Ayah Untuk Tara

Ayah Untuk Tara
Cemburu yang melewati batas


__ADS_3

TOK TOK TOK


Bara mengetuk pintu kamar Innara yang sejak tadi terkunci "Ay.... Lo enggak papa?" Bara berharap pintu itu terbuka. Tapi sayang setelah ketukan sekian kali pintu tetap tertutup rapat.


"Ay...makan dulu yuk, gue dan bikin makanan nih, Lo dari siang belum makan." Bara mencoba membujuknya, sedangkan Innara yang di dalam hanya mematung mengingat ucapan Jenny , (Hamil anak Angga).


"Bagaimana bisa Lo lakuin itu di belakang gue Ga?" Nara menutup wajahnya dengan sedih. Tidak habis pikir apa yang di lakukan oleh Angga. "Mikir apa sih Lo Ga , sampe Lo hamilin Jenny." gumamnya. "Lo enggak mikir gimana perasaan gue." sambungnya lagi. Sedangkan Bara di luar menunggu dengan gelisah.


"Hati Lo masih besar untuk dia Ra, gue harus bagaimana biar bisa dapetin hati Lo yang utuh." Gumamnya sambil menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Innara. "Tapi gue enggak bisa paksa Lo buat jatuh cinta sama gue, dan gue sudah berusaha selalu ada buat Lo, tapi hati Lo....?" Bara menghela napas lalu beranjak dari sana, kembali ke sofa.


DRRRTTT drrrttt


Ponsel Bara bergetar, menandakan panggilan masuk. "Bang indra?" batinnya.


"Iya bang?" bara mengangkat panggilan itu.


"Nara kemana dari tadi enggak bisa di hubungi?" tanya bang indra.


"Ada bang, di kamarnya. Mungkin ponselnya lagi mati."


"Sebaiknya kalian pulang!"


"Kenapa bang?"


"Tara sakit." jawab indra dan itu membuat Bara panik.


"Iya bang, saya usahakan malam ini kita terbang " ucap Bara dan berdiri menuju kamar Innara kembali.


TOK TOK TOK


"Ra....bang indra telpon." Bara memberi tau Innara, tapi masih belum ada jawaban. " Tara sakit Ra..." Ucap Bara pelan tapi jelas, berharap pintu segera di buka.


"Apa Lo bilang Ta?" Tanya Nara dari dalam dan seperti bergerak turun dari ranjang.


Klek


Pintu terbuka.


"Apa Lo bilang Ta?" Innara mengulang pertanyaannya, Dangan mengusap air matanya.


"Tara sakit, kita harus pulang sekarang!"


"Sekarang?" tanya nya lagi, badan gue masih gini Ta, gimana jelasin nya sama bang indra?" Ucap Nara bingung.


"Luka itu sudah beberapa hari tapi masih belum sembuh, Nara pun masih agak pincang jika berjalan.


"Gue aja yang pulang." Ucap Bara merasa kesal, walau dia tidak bisa berbuat apapun. "Tapi Tara butuh Lo Ra, bukan gue, dan kalo Lo enggak ada gue harus gimana jelasin sama bang indra soal Lo?"


"Bilang gue masih ada urusan, dua atau tiga hari lagi gue balik."


"Tapi ...."


"Kenapa? Ada yang Lo pikirin?"


"Mana bisa gue ninggalin Lo dalam kondisi seperti ini Ay..."

__ADS_1


"Gue baik-baik aja Ta."


"Gue enggak," Jawab Bara dengan menekuk wajahnya.


"Lo kenapa?"


"Kenapa Lo ngurung diri di kamar? Lo kecewa sama Angga?"


"Ta kita lagi bahas anak, kenapa jadi ke Angga sih?"


"Gue nungguin Lo keluar Untu tanya itu Ra, dan Tara kebetulan saj bang indra telpon."


"Jadi mau Lo apa?"


"Alasan Lo, gue mau tau alasan Lo."


"Iya, gue kecewa sama Angga."


"Kecewa karena Jenny hamil atau karena bukan Lo cewek pertama yang tidur sama Angga." desis Bara karena kesal pada Innara, yang tidak peduli akan dirinya.


PLAAAK


Nara menampar keras wajah Bara hingga terasa memanas."Jaga mulut Lo! Gue enggak serendah yang Lo kira." Mata Innara memanas, ingin rasanya ia menangis, tapi dia tahan, dia buka cewek lemah.


"Gue cemburu." kilah Bara


"Cih...cemburu atau emang gatel pengen ngatain gue?" kini air matanya sudah hampir saja tak terbendung.


"Ay....."


"Ay...ay..Ay... Taik Lo."


Pintu di tutup kembali, karena air matanya kini sudah berjatuhan, "Gimana Li tega ngatain gue kek gitu Ta?" sedangkan Bara menghela nafas. Menyesali perbuatannya.


"Dasar mulut lemes , kenapa juga Lo ngomong kek gitu bego...." Bara memukul kepalanya. "Sekarang harus gimana?"


Bruk....


Nara melempar tas dan pakaian Bara. "Lo boleh pergi dari sini." Nara mengusir Bara suaminya.


"Ra... Bukan gitu maksud gue, dengerin gue dulu."


"Lo anggep gue apa sih Sebenarnya? Lo mikir apa sampe Lo tega bilang seperti itu, Anj**g emang Lo."


BRAAAK


Lagi-lagi Nara melempar pintunya kuat-kuat di depan wajah Bara, dan itu membuat Bara mundur satu langkah dari sana.


"Ay...gue minta maaf, gue enggak sengaja bilang kek gitu, ay ...." Bara mengetuk-ngetuk pintu kamar Innara, ingin rasanya dia mendobraknya tapi dia takut akan menjadi masalah bagi mereka berdua. "Ay.... please Ay...." Bara merengek di depan pintu kamar, tapi Innara tida peduli, dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut sambil terisak.


Nara masih belum bisa berfikir jernih apa yang terjadi antara mereka berdua, dia hanya memikirkan ucapan Bara yang sangat menusuk jantungnya. Dia berusaha mencintai seutuhnya tapi malah mendapat makian yang seharusnya tidak ia dengar. "Bangs***"Cacinya.


sedangkan Bara masih di luar bingung mau berbuat apa, dia harus menjaga Innara tapi juga dia tidak tega jika Tara sakit tanpa dirinya ataupun Innara, dengan berat hati diapun pergi dengan penerbangan terakhir.


...****************...

__ADS_1


"Ayaaaahhh." Tara menyambut Bara dengan gembira lalu memeluk ayahnya.


"Tara kenapa keluar, lihat nih badannya masih panas." Bara memegang keningnya.


"Tara kangen bunda ayah, Tara mau ke Bali." rengeknya.


"Tapi Tara kan sekarang sekolah di sini sama om Indra juga Oma."


"Tapi Tara suka di Bali , banyak teman Tara ayah."


"Ya udah, nanti kita bicara lagi sama bunda ya?"


"Lho emang bunda enggak ikut ayah pulang?"


"Bunda masih ada urusan, nanti juga nyusul kita."


"Beneran ayah?"


"Iya dong, masak ayah bohong." hibur Bara pad buah hatinya. " Sekarang kita masuk ya, kalo ketahuan nenek bisa marah nanti." Ujar Bara kembali, dan di angguki oleh Tara.


"Bara...?"


"Iya bang, maaf, kemalaman kemaren sampai nya, takut ganggu kalo langsung kesini." Alasan Bara.


"Kayak rumah siapa aja, masuk." Indra mempersilahkan Bara masuk, karena ini makasih jam tujuh pagi, Indra pun belum berangkat ke kantor . "Nara enggak bareng?"


"Masih ada urusan bang, mungkin dua atau tiga hari dia nyusul."


"Dia sibuk apa sih?"


"Katanya mau urus magang atau apa lah namanya."


"Kenapa enggak di kantormu atau di kantor ku saja , sesuai kan jurusan nya."


"Wah saya belum tau bang, nanti saya coba tanyakan."


"Kalian harus baik-baik ya, awal rumah tangga memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa di jalani."


"Iya bang, saya akan mencoba lebih baik lagi, pernikahan kamu juga masih terhitung jari."


"Kamu yang sabar atas sikap Innara, dia terlalu mandiri, jadi mungkin saja ucapan mu akan banyak di abaikan olehnya." Indra menasehati, sedangkan bara hanya mengangguk dan tersenyum membenarkan semua apa yang telah di ucapkan Abang dari istrinya itu.


"Iya Bang, saya mencoba memahami Innara."


"Jangan terlalu keras."


"Siap bang."


"Ya udah kita sarapan dulu." ajah indra pada Adik iparnya. "Tara sama mbak Tia dulu ya?"


Tara menggelengkan kepalanya. " Mau sama ayah." peluk Tara posesif.


"Biar bang, saya enggak papa kok."


"Ya udah kalo begitu, ayo kita masuk." mereka pun sarapan bersama begitupun dengan Tara dan Bara.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...


__ADS_2