
"Let's do it! sesuai permintaan Lo." Tantang Innara, walau perasaan takut menjalar di seluruh tubuhnya. Dia harus mencoba, tidak mungkin rumah tangga yang ia bangun hanya akan bertahan seumur jagung cuma karena hal seperti ini. "Kenapa? Ada yang salah?"
"Lo?"
"Kenapa? Lo minta ini kan dari gue?" mendengar kalimat Innara seolah menantang Barapun akhirnya tidak segan, dia langsung memeluk erat tubuh Innara, ******* bibirnya dalam-dalam dengan rakusnya. Hingga keduanya kehabisan napas.
Tangan Bara mulai bergerilya dari punggung melepas pengait bra, turun kebawah membelai tubuhnya yang berisi dan melepas semua kain yang menempel di tubuh Innara, kemudian membawanya berbaring di atas ranjang size king itu. Bara mulai menjamah inci demi inci tubuh Innara sedangkan Innara tanpa terasa meneteskan air mata, dia merasa tidak di hargai oleh Bara, hanya karena hal ini dia tidak mempercayai istrinya.
Sedangkan Bara tidak peduli dengan itu, karena dia tidak melihatnya dia masih di gelap mata karena di suguhi sesuatu yang sangat ia inginkan, Bara mulai melepas melaksanakan pakaiannya, satu persatu tanpa melepas cumbuannya di leher dan mulai turun semakin lama semakin kebawah, Innara masih menutup matanya rapat-rapat dan menahan napasnya. Dia benar-benar takut.
Setelah puas dengan itu, Dia ingin segera memasukan pusaka pada sarungnya, lalu dia memposisikan tubuhnya mencium lagi bibir Innara, membelai wajahnya, tapi itu terasa basah, bukan basah keringat,tapi itu adalah air mata. Merasakan hal itu semangat jadi luntur dan turun dari tubuh Innara, hatinya nyeri tanpa luka. Lalu Bara menarik selimut menutupi tubuh Innara.
Bara turun dari ranjang, dan akhirnya dia menyelesaikan sendiri di kamar mandi. "Fu**" Umpatnya sedangkan Innara hanya memiringkan tubuhnya, dia lelah karena terlalu tegang melakukan adegan dewasa yang belum kelar, dalam hati dia merasa sedikit lega, entah itu tertunda atau selesai dia hanya pasrah menunggu Bara Keluar dari kamar mandi.
Klik
Bara membuka pintu kamar mandi dan hanya menggunakan handuk melingkar di pinggang nya dan menyusul Innara di atas ranjang, Innara tegang kembali.
Bara memeluk tubuh Innara yang polos dengan erat. "Maafin gue ay," Bisiknya. "Enggak seharusnya kepercayaan gue sama Lo di buktikan dengan ini." Sambungnya lagi. Mendengar itu Innara tergugu melepas ketakutan nya yang beberapa menit yang lalu sangat memuncak. "Maaf Ay." Bara mengerti perasaan Innara, dia tidak menghentikan tangisnya dia hanya memeluk dan membawa kepala Innara di dadanya dan masih di bawah selimut.
...****************...
Tengah malam tiba-tiba Innara terbangun, dia terkejut karena tubuh nya yang masih polos, "bagaimana jika Tara melihatnya?", pikir Nara lalu dia akan beranjak turun tapi tangan Bara melingkar di pinggangnya.
"Mau kemana ay?"
"Belum tidur?"
"Enggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Pusing kepala gue."
"Mau obat?"
"Mau tidur." Bara manja pada Innara.
__ADS_1
"Maafin gue ya ay."
"Lo enggak salah Ta, gue yang seharusnya minta maaf sama Lo." Ujar Nara. Mendengar permintaan maaf Bara. Bara bangun dengan memegang kepalanya.
"Kalo pusing jangan di paksa bangun."
"Minta maaf karena apa ay?" tanya Bara dengan mendekatkan wajahnya.
"Ta jangan deket-deket Napa, gue malu." Ucap Nara karena dia tidak memakai pakaian. Jika saja lampu menyala pasti terlihat wajahnya memerah bak buah delima.
"Jawab dulu,".
"Ya maaf, karena harusnya gue...." Innara ragu dan malu untuk mengatakan nya.
"Hemmm."
"Barata..." Innara menarik selimutnya dan menyelipkan di ketiaknya, lalu tangannya menangkup wajah Bara. "Harusnya enggak perlu banyak drama untuk hubungan suami istri seperti ini, sudah kewajiban gue sebagai istri lo melayani Lo sebagai mana mestinya, tapi gue..."
"Gue enggak akan maksa ay, sampai Lo bener-bener siap untuk itu."
"Terimakasih Lo mau ngertiin gue Ta, gue yakin Lo tadi cuma kebawa emosi , mungkin aja kalo gue jadi Lo akan bersikap yang sama." Cup..." tiba-tiba Innara mengecup bibir Bara. "Gue sayang sama Lo," Ucap Innara tulus dari hati walau belum sebesar dia menyayangi sahabat yang tidak tau diri itu.
"Ta...gue capek." keluh Innara.
"Dikit lagi ay, maaf ya." Bara masih berada posisi memompa diatas tubuh Innara, dengan mencium seluruh wajah Innara hingga terasa basah. "Gue keluar ay, tahan ya." Gerakan Bara semakin cepat dan erangannya semakin kencang... "Aaahhhh." keduanya mencapai puncak, Bara lemas dan berbaring di samping Innara, memeluk istrinya dengan erat. "Terimakasih ay...Cup."
Lega rasanya hati Innara karena bisa menunaikan tugasnya sebagai istri, dan Barapun merasa bahagia, karena Innara sudah menjadi istri yang seutuhnya, hanya miliknya dan tidak ada yang bisa memiliki nya.
Jadwal kepulangan menjadi mundur satu hari lagi , di penerbangan pertama, karena pertempuran demi pertempuran mereka tidak dapat bangun pagi, apa lagi Innara yang sangat kelelahan melayani suaminya, hingga kekamar mandi saja di harus di bantu oleh Bara.
"Maaf ay..." Ucapnya sambil mengecup ubun-ubun Innara. "Sakit ya?"
"Hem..." Walau bukan yang pertama untuk Innara, tetap saja Innara tidak mampu mengimbangi napsu suaminya yang benar-benar di luar Nurul.
"Bunda kenapa?" tanya Tara Saat mendapati Innara naik dan turun ranjang di bantu oleh Bara.
"Bunda sedikit lelah sayang, pulangnya kita undur Senin pagi ya?"
__ADS_1
"Apa bunda sudah siap jalan kalo besok?"
"Sepertinya begitu?"
"Ayo kita sarapan sebelum pulang." Tutur Bara dengan pelayan di belakangnya.
"Kenapa enggak telpon aja minta layanan kamar si Ta?" tanya Innara saat Bara datang dengan pelayan.
"Masakan spesial buat anak dan istri tercinta."Jawabnya. Lalu berjalan mendekat pada Innara dan Tara .dan mengecup ubun-ubun kedua manusi yang dia sayangi itu.
Pelayan menyiapkannya sarapan yang estetik, sehingga butuh waktu beberapa menit.
"Ayo ay dimakan." Bara menyerahkan sepiring menu lengkap di atas piring. "Gue suap ya?"
"Gue bisa sendiri ta?"
"Tara Mau di suap ayah." Malah Tara ya g minta disuap oleh Bara.
"Tuh jagoan minta suap." Tunjuk Nara dan Barapun menyuapi kedua orang yang paling ia cintai.
"Hari ini mau ngapain?" tanya Bara.
"Lo aja keluar sama Tara, katanya mau main kelantai kan?"
"Lo?"
"Gue di Sini aja Ta, nanti sore kita balik kerumah."
"Enggak papa Lo di tinggal sendirian, Lo enggak bisa gerak kan?"
",Bisa ta, Lo aja lebay, gue bisa jalan walau Pelan-pelan."
"Oke deh, kita kelantai yok jagoan setelah makan."
"Siapa ayah."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰...