang sama dengan asal mereka, semua itu agar komunikasi yang ada tidak terhalang bahasa dan beruntungnya mereka mendapatkan dokter itu.
Vivy bergerak dari atas tempat tidur, sejak beberapa waktu terakhir ia lebih banyak buang air kecil, padahal baru beberapa menit lalu ia ke kamar mandi dan sekarang ia sudah masuk ke dalam kamar mandi kembali.
"Karena sudah masuk bulannya kemungkinan besar istri anda akan segera melahirkan. Karena masih tahap awal terus perhatian istri anda, jangan tinggalkan dia sendiri, setelah kontraksi semakin intens segera hubungi saya. Saya akan langsung ke rumah kalian."
"Oke dok," ucap Richard sambil mematikan sambungan telepon itu.
"Sayang." Richard berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang ada yang keluar," ucap Vivy dengan panik.
"Jangan panik sayang, itu pertanda jika kamu akan melahirkan, nanti kalau kamu sudah mulai kontraksi dan kontraksi itu sangat intens dokter akan datang ke rumah, tidak papa ya melahirkan tanpa keluarga kita," kata Richard.
Vivy menganggukkan kepala nya. Mau bagaimana lagi ia tidak bisa berbuat apa apa, kalau memang sekarang ia mau melahirkan ia tidak bisa menundanya sampai keluarga nya datang.
Waktu terus berlalu perut Vivy rasanya semakin sakit sekali, pertama kalinya ia merasakan kontraksi yang luar biasa. Padahal baru di awal tetapi rasanya sangat sakit, ia tidak tahu bagaimana rasa sakit nanti saat proses melahirkan tiba. Reni sudah melahirkan terlebih dahulu darinya, dan Reni juga melahirkan secara normal. Reni sudah memberitahu apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang ia alami, tetapi menurutnya tips dari Reni sama sekali tidak membantu.
Dari malam sampai pagi, Richard sama sekali tidak bisa tidur untuk membantu istrinya mengurangi rasa sakit yang Vivy alami. Vivy sendiri sempat tidur setengah jam tetapi tak lama terbangun lagi karena rasa sakit itu semakin bertambah.
Karena rasa sakit yang masih alami semakin intens, Richard memutuskan untuk menghubungi dokter mereka. Sudah tidak tega melihat Vivy yang begitu kesakitan, kalau bisa ia ingin menggantikan istrinya, tapi apalah daya memang apa yang Vivy rasakan sekarang sudah kodratnya menjadi seorang wanita.
Tak lama dokter yang Richard panggil pun datang, segera dokter memeriksa keadaan Vivy apakah Vivy sudah siap untuk melahirkan atau belum. Dari apa yang Vivy rasakan sekarang dokter dokter dapat mengambil kesimpulan tak lama lagi Vivy akan segera melahirkan.
"Oke semuanya sangat baik, pembukaan sudah masuk ke tahap akhir. Kita bisa memulainya," ucap dokter.
Richard mengambil posisi di samping tubuh sang istri, ia menggenggam tangan Vivy dan mencium dahinya. Vivy juga sudah mengambil posisi terbaik, proses melahirkan akan segera terjadi.
"Sayang sakit banget sayang," ucap Vivy.
"Tahannya sebentar lagi kamu akan melahirkan," kata Richard.
__ADS_1
Proses melahirkan berlangsung dengan sangat dramatis, Vivy sampai menangis berkali-kali karena rasa sakit yang sangat luar biasa. Beruntungnya Vivy masih bisa mendengarkan instruksi dari dokter yang menanganinya, walaupun merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa Vivy berusaha untuk mengikuti instruksi dari dokter. Benar saja setelah berjuang cukup lama akhirnya anak yang ia kandung dapat keluar dengan selamat.
Tangisan anak bayi di ruangan itu membuat suasana mendadak haru, Richard maupun Vivy sama-sama tidak bisa air mata mereka mendengar tangisan itu, lagi saat dokter memberikan bayi itu Vivy, mereka berdua benar-benar bahagia melihat bayi yang begitu menggemaskan.
Asisten dokter kembali mengambil bayi itu untuk membersihkannya, sedangkan Vivy masih ditangani oleh dokter, ia masih harus melewati beberapa tahap yang tak kalah menyakitkan nya.
"Semuanya berjalan dengan sangat baik, tidak perlu dijahit karena robekan hanya di tahap satu. Selamat nona Vivy sekarang anda sudah menjadi seorang ibu," ucap Dokter.
Setelah Vivy selesai ditangani oleh dokter, tak lama anak mereka juga datang dikembalikan pada mereka berdua. Yang menggendong anak itu untuk pertama kalinya adalah Richard, ada beberapa hal yang harus saya lakukan sebagai kewajibannya menjadi seorang ayah. Setelah selesai ia baru memberikan anak kepada Vivy, rasa sakit dan Vivy rasakan tadi terbayar lunas dengan melihat inputnya bayi mereka berdua.
"Ini perempuan atau laki-laki," tanya Richard.
"Bayi kalian berjenis kelamin laki-laki, dengan berat 3 kilogram dan tingginya 59 cm. Anak ini sangat tinggi sekali, nanti ketika besar sepertinya dia akan seperti ayahnya yang tinggi," ucap dokter.
"Wah anak kita tinggi sekali sayang, dan ternyata feeling kamu salah, anak kita laki-laki bukan perempuan," kata Richard.
"Mau laki-laki atau perempuan aku sama-sama senang, dan dia sangat mirip denganmu tidak ada salahnya aku selalu kagum padamu dan membayangkan wajahmu."
"Anak itu akan tumbuh dengan sangat tampan seperti ayahnya," ujar Dokter.
Setelah beberapa jam di rumah itu dokter pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Richard dan Vivy, Vivy sudah dapat melalui semua tahap melahirkan dengan baik. Walaupun begitu dokter itu juga masih akan menangani Vivy dan anaknya sampai sebulan ke depan, sesuai dengan perjanjian mereka di awal kontrak.
"Sayang aku sudah nikah melahirkan anak ini dengan baik, makasih ya selalu ada di sampingku saat aku sedang membutuhkanmu," ucap Vivy.
"Harusnya aku yang terima kasih padamu, terimakasih melahirkan anakku dengan baik. Aku sangat senang mempunyai anak gemas dan setampan dia," kata Richard.
"Aku sih sudah memikirkannya, aku ingin memberikan nama dia Chris Albart Leonardo."
"Nama yang cukup sulit tetapi aku suka, oke kita panggil dia Chris saja," ucap Vivy.
Satu minggu setelah proses melahirkan, karena Vivy melahirkan secara normal dia dapat beraktivitas seperti biasanya dengan baik. Vivy tidak mengalami masalah apapun dalam proses penyembuhan pasca melahirkan, anak mereka pun juga berkembang dengan sangat baik, walaupun belum bisa apa-apa karena masih berusia 1 minggu.
Sampai sekarang keluarga mereka belum bisa datang ke tempat ini, mendadak pembatasan Visa dilakukan oleh pemerintah, negara tempat mereka tinggal sekarang sedang dalam keadaan ketegangan dengan negara lain, turis dilarang datang untuk beberapa bulan kedepan sampai negara ini kembali aman.
Hal itu membuat Vivy cukup panik, pertama ia masih dalam proses penyembuhan pasca melahirkan, kedua suaminya seorang tentara yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan untuk ikut mengamankan negara ini. Pikiran Vivy cukup kacau apalagi Richard yang sudah mulai lembur karena pekerjaan yang semakin banyak.
Beruntungnya Richard dapat menenangkan Vivy, Richard selalu berkata tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Vivy berusaha untuk percaya karena ia yakin Richard sudah sering melalui hal seperti ini, dirinya berharap kan dapat melewati semen dengan baik tanpa ada halangan apapun..
Pukul 09.00 malam riset baru pulang ke rumah, dari kemarin ia tidak pulang karena memang begitu banyak pekerjaan di kantor. Ia sudah memberikan kabar Vivy, walaupun Vivy kesal dirinya tetap menyambut di Richard dengan baik.
"Sayang kamu kenapa sih pulangnya lama sekali, kemarin pagi sampai sekarang jam 09.00 baru pulang. Aku kan sangat khawatir pada kamu," ucap Vivy.
"Mau bagaimana lagi sayang namanya juga sedang masa genting, kamu tenang saja ya tidak akan terjadi apa-apa kok pada kita semua. Misalnya semuanya semakin memburuk kamu akan dipulangkan kok," kata Richard.
"Lalu bagaimana dengan kamu kenapa hanya aku yang pulang?"
"Sayang aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sampai masalah ini selesai, ini sudah menjadi tanggung jawabku sayang," ucap Vivy.
__ADS_1
"Apa masalahnya semakin memburuk?"
Richard tanya menaikkan alisnya, dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Bagaimana dengan anak kita dia sudah tidur?"
"Dia kan selalu tidur sayang, bangunannya untuk meminum susu dan menangis," ucap Vivy.
"Boleh dong minum susu, aku juga mau," ucap Richard.
"Hahaha kamu ini ya tidak bisa berpuasa sedikitpun, ingat 40 hari," kata Vivy.
"Iya sayang aku tahu kok hanya 40 hari kan, itu mudah untukku apalagi sekarang aku sedang sibuk bekerja mana ada pikiranku untuk ke sana," ucap Richard.
Richard pun memutuskan untuk langsung mandi, setelah itu ia berbaring di samping sang anak tengah tertidur dengan sangat lelap, tangannya mengusap wajah anak itu dengan sangat lembut. Dirinya sangat senang mempunyai anak yang begitu mirip dengannya, dari bibir hidung sampai dengan matanya hampir sama dengan dirinya. Memang kalau sudah bucin akan selalu memikirkan pasangannya, seperti yang dilakukan oleh Vivy. Terlalu banyak memikirkan richard sampai anak mereka benar-benar mirip dengan Richard.
"Sayang kalau kamu memang harus pulang, kamu ingat jangan sampai dia tidak tahu ayahnya siapa."
"Tidak mau aku ah, kalau kamu di sini aku akan tetap di sini kalau kamu pulang baru aku akan pulang. Aku tidak mau pulang sendiri sayang, aku hanya ingin bersama dengan kamu dimanapun dan kapanpun itu," ucap Vivy.
"Sini.." Richard menarik Vivy ke dalam pelukannya, dirinya juga berharap mereka berdua tetap bisa bersama, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya nanti. Richard berharap masalah yang sedang terjadi tidak sampai ke mana-mana agar ia dengan Vivi dan anaknya bisa tetap bersama.
Pagi harinya, hari ini Richard berangkat ke kantor sedikit lebih siang dari biasanya. Ia membuat sarapan pagi untuk sang istri yang masih tertidur, sudah beberapa hari belakangan ini dirinya tidak membuat sarapan, Vivy sudah terlalu banyak membeli makanan dari luar, yang sebenarnya tidak baik untuk Vivy. Apalagi Vivi sudah sangat terbiasa makan makanan rumahan, sebisa mungkin sekarang Richard ingin tetap masak untuk sang istri.
"Sayang kamu kok belum berangkat bekerja, apa sih kamu masak kan aku nanti bisa membeli dari luar."
"Tidak baik selalu makan makanan di luar sayang, aku berangkat lebih siang dari biasanya jadi aku mempunyai waktu untuk membuat sarapan untuk kamu. Kamu ingin kembali kurus kan, kamu banyak makan makanan berlemak bagaimana kamu bisa kurus, berat badan kamu sekarang sudah lebih dari 60 kilo, kamu mempunyai PR untuk turun ke berat badan sedia kala," ucap Richard.
"Sayang kenapa mengingatkanku tentang liat sih, aku kan jadi tidak selera makan," kata Vivy.
"Hahaha tidak papa, biar kamu ingat saja, apa salahnya ingat tentang dia kan. Kalau tidak ingat nanti kamu makan terus di luar, semakin gemuk semakin susah untuk turun," ucap Richard.
"Kamu benar benar ya. Ya sudah mulai sekarang kamu bertanggung jawab dengan makananku kalori dan gula jangan terlalu banyak," kata Vivy.
"Kamu juga harus tetap banyak makan, tapi makan makanan yang sehat, jangan takut makan kalau makan makanan yang sehat, terutama makan buah dan sayur," ucap Richard.
Setelah selesai membuat sarapan untuk istri nya, Richard langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor, ia tidak terlalu buru-buru karena hari juga masih pagi, dirinya mempunyai waktu setengah jam lagi sebelum berangkat ke kantor. Waktu itu Richard manfaatkan untuk bermain dengan anaknya, ia merasa waktu nya bercakap dengan sang anak masih kurang banyak. Walaupun masih kecil dan tidak tahu apa-apa, ia tetap harus memberikan waktunya takutnya malah anak ini tidak mengakuinya sebagai ayah.
"Sayang kamu tidak sarapan dulu," tanya Vivy.
"Kamu jangan khawatirkan aku, di sana aku udah makan kok, jujur saja aku bosan dengan masakanku sendiri, di sana aku bisa memilih makanan variatif."
"Kamu kok licik sekali ya, istrinya suruh makan di rumah dengan masakannya dia malah makan di luar dengan makanan yang lebih variatif. Alasannya bosan pula itu," ucap Vivy.
"Hahaha tapi masakanku tidak pernah gagal kan sayang," tanya Richard.
"Iya aku akuin tidak pernah gagal," jawab Vivy sambil tersenyum manis.
__ADS_1