Artis Dan Tentara

Artis Dan Tentara
kepergian Richard untuk selamanya


__ADS_3

Dua setengah bulan cepat berlalu, proses syuting series yang Vivy produksi telah selesai beberapa minggu yang lalu, saat ini Vivy dengan timnya sedang masuk ke dalam proses editing, semuanya berjalan dengan baik tidak ada masalah dan sesuai dengan harapan mereka semua. Mereka juga sedang bernegosiasi untuk memasukkan series ini ke salah satu platform digital terbesar saat ini, karena Vivy belum bisa menggunakan namanya ia mengatakan nama agensi tempat ia bernaung, Vivy berharap beberapa bulan ke depan dapat rilis dengan tepat waktu.


Selain mengerjakan series itu, Vivy juga menunggu kepulangan sang suami yang akan pulang minggu ini, dirinya sudah tidak sabar bertemu dengan Richard, dari awal ia mulai proses pembuatan series ini sampai sekarang dirinya tidak ada komunikasi lagi dengan Richard, Richard masih dalam misi penting yang tidak Vivy ketahui.


Khawatir sudah pasti, tetapi Vivy tetap yakin jika suaminya akan baik-baik saja di manapun dia berada, Richard sudah biasa melakukan berbagai macam misi penting dan berbahaya, kali ini Richard pasti dapat melaluinya juga dengan baik.


Saat ini Vivi sedang berada di kantor tempat ia dan timnya bekerja, agar sesuai dengan keinginan nya Vivy terjun langsung dalam berbagai macam hal, salah satunya proses penting ini.


Drrtt…Drrtt…Drrtt…. Handphone Vivy terlihat berdering pertanda ada panggilan telepon yang masuk.


Segera Vivy bawa handphone itu keluar dari ruangan itu akan tidak mengganggu, ia juga langsung mengangkatnya karena panggilan itu dari sang ayah.


"Kamu di mana sayang? Segera pulang ada yang ingin berbicara dengan kamu. Anak kamu sudah di rumah ya jadi kamu langsung ke rumah ayah saja."


"Aku sedang bekerja Ayah, kenapa tiba-tiba begini, apa tidak bisa nanti saja," kata Vivy.


"Tidak bisa sayang, orang ini maunya sekarang dan memang orang ini sudah menunggu kamu di rumah Ayah."


"Ya sudah aku pulang sekarang, tunggu sebentar." Vivy mematikan sambungan telepon itu.


Vivy berjalan kembali masuk dalam ruangan kerja untuk berpamitan pada timnya, ia juga penasaran kenapa orang itu sangat ingin bertemu dengannya. Kalau tidak kena hal penting tidak mungkin ayahnya juga memaksanya untuk segera pulang ke rumah.


"Kamu mau ke mana," tanya Reni yang baru sampai di kantor.


"Aku diminta untuk pulang oleh ayahku, kamu mau ikut tidak aku sendirian ini. Nanti setelah urusan selesai kita kembali lagi ke sini," jawab Vivy.

__ADS_1


"Ya sudah ayo, aku juga tidak enak sendiri di sini tanpa kamu."


Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu, Vivy langsung membawa mobilnya pulang ke rumah ayahnya, untuk anaknya sudah berada di sana jadi ia tidak perlu kembali ke rumah.


"Anakmu sudah di sana kan."


"Sudah anakku sudah disana, sepertinya ada hal penting deh soalnya anakku juga dijemput oleh ayahku dan orang itu yang ingin bertemu denganku memaksaku untuk pulang," kata Vivy.


"Jangan bilang suamimu pulang." Reni curiga akan hal itu.


"Tetapi sepertinya tidak deh soalnya ya kalau dia pulang seharusnya dia langsung ke rumah kami saja, dan kalaupun dia pulang dia pasti langsung memberi kabar untuk menjemputnya di bandara militer," ucap Vivy.


"Perasaanmu sedang tidak enak? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak."


"Iya aku selalu mengerti perasaanku, Entah kenapa sejak tadi pagi perasaanku sangat tidak enak, apalagi saat mendapatkan panggilan ini semakin tidak enak sekali, rasanya sesak dan ingin menangis," ucap Vivy.


"Ayah ada apa ini kenapa ramai sekali? Apa suamiku pulang di mana dia," tanya Vivy.


"Nah ini Vivy istri dari Richard."


"Ada apa yah." Wajah Vivy semakin terlihat panik dan bingung.


Dua orang tentara berjalan mendekati Vivy, mereka memberikan hormat pada Vivy sebelum menyerahkan sesuatu di tangan mereka berdua.


"Kenapa ada apa??" Vivy melihat ke arah sekitarnya tetapi tidak ada yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Dua orang itu memberikan bendera dan sepucuk bunga mawar merah dengan surat di tangkainya. Vivy tidak menerima dua benda itu karena ia tidak tahu apa yang terjadi. "Ada apa kenapa," tanya Vivy.


"Suami mu gugur sayang."


"Suami anda telah menyelesaikan perjuangan nya." Dua orang itu meletakkan benda dan setangkai bunga mawar ke tangan Vivy.


Jantung Vivy terasa berhenti berdetak seketika, mata nya terbelalak dan tubuhnya gemetar hebat, hal yang paling tidak ingin Vivy dengar kenapa ia dengar sekarang.


"Tidak!! Kalian bohong.." Vivy jatuh ke atas lantai dengan wajah yang penuh air mata, ia memeluk bendera itu sambil berteriak dengan kencang, Vivy masih tidak percaya jika suaminya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Tidak Hiks Hiks Hiks tidak…" Tangisan Vivy semakin pecah, bukan hanya Vivy hampir semua orang yang berada di sana juga menangis, rasanya menyakitkan sekali.


"Mamah.." Chris berlari mendekati Vivy dan memeluk namanya dengan erat.


Vivy menarik Chris kepelukannya, tangisan aja bisa berhenti walaupun ia sedang bersama dengan anaknya. Entah mengapa anak itu juga menangis di dalam pelukan Vivy, padahal Chris juga belum mengetahui apapun tentang ayahnya.


"Sayang kenapa kenapa kamu pergi." Suara tangisan Vivy terasa sangat menyakitkan sekali, setelah kerinduan yang teramat dalam saat ini ia malah merasakan rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sangat sakit sekali.


Setelah beberapa saat Vivy meminta waktu untuk sendiri, Chris ia titipkan pada keluarganya sedangkan dirinya masuk ke dalam kamar untuk mencerna apa yang telah terjadi. Sampai sekarang Vivy merasa di Richard masih ada, Richard masih bekerja sesuai dengan izin Richard pada Vivy beberapa waktu lalu.


Sambil menangis Vivy membuka surat yang terselip di tangkai bunga mawar merah itu, surat itu sangat kecil yang ditulis oleh Richard langsung, Vivy menutup matanya, rasanya ia tidak akan sanggup membaca surat itu.


Vivy mengambil nafasnya dengan perlahan selama beberapa kali, setelah dirinya sudah cukup siap Vivy mulai melihat ke arah kertas itu.


"Hay sayang, jika kamu sudah membaca surat ini itu berarti aku sudah berada di tempat yang berbeda dari kamu, aku menulisnya sebelum misi terakhir ini. Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku, maaf selalu membuat kamu merasa sedih, maaf aku tidak bisa membantu kamu membesarkan anak kita. Kita sudah cukup lama bersama, aku sudah tahu bagaimana kamu dan kamu sudah tahu bagaimana aku, kenangan indah yang telah kita bentuk membuat ke sadar kamu anugerah terbesar yang pernah aku dapatkan, aku sangat sangat mencintai kamu dan bersyukur mempunyai kamu. Mungkin isi surat ini hanya berisikan maaf maaf dan maaf dariku, aku tidak tahu harus menulis apa lagi, rasanya sangat sakit nulis ini untukmu. Aku berharap kamu bisa melanjutkan hidup dengan bahagia, melanjutkan sebagai artis yang hebat, dan membesarkan anak kita dengan baik. Semoga kamu menemukan sosok pria yang lebih baik dariku yang tidak pernah membuat kamu merasa sedih, aku mencintaimu."

__ADS_1


Tangisan Vivy semakin pecah saat membaca surat dari sang suami, tahu begini ia tidak akan mengizinkan Richard untuk mengikuti misi itu, kalau perlu dirinya langsung terbang ke sana untuk menggagalkan Richard mengikuti misi itu.


"Kenapa kamu seperti ini sayang, sudah berjanji tidak akan meninggalkan, kamu sudah berjanji untuk kembali padaku, kenapa kamu malah pergi lebih dulu dariku. Kamu jahat.." Vivy menangis sambil memeluk surat itu, Entah sudah berapa banyak yang menangis yang jelas dirinya tidak pernah bisa merasa lega, tangisan itu hanya menambah rasa sesak diri dadanya.


__ADS_2