
"Ga tungguin." Nara memanggil Angga dengan keras," Lo ngambek?"
"Bodo ah." -Angga
"Dih, cepet tua Lo..." -Nara
"Lo duluan yang tua." - Angga
"Tua bareng aja Ga..." - Nara
"Ogah ..." -Angga
"Dih ngambek..." -Nara
"Nara,..." - Angga
"Males ah, ma tukang ngambek." akhirnya Nara kesal sendiri dan berjalan cepet dahului Angga.
"Ra, kok jadi Lo yang ngambek.." tapi Innara tetap saja berjalan tanpa mendengar ucapan dari Angga.
"Bodo...." Nara membalas Angga dengan berjalan lebih cepat lagi, sedangkan Angga mengikutinya dari belakang.
Saat sudah di depan pintu masuk Nara mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk tania.
"Dimana Lo?"- Nara
"Perpus. dah sampe?"- Tania
"Di depan." - Nara
"Buruan masuk. tempat biasa" "Tania
"Oke." - Nara kembali memasukan ponselnya kedalam tas dan langsung berlengan menuju tempat Tania berada. tiba-tiba.
"Tunggu gue." Angga dari belakang menarik tangan Innara.
"Setan ....!! bikin kaget aja Lo Ga." Nara terjingkat saat tangan nya di tarik
"Lo tu setan, jalan kayak habis kesambet aja lo."
"Ya udah masuk, mau ngapain disini? pake narik-narik segala."
"Ya elah .. gitu aja ngambeknya lama PMS Lo?"
"Kalo iya kenapa?" Nara sewot dengan pertanyaan Angga.
"Nih gue punya pembalut," goda Angga bikin Innara terbahak..
"Hahaha gila Lo Ga."
"Elo sih, resek."
"Gue lagi kan?"
"Enggak deh enggak, yuk lah." mereka masuk berdua dengan bercanda walaupun cuma berbisik-bisik. Dari kejauhan Tania melambaikan tangannya.
"Eh tuh Tania." tunjuk Angga sambil membalas lambaian Tania.
"Dah nyampe aja Lo, di mana kursi Lo." tanya Angga.
"Tuh di tengah." jawab Tania sambil menunjuk meja belajar Meraka.
"Ada orangnya." Nara melihat ada seseorang yang sedang serius membaca buku.
"Temen gue."
"Lah?"
"Oh iya temen yang mau gue kenalin ma Lo berdua."
"Pacar Lo?" tanya Nara cengo.
"Ngaco.., ya udah mana tas Lo," Tania mengambil tas Nara dan Angga." cepat cari buku yang lo butuhin, dan nyusul gue di situ, oke." titah Tania hanya di jawab anggukan oleh Nara dan Tania.
__ADS_1
"Tas siapa?"
"Temen."
"Lo di bully ya?"
"Maksud Lo?"
"Ya Lo disuruh-suruh gitu."
"Ngomong apaan si Lo Bar, enggak jelas banget." Tania tidak mengerti maksud ucapan dari pria yang duduk di depannya itu. "Bully, apa sih maksudnya?" gumam Tania sendiri.
"Apa?" - Bara
"Kagak."- Tania.
Innara datang dengan beberapa buku di tangan nya, sampai rasanya dia tidak mampu membawanya.
Bruuukk
"Aduhh." keluh Nara , karena terjepit salah satu buku yang dia bawa .
"Apa-apaan nih?" Bara yang ada diantara mereka pun merasa terganggu.
"So-sorry..." ucap Nara gagap karena kaget di bentak orang di perpustakaan pula.
"Lo enggak papa Ra?" Angga berlari mendekat mendengar Nara mengaduh."
"Enggak, enggak papa gue."
"Bohong Lo, lihat sini gue lihat." Angga menarik tangan Tania yang memerah dan meniupnya.
"Pacaran jangan disini, ini perpustakaan kali." sindir Bara pada Nara dan Angga.
"Apaan?" tanya Angga dengan kode silent, Tapi Tania bingung harus jawab apa, karena memang ini salahnya mengajak Bara yang beda aliran dengan mereka. akhirnya Angga tidak mempedulikan perkataan Angga dan masih meniup tangan Innara.
"Lepasin tangan cewek gue." tiba-tiba Doni datang dan mendong tubuh Angga hingga mundur beberapa langkah. "Sok sok an temanan, ngarep juga Lo ma cewek gue." umpatnya dengan keras.
"Don, apaan sih Lo."
"Apaan sih Lo Don, pergi enggak Lo." usir Innara.
"Lo ngusir gue."
"Iya, emang kenapa, dan kenapa Lo kesini, disini bukan perpustakaan anak kedokteran kan?"
"Ya-ya gue pengen kesini, nyamperin Lo."
" Gue cewek murahan kenapa Lo samperin segala."
"Ra - Ra bukan gitu maksud gue."
"Bisa diem enggak kalian? ini perpus kalau mau rebutan cewek diluar, jadi kalian bertiga silahkan keluar," Usir Bara pada Innara, Angga dan Doni.
"Apaan sih Lo." kesal Nara dan mengambil tas di bawa Tania tadi lalu pergi meninggalkan yang lain disana.
"Ra, Nara, Innara." Tania mencegah Nara. tapi Innara tetap pergi.
"Ra tunggu." Angga mengejar Innara.
"Awas Lo." ancam Doni pada Angga tapi tetap saja tidak di hiraukan.
"Apa Lo?" ucap Tania saat Doni melihat nya. Dengan kikuk Doni juga pergi dari tempat itu.
"Akhirnya mereka pergi juga." gumamnya tapi sangat jelas di dengar oleh Tania, dan itu membuatnya kesal.
"Apaan sih Lo Bar." ucapnya lalu berdiri merapikan buku dan mengambil tas nya.
"Mau kemana Lo."
"Pulang."
"Kan belum kelar belajar nya."
__ADS_1
"Males gue ma Lo." Tania pun pergi juga.
"Tan, Tania "
"Eh bro, kalo Lo enggak mau pulpen gue pindah di kepala Lo, mending Lo juga cabut deh " usir seseorang penghuni perpus yang merasa terganggu. akhirnya bara dengan gontai pergi juga.
"Ada apa hari ini, sial bener." Umpatnya. "Kayaknya gue pernah ketemu tu cewek, dimana ya?" Gumam Bara sambil mengingat-ingat. "Balik aja mendingan."
Saat asik berjalan, Bara melewati kantin mahasiswa di ujung perpustakaan. " Minum dulu deh." pikirnya
"Gila bener si Doni, bisa-bisanya ngatain gue murahan, padahal dia yang tukang nyaplok perempuan." umpat Nara dan di dengarkan oleh kedua sahabatnya.
"Tapi Lo enggak putus-putus ma dia Ra."
"Iya juga, kenapa gue belum putus juga sih ma dia." keluh ya sambil memegang kepalanya yang tidak pusing .
"Lo pernah ngapain sampai belum Lo putusin, padahal Lo tau dia player."
"Sial Lo Tan, gue aman,"
"Maksud lo pake pengaman."
pletak
"Sakit Ga." keluh Tania." Nara yang gue tanya kenapa Lo yang sewot sih " ucapnya sambil memukul lengan pria itu.
"Lo juga ngga o si Tan, gue aman tuh, gue belum pernah ngapa-ngapain sama Doni, ******* aja enggak." ucap Nara sambil menutup wajahnya.
"Gila...kok bisa?"
"Gue takut,"
"Masih trauma?" Nara mengangguk." sori gue enggak tau, gue kira Lo dah baik-baik aja karena kejadian itu sudah lama." jelas Tania sambil menepuk punggung Nara.
"Gue enggak papa Tan, tapi gue malu, Lo denger tadi Doni bilang apa."
"enggak usah dipikirin apa kata Doni, akan ekonomi tau elo." ucap Angga.
"Enggak ada hubungannya ma itu Ga."
"Dah lah, yang penting Lo enggak gitu kan beres." ucap Angga sambil mengacak rambut Nara .
"Gue kesel banget ma Doni."
"Ya terus mau Lo apa?"
"Putus aja kali ya...."
"Kalo Lo oke, ya kita dukung iya kan Ga." Angga tidak menjawab tapi mengacungkan jempolnya.
"Gue dari awal Lo pacaran ma die gue enggak setuju, Lo aja yang aneh."
"Gue juga enggak tau kenal bisa gitu."
"Lo inget kan kata Juan apa."
"Dokter Juan. maksud Lo." Tania memperjelas ingatannya.
"Iya." ucap Angga.
"Kalo Doni......." Angga berbisik karena tidak etis jika di dengar banyak orang.
"Tapi Lo biarin aja dia pacaran ma Doni."
"Gue males ngurus hidup orang." jawab Angga enteng.
"Biasa Lo paling ribet kalo urusan Nara." protes Tania karena yang di ucap kan Angga tidak sesuai fakta. (Angga sangat peduli dengan Innara, jadi tidak ada kata males bagi Angga untuk Innara).
Bara masih asik menyeruput minuman di botolnya sambil menyimak obrolan Tania dan Angga. apalagi sekarang nama kakaknya di bawa-bawa hal itu menjadi lebih menarik.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰