
"AAAAAAAA." Teriak Tania dari dalam kelas dan itu masih bisa di dengar oleh Nara dan Bara. Rasa tidak terima akan sikap Nara yang begitu angkuh padanya semakin menyalahkan Nara akan derita yang iya alami, dan dia lupa bagaimana Angga dan Nara membantunya sampai titik ini, kalo saja tidak ada mereka berdua mungkin saja Tania tidak akan sampai disini.
"Kenapa sih Lo ngikutin gue." keluh Nara saat Bara masih ada di belakangnya, lalu dia berbalik dan dan mereka bertabrakan. "Awww." Nara mengaduh karena keningnya menabrak dada bidang Bara.
"Kalo jalan lihat depan nona, jangan balik ke belakang." Ucap Bara sambil mengelus kening Nara yang di rasa sakit.
"Apaan sih Lo." Nara menepis tangan Bara.
"Lo masih marah sama gue?" tanya Bara sendu.
"Gue marah sama Lo dan semua yang berhubungan Sama Lo." Ucap Nara dan kembali melanjutkan jalannya.
"Salah gue apa?"
"Pikir aja sendiri!"
"Iya maaf." Nara menghentikan langkahnya dan berbalik lagi. "Aduh." lagi-lagi kening Nara menabrak dada bidang Bara. "Seneng banget nabrak gue." Nara menggerutu sedangkan Bara tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Nara. "Apa Lo senyum-senyum." bibir Nara manyun.
"Lo lucu juga Ra, kalo lagi linglung."
"Heee sodara, gue baik-baik aja."
"Iya Lo baik-baik aja."
"Bara, gue enggak kenapa-napa ya."
"Iya gue tau."
"Bara.."
"Sip." Bara mengacungkan jempolnya tanda dia tidak akan menggoda Nara lagi.
"Tadi maaf apa Lo?"
"Oh itu, gimana kalo kita ngafe di belakang dulu?"
"Maksud Lo apaan sih?"
"Gue pengen cerita sama Lo."
"Enggak perlu, Juan sudah cerita semua sama gue."
"Itu kan versi Juan, versi gue belum Ra."
"Kalian sama aja."
"Ra dengerin gue dulu."
"Cukup Bar, kita bertemu cukup disini saja, gue enggak mau tambah masalah dalam hidup gue." Nara melangkah meninggalkan Bara.
"Gue enggak akan ambil Tara dari Lo." Nara berhenti lagi. "Gue ingin jaga Lo berdua." Sambungnya. Nara tidak berbalik tapi dia melanjutkan jalannya dan menggeleng kepala. "Ra.... Innara," panggil Bara tapi di abaikan oleh Nara.
Waktu itu Gio sudah menceritakan tentang mereka berdua, bahwa Juan menyukainya sedangkan Bara sendiri masih penasaran akan cinta yang tak terbalasnya sejak sekolah menengah, dan itu membuat Nara semakin takut untuk bertemu Juan maupun Bara, mereka sama saja menurutnya, itu kesimpulan yang bisa di buat oleh Nara saat ini, tapi entah bagaimana kedepannya karena Bara memang lah ayah Tara, tidak bisa di pungkiri itu, suatu saat Tara akan tau kebenarannya.
"Bara ..." Bara menoleh pada sumber suara, ya dia adalah Nilam yang memanggil Bara saat bara akan mengikuti Nara, sedangkan Nara sendiri tidak peduli, dia melanjutkan langkahnya dengan galau.
Bruuukkk
Lagi-lagi Nara menabrak seseorang.
"Doni...."
"Hay Ra, gue kangen ma Lo."
__ADS_1
"Cih... Minggir Lo."
"Ra...kasih gue kesempatan."
"Lo gila ya Don? Minggir! Lo ngalangin jalan gue."
"Ra...." Doni mencengkram tangan Nara. "Kasih gue kesempatan sekali lagi Ra, Lo kan belum pernah kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya."
"Gue enggak butuh penjelasan Lo," Nara memaksa melepas tangannya dari Doni, tapi cengkraman tangan Doni lebih kuat.
"Gue bisa paksa Lo Ra!"
"Gue enggak takut." Ucap Nara seolah melawan Doni, hal itu membuat Doni murka, lalu menarik tangan Nara paksa...
"Doni lepas.."
"Jangan harap Lo bisa lepas dari gue."
"Kita udah enggak ada urusan Don,"
", Menurut Lo, tapi gue masih."
"Sakit Don." keluh Nara tapi tidak di hiraukan oleh Doni, di belakang mereka ada bara yang masih melihat kearah Innara, melihat situasi jika dia di perlukan.
"Bar, gue disini, Lo liat siapa sih?" Nilam kesal karena dari tadi Bara melihat ke Arah lain.
"Gue cabut." Bara berlari mengejar Doni dan Nara, sejauh mana mereka pergi.
"Masuk Lo.." Doni memaksa Nara masuk kedalam mobilnya.
"Enggak.."
"Gue bilang masuk!"
"Tunggu bro..." Bara menarik baju Doni.
"Sial.." apaan sih Lo ganggu aja!" Doni menepis tangan Bara.
"Wuss santai dong,"
"Siapa Lo?"
"Gue?" Bara tanya balik.
"Ya iyalah Lo, siapa lagi? Setan?"
"Oh gue...Emmm itu anu." Bara sengaja mengulur waktu agar Nara bisa keluar dari sisi lain mobil Doni.
"Bangs** Lo." Doni mendorong tubuh Bara dan berhasil membuat nya mundur beberapa langkah, tapi sayang saat Masuk kembali ke mobil Nara sudah berada di luar.
BRAAAKKK
Nara menutup pintu mobil dengan kencang, disisi lain Bara yang menutup dengan kencang juga. Lalu Bara mengajak Nara lari dari situ.
Entah situasi apa ini, Bara menggandeng tangan Nara berlari melewati banyak kendaraan parkir di fakultas kedokteran. Dan memang parkiran disana terkenal sepi karena posisi gedung ada di ujung, karena itu lah Nara sering kesal jika Angga memarkir mobilnya disana.
Setelah mereka sampai di tempat yang agak ramai Nara menarik tangannya lepas dari tangan Bara.
"Lo enggak papa Ra?" tanya Bara dengan terenggah-engah. Sedangkan Nara masih mengatur napasnya agar stabil.
"Gue enggak papa Bar, thanks ya." Jawab Nara sambil mengelus dadanya yang masih terasa sesak. Bara mengangguk sambil tersenyum. "Kenapa Lo?"
"Eng-enggak." lalu pasang mode cool lagi.
__ADS_1
"Gue udah biasa liat mode cool Lo, bosen gue." Protes Nara.
"Salah lagi." ucap Bara, sedangkan Nara Hanya mengedikan bahunya. Kenapa tadi tu cowok?"
"Enggak tau, rada gila emang dia." Jawab Nara asal
"Pacar Lo kan?"
"Mantan"
"Dia masih suka sama Lo."
"Gue kagak."
"Kenapa semua orang Lo bilang gila si Ra?"
"Ya emang pada gila sih."
",Gue juga gila?"
"Maksud Lo?"
"Kak Lo juga pernah ngatain gue gila."
"Bara, jangan aneh-aneh deh, gue capek tau, haus gue."
"Ngafe dulu."
"Enggak."
"Iya gue tau Lo punya kafe, tapi enggak salah kan kalo coba di luar."
"Bara Lo ngeselin banget sih." kini suara Nara sudah mulai stabil dan bisa bersuara lantang. "Dah ah, gue mau balik."
"Mau gue anter?"
"Enggak usah."
"Gue khawatir Ra."
"Cih..." Nara pergi dari hadapan Bara.
"Ra..." Bara menarik tangan Nara.
"Lepas."
"Sorry." Bara melepaskan tangannya.
"Biar gue mencoba."
"Gue belum bisa Bar."
"Gue suka Lo panggil gue Barata." Nara hanya nyengir kuda.
"Gue cabut."
"kalo ada apa-apa hubungi gue Ra." ucapnya sedikit teriak, dan Nara hanya melambaikan tangannya menuju dimana dia memarkirkan mobilnya. Hari ini dia membawa mobil karena berencana pergi dengan Tania, tapi sayang dia menemukan hal yang luar biasa membuatnya kecewa.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan Lupa tinggalin jejak ya... like dan komentar mu penyemangat AUTHOR🥰🥰