Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
Bertemu dengan orang aneh


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan hari ini mereka akan berkunjung ke tempat peringatan satu tahun tragedi yang menimpa Richard dan teman-temannya, semua orang diminta untuk memakai baju berwarna hitam dengan bunga mawar merah di tangan mereka. Bunga itu akan mereka letakkan di atas sebuah tempat yang menjadi simbolis peringatan ini. Pukul 09.00 pagi mereka semua sudah berada di tempat itu, Vivy dapat merasakan suasana terasa sangat menyedihkan, cuaca juga sangat mendukung tidak panas dan tidak mendung.


"Dimanapun kamu berada, aku berharap kamu berarti tempat terbaik yang dapat membuat kamu bahagia," batin Vivy.


Acara pun berlangsung, pihak keluarga menyaksikan bagaimana pasukan militer memulai melakukan tugasnya, sebelumnya tempat ini salah satu tempat yang sangat berbahaya karena disinilah peperangan terjadi, dalam satu tahun terakhir peperangan sudah tidak terjadi lagi dan itu sebabnya mereka juga mereka baru bisa melakukan penghormatan ini setelah satu tahun kejadian itu.


Pihak warga diminta untuk mendekati sebuah tugu yang menjadi simbolis penempatan bunga mawar merah, Vivy dengan anaknya berjalan mendekati tugu itu, sebelum meletakkannya Vivy meminjamkan matanya agar air mata tidak jatuh, untuk sekarang menangis adalah sesuatu yang berusaha untuk tidak ia lakukan. Apalagi sekarang ada Chris, ia tidak mau Chris melihatnya terus menangis.


"Ayah…"


"Iya sayang Ayah," ucap Vivy sambil mengusap wajah anaknya dengan lembut.


Setelah acara itu selesai mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke hotel, hari ini juga Vivy memutuskan untuk langsung pergi berlibur bersama dengan anaknya. Jika menunggu besok lagi waktu berlibur mereka akan lebih singkat, selagi masih bisa memanfaatkan waktu dengan baik Vivy ingin memanfaatkan nya.


"Kita mau ke mana mah?"


"Kita jalan jalan saja sayang, daripada kita di hotel saja lebih baik kita jalan-jalan," ucap Vivy.


"Jalan-jalan.. Asik jalan jalan.." Chris terlihat sangat senang sekali.


Sebelum pergi sudah pasti Vivy izin terlebih dahulu, sebelumnya juga ia sudah memberitahu pihak militer jika ia akan lanjutkan kegiatan sendiri bersama dengan anaknya tidak ikut rombongan lagi, karena Vivy memang seorang artis dan mempunyai keuangan yang baik mereka tidak masalah Vivy tidak ikut rombongan lagi.


Untuk tiket pesawat Vivy membeli ulang, tiket yang ia beli waktu itu dibatalkan oleh Reni dan beruntungnya masih bisa. Reni juga sudah mengkonfirmasi pada pihak hotel jika Vivy datang lebih awal, mereka tidak masalah asalkan uang nya berjalan dengan lancar.


"Entah kenapa aku ingin ke sana, rasanya sangat tidak betah sekali di sini," ucap Vivy.


Mereka pun pergi meninggalkan hotel itu, sebelum ke bandara keduanya ke sebuah restoran terlebih dahulu untuk mengisi perut. Apalagi pesawat yang akan mereka naiki masih beberapa jam lagi, jadi daripada menunggu gak jelas di bandara lebih baik menunggunya sambil mengisi perut.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi," tanya Reni yang sedang ber video call dengan Vivy.


"Entah mengapa aku sangat tidak betah di sini, aku ingin segera pergi dari tempat ini dan berkunjung ke negara yang akan aku jadikan untuk tempat berlibur," jawab Vivy.


"Ya mana tahu kamu di sana menemukan jodoh kamu, jodoh tidak ada yang tahu kan," ucap Reni.


"Tidak akan, aku tidak akan menemukannya," kata Vivy.


"Jangan begitu, semoga Vivy menemukan seseorang yang mampu menaklukkan hatinya," ucap Reni.


"Hmmm sudah lah aku mau makam bye.." Vivy mematikan sambungan video call itu.


Setelah selesai makan dan duduk sejenak mereka berdua melanjutkan perjalanan ke bandara, Vivy dan anaknya sudah tidak sabar untuk terbang ke negara tempat mereka akan berlibur. Jaraknya tidak begitu jauh, mungkin hanya sekitar 1 sampai 2 jam penerbangan saja.


**

__ADS_1


Sore harinya mereka berdua sampai di negara yang mereka inginkan, Vivy membawa anaknya hotel yang sudah dipesan oleh Reni. Sebelum mereka jalan-jalan Vivy ingin meletakkan barang-barang mereka di kamar hotel terlebih dahulu, setelah itu barulah keduanya akan jalan-jalan mengelilingi kota ini.


"Ayo mah kita jalan jalan." Chris menarik mamanya karena sudah tidak sabar untuk berkeliling, sebelum ke hotel tadi mereka berdua memang berpapasan dengan taman bermain yang dipenuhi dengan banyak permainan seru, sudah pasti anak ini pengen ke tempat itu.


Vivy pun membawa Chris ke tempat itu, ia ingin membiarkan anaknya main bersama dengan anak-anak kecil lainnya, sedangkan dirinya menunggu anak itu di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat permainan.


"Kamu hati-hati, jangan bicara dengan orang yang tidak kamu kenal. Mamah menunggu kamu di sana," ucap Vivy.


"Oke." Chris langsung berlari ke arah tempat permainan itu.


Vivy menggelengkan kepalanya sambil berjalan mendekati kursi kosong yang ada. Belum pokoknya duduk di kursi itu tiba-tiba dirinya ingin membuang air kecil, segera Reni mencari toilet agar ia tidak terkencing di celana.


Dan sialnya toilet itu cukup ramai dengan orang, sehingga Vivy harus menunggu sejenak agar bisa menuntaskan hajatnya.


"Semoga dia baik-baik saja, aku tidak akan lama-lama kok," batin Vivy.


Setelah menuntaskan hajatnya Vivy langsung kembali ke tempat permainan itu, kepalanya melihat ke arah kanan dan kiri mencari sang anak yang tidak terlihat. Anak-anak yang tidak terlihat Vivy langsung panik seketika, tempat ini tidak ada orang yang bisa anak itu ajak berbicara hal itu semakin membuat Vivy panik.


"Chris… Chris…" Vivy berlari kesana sini keberadaan anaknya.


Sampai tiba ia melihat punggung anak kecil yang tidak asing di matanya, sudah pasti itu Chris yang senang mau beli es krim dengan orang lain.


"Anak itu." Vivy langsung berlari mendekati anak itu.


"Sayang," ucap Vivy.


"Ayah.." Vivy mengerutkan dahinya sambil melihat ke arah pria ini.


"Maaf, aku tidak tau kenapa dia memanggil ku dengan sebutan Ayah," ucap pria itu.


Mata Vivy terpaku pada wajah pria itu, kalau di perhatikan lebih dalam lagi pria itu sedikit mirip dengan Richard.


"Sayang itu bukan ayah, maaf tuan. Anak saya memang sedang merindukan ayahnya," ucap Vivy.


"Tidak papa, tadi dia datang memelukku dan berkata jika aku ayahnya. Perkenalkan namaku Ken, senang bertemu dengan mu." Ken menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Vivy hanya tersenyum, ia belum mau bersentuhan dengan pria asing.


"Maaf." Ken menarik kembali tangannya.


"Dia ayahku mama," ucap Chris sambil memeluk Ken.


"Sayang tidak boleh begitu."

__ADS_1


"Tidak papa, jangan di marah," ucap Ken.


Vivy merasakan perasaan yang aneh saat dekat dengan pria, kenapa pula bisa Chris pikir jika pria ini adalah ayahnya. Padahal sebelumnya Chris tidak pernah seperti ini.


"Ini es krim untuk anak pintar, lain kali jangan asal memeluk orang lainnya, takutnya mereka bukan orang yang baik," ucap Ken.


"Iya yah." Chris mengambil es krim itu.


"Terima kasih ya, sudah ayo sayang kita harus kembali ke hotel, sepertinya akan hujan takutnya kita malah kehujanan lagi."


"Tidak mau aku mau bersama dengan ayah," ucap Chris.


"Sudah mama katakan dia bukan Ayah kamu," kata Vivy dengan sedikit emosi.


"Mamah." Chris menangis dengan kencang.


"Sudah tidak papa, jangan dimarah kasihan ya dia tidak tahu apa-apa, dia merindukan ayahnya. Aku mempunyai waktu kalau boleh aku bisa menemani biar untuk beberapa saat," ucap Ken.


"Kamu yakin ingin menemani dia," tanya Vivy.


"Yakin aku akan menemaninya, kamu tenang saja aku tidak akan melakukan hal yang tidak tidak padanya dan juga padamu," jawab Ken.


Jujur saja Vivy sangat penasaran dengan pria ini, sepertinya tidak masalah jika dia ingin memberi kesempatan pada pria ini untuk dekat dengan anaknya, lagi pula yang tidak tega melihat anak yang menang seperti ini.


"Sudah jangan menangis sekarang kamu boleh bersama dengan dia," ucap Vivy.


"Ayah…" Chris merentangkan tangan nya. Segera Ken menggendong anak itu, rasanya sangat nyaman sekali bersama dengan anak itu, itu sebabnya Ken untuk bermain dengan anak itu, ia sangat penasaran kenapa anak ini bisa menggapnya seorang Ayah. Ia saja belum menikah dan mempunyai anak.


Karena memang cuaca tidak mendukung, dan terlihat mau hujan mereka bertiga langsung ke hotel tempat Vivy menginap, Viny memberikan izin itu masuk ke dalam kamar hotelnya. Ini hal yang sangat aneh, karena sebelumnya Vivy saja tidak pernah mau dekat dengan pria manapun. Sekarang dengan bundanya ia memberikan akses penting seperti ini.


"Kenapa aku sangat nyaman di dekatnya," batin Vivy.


Di dalam kamar hotel itu pria itu bermain dengan anaknya, Vivy hanya memantau dari kejauhan. Ia jadi kepikiran kalau saja suaminya masih hidup sudah pasti suaminya dan anaknya akan bermain seperti ini, sayangnya takdir berkata lain, semuanya tidak bisa sesuai dengan harapannya.


Tak lama karena kelelahan anak itu tidur diperlukan Ken, Ken sendiri sangat senang bisa menidurkan anak ini. Rasanya ia ingin selalu dekat dengan anak ini, Ken juga merasa telah menemukan separuh dirinya yang menghilang.


"Kenapa aku mempunyai pikiran seperti ini, Padahal aku baru bertemu dengan anak ini," batin Ken.


Ken meletakkan anak ini ke atas tempat tidur, kemudian ia berjalan mendekati Vivy, Jujur saja ia juga penasaran dengan wanita ini.


"Maaf ya telah membuat kamu repot," ucap Vivy.


"Tidak masalah, aku tidak merasakan merepotkan malahan aku sangat senang bisa bermain dengan anak mu," kata Ken.

__ADS_1


"Oh iya kamu belum tahu namaku, nama ku Vivy senang bertemu dengan kamu," ucap Vivy.


"Namamu terasa tidak asing di telingaku."


__ADS_2